Shera

Shera
Mencari tau tentangnya


__ADS_3

Beberapa pasang mata kini menatap ke arah dua orang pemuda itu dengan tatapan penuh kagum, sebagian besar dari mereka adalah siswi perempuan atau adik kelas yang menaruh hati pada kedua pemuda tampan yang sedang berjalan di Koridor sekolah itu.


“Eh, itu kak Al sama kak Arka kan?!” Bisik salah seorang siswi kepada teman yang berdiri di sampingnya.


Mendengar hal itu, sang teman pun menganggukkan kepalanya, dan tanpa memalingkan pandangannya dari kedua siswa populer itu, ia pun berkata. “Gila, emang gak sia-sia gua milih sekolah ini!!.... kalau setiap hari ketemu yang beginian siapa coba yang gak semangat?! ” Ucapnya sembari terkekeh kecil dengan nakalnya.


Kemudian, ia pun kembali berkata saat menyadari suatu hal. “Eh, btw!... kok tumben ya mereka ke sini?.... lagi nyariin siapa?” Tanyanya dengan heran.


Pasalnya kedua kakak kelas yang populer itu kini sedang melangkahkan kakinya menuju ruang kelas sepuluh.


...»»————>✥<————««...


“Hei, Ka!!.... lu sebenernya lagi nyariin siapa sih?!!” Tanya si Al sembari berbisik di samping Arka.


Sedangkan Arka yang merasa kesal lantaran temanya itu sedari tadi mengikuti dirinya pun kini mendecakkan lidahnya, kemudian mengerutkan dahinya dan melipat tangannya di depan dada seraya berkata. “Lu ngapain sih ngikutin gue?!!.... udah deh, gak usah kepo! mending sekarang lo jajan aja ke kantin, atau kalau gak balik ke kelas sana! ” Ucapnya dengan ketus.


Benar-benar menunjukkan rasa kesalnya dan tanpa ragu mengusir temannya itu.


Namun mungkin karena mereka adalah laki-laki, Kata-kata kasar seperti itu sepertinya tidak akan dimasukan dalam hati. Alih-alih merasa kesal dan marah, temannya itu kini justru malah memasang wajah acuh tak acuh sembari memutar bola matanya malas.


“Ya elah, jahat banget sih lo! gua kan juga pingin tau!” Ucap si Al sembari mengerucutkan bibirnya dan bertindak sok imut di hadapan Arka.


Dan hal itupun justru malah membuat Arka merasa jijik dan semakin menatap temannya itu dengan sinis. “Cuih! pingin muntah gue!!.... muka lu tuh gak cocok kayak gitu, bukannya imut malah kayak b*bi tau gak?!! ” Hujatnya, dengan begitu kasar.

__ADS_1


Sedangkan si Al yang mendengar hal itu pun kini mendengus kesal dan balik memakai Arka. “An**ng lo!!.... ganteng-ganteng gini di bilang b*bi!!” Ucapnya, lantaran merasa tak termia dengan kata-kata pedas yang temannya itu ucapkan.


Walaupun ucapannya kali ini terdengar begitu percaya diri, namun itu adalah kebenaran. Sejujurnya ia memang tidak kalah tampan dari Arka si ketia OSIS, hanya saja ia memiliki beberapa sifat yang kurang baik.


Contohnya seperti sekarang, ia kini dengan nakal melirik beberapa adik kelas dan mengedipkan salah satu matanya hingga membuat wajah mereka memerah lantaran nerasa malu.


Dan mungkin karena itulah Arka merasa keberatan dan tak suka sedari tadi.


“Hei, kamu!!... ” Si ketua OSIS itu memanggil salah satu siswa yang berada di dalam salah satu kelas.


“Saya kak?! ” Tanya dari siswa itu dengan ragu sembari menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, siapa lagi?!... cepat ke sini!!! ” Ucap Arka, yang menyuruh anak itu untuk segera menghampiri dirinya.


Dan saat ia sudah berada dekat dengan kedua siswa populer di sekolahnya itu, tiba-tiba kera baju bagian belakangnya pun di tarik oleh Arka, lalu dengan cepat ia di seret ke suatu tempat di mana di situ tidak ada orang lain sekalian mereka bertiga.


“A.. Anu kak, a... ada apa ya?! ” Tanya siswa tadi dengan wajah yang nampak begitu ketakutan.


