
Shera yang melihat reaksi berlebih yang anak-anak itu tunjukkan pun kini memiringkan kepalanya. Kemudian, ia menatap mereka semua dengan heran sembari berkata.
“Kenapa kalian seperti itu? ” Ia bertanya dengan nada bingung, kemudian tertawa. “Pfftt__ hahahaha!!.... Lihatlah, wajah kalian sangat lucu!.... saya jadi tidak bisa menangis lagi! ” Ucapnya, sembari mengangkat salah satu tangannya ke mulut untuk menutupi senyumnya yang lebar.
Namun anak-anak yang melihat hal itu pun kini justru semakin merasa aneh, sikap dan cara gadis itu berbicara benar-benar tidak biasa, apalagi dengan penampilan yang berubah seratus delapan puluh derajat itu.
Dan karena merasa begitu penasaran, salah seorang siswi pun kini berjalan mendekat dan menyentuh pipi Shera dengan ragu-ragu sembari berkata. “E... Elu beneran Maya? ” Tanyanya, dengan tatapan curiga.
Mungkin perubahan yang begitu drastis ini membuat mereka merasa cukup sulit untuk mempercayainya.
“Maya?... ” Shera mengulangi nama yang siswi itu sebut. Kemudian, ia mengubah ekspresinya yang semula ceria menjadi datar dan dingin. “.... Saya Shera, bukan Maya!” Ucapnya, dengan tegas.
Sedangkan siswi tadi yang mendengar hal itu pun kini mengangkat salah satu alisnya dan menatap bingung ke arah gadis di hadapannya itu. “Hah? maksud lo apa? ” Tanyanya.
Namun, sebelum Shera sempat membuka mulutnya dan menjawab, seorang guru pun masuk kedalam kelas bertepatan dengan bunyi suara bel yang menandakan jam pelajaran telah di mulai.
“Selamat pagi anak-anak!!... ” Sapa guru itu kepada murid-muridnya dengan ramah. kemudian, ia mendudukkan dirinya di meja guru dan kembali berkata. “.... Silahkan kembali ke tempatnya masing-masing, dan seperti janji saya minggu lalu, sekarang kita ulangan harian ya! ” Ucapnya lagi, dengan senyum lebar di saat para murid-muridnya kini mendesah pelan dengan wajah lesu.
Shera yang juga mendengarnya pun kini hanya menatap guru itu dengan diam. Berbeda halnya dengan para murid-murid lain yang tampak kehilangan semangatnya setelah mendengar kata ‘Ujian’ dari mulut manis sang guru, gadis itu kini justru malah bersikap santai dengan hanya menganggukkan kepalanya pelan dan duduk manis di bangku mejanya yang berada di pojok kanan ruangan.
Tepatnya di bagian paling belakang!
...»»————>✥<————««...
__ADS_1
Satu jam pun kini talah berlalu, menandakan bahwa waktu ujian kini telah habis dan para siswa harus segera mengumpulkan jawaban yang mereka tulis di kertas.
Dan setelah melihat jam di tangannya, sang guru pun kini menepuk-nepuk kan tangannya beberapa kali untuk menarik perhatian para murid agar berhenti menulis. “Oke, waktu habis!... cepat kumpulkan ke sini!” Ucapnya, yang membuat mereka semua kini berwajah panik.
“Loh, Pak!.... saya belum selesai!! ” Ucap seorang siswa, kemudian ia kembali berkata. “... Lima menit lagi ya, ini tinggal dua soal, nanggung banget!... boleh yah? yah?!! ” Ucapnya lagi, yang berusaha untuk menawar dengan modal tampang memelas.
Dan hal itupun di angguki oleh teman-temannya yang juga belum selesai menjawab soal sepenuhnya.
Namun sang guru nampaknya tidak ingin mendengarkan alasan, ia kini bahkan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas. “Selesai gak selesai harus di kumpulan sekarang juga!!... ”kemudian ia tersenyum dan kembali berkata. “.... saya hitung sampai tiga, kalau gak ada yang mengumpulkan berarti nilainya kosong! ” Ucapnya lagi, yang membuat para murid itu kini mau tidak mau harus segera mengumpulkan lembar jawabannya di atas meja sang guru.
