Shera

Shera
Laki-laki itu...


__ADS_3

Mendengar ucapan dokter itu, kedua sudut bibir Shera pun kini melengkung dengan sempurna, membentuk sebuah senyuman indah yang tampak begitu manis.


“Terimakasih, Bian adalah orang yang sangat baik!” Ucapnya yang berterimakasih, tak lupa gadis itu juga melontarkan sebuah pujian.


Sedangkan dokter Bian yang mendengar hal itupun kini tersenyum lembut, salah satu tangannya mengusap kepala gadis itu selagi ia membatin. “Sudah ku duga dia sangat pandai bersikap manis! ” ia bergumam dalam hati. “Mau bagaimanapun aku ini juga laki-laki, melihat wajah cantik yang menatap ku dengan manja__”


Ia terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya di saat pikirannya kini mulai kacau dengan hal-hal yang tak senonoh. “Kurang ajar!!.... Bagaimana bisa aku jadi baj*ngan seperti ini?!! ” Dokter itu mulai menggerutu, kemudian melirik ke arah Shera yang kini juga sedang menatap ke arahnya. “Dia masih kecil, anak ini masih di bawah umur!!.... Jangan melecehkannya dengan pikiranmu yang kotor!!! ” Gumamnya lagi, yang memberi peringatan keras terhadap dirinya sendiri.


Walaupun di dalam pikirannya kini memang rada-rada kacau, namun rupanya dokter itu cukup pintar dalam hal menyembunyikan perasaan. Hal itu dapat di lihat dari ekspresi tenang nan lembut yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi sisi lain dari dirinya.


Dan dari sifat yang ditunjukkan oleh dokter Bian, kita pun dapat mengambil sebuah pelajaran penting. Bahwa semua laki-laki pada dasarnya memiliki nafsu, bukan karena mereka adalah mahluk jahat yang penuh akan hasrat, tetapi itu memang sudah dari sananya.


Yah, walaupun ada beberapa laki-laki yang bersikap baik dan lembut seperti yang dokter Bian lakukan, namun itu bukan berarti mereka tidak menatapmu dengan nafsu. Itu adalah sebuah bentuk dari kesabaran!!.... Jangan salah anggap, mereka hanya sedang menahan diri.


Wanita adalah mahluk yang seharusnya di jaga, dan sebagai lelaki sejati mereka pun sadar akan hal itu.


Bukankah dokter Bian adalah contoh yang baik?!.... walaupun godaan dari ‘setan’ kecil itu datang dan merayunya, tetapi ia masih bisa menahan diri.


Namun sekali lagi aku ingatkan, jangan coba-coba memancing hasrat mereka!.... ada resiko bersar yang harus kalian tanggung jika kali-laki yang kalian goda bukanlah seseorang seperti dokter Bian.


Percayalah akan kata-kata itu, terutama kalian wahai para gadis remaja yang masih dalam masa pubertas!!..... mungkin di dalam hati, kalian ingin menghabiskan masa-masa muda kalian seperti anak-anak remaja lain.


Seperti pergi nongkrong bersama teman-teman, atau kencan bersama pacar saat malam minggu?....


Terdengar sangat mengasikkan, tapi tetap berhati-hatilah.

__ADS_1


...»»————>✥<————««...


Kembali pada sebuah kisah, dimana dokter Bian saat ini sedang melambai-lambai kan tangannya sembari tersenyum ramah kepada gadis yang kini melangkahkan kakinya menjauh sembari menengok kebelakang dan menatap ke arahnya.


Dan setelah gadis itu benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya, dokter Bian pun kini menghela nafasnya dengan berat. Dalam sekejap ekspresi wajahnya yang semula terlihat begitu cerita pun kini berubah lesu.


Seakan-akan ia tidak rela jika gadis itu pergi!.....


Di matanya, Shera adalah gadis yang sangat manis. Wajahnya pun begitu cantik, apalagi saat ia tersenyum sembari menatapnya dengan penuh binar.


Akan tetapi, entah mengapa ia merasa bahwa gadis itu memiliki sisi lain yang sangat berbeda dari apa yang ia lihat dengan mata saat ini. “Hahh, Seperti sebuah misteri... ” Ia bergumam dalam hati, menghela nafasnya dan menatap ke arah sudut ruangan di mana pecahan-pecahan kaca itu berserakan. “... Dia sangat indah, namun juga aneh secara bersamaan! ” Gumamnya lagi, sembari melangkah pergi.


Berniat untuk mencari alat pembersih guna membereskan serpihan-serpihan gelas yang berserakan di ruangannya.


...»»————>✥<————««...


Kepala sekolah dan wali kelas Shera kini duduk di kursi bagian depan, dengan salah satu di antara mereka yang menyetir selagi yang lain menunjukkan arah.


“Habis perempatan lampu merah itu langsung putar balik pak!.... habis itu belok ke kiri dekat apotik yang ada di sana.” Ucap sang wali kelas yang sedang menunjukkan arah.


