
Sudah lama mereka semua berada di tempat itu, jam yang terus berputar pun kini menunjukkan waktu tengah malam. Melihat hal itu, Shera pun kini berdiri dari duduknya, kemudian gadis itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang kakak dan berkata.
“Kak, ini sudah sangat larut!... Jika papa dan mama tau mereka akan sangat marah, sebaiknya kita segera pulang!” Ucapnya, yang mengingatkan sang kakak agar tidak lupa akan waktu.
Sedangkan Ezra yang mendengar ucapan Shera pun kini melirik jam yang ada di tangannya, setelah itu ia pun kembali menatap Shera dan berkata. “Oke, kalau begitu kamu ke mobil aja duluan!... Bentar lagi kakak nyusul!” Ucapnya, dengan begitu lembut.
Shera yang mendengarnya pun kini menganggukkan kepalanya, kemudian ia melirik teman-teman Ezra dan berkata. “Saya permisi dulu, lain kali jika ada waktu saya berharap bisa berbincang-bincang lagi dengan kalian!” Ucapnya, lalu segera melangkah keluar menuju tempat dimana mobil Ezra di parkiran tadi.
Gadis itu berjalan sendirian ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir, dan saat tangannya terulur dan akan membuka pintu mobil itu, tiba-tiba dari arah samping sebuah tangan lain pun mencengkram tangannya erat-erat dan menariknya paksa menuju ke suatu tempat.
“Sini lo ba**sat!!” Ucap orang itu, yang suaranya terdengar seperti suara seorang wanita.
Sedangkan Shera yang di tarik paksa seperti itupun kini mengerutkan dahi, entah kenapa suara yang baru saja ia dengar itu terasa begitu tidak asing.
“Kamu siapa?! Lepaskan tangan saya!!” Ucap Shera dengan sedikit membentak.
Dan saat mereka sudah berada di tempat yang sepi, orang yang menarik tangannya pun kini tersenyum sinis dan berkata. “Hem, kenapa? Lo takut?!” Tanyanya, sembari membalikkan badan dan menampakkan wajahnya.
Shera yang melihat wajah itupun kini semakin mengerutkan dahi, itu adalah wajah yang begitu tidak asing di matanya. Wajah yang terlihat begitu sombong dan menjengkelkan, dan hal itupun membuatnya merasa tidak senang.
“Kamu adalah anak yang selalu menyiksanya saat di sekolah!” Ucap Shera, sembari menatap tajam ke arah gadis di hadapannya itu
Namun tiba-tiba, dari arah lain beberapa suara asing pun kini terdengar dan mengalihkan perhatiannya.
“Nah, ini nih anaknya!!... Dia tuh yang bikin kita dikeluarkan dari sekolah!!”
“Oh jadi dia?!”
__ADS_1
“Huh! Kalau cuman bocah kayak gini sih gampang, tinggal hajar aja sampai dia kapok! Gimana? Setuju nggak?!”
Ucap mereka, yang dari suaranya sepertinya mereka datang dengan beberapa orang teman. Mendengar hal itu, Shera pun kini melirik mereka dengan dingin.
Posisinya kini telah terkepung, beberapa remaja yang nampak seperti berandalan kini mengelilingi dirinya dengan niat yang tidak baik.
“Apa yang kalian inginkan?!” Shera bertanya dengan dingin, walaupun ia kini berada dalam situasi yang genting, namun gadis itu masih tetap bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan gadis yang menarik tangannya tadi kini tertawa di saat melihat sikap Shera yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
“Wah wah, makin berani aja lo ya?!” Ia melangkahkan kakinya maju, kemudian tangannya berusaha untuk mendorong Shera agar gadis itu terjatuh.
Namun sebelum itu terjadi, Shera pun dengan cepat menangkap tangannya dan mencengkram nya dengan sangat erat. Bahkan sangking eratnya gadis di hadapannya itu kini sampai meringis kesakitan.
“Aaak!! Tangan gue!!” Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman itu, namun entah kenapa tenaga dalam dirinya tidak cukup kuat untuk melepaskannya.
