Shera

Shera
Orang yang dia maksud


__ADS_3

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Shera pun kini mencoba untuk mendorong Arsenio menjauh. Namun karena ia telah menggunakan kekuatannya untuk memulihkan luka-luka di tubuhnya, gadis itupun kini menjadi tidak bertenaga.


Akan tetapi, setidaknya ia masih bisa sedikit berusaha walaupun tahu kalau itu semua hanya akan sia-sia saja. “Turunkan aku, anda sangat tidak sopan!!” Ucap Shera, dengan berteriak sembari meronta-ronta.


Merasa risih dengan teriakan yang menyakiti indra pendengarannya, Arsenio pun mendudukkan tubuh gadis itu di kursi bagian belakang mobil dan berkata. “Tidak bisakah kau diam nona?... Apakah pergi ke rumah sakit itu menjadi masalah bagimu? Kau hanya akan di periksa, bukan di jual ataupun di bunuh!” Ujarnya, yang berusaha untuk menjelaskan kepada gadis itu.


Namun Shera yang masih enggan dengan keputusan Arsenio yang akan membawanya ke rumah sakit pun kini menggelengkan kepalanya, kemudian dengan penuh keras kepala ia pun berkata. “Tentu itu masalah bagiku!... Aku sedang melarikan diri dari seseorang, dia bisa saja menangkap ku kapan saja!” Ucapnya, yang membuat Arsenio kini mengerutkan dahinya dengan bingung.


“Hem? Mengapa orang itu mengejar mu? Apakah kau telah melakukan kesalahan?” Tanya Arsenio, dengan tatapan curiga.


Mendengar pertanyaan itu, Shera pun kini terdiam untuk sesaat. Namun setelahnya ia pun mulai membuka mulut dan berkata. “Paman, dia paman saya!... Dan dia bukanlah orang yang baik, dia ingin melecehkan saya, karena itulah saya berusaha untuk melarikan diri!” Ucapnya, sembari menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan memelas.


Arsenio yang mendengar hal itupun kini termenung untuk sesaat, pancaran mata gadis itu tidak menunjukkan kebohongan sedikit. Gadis itupun juga terlihat sangat panik dan tergesa-gesa, matanya pun selalu nampak was-was melirik sekitarnya.


Tak tau harus bagaimana lagi untuk menanggapi ucapan gadis itu yang terus-menerus menolak untuk dibawa ke rumah sakit, Arsenio pun kini pasrah dan pada akhirnya mengiyakan permintaan gadis itu. “Baiklah, aku akan membawamu ke suatu tempat...” Ia kembali terdiam, lalu melanjutkan. “... Namun, nantinya aku akan tetap memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan mu!” Ucapnya, yang membuat Shera kini bernafas lega.


Kemudian setelah itu, Arsenio pun memberikan sebuah isyarat kepada sang supir untuk mulai melajukan mobilnya. Sedangkan sang supir yang mengerti akan hal itupun kini menganggukkan kepalanya dengan patuh, kemudian ia segera menjalankan tugasnya dan membawa mereka untuk segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


...»»————>✥<————««...


Shera yang duduk di dalam mobil itupun kini nampak menyenderkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya dengan nafas yang naik turun. Kedua tangannya pun terkepal erat dan nampak sedikit bergetar, hal yang paling ia takuti dari seorang pria adalah nafsunya, dan tindakan Braxton terhadapnya tadi benar-benar membuatnya kembali teringat akan traumanya di kehidupan yang lalu.


Di sisi lain, Arsenio yang duduk di sampingnya pun menyadari akan kegelisahan gadis itu. Wajahnya memang tidak bisa di lihat dengan jelas lantaran tertutup oleh darah dan rambut yang panjang, namun jika di perhatikan dari ukuran tubuh gadis itu, sepertinya ia masih seorang anak-anak yang baru menginjak masa remaja.


Kejadian barusan pasti telah mengejutkan dirinya, apalagi jika Arsenio mengingat tentang paman yang gadis itu ceritakan. Sebenarnya Arsenio bukanlah orang yang dapat dengan mudah bersimpati dengan orang lain, ia bisa saja meninggalkan gadis itu di pinggir jalan, atau langsung membunuhnya daripada harus repot-repot seperti ini.


