
Shera kini melempar dirinya ke arah ranjang, tidur dengan memeluk bantal dalam keadaan tengkurap. Wajahnya masih memerah, pipinya pun juga masih menggembung karena kesal. Dan saat membayangkan wajah sang kakak yang tersenyum usil ke arahnya, Shera pun bertambah kesal dan memukul-mukul bantal sebagai pelampiasan.
“Ihh, awas saja!!” Ia berseru tertahan, kemudian mendengus kesal sebelum akhirnya tertidur.
...»»————>✥<————««...
Matahari telah terbit dari beberapa saat yang lalu, ini sudah pukul delapan lewat dan Shera masih tertidur lelap di atas kasurnya. Saat para anggota keluarga sedang sarapan bersama di lantai bawah mereka memang sengaja tidak membangunkannya. Gadis itu baru saja pulang subuh tadi, dan kini ia pasti sedang tertidur lelap.
Kelakuan-nya memang sangat nakal dan buruk, keluar tengah malam dengan seorang anak laki-laki tanpa izin. Namun walaupun begitu mereka tetap menyayanginya, Adam bahkan kini berfikir bahwa dirinya terlalu keras kepada gadis itu.
“Apa salahnya anak itu bergaul dengan teman seusianya? Jika anak laki-laki itu orang yang baik maka tidak apa-apa, Kan?” Ucap Malina kepada suaminya.
Beberapa saat yang lalu Adam bercerita tentang perbuatan Shera kepada istrinya, ia berfikir bahwa wanita itu juga harus menegur anak perempuannya agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
“Apa yang kamu pikirkan? Dia masih kecil!” Ucap Adam sembari menyantap makanannya.
Ezra yang duduk dan sarapan bersama mereka pun kini menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang ayahnya itu ucapkan.
“Ma, dia pergi keluar dengan anak laki-laki yang suka balapan liar. Ezra juga tidak suka jika Shera dekat-dekat dengannya!” Ucap pemuda itu dengan tegas.
Mendengar hal itu Malina pun menghela nafas panjang, kemudian pandangannya pun melirik ke atas. “Bagaimana dengan anak itu? Sudah lama dia tidak seceria ini, mama tidak ingin dia kembali menjadi gadis pemurung seperti dulu.” Ucapnya.
__ADS_1
Adam yang baru saja menyelesaikan sarapannya pun kini meraih segelas air, kemudian dia menatap sang istri dan berkata. “Tapi itu bukan berarti dia bisa bebas bertindak sesuka hati. Keluar malam-malam dengan lawan jenis itu jelas salah, sebaiknya kau menjelaskan hal itu kepadanya!” Ucapnya tegas.
Setelah itu ia melirik jam di tangannya, kemudian pria itupun segera berdiri dan mengecup kening istrinya sembari berkata. “Aku harus pergi ke kantor, ada urusan mendesak!” Ucapnya.
Mendengar hal itu, Malina pun menatap suaminya dan berkata. “Tapi kemarin kau bilang kalau hari ini libur!”
“Ini mendesak, maafkan aku!” Adam merapihkan pakaiannya, kemudian melirik ke arah Ezra. “Nanti siang adalah jadwal pemeriksaan adikmu, dokternya baru saja menghubungi. Untuk sekarang papa sedang sibuk, jadi kau saja yang antar!” Ucapnya, dan Ezra pun hanya mengangguk sembari menghabiskan sarapannya dengan santai.
Malina yang melihat suaminya sudah pergi untuk bekerja itupun kini mendengus dan menghela nafasnya panjang. Salah satu tangan wanita itupun meraih segelas jus dan menghabiskannya dengan rakus selayaknya orang yang meminum anggur.
“Dia tidak pernah ada waktu untuk keluarganya, dasar!” Ucapnya yang menggerutu kesal.
Ezra yang melihat hal itupun kini hanya tersenyum dan menghabiskan makanannya dengan tenang, setelah itu dia mengambil sebuah piring kosong dan mengambil beberapa menu makanan.
Mendengar hal itu Ezra pun menggeleng, kemudian ia melirik ke atas tempat kamar Shera berada dan berkata. “Anak itu belum makan, aku akan membawa sarapannya ke atas.” Ucapnya, lalu beranjak pergi.
...»»————>✥<————««...
Ezra kini membuka pintu kamar adiknya yang tertutup. Di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisi makanan dan jus yang mungkin gadis itu sukai. Di dalam sana Shera kini masih tertidur lelap dalam keadaan telungkup, wajahnya pun terbenam di bantal empuk yang sedang ia peluk.
“Shera...” Ezra memanggil nama gadis itu, berjalan mendekati ranjang dan meletakkan makanannya di atas meja. “Bangun, ayo sarapan dulu!” Ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Setelah pertengkaran mereka beberapa saat yang lalu, Ezra kini berfikir untuk membujuk adiknya agar tidak merajuk lagi. Tangannya yang besar kini terulur dan membelai kepalanya dengan lembut, kemudian ia mengambil beberapa helai rambut panjang gadis itu dan mencium aroma lembutnya dalam-dalam.
“Siang nanti kamu harus cek ke-rumah sakit, dokter mu tadi menghubungi. Cepat habiskan sarapan mu, nanti kakak yang akan mengantarmu ke-sana!” Ucapnya dengan lembut.
Gadis itu sebenarnya sudah bangun semenjak Ezra memasuki ruangan, namun karena masih kesal Shera pun memilih untuk tidak perduli dan berpura-pura tidur.
“Shera...” Ezra memanggil namanya, tangannya masih membelai kepalanya dengan lembut.
Shera yang di perlakukan seperti itupun kini mendengus kesal, ia masih membenamkan wajahnya di bantal dan tidak ingin melihat wajah kakaknya.
“Tidak mau, aku benci kakak!” Ucapnya dengan begitu ketus.
Ezra yang mendengar hal itupun tersenyum kecil, tatapannya begitu lembut dan hangat. “Kakak minta maaf soal yang tadi, harusnya waktu itu aku tidak membentak mu.” Ucapnya.
Mendengar hal itu, Shera pun kini akhirnya menoleh dan menatap ke arahnya. Akan tetapi raut wajahnya tidak berubah, ia masih mengerutkan dahinya dan menatap sang kakak dengan kesal.
“Kamu juga mendorong ku!” Ucap gadis itu dengan ketus.
Ezra pun menghela nafasnya, kemudian mengulurkan tangannya dan membelai pipi adiknya itu dengan lembut. “Kakak juga minta maaf soal itu.” Ia terdiam untuk sesaat, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali berkata. “Bagaimana kalau setelah pulang dari rumah sakit kita pergi untuk bersenang-senang? Kamu bisa meminta apapun, Bagaimana?” Tanyanya, yang mencoba untuk membujuk adiknya itu.
Shera yang mendengar hal itupun kini mulai tertarik, tatapan kesal yang sedari tadi ia tunjukkan pun kini menghilang dan berubah menjadi tatapan mata yang penuh akan rasa ingin tahu.
__ADS_1
“Ke mana?” Ia bertanya, terlihat begitu antusias.
Ezra yang melihat hal itupun tersenyum, ia mengecup kening gadis itu dan berkata. “Kamu akan tahu sendiri nanti, jadi cepat habiskan sarapan mu!” Ucapnya, kemudian segera beranjak pergi.