Shera

Shera
Rahasia yang disembunyikan


__ADS_3

Di saat mereka kini sedang berbicara kepadanya dengan wajah gembira, Arka kini justru tampak tidak menghiraukan dan malah menoleh ke sana-sini untuk mencari keberadaan seseorang.


“Kemana dia?” Pemuda itu bergumam dalam hati, matanya terus melirik sekitarnya dan mencari-cari keberadaan seseorang.


Sebuah hembusan angin malam yang dingin kini bertiup dari arah samping, dan hal itupun membuat Arka menolehkan wajahnya hingga tatapannya kini bertemu dengan sepasang manik mata indah yang kini juga sedang menatapnya dengan pancaran mata yang sulit untuk diartikan.


Gadis itu kini berdiri sendirian di sebuah tempat yang gelap. Di sana tidak ada lampu, sungguh gelap hingga Arka harus sedikit memicingkan kedua matanya untuk memastikan apakah ia tidak sedang salah mengenali orang.


“Shera!” Arka menggumamkan namanya, kedua kakinya kini mulai bergerak dan mengambil langkah untuk berjalan mendekat ke arah gadis itu.


“Shera!!” Ia memanggil nama gadis itu dengan sedikit kencang, terus melangkahkan kakinya hingga ia kini berada di jarak yang cukup dekat dengannya.


“Shera, tadi... ”


“Jangan di pikirkan!”


Belum sempat Arka menyelesaikan kata-katanya, Shera pun terlebih dahulu membuka suara dan memerintahkan pemuda itu untuk diam dan tidak menceritakan apapun.


Salah satu jari telunjuk gadis itu kini terangkat dan di tempelkan di depan bibir, menunjukkan sebuah isyarat kepada pemuda di hadapannya itu untuk menjaga rahasia dan tidak bertanya apapun mengenai sesuatu kepadanya saat ini.


Arka yang mendengar dan melihat hal itupun kini membungkam kembali mulutnya. Melihat bagaimana gadis itu menatapnya saat ini, ia pun sadar bahwa kejadian tadi ada bukan untuk diceritakan. Gadis itu pasti memiliki sebuah rahasia besar di balik wajahnya yang lugu dan manis. Arka ingin tahu apa itu, namun di sisi lain ia juga tidak bisa memaksanya untuk menceritakan semuanya dengan gamblang.

__ADS_1


Pandangannya pun kini kembali pada teman-teman nya yang nampak berwajah cerah, mereka benar-benar bergembira atas kemenangannya. Mengingat kejadian yang baru saja ia alami tadi, Arka pun jadi merasa penasaran, kira-kira reaksi seperti apakah yang akan teman-temannya itu tunjukkan di saat mendengar cerita darinya nanti?


Di sisi lain, Shera kini nampak sedang menatap ke arah lain. Kedua matanya kini menatap tajam ke arah seorang pemuda yang baru saja turun dari motornya dengan wajah marah. Pemuda itu nampak sangat kesal, terlihat pada kerutan di wajahnya yang menunjukkannya bahwa suasana hatinya kini sedang memburuk.


Tak sengaja pandangan keduanya pun kini saling bertemu. Pemuda itu nampak terdiam untuk sesaat, melihat ada seorang gadis manis yang sedang menatap ke arahnya, pemuda itupun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menebar pesona dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Shera yang melihat hal itupun kini mengernyitkan dahinya, sedikit merasa jijik dengan sikap genit yang baru saja pemuda itu tunjukkan kepadanya. “Anak itu masih sangat muda, namun sayang ia berkelakuan seperti seorang baj*ngan!” Gumam gadis itu dalam hati.


Arka yang menyadari ekspresi di wajah Shera pun kini menaikkan salah satu alisnya dengan heran. Melihat bahwa gadis itu kini sedang menatap ke arah lain, Arka pun menjadi penasaran dan mengikuti kemana arah tatapan gadis itu tertuju.


“Kamu lagi lihat apa?” Arka bertanya, namun ketika pandangannya melihat seorang pemuda yang kini sedang tersenyum kearah gadis itu, ekspresi di wajahnya pun dengan cepat berubah gelap. “Kamu kenal sama dia?!!” Tanyanya, dengan nada penuh penekanan.


