
Mobil itupun kini masuk ke dalam halaman rumah yang luas dan berhenti tepat didepan pintu. Shera yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa kesal itupun kini keluar dari dalam mobil dan segera melangkahkan kakinya dengan di hentak-hentakan keras.
Melihat hal itu, Ezra pun kini menghela nafasnya kasar. Kemudian ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi dan sedikit melonggarkan kerah bajunya lantaran merasa sangat gerah.
“Huff, yaampun!” Ia menghembuskan nafasnya panjang, kemudian melirik sosok adiknya yang telah menghilang itu sembari bergumam pelan. “Apa aku terlalu kasar? Tapi mau bagaimana lagi? Mana mungkin aku membiarkannya berdekatan seperti itu dengan laki-laki lain, anak itu bahkan belum dewasa!” Ujarnya, pada diri sendiri.
Setelah itu, ia pun juga ikut keluar dari dalam mobil. Kemudian ia melangkahkan kakinya untuk menyusul gadis itu agar masalahnya tidak sampai bertambah rumit nanti.
“Shera!”
“Shera, tunggu kakak!” Ezra terus melangkahkan kakinya dan mengejar gadis itu yang kini berada di tangga menuju lantai atas.
Sedangkan Shera yang mendengar suara itupun kini mendengus dan berkata. “Jangan mengikuti ku!.... Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi, kakak sangat jahat!!!” Ucapnya, sembari terus melangkahkan kakinya dan naik menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Sedangkan Ezra yang mendengar hal itupun kini semakin mempercepat langkah kakinya, namun saat ia berada di tengah-tengah tangga dan akan pergi menuju lantai atas untuk mengejar gadis itu. Tiba-tiba, sebuah aurah dingin yang mencekam pun terasa dan membuat firasatnya kini menjadi tidak enak.
Saat mendongakkan kepala dan menatap lantai atas yang masih berada jauh di ujung sana, tiba-tiba bulu kuduk nya pun berdiri. Ia merasa merinding tanpa sebab yang jelas, hatinya pun mulai menjadi gelisah dan seolah-olah sedang memberi peringatan kepadanya untuk tidak melanjutkan langkahnya lagi.
“Hah, mungkin aku akan berbicara dengannya nanti!... kita tunggu sampai dia manjadi lebih tenang, baru setelah itu aku bisa membujuknya dengan lebih muda.” Gumamnya dalam hati.
Setelah itu, ia pun mengurungkan niatnya dan membalikkan badannya untuk kembali menuruni tangga. Dan yang tidak pemuda itu ketahui, firasat buruk yang tiba-tiba muncul dari hatinya barusan itu adalah ulah dari salah satu mahluk yang Shera perintahkan untuk menghalangi langkahnya.
Andai saja ia tau dan dapat menggunakan indra ke-enam, mungkin sekarang Ezra akan melihat sosok hitam besar berwujud bayangan yang kini sedang berdiri di tengah-tengah tangga menuju lantai atas.
__ADS_1
Melihat bahwa pemuda itu kini telah turun dan mengurungkan niatnya, sosok hitam itupun pada akhir menghilang dan nampak melayang menuju tempat Shera berada.
Sedangkan Ezra yang baru saja selesai menuruni tangga dan akan berjalan ke ruang keluarga untuk bersantai dan memenangkan pikiran sembari menonton TV itupun kini menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Di atas tangga sana masih tetap kosong dan tidak ada siapapun, namun entah mengapa saat menatap ke atas perasaannya kini menjadi baik-baik saja dan tidak seperti yang tadi. Seperti ada sesuatu yang telah menghilang, ia tidak lagi merasa ngeri ataupun merinding tanpa sebab.
Walaupun itu terasa sangat aneh dan begitu mengganjal, Ezra pun menepis pikirannya dan menyalakan televisi untuk dijadikan pengalihan.
“Ah sudahlah, mungkin itu cuman imajinasi!” Gumamnya pelan, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa dengan posisi kedua kaki yang diletakkan di atas meja.
