Shera

Shera
Sesuatu yang tak nyaman


__ADS_3

Mobil hitam itu kini berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampak mewah, menurunkan seorang gadis cantik yang menatap sekitarnya dengan asing.


“Di sini?.... saya akan tinggal di sini?! ” Shera bertanya kepada guru tadi sembari menatap rumah mewah itu dengan wajah datar.


Mendengar pertanyaan dari gadis itu, sang guru pun menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia tersenyum dan berkata. “Iya, itu rumah kamu!.... tadi kan kamu sendiri yang bilang pingin pulang, tapi sekarang kok keliahatan gak suka gitu? ” Ucapnya, sembari menaikan salah satu alisnya.


Sedikit merasa heran lantaran gadis itu ternyata memang tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya sendiri.


Di sisi lain, Shera yang mendengar ucapan guru itu pun kini menundukkan kepalanya. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba merasa ragu untuk menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah yang tampak asing itu.


Raut wajahnya pun kini tampak gelisah, seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. “Tidak nyaman, kenapa hawa di sini begitu tidak nyaman?! ” Ia bergumam dalam hati, sedikit mengeluh di saat merasakan dadanya yang mulai sesak. “Aku.... Aku tidak suka dengan tempat ini, seperti ada sesuatu yang berusaha mengusir ku!! ” Gumamnya lagi dalam hati.


Namun, saat gadis itu ingin berbalik badan dan melangkah pergi. Tiba-tiba seseorang pun datang dan berjalan menghampirinya sembari berkata. “Non, sudah pulang?! ” tanya orang itu dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.


Membuat Shera mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah orang itu dengan tatapan mata yang penuh akan tanda tanya.


“Non?... kok diam aja? ada apa?! ” Wanita itu kembali bertanya, merasa sedikit heran dengan tatapan aneh yang gadis itu tunjukkan.

__ADS_1


Dan bukannya menjawab, Shera kini justru malah balik bertanya. “Kamu siapa?... apa kamu kenal dengan saya?! “ Tanya gadis itu, yang membuat wanita tadi kini semakin mengerutkan dahinya dengan wajah terkejut.


“Non, ngomong apa sih?!... ” Wanita itu berkata dengan mata yang memicing, kemudian ia menatap gadis di hadapannya itu dari atas hingga bawah. “.... Nona ini kalau nanya yang aneh-aneh deh! masak sama saya gak kenal?.... ini saya, anaknya si bibi yang ngerawat nona dari kecil!.... masak gak ingat sih? padahal kita gak satu dua kali loh ketemuannya, udah dari kecil malah!! ” Ucapnya, yang berbicara dengan begitu akrab.


Seolah-olah mereka berdua memang sudah saling mengenal sedari lama.


Namun sayangnya Shera kini tidak mengingat apapun, dan bahkan ia tidak tahu segala hal mengenai Maya. Dan hal itupun membuatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya di saat mendengar perkataan wanita itu tadi. “Ah, begitu?.... ” Ia pura-pura paham, kemudian menatap koper besar yang wanita itu bawa. “... Apa itu? sepertinya sangat berat, isinya apa? ” Tanyanya, yang bertujuan untuk mengalihkan pembicaraan.


Sedangkan orang yang di tanyai pun kini hanya bisa terdiam sembari menghela nafasnya dengan berat, kemudian ia melirik gadis di hadapannya itu dengan perasaan tak enak sembari berkata. “Kadang saya itu gak ngerti Non sama apa yang ibu saya lakukan!... ” Ia memberi jeda, dan melanjutkan. “.... Makin tua kelakuannya makin aneh, tadi tiba-tiba dia nelfon saya, terus bilang mau pergi dan berhenti dari pekerjaannya yang sekarang!” Ucapnya, yang membuat kerutan di dahi Shera menjadi semakin mendalam.


“Pergi? siapa yang suruh dia pergi? ” Tanya Shera dengan bingung.


“Bilang padanya, saya ingin dia kembali!.... ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.” Perintahnya kepada wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Namun sepertinya ada masalah lain yang membuat wanita itu tidak bisa menuruti perintahnya. “Maaf Non, bukannya saya mau nolak!... ” ia terdiam untuk sesaat, merasa begitu tidak enak hati jika menolak perintah dari nona nya ini. “... ibu saya tadi bilang kalau nona sekarang sudah dewasa, jadi nona sudah gak butuh lagi sama yang namanya pengasuh!.... di tambah lagi sekarang ibu saya sudah makin tua, dia mau balik ke kampung halaman, katanya udah rindu banget. ” Ucapnya, dengan begitu hati-hati.


Takut-takut kalau gadis itu akan menangis dan berteriak histeris seperti biasanya.

__ADS_1


Akan tetapi, setelah beberapa saat mendengarkan. Shera pun kini menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang tampak tenang.


Walaupun ia tahu bahwa itu semua hanyalah sebuah alasan, namun ia masih berusaha untuk memahami keadaan. “Baiklah kalau begitu, tapi katakan ini kepadanya!.... saya tidak pernah punya niat jahat, jadi dia tidak perlu takut kepada saya. ” Ucapnya, sembari tersenyum lembut.


Membuat wanita tadi kini terbengong untuk sesaat ketika menatapnya.


Entah mengapa, ia merasa bahwa gadis di hadapannya itu kini benar-benar berbeda dari yang dulu. Terutama pada sikap dan logat bicaranya yang aneh, karena itu terdengar seperti orang asing yang baru saja mahir berbahasa Indonesia.


“Non ini makin lama juga makin aneh deh!... ” Wanita itu berkata sembari terkekeh kecil, menganggap bahwa apa yang Shera katakan tadi hanyalah sebuah guyonan. “... mana mungkin ibu saya takut sama nona yang udah dia rawat sendiri sedari kecil?.... emangnya nona hantu?.... lagian ibu saya kan takutnya cuman sama tuan besar, bukan nona! ” Ucapnya lagi, masih dengan nada bicara yang terkesan bergurau.


Mendengar hal itu, Shera yang tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi pun kini menghela nafasnya dengan berat lalu berkata. “Terserah, tapi tolong sampaikan kata-kata ku tadi, ya!” Ucapnya, yang menutup pembicaraan dengan singkat.


Kemudian, gadis itu pun kini melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tadi. Walaupun sedikit memaksakan kehendak, namun ia tetap melakukannya guna mencari tahu penyebab dari sumber ketidak nyamanannya saat ini.


“Semakin mendekat rasanya semakin menekan, dan saat berada di dalam rasanya membuat dadaku sesak!! ” Gumam Shera dalam hati, saat ia menginjakkan kedua kakinya masuk kedalam rumah.


Pandangan gadis itupun kini menatap sekeliling, memperhatikan setiap sudut ruangan dengan begitu teliti dan jeli. Bukan untuk mengagumi, melainkan untuk mencari sesuatu yang sedari tadi mengganggu dirinya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, pandangannya pun kini berhenti pada sebuah patung berbentuk manusia yang di pajang pada sudut ruangan sebagai hiasan.


“Hem, ternyata itu?!... ” Shera kini tersenyum licik dan bergumam dalam hati.


__ADS_2