
Malam pun telah tiba, dan sesuai yang dijanjikan Arka pun kini terlihat sedang menunggu Shera tepat di depan gerbang rumahnya. Salah satu tangan pemuda itu nampak sedang memainkan kunci motor sembari melirik kesana-sini untuk mencari keberadaan gadis itu, dan setelah beberapa saat menunggu sebuah suara misterius pun terdengar dari arah belakang.
“Maaf membuatmu menunggu!” Ucap Shera, yang tiba-tiba berada di belakang punggung Arka.
Sedangkan Arka yang mendengar suaranya pun kini segera menolehkan wajahnya dengan ekspresi terkejut, sedari tadi pandangannya tak pernah luput dari pintu gerbang yang tertutup. Melihat keberadaan gadis ini yang secara tiba-tiba muncul di belakangnya, tentu saja ia merasa sangat terkejut dan heran.
Sebenarnya dari mana gadis itu datang?
“Yaampun Shera, kalau nongol jangan kayak hantu dong!!... Mana gak ada suara langkah kakinya lagi!” Ucap Arka, sembari mengusap-usap dadanya yang berdebar-debar.
Shera yang mendengar hal itupun kini hanya menatap dengan tatapan polos, gadis itu seperti tidak merasa berdoa ataupun bersalah setelah membuat orang lain terkejut. Lagipula tidak mungkin baginya untuk keluar melalui gerbang, supir ayahnya yang selalu berada di sana pasti akan menyadarinya dan memberitahukan hal ini kepada orang rumah.
Sedangkan Shera sama sekali tidak ingin bila hal itu sampai terjadi, Adam yang tidak lain ayahnya itu sangatlah galak dan tegas. Mengetahui bahwa ia akan pergi bersama seorang teman laki-laki pada malam hari, Shera pun merasa ragu bahwa ia akan mendapatkan izin.
“Sussst! Ayo pergi, aku keluar diam-diam agar papa tidak tau!” Ucapnya, dengan sedikit berbisik kepada Arka.
Mendengar hal itu, Arka pun kini hanya mengangguk patuh. Ia sudah tau sendiri betapa galaknya sifat ayah dan kakak gadis itu, jika mereka tahu bahwa ia mengajak gadis itu pergi, mungkin keesokan harinya ia akan berakhir di rumah sakit dengan selang infus dan perban di sekujur tubuhnya.
Arka kemudian memberikan sebuah helem untuk dipakai oleh gadis itu, namun Shera yang melihatnya pun kini mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi heran.
Shera kemudian melirik kearah Arka, menatap pemuda itu dengan tatapan penuh tanya dan berkata. “Untuk apa ini?” Tanyanya.
Dan Arka yang mendengar pertanyaan itupun kini menghela nafasnya pelan, kemudian ia membantu gadis itu untuk memakai helem sembari berkata. “Kalau kamu gak pakai ini nanti bisa bahaya, aku kalau naik motor rada-rada kenceng soalnya!” Ucapnya, dengan masih fokus untuk memakaikan helem itu.
“Nah, sekarang naik ke sini!” Ucapnya lagi, sambil menepuk dudukan motor bagian belakang dengan pelan.
Mendengar ucapan pemuda itu, Shera pun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia naik keatas motor dengan sedikit memberikan jarak.
__ADS_1
“Sudah!”
“Kamu gak takut jatuh?” Arka bertanya sembari menaikkan salah satu alisnya keatas.
Kemudian, ia pun menarik tangan gadis itu agar sedikit maju dan berpegangan kepadanya.
“Pegangan, gak usah malu-malu!” Ucapnya, lalu setelah itu ia pun mulai menghidupkan motornya dan melaju dengan kecepatan sedang lantaran masih berada di area perumahan.
Namun begitu mereka tiba di jalan raya yang cukup luas, Arka pun mulai menambah kecepatannya hingga membuat Shera kini sedikit panik dan semakin mengeratkan pegangannya.
“Arka kamu gila!!” Gadis itu memejamkan kedua matanya, tanpa sadar memeluk pinggang pemuda itu.
Sedangkan Arka yang melihat ketakutan pada wajah Shera pun kini tertawa, dan dengan senyuman nakal ia pun semakin menambah kecepatan.