Sungguh posisi duduk yang tidak sopan namun terasa sangat nyaman dan santai.
...»»————>✥<————««...
Di sisi lain, Braxton yang telah selesai dengan permainannya pun kini duduk di tepi ranjang dengan sepuntung rokok yang menyala di tangannya. Pria itu kini menghisap rokoknya sembari melirik wanita yang tertidur di atas ranjang yang sama.
Sungguh sangat kejam untuk ukuran pria yang telah meniduri seorang wanita.
Sedangkan wanita tadi yang mendengar hal itupun kini segera bangkit dari tidurnya, dan tanpa berbicara sedikitpun ia turun dari atas ranjang lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Dia membayar sangat mahal, tapi lain kali aku tidak akan mau lagi melayaninya!” Wanita itu bergumam dan menggerutu kesal dalam hati, kemudian menyentuh pinggangnya yang terasa nyeri sembari melirik ke arah Braxton dengan tatapan tajam. “Om-om gila!... Awalnya aku ingin mendekatinya karena dia terlihat cukup tampan dan kaya, namun setelah di siksa seperti itu lebih baik aku mencari orang lain saja, hmph!!” Ucapnya, yang lagi-lagi mengeluh kan sikap kasar Braxton saat bersamanya di atas ranjang tadi.
Dan setelah memakai kembali pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan jaket besar, wanita itupun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel meninggalkan pria itu sendirian di dalam sana.
__ADS_1
Braxton yang sedang menghisap rokok itupun kini memejamkan kedua matanya untuk sesaat. Setelah cintanya di tolak mentah-mentah oleh gadis yang tidak lain adalah keponakannya sendiri itu, ia pun segera pergi dari rumah dan menghabiskan sebagian waktunya dengan beberapa botol minuman keras hingga mabuk dan memanggil seorang pela*ur untuk dijadikan pelampiasan.
“Hah, lama-lama aku akan gila jika tidak bisa mendapatkannya!” Ia bergumam pelan sembari meniup dan mengeluarkan asap-asap rokok dari dalam mulutnya.
Sepanjang permainannya dengan wanita tadi, yang ada dalam pikirannya adalah orang lain. Walaupun ia sedang berhubung dengan wanita itu, namun ia masih saja membayangkan bawah pela*ur yang tidur bersamanya itu adalah Shera.
Sungguh kelakuan bejat yang hanya bisa dilakukan oleh seorang baj*ngan.
Mengalihkan pandangannya dan menatap kearah handphone yang tergeletak di atas meja dekat botol-botol alkohol yang kosong, Braxton pun segera berdiri untuk meraihnya dan menekan beberapa nomor untuk menghubungi seseorang.
“Halo, apakah bos mu masih ada di indonesia?” Tanyanya, yang sedang berbicara dengan seseorang menggunkan bahasa asing.
“....”
Braxton kini hanya terdiam sembari menghisap rokoknya di saat mendengarkan penjelasan dari seseorang di sebrang telepon sana, kemudian setelah beberapa saat ia pun berkata.
“Baiklah, kalau begitu kapan aku bisa bertemu dengannya?”
“....”
“Hem oke, sampai jumpa besok malam!” Ucapnya, lalu setelah itu panggilan telepon pun berakhir.
Braxton pun segera berdiri dan menutupi bagian ‘tengah’ tubuhnya dengan selimut tipis. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihan diri setelah membuang sisa rokoknya di atas asbak.
__ADS_1
“Hah, aku ingin segera mandi dan kembali untuk melihat keponakanku yang manis itu!... Haha, hanya dengan memikirkannya saja sudah mampu membuat diriku kembali bersemangat!” Ucapnya, sembari terkekeh kecil.
Dan saat ia telah masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya, suara shower dan air mengalir pun terdengar bersamaan dengan suara handphone yang berdering berulang-ulang kali.