
Wanita itu kini sedikit membeku untuk sesaat, pertanyaan yang di ajukan oleh putrinya itu terasa sangat berat untuk di jawab. Bibi yang mereka bicarakan adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di rumah ini.
Namun entah kenapa, tanpa sebab yang jelas ia tiba-tiba mengundurkan diri dan kembali ke kampung halamannya.
“Katanya dia ingin pulang ke kampung halamannya, tapi mama tidak tau pasti di mana tempatnya tinggal saat ini!” Ia sedikit memberi jeda, kemudian menghela nafas kecil dan berkata. “Untuk sekarang mama sedang mencari orang lain yang mau bekerja di sini menggantikannya.” Ucapnya, dengan ekspresi wajah yang nampak begitu murung.
Mendengar hal itu, Shera pun kini menundukkan kepalanya. Di ingatannya masih teringat jelas bagaimana ekspresi ketakutan di wajah wanita paruh baya itu saat melihat dirinya. “Maaf, tapi mungkin dia begitu karena saya! ” Ucapnya, yang nampak begitu bersalah.
Sedangkan Malina yang mendengar hal itupun kini tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian ia membelai kepala putrinya itu dengan lembut sembari berkata. “Tidak-tidak, itu tidak benar! Jauh sebelum itu bibi juga pernah bilang kepada mama kalau untuk waktu dekat ia akan mengundurkan diri, hanya saja mama tidak menyangka bahwa ia akan pergi secara tiba-tiba seperti itu. Kami bahkan tidak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal!” Ujarnya, yang mencoba untuk menghibur putrinya itu.
Karena sesuai dengan perkataan dokter, emosi negatif dapat mempengaruhi proses pemulihan ingatannya.
Shera yang mendengar hal itupun kini hanya menganggukkan kepalanya pelan, namun wajahnya masih tetap murung dan nampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
...»»————>✥<————««...
Setelah beberapa saat, hidangan untuk sarapan pun telah siap. Beberapa anggota keluarga pun kini telah duduk di meja makannya masing-masing. Shera yang sedang membantu sang ibu untuk menghidangkan makanan pun kini menghela nafasnya.
Adam yang menyadari hal itupun kini menaikkan salah satu alisnya dengan heran dan berkata.
“Nak, ada apa?” Tanyanya, dengan sedikit berbisik.
Namun Shera kini hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu, gadis itupun kemudian kembali melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil hidangan lain yang belum di letakkan di atas meja.
__ADS_1
Ezra yang juga melihat hal itupun kini mengerutkan dahinya, dalam fikirannya ia beranggapan bahwa sikap adiknya itu dikarenakan perbuatannya kemarin. Saat di dalam mobil ia memang sempat membentak dan memarahinya, bahkan lebih parahnya ia pun sempat berbuat kasar dengan mendorong tubuh gadis itu.
“Ck, sial!!!... Harusnya gue gak ngelakuin itu!” Gumamnya dalam hati, dan memaki-maki dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan terhadap adik perempuan itu.
Kemudian, Ezra pun segera berdiri dari duduknya. Pemuda itu jelas telah sadar akan kesalahannya, dan karena itulah ia berinisiatif untuk berbicara empat mata dengan Shera agar bisa meminta maaf kepadanya.
“May... Shera!” Panggilnya, di saat ia kini telah berdiri tepat di belakang gadis itu.
Shera yang merasa di panggil itupun kini menolehkan kepalanya ke belakang, kemudian ia menaikkan salah satu alisnya dan berkata. “Iya? Ada apa?” Tanyanya dengan bingung.
Ekspresi di wajah kakaknya itu terlihat sangat tidak baik, ia kini terlihat seperti sedang tertekan dan merasa gelisah akan sesuatu. “Kak, ada apa?... Kamu tampak tidak sedang baik-baik saja!” Ucap Shera, sembari menyentuh salah satu sisi wajah Ezra dengan lembut.
Mencoba untuk melihat apakah pemuda itu kini sedang dalam masalah atau tidak.
Sepertinya, Ezra kini tengah salah paham dalam mengartikan tindakan Shera. Gadis itu terlihat murung bukan karena perlakuannya tadi malam, sebaliknya gadis itu bahkan tidak terlalu memperdulikan nya.
“Apa yang kakak katakan?” Shera bertanya. kemudian mengerutkan dahinya dengan bingung dan berkata. “Aku tidak sedang...”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba seseorang pun datang dan mengejutkan mereka berdua.
“Kenapa kalian diam di sini?! Semuanya sudah menunggu, cepat bawa makanan itu ke meja!” Ucap Malina, yang menegur putra dan putrinya itu.
Shera dan Ezra yang mendengar hal itupun kini langsung menoleh, kemudian mereka saling melirik antara satu sama lain sebelum akhirnya Ezra berkata. “Kita lanjut bicara nanti aja, ayo kakak bantu kamu bawaiin ini!” Ucapnya, sembari mengambil piring berisikan makanan di tangan Shera.
__ADS_1
Setelah itu, mereka pun keluar dari dapur dan kembali bergabung di meja makan bersama dengan yang lain.
...»»————>✥<————««...
06.30 WIB
Sebuah mobil kini berhenti tak jauh dari gerbang masuk sekolah, seorang gadis berseragam pun turun dari dalam mobil dan mencuri perhatian dari sebagian orang.
Dengan rambut panjang yang di kuncir kuda, semua orang pun dapat melihat leher jenjang milik gadis itu yang tampak sangat menggoda. Wajahnya pun terlihat begitu cantik dan manis, dan hal itupun membuat semua orang kini tidak bisa untuk mengalihkan pandangan mereka darinya.
Dari arah lain, seorang pemuda dengan seragam serupa pun terlihat sedang mengendarai motor besarnya. Namun saat pandangannya menangkap keberadaan gadis itu, ia pun segera menepi dan berhenti di pinggir jalan.
“Shera?” Arka bergumam dan menyebutkan nama gadis itu dengan lirih.
Namun saat ia ingin menghampiri gadis itu dan menyapanya, tiba-tiba dari dalam mobil seorang pemuda pun keluar dan nampak sedang berbicara dengan gadis itu. Arka yang melihatnya pun kini mengerutkan dahinya, mereka berdua tampak begitu dekat dan akrab. Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham dan beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Dan entah kenapa, saat memikirkan hal itu hatinya pun tiba-tiba menjadi kesal. Ia tidak tau apa salah gadis itu, namun saat melihatnya tersenyum dan akrab dengan lelaki lain, sebuah rasa tak rela pun muncul. Dan hal itupun membuatnya merasa begitu kesal.
“Apaan sih?! Emang dia siapanya gue?!... Ngapain juga gue kesel ngelihat dia deket-deket sama cowok lain?!” Ucapnya dalam hati, yang mengelak untuk mengaku bahwa saat ini ia sedang merasa cemburu.
Padahal, pemuda yang Arka lihat bersama Shera saat ini tidak lain adalah Ezra, kakak kandung dari gadis itu. Namun karena ia tidak tau, Arka pun menjadi salah paham dan beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Dan di saat ia larut dalam pikirannya, tiba-tiba pandangan gadis itu pun kini tertuju kepadanya. Hal itupun sontak membuat Arka terkejut dan membelalakkan matanya, dalam hati ia sama sekali tidak menyangka bahwa kedua mata mereka akan bertemu dan saling bertatapan seperti ini.
__ADS_1
Merasa malu, ia pun segera mengalihkan pandangannya. Kemudian dengan cepat melaju pergi dan masuk ke dalam area parkir sekolah tanpa mau menoleh ke arah gadis itu sedikitpun.