Shera

Shera
tak bisa tidur


__ADS_3

Mendengar hal itu, mereka pun kini terdiam dengan dahi yang berkerut. Tatapan mereka pun nampak begitu bingung dan heran. Di sisi lain, Shera yang sadar akan ucapannya pun kini tertegun untuk sesaat, kedua matanya terbelalak lebar, salah satu tangannya terangkat dan menutupi mulutnya yang baru saja salah ucap tadi.


“Apa maksudnya?... ” Adam bertanya dengan heran, benar-benar tidak mengerti dengan kata-kata putrinya tadi.


“Ti... Tidak, bukan apa-apa!! ” Shera menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menyembunyikan kegugupan nya dengan memalingkan wajah.


Melihat hal itu, baik Adam maupun Malina pun kini mulai merasa curiga. Putrinya itu kini jelas sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.


“Nak, katakan ada apa?.... jangan menyembunyikan apapun dari kami!! ” Ucap Adam, yang bertanya sekali lagi dengan nada yang lebih tegas.


Benar-benar menuntut putrinya itu untuk berbicara jujur.


Sedangkan Shera yang merasa di desak itupun kini memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. “Saya.... ” gadis itu kembali menutup mulutnya, lalu menghembuskan nafas panjang dan kembali menatap ke arah sang ayah dengan penuh yakin. “.... Saya, tidak menyembunyikan apapun!! ” Jawabnya dengan tegas.


Berharap bahwa ayahnya itu akan percaya dengan kata-katanya.


Namun, sayangnya Adam adalah orang yang tidak mudah di tipu. Ia dengan jelas menyadari adanya kebohongan dalam kata-kata putrinya, apalagi saat melihat gelagat putrinya yang tampak gelisah tadi.


“Jangan berbohong, papa paling tidak suka jika ada orang yang berbohong!!” Ucapnya, dengan wajah galak dan tatapan mata yang begitu tegas.


Melihat hal itu, untuk sesaat Shera sempat bingung. Gadis itu tak tau lagi harus mengatakan apa, lidahnya tiba-tiba terasa keluh untuk berbicara. Berbohong di saat hatinya merasa gugup ternyata cukup menyulitkan, dan hal itupun membuatnya harus terjebak dalam dua pilihan.


Antara ia harus berkata jujur, ataukah kembali mengatakan kebohongan yang lain.


“Percayalah, saya tidak menyembunyikan apapun!.... ” Ucap gadis itu dengan bergumam lirih, kemudian menundukkan kepalanya dan berkata. “.... Saya rasa, saya akan bisa memulihkan ingatan saya kembali jika tetap berada di sekolah itu! ” Ucapnya lagi.


Dan Adam yang mendengar hal itu pun kini kembali bertanya sembari memicingkan kedua matanya dengan penuh curiga. “Mengapa kamu berfikir seperti itu?.... apa kamu yakin ingatan mu akan kembali jika tetap bersekolah di sana?!” Tanyanya, yang bertujuan untuk memancing putrinya itu.

__ADS_1


“Tentu saja!!....” Shera menjawab dengan cepat, namun setelah beberapa saat ekspresinya berubah murung. “.... Ta...Tapi saya tidak yakin!.... hanya saja, saya pikir itu akan sedikit membantu! ” Ucapnya, dengan ragu-ragu sembari mencuri-curi pandang untuk mengamati ekspresi wajah sang ayah.


Namun saat melihat Adam yang masih memandangi dirinya dengan tatapan penuh curiga, Shera pun kini buru-buru berkata. “Kejadian yang menimpa diri saya itu terjadi di dalam sekolah!.... mungkin saja masih ada banyak kejadian-kejadian penting lainnya yang pernah saya alami di sana, dan dengan itu juga, saya pikir ingatan saya akan sedikit demi sedikit pulih saat melihat tempat-tempat yang pernah saya kunjungi!” Ucapnya lagi, yang menjelaskan dengan panjang lebar.


Sungguh ia kini telah benar-benar menguras dan mengobrak-abrik seisi otaknya hanya untuk menemukan alasan sebagus itu.


Sedangkan Adam yang mendengar penjelasan dari putrinya itu pun kini hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, namun raut wajahnya masih terlihat begitu meragukan dengan beberapa kerutan tipis di dahi. “Hem, masuk akal!.... apa kamu berfikir seperti itu setelah bertemu dengan ‘anak’ tadi?! ” Tanya Adam.