“Arkaaa!!!”
...»»————>✥<————««...
Ada beberapa anak buahnya yang duduk di kursi-kursi lain untuk mengawasi, sedangkan Finn sedari tadi selalu sibuk dengan handphonenya dan nampak sedang berbicara dengan seseorang.
Arsenio kini melirik jam di tangannya, sepertinya ia datang terlalu cepat. Namun setelah beberapa saat, orang yang sedang ia tunggu pun akhirnya datang dan menyapa dirinya.
“Apa kabar, tuan Arsenio!” Ucap Braxton yang menyapa pria itu.
Mendengar hal itu Arsenio pun menoleh, kemudian ia menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Braxton untuk duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya. “Ya, duduklah!” Ia meneguk anggur di tangannya, kemudian sedikit mengangkat gelas anggur tersebut dan berkata. “Ingin minum dengan ku?” Tawarnya dengan begitu santai.
Sedangkan Braxton yang mendengar ucapan Arsenio itupun kini terkekeh kecil. Tawaran itu tidak untuk di terima, ia pun menggelengkan kepalanya dan berkata. “Terimakasih, tapi mungkin di lain waktu!” Ucapnya, kemudian setelah itu ia pun kembali berkata. “Namun jika anda tidak keberatan, bisakah kita memulai pembicaraan?” Tanyanya, yang hanya dibalas dengan anggukkan kecil.
__ADS_1
...»»————>✥<————««...
Kembali kepada Arka dan Shera. Melihat pemuda itu yang melajukan motornya menuju jalanan yang ditutup, gadis itupun segera menepuk-nepuk bahunya dari belakang dan berkata. “Arka, kamu mau kemana?! Jalan itu di tutup!” Ucapnya.
Dan Arka pun berkata. “Iya tau, justru kita mau kesana!” Jawabnya dengan santai.
Mendengar hal itu, Shera pun kini mengerutkan dahinya dengan bingung. Apakah jalan yang ditutup masih bisa di lewati? Dan lagi, tidakkah Arka melihat bahwa di sana ada beberapa orang yang sedang berjaga?
Namun saat melihat orang-orang itu yang menyingkirkan penghalang jalan dan mempersilahkan motor mereka untuk lewat, Shera pun kini menjadi bertambah bingung. “Kenapa mereka membiarkan kita lewat?” Tanya Shera, dengan sedikit berbisik.
Sedangkan Arka yang mendengar pertanyaan itupun kini melirik gadis itu dari kaca spion, kemudian ia membuka mulutnya dan berkata. “Mereka itu salah satu anggota geng yang bertugas buat nutup jalan agar tidak ada pengendara lain yang bisa lewat!” Jawabnya.
Dan Shera pun kembali bertanya. “Lalu kenapa kita boleh lewat? Untuk apa mereka menutup jalan?” Tanyanya, yang benar-benar meras bingung.
Arka hanya diam saja dan masih melajukan motornya. Hingga pada saat mereka melihat segerombolan anak-anak muda yang memarkirkan motornya di pinggir jalan, Arka pun berhenti di salah satu geng yang terdiri dari orang-orang yang ia kenal.
“Nah itu mereka!”
Arka berhenti dan menyandarkan motornya pada sandaran tengah, kemudian ia turun dari atas motor dan berjalan ke arah teman-temannya sembari tersenyum dan menyapa dengan akrab.
“Weh, bro!!” Salah seorang di antara mereka kini menghampirinya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gaya ala anak-anak muda.
Kemudian Arka pun menerima jabatan tangan itu dan berkata. “Semuanya udah kumpul? Gue gak telat kan?” Tanyanya.
Dan orang yang di ajak bicara tadi pun kini menggelengkan kepalanya dan berkata. “Udah bro, tinggal elu aja! Tapi tenang, acaranya masih belum di mulai.” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan Arka tadi.
Namun setelah itu, pandangannya pun kini beralih ke arah gadis berbadan mungil yang bersembunyi di balik punggung temannya itu. “Tapi btw, tumben banget lu bawa cewek!... Besok belum waktunya kiamat kan?!” Ucapnya lagi, yang entah sedang bertanya atau mengejek.
__ADS_1