Namun begitu ia melihat sosok gadis ini, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ini tidak sama seperti saat ia berhadapan dengan orang lain, ada sebuah sensasi yang berbeda, dan hal itupun membuatnya menjadi sangat penasaran.


Ia ingin tahu, sebenarnya siapa gadis ini?


Dan kejadian apa saja yang telah ia alami?


Sadar akan luka-luka pada tubuh gadis itu, Arsenio pun kini mulai membuka mulutnya dan berkata. “Apakah kau tidak kesakitan? padahal luka di tubuhmu itu cukup serius, namun sedari tadi aku sama sekali tidak mendengar suara rintihan sedikitpun!” Ucapnya yang bertanya.


Mendengar hal itu, Shera pun kini mulai membuka kedua matanya. Wajah gadis itupun menoleh ke samping dan menatap ke arah pria yang duduk disebelahnya saat ini, dan setelah terdiam beberapa saat ia pun menjawab. “Saya terluka, namun itu akan baik-baik saja!” Ucapnya.

__ADS_1


Dan Arsenio pun kembali bertanya. “Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Ia memberi jeda, mengingat bagaimana kondisi gadis itu pada saat pertama kali ia melihatnya. “Aku yakin ada beberapa tulang mu yang patah, darah yang keluar dari tubuhmu pun tidak sedikit, itu hampir membasahi jalanan, namun bagaimana bisa kau dengan yakin berkata bahwa kau akan baik-baik saja?!” Tanyanya, yang sedang menginterogasi.


Namun bukannya merasa puas, jawaban yang Shera berikan kali ini pun justru malah membuat Arsenio bertambah bingung dan penasaran.


“Tentu, itu karena saya berbeda dengan kalian!” Ucapnya, lalu kembali memejamkan kedua matanya secara perlahan.


Arsenio yang mendengar hal itupun kini terdiam dengan dahi yang berkerut, wajah pria itu kini nampak dipenuhi dengan kebingungan. Jujur saja ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari jawaban gadis itu tadi. Namun saat ia akan kembali mengajukan sebuah pertanyaan, tiba-tiba kedua mata gadis itupun terbuka lebar secara mendadak. Dengan cepat gadis itu pun menundukkan kepalanya, terlihat seperti sedang berusaha untuk bersembunyi dari seseorang.


“Ada apa...” Pertanyaan itu menggantung di tengah jalan, pandangan mata Arsenio pun kini tertuju kepada sebuah mobil yang melaju cepat dan menyalip mobilnya dari arah samping.


Mengetahui siapa pemilik dari mobil tersebut, pandangan mata Arsenio pun kini kembali tertuju kepada sosok gadis yang duduk di sampingnya. “Apakah orang yang kau maksud adalah Braxton, nona?” Tanyanya, dan pertanyaan itupun membuat Shera kini segera menoleh dan menatapnya dengan tatapan terkejut.


“Anda mengenal paman saya?!” Tanyanya, dengan penuh was-was.


Kedua mata gadis itu pun kini mulai menatapnya dengan penuh curiga, terlihat seperti sedang menuduhnya dengan beberapa dugaan yang muncul di dalam kepalanya.


Arsenio yang melihat hal itupun kini terdiam, sebenarnya ia tidak perlu berfikir keras terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena mau ia jujur atau berbohong sekalipun Arsenio tidak akan dirugikan sama sekali.

__ADS_1


Namun, entah kenapa hatinya terasa rumit. Melihat bagaimana gadis itu menatapnya dengan tatapan seperti itu, ia pun menjadi gelisah dan tidak nyaman. Dan karena hal itulah ia sedikit terdiam untuk merangkai kata-kata guna menjawab pertanyaan gadis itu dengan tepat.


Dan setelah lama berfikir, Arsenio pun akhirnya menjawab. “Iya, namun itu hanya dalam urusan bisnis!” Ucapnya.


__ADS_2