Shera

Shera
Sang paman


__ADS_3

Pria bernama Braxton itu hanya terdiam di tempatnya di saat gadis itu bertanya kepadanya tentang siapakah dirinya.


Dalam hati, ia berfikir bahwa sepertinya ia pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Bahkan wajah gadis itu benar-benar tidak asing di matanya, apakah mereka berdua pernah saling kenal?.....


Entahlah, walaupun sudah berusaha untuk mengingat-ingat, Braxton tetap saja tidak tahu!


Akan tetapi, jika di lihat-lihat, gadis itu rupanya cantik juga. Entah kenapa ia tidak bisa berhenti untuk menatapnya, sesuatu yang ada di hadapannya itu benar-benar tidak bisa di lewatkan.


Ada sebuah perasaan menggelitik di saat ia menatap mata gadis itu. Andaikan Braxton bisa sedikit lebih lancang, mungkin ia akan menarik gadis itu kedalam pelukannya, kemudian merenggut segala kemanisan pada bibir ranum itu.


“Hah! Aku ingin memilikinya!... ” Gumam pria itu dalam hati, dan saat ia melihat raut wajah ketus yang gadis itu tunjukkan kepadanya, sudut bibirnya pun melengkung ke atas dan membentuk sebuah senyum miring di saat ia kembali berkata. “.... Hem, ekspresi yang menarik!.... Kira-kira bagaimana reaksinya jika aku menindih tubuh mungil itu di atas ranjang?!.... apakah ia akan menunjukkan wajah marah, ataukah menangis dan merintih di bawah tubuhku?” Gumamnya lagi, sembari melirik dengan tatapan panas.


Sedangkan Shera yang menyadari keanehan dalam tatapan mata pria itupun kini semakin mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak tau tentang apa yang sedang pria itu pikirkan, namun yang jelas, ia berfikir bahwa itu bukanlah hal yang bagus.


Namun saat gadis itu akan membuka mulutnya untuk melontarkan sebuah protes, tiba-tiba suara seseorang pun terdengar dari arah lain dan mengalihkan perhatiannya.


“Sedang apa kalian?! ” Tanya Adam yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Kemudian, matanya melirik ke arah Shera. Melihat keberadaan putrinya yang tiba-tiba pulang sebelum jam sekolah selesai, pria itu pun mengerutkan dahinya dan berkata. “Nak, kamu pulang lebih awal? ” Tanyanya, dengan heran.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Shera pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia menjawab. “Iya, pa!... para guru sedang ada acara penting, jadi kami boleh pulang lebih awal. ” Jawabnya.


Kemudian, ia melirik ke arah pria asing yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan aneh itu, lalu kembali melirik sang ayah dan berkata. “Pa, dia siapa?... ” Tanyanya balik. “... apakah dia tamunya papa?” Tanyanya lagi.


Adam yang di tanyai itupun kini melirik ke arah sang kakak untuk sekilas, kemudian kembali menatap putrinya dan berkata. “Dia bukan tamu, dia ini paman mu!.... kalian sudah lama tidak bertemu, apalagi kamu sekarang hilang ingatan, jadi wajar saja kalau kamu tidak tahu. ” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan dari putrinya tadi.


Sedangkan Braxton yang mendengar hal itu pun kini membelalakkan matanya, kemudian ia menatap Shera dengan ekspresi wajah terkejut sembari menutup mulutnya yang terngaga dengan salah satu tangannya di saat ia bergumam dalam hati. “Hah? tunggu?!!.... itu artinya gadis ini adalah Maya?!!.... keponakan ku sendiri?!!” Tanyanya dengan tidak percaya.


Kemudian, ia pun teringat dengan apa yang baru saja ia pikirkan tentang gadis itu tadi. “Yaampun, apakah tadi aku baru saja berfikir liar tentang keponakan ku sendiri?!.... wah, betapa baj*ngannya diriku ini!! ” Gumamnya lagi dalam hati.


Namun setelah itu, Braxton pun tertawa keras, kemudian ia berkata. “Wah wah wah!.... Maya, kamu sudah banyak berubah ya?!.... tadi paman kira kamu itu orang lain loh!... ” Ucapnya, kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh rambutnya gadis itu dengan lembut. “.... Sekarang kamu jadi lebih cantik, bagaimana kalau kamu menikah dengan paman saja? ” Tawarnya, yang lebih terdengar seperti guyonan.