Kemudian, ia pun kini melirik kebelakang, menatap sosok gadis remaja yang kini nampak sedang melamun sembari menengok ke arah luar jendela. “May__Eh, Shera!.... kenapa kamu diam saja sedari tadi?” Ia memanggil, menanyakan sesuatu untuk berbasa-basi. “Ayo ngomong dong!.... jangan ngelamun gitu, nanti kesambet setan loh!.... padahal tadi pas sama dokternya kamu gak gini?! ” Ucapnya lagi, yang mencoba untuk mencairkan suasana.


Mendengar ucapan guru itu, Shera pun kini menolehkan wajahnya. Menatapnya dengan bingung sembari memiringkan kepalanya ke arah kiri. “Kesambet setan?... ” Ia mengulangi salah satu kata yang guru itu ucapkan, kemudian menutup mulutnya untuk menahan tawa dan kembali berkata. “Maksudnya saya akan kerasukan hantu?.... pffftt!! saya? kerasukan?!!.... bapak tidak perlu khawatir, saya tidak akan kerasukan hantu! ” Ucapnya, sembari tertawa kecil dan kembali menatap ke arah luar jendela.


Sang guru kini mengerutkan dahinya, berfikir di bagian manakah dari ucapannya yang sekiranya lucu hingga membuat gadis itu tiba-tiba tertawa. “Bukan itu yang bapak maksud!.... ” Ia terdiam untuk sejenak, menghela nafas dan kembali berkata. “.... bapak cuman mau kamu ngomong aja, biar suasananya gak sepi!.... kan gak enak kalau satu kita mobil tapi diam-diaman begini?.... mendingan kan ngobrol bareng-bareng atau ngomongin apa gitu?! ” Ucapnya lagi.

__ADS_1


Dan sepertinya ia adalah tipe guru yang humoris, orang yang suka bercanda dan mengobrol santai dengan murid-muridnya.


Sedangkan Shera yang di ajak bicara kini malah diam tak menjawab, gadis itu hanya merespon dengan helahan nafas panjang. Menunjukkan bahwa ia kini sedang bosan dan tidak ada selera untuk berbicara dengan guru itu.


Merasa tak terima karena sudah di abaikan oleh murid sendiri, sang guru pun kini terdiam untuk sesaat dan berfikir mengenai topik seru apa yang akan membuat gadis itu tertarik untuk mengobrol dengannya.


“Hei, Shera!... ” Guru itu memanggil, membuat Shera kembali menoleh dan menatapnya. “... ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar belum?.... kalau dia tau keadaan mu sekarang apa gak khawatir nih?! ” Tanyanya, sembari menaik turunkan alisnya dengan ekspresi jahil.


Berniat untuk menggoda muridnya itu dan memancing pembicaraan.


Namun lagi-lagi Shera hanya menunjukkan ekspresi bosan, kemudian sembari menggelengkan kepalanya pelan ia pun berkata. “Ehh, tidak ingat!... tidak ingat punya pacar. ” Jawabannya singkat.


Membuat guru tadi pun kini menghela nafsnya, kemudian melirik ke arah kepala sekolah yang sedari tadi hanya mendengarkan dan sama sekali tidak berniat untuk ikut campur. “Ini anaknya bener-bener hilang ingatan ya pak?!!.... kok gak ingat sama pacarnya?!! ” Tanyanya, dengan sedikit rasa jengkel karena di abaikan.


Sedangkan kepala sekolah yang di tanyai itupun kini hanya terkekeh geli, kemudian sembari mengendalikan setir mobil ia pun berkata. “Jangankan pacar, pak!....dia aja gak ingat sama namanya sendiri. ” Ujarnya.


Dan hal itu pun membuat sang wali kelas kembali menghela nafsnya dengan berat, lalu menoleh kebelakang dan menatap gadis yang kini tengah diam bagaikan boneka cantik tak bernyawa. “Kalau kamu diam gitu suasananya jadi gak enak loh!.... apa jangan-jangan kamu lapar? tadi pagi belum sarapan?__” ia lagi-lagi bertanya, kemudian sedikit tersentak saat mengingat sesuatu. “__Eh, iya! kamu kan pingsan di kamar mandi sedari kemarin!!.... pantes aja kamu kelihatan lesu, kalau lapar bilang dong nak!!!” Ucapnya dengan begitu heboh.


Membuat sang kepala sekolah yang sedari tadi menyetir pun kini memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan menoleh ke belakang. “Loh, iya ya?!.... bapak baru ingat sekarang, jadi kamu mau makan apa?.... tenang, nanti biar bapak yang bayar! ” Ucapnya, yang menawarkan.


Namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dan berkata. “Hem, tidak lapar!... Shera mau pulang ke rumah saja!! ” Jawabannya, yang menolak tawaran itu.


“Loh, kok gitu? ayo ngomong doang kamu mau makan apa?!.... gak usah sungkan-sungkan, bapak iklas kok bayarin nya!” Desak kepala sekolah, yang berfikir bahwa gadis itu hanya sedang malu-malu karena merasa sungkan.


Akan tetapi, jawaban yang Shera berikan pun tetap sama seperti yang tadi. Gadis itu hanya berkata bahwa ia tidak lapar dan ingin segera pulang.

__ADS_1


Membuat kedua guru itu mau tak mau hanya menurutinya saja.


__ADS_2