Melihat hal itu, Arka pun menghela nafasnya. Sepertinya ia baru sadar kalau perbuatannya barusan itu telah membuat adik kelasnya ketakutan. “Tenang aja, lu gak bakalan kami apa-apain kok!.... jadi gak usah takut!!” Ucapnya, yang mencoba untuk meredakan kegelisahan yang adik kelasnya itu rasakan.


Kemudian, ia menoleh ke kanan dan kekiri dengan begitu waspada. Melihat kalau di sini hanya ada temannya, yaitu si Al dan adik kelasnya yang tadi, Arka pun kembali berkata. “Jadi gua cuman mau nanya suatu ke elu!... ” ia terdiam untuk sesaat, kemudian melanjutkan. “.... lu kenal kan sama anak cewek yang kemarin pingsan di toilet terus di bawa ke rumah sakit?.... kalian satu kelas, kan?....ngomong-ngomong siapa namanya? gua lupa!” Tanyanya dengan bertubi-tubi.


Membuat siswa tadi sedikit kebingungan mau menjawab yang mana dulu.

__ADS_1


“I... Iya kak, kenal! ” Jawabnya, kemudian dengan ragu-ragu ia kembali berkata. “Ki... Kita memang satu kelas, tapi jujur saya gak tau apa-apa soal dia!!..... soalnya si Maya itu anaknya pendiam banget, suka duduk di pojokan dan gak pernah omong-omongan sama anak-anak yang lain.” Jawabnya.


Lalu, ia sedikit melirik dan memperhatikan ekspresi kakak kelasnya itu sebelum membuka mulutnya dan balik bertanya. “Se... Sebenarnya ada apa ya kak? kok tumben banget ada yang nanya soal Maya! ” Tanyanya, dengan begitu penasaran.


Sedangkan si Al yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan pun kini melirik temannya dengan curiga sembari berkata. “Woi, Ka!!.... Sejak kapan lu deket sama anak cewek? adik kelas lagi!!!..... kok lu gak bilang-bilang sih sama gue?!.... jangan-jangan kalian udah lama jadian ya?!! ” Tanyanya, dengan begitu heboh dengan asumsi-asumsi yang ia buat sendiri.


Mendengar hal itu, Arka yang merasa kesal pun kini mendaratkan sebuah pukulan kecil di kepala temannya yang kosong itu. Kedua matanya pun menatap dengan tajam selagi ia berkata. “Diem lo, dasar anak b*bi!!.... siapa juga yang pacaran sama adik kelas?!!.... gua itu cuman nanya doang!!! ” Ucapnya, yang mengelak sembari memaki dengan kata-kata kasar.


Dan seperti yang dibilang sebelumnya, kata-kata yang tak pantas di tiru itu cenderung lebih sering keluar dari mulut laki-laki. Namun itu sebenarnya bukan masalah besar, karena mereka berdua sudah saling mengenal dan akrab sedari kecil.


“Idih, masih gak ngaku lu!... ” Si Al memutar bola matanya dengan malas, kemudian memasang ekspresi wajah yang begitu mengejek sembari berkata. “ Nanya sih nanya, tapi kok kayak pingin tau banget gitu?!.... sebenernya lu naksir kan sama tuh cewek?!.... Halah, ngaku aja deh! gak usah malu-malu, entar malah malu-maluin!!” Ucapnya lagi, yang masih kukuh dengan asumsinya.


Ia bahkan sampai mendesak Arka untuk mengakui perasaan yang belum pasti.


Dan karena merasa begitu tak tahan dengan celotehan temannya yang begitu tidak masuk akal itu, Arka pun kini hanya mendengus kesal dan memutuskan untuk mengabaikannya saja.


“Jadi namanya Maya?.... terus dia itu anaknya kayak apa sih?!.... masak iya ‘sependiem’ itu?!” Tanyanya, kepada siswa tadi.


Bukannya Arka tidak percaya, namun ia hanya ragu saja. Karena waktu di rumah sakit tadi, sosok gadis yang ia temui itu sama sekali tidak nampak seperti seseorang yang suka menyendiri. Sebaliknya, gadis itu justru terlihat begitu anggun dan ceria.


“Eh, apa iya?!... ” Arka kini sedikit berfikir.


Setelah di ingat-ingat, gelagat gadis itu memang sedikit aneh. Ah, bukan sedikit!.... namun sangat-sangat aneh. Apalagi saat ia sedang berbicara mengenai kejadian di perpustakaan, yang di mana saat itu ia benar-benar yakin kalau tidak ada siapapun di sana selain dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2