
Merasa khawatir, Shera pun mengangkat tangannya dan meletakkannya di kening pemuda itu. Namun saat ia mengetahui bahwa Arka baik-baik saja, gadis itu pun mengerutkan dahinya dengan bingung dan berkata.
“Kamu kenapa?”
“Apakah ada yang sakit?” Tanyanya.
Dan Arka yang mendengar pertanyaan itupun kini menoleh, kemudian kembali memalingkan wajahnya dan berkata. “E.. Enggak, gue cuman belum sarapan aja!” Ucapnya, yang berbohong untuk memberi alasan.
Shera yang mendengar hal itupun kini menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian ia meraih tangan pemuda itu dan sedikit menariknya agar ia mau mengikutinya. “Pantas saja kamu selalu marah-marah, jadi itu karena lapar!” Ucapnya, yang percaya begitu saja dengan alasan yang Arka berikan.
Melihat tangannya digenggaman dan di tarik pelan oleh tangan gadis itu yang mungil, Arka pun kini mengerutkan dahinya dengan bingung dan bertanya. “Mau kemana?”
“Tentu saja ke kantin, kamu sedang lapar bukan?”
...»»————>✥<————««...
Sebuah ruangan dengan jendela dan pintu yang tertutup kini dipenuhi dengan bau rokok dan alkohol yang tajam. Sesekali, didalam ruangan itu terdengar beberapa ******* keras dari seorang pria dan wanita.
Mereka tampak sedang melakukan hubungan yang sangat intim layaknya sepasang suami-istri, begitu dekat dan mesra tanpa ada ikatan apapun.
Wanita itu kini mengenakan seragam SMA yang sangat ketat hingga mencetak lengkuk tubuhnya, namun walaupun begitu ia adalah wanita yang sudah berusia dua puluh tahunan ke atas.
“Yah, buka mulutmu dan cepat lakukan dengan benar!” Printah pria itu, sembari tersenyum puas di saat wanita tadi kini berjongkok di antara pahanya dan menghisap benda miliknya seperti anjing yang penurut.
Braxton kini memejamkan matanya di saat ia merasakan sebuah kenikmatan dari sentuhan wanita itu. Walaupun dirinya sudah memiliki Caroline sebagai istri, namun wanita itu kini sudah tidak cantik lagi di matanya.
Ia menginginkan buah yang masih muda dan segar, karena itu lebih membuatnya tergoda.
“Hah, sayangku!” Ia meletakkan tangannya di atas kepala wanita tadi, sedikit menjambaknya hingga wajah mereka kini saling bertatapan.
__ADS_1
Mungkin wajah wanita itu memang tidak mirip dengan ‘nya’. Namun saat melihatnya mengenakan seragam sekolah yang basah dengan keringat sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu, Braxton pun membayangkan sosok gadis itu dalam diri wanita ini.
“Hei, Panggil aku om seperti saat dia memanggilku!” Ucapnya, yang memberi perintah sembari menarik rambut wanita itu dengan sangat kasar.
Merasakan sakit di kepalanya, wanita itupun kini menitihkan air mata. Ia memang sering melayani pria-pria penuh nafsu, namun baru kali ini ia mendapati seseorang yang suka bermain dengan cara yang sangat kasar.
“S*al!! om ini sadisme!!” Gumam wanita itu dalam hati.
Sedangkan Braxton yang melihat raut wajah kesakitan dari diri wanita itupun kini tersenyum lebar, kemudian ia menariknya dan mendorongnya ke atas ranjang.
“Shera!”
...»»————>✥<————««...
“Shera!”
“Shera!!”
“Ah, iya?”
“Kamu kenapa, hem?” Arka kini bertanya dengan lembut, sedaritadi gadis di hadapannya itu hanya sibuk terdiam dan melamun saja.
Di sisi lain, Shera yang mendengar pertanyaan itupun kini menundukkan kepalanya ke bawah, menatap buah jeruk yang baru saja di kupas dan menghela nafasnya dengan berat. “Entahlah, belakangan ini aku sedikit tidak nyaman akan sesuatu!” Ucapnya, yang menjawab pertanyaan tadi.
Mendengar hal itu, Arka yang sedang mengunyah roti di tangannya pun kini terdiam dan mengerutkan dahinya sembari menatap ke arah gadis itu dengan bingung. “Emang ada apa?” Tanyanya lagi.