Mendengar ucapan gadis itu, Arka pun kini mengerutkan dahinya. Kemudian ia kembali melirik kearah pemuda tadi dan berkata. “Dari mana kamu tau kalau dia itu orang jahat, hem? tadi katanya gak kenal!” Tanyanya, dengan tatapan penuh curiga.


Shera yang ditanyai itupun kini sedikit terdiam untuk sesaat, tidak mungkin baginya untuk berkata dengan jujur. Jadi karena ia bingung mau menjawab apa, gadis itupun kini menghela nafasnya dengan kasar dan berkata. “Huh, kalau aku bilang dia itu orang jahat ya berarti dia itu memang orang jahat!... Jadi jangan dekat-dekat dengan dia, kamu berteman dengan anak-anak yang di sana saja ya!” Ucapnya, sembari menunjuk kearah teman-teman Arka.


Melihat ekspresi wajah gadis itu, Arka pun kini terkekeh kecil. Cara gadis itu mengomel pun juga sangat lucu, dengan logat berbicara yang terdengar aneh ia pun mengomel seperti burung beo.


“Iya-iya, kalau gitu kita ke sana aja ya? kita kumpul bareng temen-temen aku, kamu sudah kenal mereka apa belum?” Tanyanya, sembari menggandeng tangan Shera agar gadis itu berjalan mengikutinya.


Mendengar hal itu, Shera pun kini menggelengkan kepalanya. Sejak balapan di mulai ia selalu menghindar, bukan karena ia tidak suka dengan teman-teman Arka. Namun karena mereka semua adalah laki-laki, dan hal itupun membuat Shera menjadi tidak nyaman, apalagi ia tidak mengenal siapapun di antara mereka.

__ADS_1


Rasa canggung ketika berdekatan dengan banyak laki-laki tak di kenal adalah sebuah hal yang wajar baginya. Untuk seseorang yang pernah di pe*kosa dan di aniaya hingga mati, ia pun memiliki sedikit trauma dari kehidupannya di masa lalu.


“Kenapa? kamu gak nyaman?” Tanya Arka, yang sedari tadi terus memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah gadis itu.


Shera pun menggelengkan kepalanya, kemudian dengan ragu ia pun berkata. “Em tidak, tidak apa-apa!... Mereka tidak ada niat jahat terhadap kamu, jadi aku pikir mereka semua itu orang baik!” Ucapnya.


Dan begitu mereka mendekat, salah satu teman Arka pun berkata. “Bro, katanya tadi ada kecelakaan!” Ucapnya, yang membuat Arka kini mengerutkan dahinya.


“Kecelakaan? Di mana?” Tanya Arka.


Dan temannya pun kini menjawab. “Di jalur balapan dekat perempatan, truk sama supirnya nyebur ke sungai. Yang lain mau kesana buat ngelihat, lu mau ikut?” Tanyanya.


Arka yang mendengar hal itupun kini sedikit terbelalak, itu jelas adalah tempat di mana ia mengalami kecelakaan. Truk yang disebutkan itu pasti adalah truk yang menabraknya tadi.


Arka yang merasa penasaran pun kini berniat untuk ikut bersama dengan yang lain dan melihatnya secara langsung. Namun sebelum ia membuka mulutnya tiba-tiba lengan bajunya pun di tarik pelan oleh seseorang.


Merasakan hal itu Arka pun segera menoleh kebelakang, melihat bahwa Shera kini menggelengkan kepalanya, ia pun mengerutkan dahinya dengan tidak mengerti. Mengapa gadis itu tidak membolehkannya untuk pergi ke sana?


“Kenapa?” Arka bertanya dengan sedikit berbisik.


Dan Shera pun berkata. “Kamu bisa kena sial, untuk sementara waktu jangan pergi ke sana!” Ucapnya, kemudian ia kembali berkata. “Sekarang sudah malam, sebaiknya kita pulang!” Ucapnya, yang jelas terlihat sangat mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2