Dan ‘anak’ yang ia maksud itu merujuk pada sosok pemuda yang mereka temui di rumah sakit tadi.


Siapa lagi kalau bukan Arka?!


Mendengar hal itu, Shera pun memerlukan beberapa detik untuk mencerna pertanyaan sang ayah. Dan saat pikirannya sudah tersambung, gadis itupun segera menganggukkan kepalanya dan berkata. “Iya itu benar!.... saya mendapatkan sedikit ingatan saat melihatnya, karena waktu itu ia nampak begitu tidak asing di mata saya!!” Ucapnya, yang kembali berbohong.


Dan sepertinya kali ini ia telah berhasil.


Mendengar hal itu, Shera pun kini diam-diam bernafas lega dalam hati. Lalu kemudian ia berkata. “Emm, pa!... ” Panggilnya.


Dan Adam pun menyahut. “Iya, ada apa?...”


“Apakah besok saya sudah boleh bersekolah?” Tanya Shera, yang membuat sang ayah kembali mengerutkan dahinya.


...»»————>✥<————««...


Suara pintu yang terbuka kini terdengar di salah satu kamar, membiarkan seorang gadis remaja masuk ke dalamnya dengan wajah riang yang tampak begitu gembira.


“Wah, aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari esok!” Gumamnya dengan penuh semangat.

__ADS_1


Shera kini benar-benar tampak begitu gembira akan suatu hal.


Dan sepertinya, ia baru saja mendapat persetujuan dari sang ayah setelah mengajukan permintaan dan berjuang dalam perdebatan yang panjang.


“Besok akan menjadi hari pertamaku!!..... apakah itu akan berjalan dengan lancar? apa nanti aku bisa mendapatkan teman?.... oh, ada banyak hal yang ingin aku lakukan, semoga malam ini cepat berlalu dan aku bisa segera pergi ke sekolah sebagai murid yang sesungguhnya!! ” Gumamnya dalam hati.


Gadis itu kini benar-benar tidak dapat menyembunyikan ekspresi bahagia di wajahnya, ia bahkan hampir saja berteriak dengan girang.


“Huff, aku ingin segera tidur! ” Ucapnya kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas kasus dengan gaya yang begitu dramatis.


Kemudian, sembari berbaring terlentang, ia kini menatap langit-langit ruangan dengan diam. Dan setelah beberapa saat, gadis itu pun memejamkan matanya. “Tidurlah, tidurlah!..... tidurlah yang nyenyak! ” Gumamnya lirih.


Namun setelah beberapa detik, kedua matanya yang terpejam itu pun kini kembali terbuka lebar. Lalu gadis itu kemudian mengambil sebuah bantal dan mendekap wajahnya pada bantal tersebut. “Ahhh!! aku tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat!!” Ucapnya, yang entah kini sedang merasa kesal atau gembira.


...»»————>✥<————««...


Hingga saat matahari pagi mulai menampakkan dirinya, gadis itu pun sampai saat ini masih terjaga dengan mata yang terbuka lebar. “Hah, aku benar-benar tidak bisa tidur! ” Ia menggela nafas dan bergumam dalam hati.


Lalu kemudian pandangannya pun melirik ke arah jendela kamar yang menampakkan suasana pagi dengan lagit biru yang cerah. “Akhirnya pagi datang, entah kenapa aku merasa kalau malam kali ini terasa sangat panjang! ” Gumamnya lagi, lalu segera beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh wajah.


...»»————>✥<————««...


Sedangkan di ruang bawah saat ini, tepatnya di meja makan keluarga, Adam kini nampaknya sedang sibuk membaca koran harian sembari menikmati secangkir kopi panas yang di sajikan secara langsung oleh sang istri.


Di sampingnya, malina yang sedari tadi sibuk mengoleskan selai di atas roti pun kini melirik ke arah tangga yang menuju lantai atas tempat kamar putrinya berada. “Anak itu apa sudah bangun ya?..... katanya mau berangkat sekolah pagi-pagi! ” Gumamnya, dengan suara lirih namun masih dapat di dengar oleh sang suami.


Adam yang mendengar hal itupun hanya melirik untuk seklias, kemudian ia lanjut membaca berita di koran dan menikmati kopinya sembari berkata. “Mungkin sebentar lagi dia turun, lagipula kenapa jadi kamu yang gelisah?!” Ucapnya, yang kemudian bertanya dengan heran.

__ADS_1


__ADS_2