Dan Shera pun menggelengkan kepalanya, melirik ke arah lain dan menghindari tatapan mata Arka. “Tidak ada apa-apa, mungkin itu hanya sekedar firasat buruk!” Ucapnya, yang tak ingin menceritakan masalah mengenai keluarganya.
Apalagi Arka dan dirinya bukanlah siapa-siapa, mereka hanya sekedar teman satu sekolah. Dan karena itu, rasanya kurang pantas bagi Shera untuk menceritakan masalah keluarganya yang cukup rumit ini.
__ADS_1
Sedangkan Arka yang melihat hal itupun kini mengerti akan suatu hal, gadis itu jelas sedang berusaha menyembunyikan perasaannya dan menyimpan masalahnya untuk dirinya sendiri.
“Sebenarnya ada apa?” Arka bertanya-tanya dalam hati, pikirannya pun mulai gelisah dan ia merasa sedikit khawatir dengan gadis itu. “Andai kita bisa lebih dekat, mungkin sekarang kamu akan lebih terbuka lagi kepadaku!” Gumamnya lagi.
Kemudian sedikit memaksakan senyum dan berkata kepada gadis itu. “Shera, kalau ada apa-apa cerita aja ke aku, ya?.... Lagian kita ini kan udah temenan, jadi kalau kamu ada masalah jangan diam dan di simpen sendiri aja, seengaknya kan kamu bisa cerita ke yang lain!” Ucapnya dengan begitu lembut.
Berharap bahwa dengan ini ia bisa membuat gadis itu merasa nyaman dan sedikit lebih terbuka terhadapnya.
Shera yang mendengar ucapan Arka pun kini menganggukkan kepalanya, kemudian ia tersenyum tipis dan berkata. “Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir!” Ucapnya, namun masih tidak ingin menceritakan masalah yang ia hadapi.
Melihat hal itu Arka pun berusaha untuk mengerti, memang tidak semudah itu bagi seseorang untuk mempercayai orang lain. Hanya saja, sebagai seorang lelaki ia ingin sekali menjadi seseorang yang bisa di andalkan oleh gadis itu.
...»»————>✥<————««...
Jam istirahat kini telah berakhir, Arka pun mengantarkan Shera ke kelasnya. Namun saat melihat bahwa siswa laki-laki yang mengganggu gadis itu tadi juga berada di kelas yang sama, Arka pun segera mengerutkan dahinya dan memasang wajah kesal.
“Si ba**sat itu!!” Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan menggeram rendah dalam hati.
Sedangkan di sisi lain, siswa laki-laki tadi yang merasa sedang ditatap tajam oleh seseorang pun kini menoleh ke arah pintu. Melihat bahwa di sana terdapat sosok Arka yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang mengerikan, siswa laki-laki itupun kini segera menundukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
“Aduh, mati gue!!” Gumamnya dalam hati, melihat betapa marahnya Arka terhadap dirinya, ia pun berfikir bahwa kali ini ia tidak akan selamat.
Wajahnya pasti telah di tandai oleh si ketua OSIS itu!!
Di sisi lain, Shera yang akan melangkah masuk ke dalam kelas pun kini melirik ke belakang. Melihat bahwa Arka masih berdiri di depan pintu sembari menatap tajam ke arah lain, gadis itupun mengerutkan dahinya dan berkata.
“Arka, ada apa?” Tanyanya, dan hal itupun berhasil mengalihkan Arka dari siswa laki-laki tadi.
Pemuda itu kini segera mengubah ekspresi garangnya menjadi sedikit lebih lembut dengan senyuman tipis, setelah itu ia pun berkata. “Gak ada apa-apa, sekarang sudah waktunya pelajaran, jadilah aku mau balik ke kelas dulu ya!” Ia sedikit terdiam dan melirik siswa laki-laki tadi sebelum kembali berkata. “Oh iya, beritahu aku kalau nanti masih ada anak yang berani ngegangguin kamu!” Ucapnya lagi, dan setelah mengatakan itu ia pun segera pergi dari sana.
__ADS_1
Shera yang mendengar hal itupun kini mengerutkan dahinya dengan bingung, namun walau begitu ia pun tetap menganggukkan kepalanya pelan dan mengiyakan ucapan dari pemuda itu tadi.