“Tidak mau!!!... ” Tolak gadis itu dengan tegas.


Berbeda halnya dengan sang paman yang tampak tertawa, gadis itu kini justru memasang wajah garang yang terlihat begitu waspada. “Om sudah punya istri, Shera tidak mau menjadi istri keduanya om!!! ” Ucapnya lagi dengan begitu tegas.


Melihat tingkah gadis itu, Braxton pun kembali tertawa. Entah kenapa ia merasa lucu dengan sifat galak keponakannya itu.


“Ah! menggemaskan sekali!.... jika seperti ini bagaimana mungkin aku tidak tertarik padanya? ” Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Di sisi lain, Adam yang menyadari keberadaan dokter Bian pun kini mengerutkan dahinya, kemudian dengan raut wajah tak suka ia pun berkata. “Bukankah anda ini adalah dokter yang ada di rumah sakit?.... ada urusan apa hingga anda datang ke sini?! ” Tanyanya, dengan nada bicara yang terkesan dingin.


Mendengar hal itu, dokter Bian pun menjawab. “Oh itu!... Sebenarnya saya tidak sengaja bertemu dengan putri anda di jalan tadi!.... karena dia sendirian, jadi saya mengantarnya pulang. ” Ucapnya, yang menjawab sembari tersenyum ramah.


Tentu saja senyum yang ramah itu adalah sebuah senyum yang dipaksakan.


Namun setelah mendengar hal itu, bukannya memberikan respon baik Adam kini justru tersenyum sinis dan berkata. “Wah, terimakasih banyak!.... anda ternyata adalah orang yang sangat baik, ya?!.... kalau begitu sekarang anda sudah boleh pergi, karena saya rasa anda pasti sangat sibuk, bukan?!! ” Ucapnya, yang mencoba untuk mengusir dokter itu dengan cara yang sangat lembut.


Mendengar hal itu, sudut bibir dokter Bian pun berkedut karena kesal. Andai saja pria itu bukan ayah dari gadis yang ia suka, mungkin sekarang mereka sudah saling berkelahi dengan cara yang jantan. “Ah! tidak juga, saya tidak sedang sibuk! ” Jawabnya, yang membuat raut wajah Adam kini semakin dingin dan datar.


Kemudian, setelah puas dengan reaksi yang Adam tunjukkan, dokter itupun kini melirik ke arah Braxton dan berkata. “Akan tetapi, karena sepertinya kalian sekarang sedang ada reuni keluarga, jadi saya pergi dulu!...” Ucapnya, namun kemudian ia kembali berkata “.... Ah iya! saya lupa mengingatkan!.... besok minggu adalah jadwal kontrol, jadi saya harap anda tidak lupa, karena kondisi Shera harus di periksa secara rutin!! ” Ucapnya lagi, lalu segera pergi dengan senyuman puas diwajahnya.


Melihat hal itu, Shera pun hanya menghela nafasnya panjang. Kemudian ia memeluk lengan sang ayah dengan manja sembari berkata. “Pa, dokter Bian itu adalah orang yang baik, dia tidak jahat!.... papa tidak perlu bersikap seperti itu kepadanya, saya jadi merasa tidak enak. ” Ucapnya, dengan tutur kata yang lembut.


Kemudian, ia sedikit melirik ke arah sang paman secara diam-diam dan bergumam. “Ketimbang hal itu, tidakkah papa merasa curiga dengannya?!..... sedari tadi dia terus menatapku dengan tatapan yang aneh, dan hal itupun membuat ku merasa sangat terganggu!! ” Ucapnya dalam hati.


Adam yang tak setuju dengan ucapan putrinya itupun kini hanya mendengus kesal, ia sama sekali tidak ingin membatah, namun di sisi lain ia juga tidak ingin mengiyakannya begitu saja. “Sudahlah, kamu sebaiknya cepat masuk dan berganti pakaian!.... dan lain kali kamu jangan mau di antar pulang oleh orang asing!! ” Ucapnya dengan tegas.


Dan Shera pun hanya mengangguk patuh.

__ADS_1


Kemudian, tanpa berlama-lama gadis itupun segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


__ADS_2