“Kalian semua kenapa diam aja?!! Cepet tolongin gue!! Tangan gue sakit banget!!!” Teriaknya, kepada teman-temannya yang kini hanya terdiam dan menonton saja.
Namun saat mereka akan melangkahkan kakinya untuk membantu teman mereka, tiba-tiba Shera pun kembali membuka mulutnya dan berkata.
“Tetap di sana dan jangan bergerak!” Ucapnya, dan tepat setelah itu tubuh mereka pun terasa kaku dan sangat berat untuk di gerakkan.
Rasanya seperti ada sesuatu yang tak kasat tengah menahan diri mereka.
“Weh, c*k! Badan gue kenapa?!!” Tanya dari salah seorang remaja laki-laki yang kini merasa panik dengan keanehan yang ia alami saat ini.
Namun Shera yang tak suka mendengar mereka berbicara tanpa seizin darinya pun kini menatap mereka dengan tajam, kemudian setelah itu mulut mereka pun terasa aneh hingga tidak dapat mengeluarkan suara sekecil apapun walau sudah berusaha sekeras untuk berteriak dan meminta tolong.
__ADS_1
Melihat teman-temannya yang tiba-tiba menjadi tidak berdaya dengan sesuatu yang aneh dan mencurigakan, gadis yang tangannya di genggam oleh Shera pun kini berusaha memberontak. “Lepas!! Lepasin gue!! Lo apain mereka, hah?!!” Ucapnya dengan panik.
Tatapannya yang semula terlihat sombong dan penuh percaya diri kini telah berubah menjadi tatapan mata yang penuh akan ketakutan dan rasa panik.
Mendengar hal itu, Shera pun kini menolehkan wajahnya dan menatap ke arahnya. “Kenapa? Apakah sekarang kau merasa takut?” Tanyanya, dengan wajah tanpa ekspresi dan nada bicara yang terdengar begitu datar.
Hawa di sekelilingnya kini telah berubah, itu semua terasa begitu dingin dan mencengkam. Para remaja yang merasakannya pun kini mulai merinding ketakutan. Gadis itu mungkin terlihat seperti manusia biasa, namun entah mengapa mereka merasa kalau ia tidak hidup ataupun mati.
“Se... Setan!”
Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulut gadis yang tangannya kini di cengkraman oleh Shera. Namun bukannya marah ataupun kesal, Shera yang mendengar hal itupun kini justru malah tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.
“Pfft, hahahaha!!!... Aku suka dengan sebutan itu, tapi sayangnya kini aku tidak lagi menjadi hantu!!” Ucapnya, yang membuat mereka semua kini menatapnya dengan penuh rasa takut.
Kemudian, wajahnya yang semula menunjukkan tawa itupun kini tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan datar. Tidak ada lagi keceriaan yang terpancar di sana, dan bahkan mereka tidak lagi bisa melihat ekspresi apapun selain kekosongan dalam pancaran matanya yang gelap.
Sembari terus mengencangkan cengkraman nya pada tangan gadis berandalan itu, Shera pun kini berkata dengan dingin. “Anak manis, apakah kau tahu bahwa aku tadinya berniat untuk mencarimu?” Ia bertanya, dengan tatapan mata yang seakan-akan bisa menelan apapun hidup-hidup.
Dan hal itupun membuat gadis berandalan tadi kini gemetar ketakutan sembari menitihkan air matanya. “Le... Lepasin gue!... Ka... Kalau nggak...”
“Sussst!! Tenanglah, jangan berisik!... Apakah aku membuatmu takut?!” Shera memotong ucapannya, kemudian ia tersenyum miring dan semakin mengeratkan cengkraman di tangannya hingga menimbulkan suara tulang retak yang cukup keras.
Keletak!!
“Aaaaaaa!!!”
“Sakit!!! Sakit!!! Tangan gue sakit banget!!!”
__ADS_1
“Cepet lepasin gue ba**sat!!!” Teriaknya kesakitan sembari berusaha keras untuk melepaskan diri.