“Satu!... ”
Ia kini mulai berhitung.
Para siswa dan siswi kini mulai berjalan terburu-buru menuju mejanya untuk mengumpulkan lembar jawaban.
“Dua setengah!!.... ” Guru itu kini mengulur hitungannya dan sedikit meninggikan suaranya di saat ia melihat seorang siswi perempuan yang sedari tadi hanya diam dan duduk di bangku paling belakang.
“Loh, itu anak kenapa diam saja ya?! ” Ia bertanya-tanya dan bergumam dalam hati.
Lalu kemudian...
“Oke, tiga!!!.... kesempatan habis, terimakasih untuk yang sudah mengumpulkan, dan... ” ia menggantung ucapannya, dan menunjuk ke arah siswi perempuan tadi sembari berkata. “... itu yang duduk di bangku paling belakang kenapa tidak mengumpulkan?!.... belum selesai apa memang gak mau dapat nilai, hah?!! ”Tanyanya, dengan wajah yang berkerut kesal.
__ADS_1
Padahal tadi ia sudah ‘sedikit’ mengulur waktu, tapi siswi itu rupanya tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengumpulkan lembar jawabannya ke depan.
Sedangkan di sisi lain, Shera yang sedang di tunjuk pun kini mengedipkan kedua matanya dengan polos dan menatap guru itu dengan bingung. “Saya sudah mengumpulkan!... punya saya ada di lembar jawaban paling bawah, silahkan di periksa! ” Ucapnya, dengan begitu tenang sembari menunjuk tumpukan kertas yang ada di atas meja sang guru.
Mendengar apa yang Shera katakan, para siswa dan siswi yang lain pun kini mulai berbisik-bisik. Mereka jelas tidak melihat anak itu bergerak dari bangkunya, namun bagaimana bisa ia berkata kalau dirinya sudah mengumpulkan lembar jawaban?
Sang guru yang juga berfikiran sama pun kini semakin mengerutkan dahinya dan menatap gadis itu dengan penuh curiga.
“Baik, bapak akan cek sekarang!... ” Ia mengambil selembar kertas jawaban yang berada di tumpukan paling bawah seperti apa yang gadis itu katakan, kemudian guru itu mengangkat salah satu alisnya dengan heran sembari membacakan nama yang tertera di lembaran tersebut.
“Maya!!... Oh iya di sini tertulis nama kamu!! ” Ucap guru itu dengan nada bicara yang masih terkesan meragukan.
Sedangkan anak-anak yang lain kini memasang raut wajah keheranan sembari menatap aneh pada sosok gadis yang duduk di bangku paling pojok belakang itu.
“Eh, kok bisa?.... kalau lembar jawabannya ada di paling bawah itu artinya dia yang pertama ngumpulin dong?!” Bisik salah seorang siswi.
Kemudian siswi yang duduk sebangku dengannya pun kini menyahut. “Ah gak mungkin!! orang yang pertama kali ngumpulin jawaban itu gue kok!... lagian gue juga gak pernah tuh lihat dia maju ke depan terus ngumpulin lembar jawaban!... lo juga gak lihat, kan?! ” Ucapnya, dengan nada sewot serta kedua alis yang saling bertautan.
Sedangkan di sisi lain, guru yang tadi itu pun kini terlihat sedang kebingungan sembari memandangi selembar kertas yang ada di tangannya itu. “Aneh, padahal dia jelas-jelas tidak bergerak dari tempatnya!.... ” Gumamnya, yang merasa begitu janggal dalam hati.
Namun kemudian, ia menggelengkan kepalanya dan menepis pemikiran yang rumit itu lalu berkata. “Ya sudah, karena kalian sudah selesai mengerjakan soal.... jadi bapak akan pergi dulu! ” Ucapnya, kemudian kembali berkata. “Oh iya, tapi ingat!....Sebelum guru mata pelajaran berikutnya datang, jangan sampai ada yang keluyuran di luar kelas, apalagi sampai pergi ke kantin, mengerti?! ” ucapnya lagi, yang kemudian di angguki oleh anak-anak itu.
“Baik Pak!! ”
__ADS_1