
Leon akhirnya kembali ke dalam kelasnya. Dino yang melihat Leon terkejut, apalagi melihat tangan pria itu yang kini terlihat terluka.
"Lo kenapa?" tanya Dino.
Leon belum menjawab pertanyaan dari Dino barusan, tiba-tiba Fira langsung menghampiri Leon karena dia merasa sangat khawatir. Apalagi tadi dia tahu kalau Leon di bawa oleh Gumara.
"Ya ampun! Leon, kamu gak papa kan?" tanya Fira.
"Lo gak usah khawatir, gue baik-baik saja," jawab Leon dengan santai. Dia sudah bisa melakukan semuanya dengan baik.
Dino menatap kearah Fira dengan nada yang tidak suka. Apalagi setelah mendengar nama Gumara yang tadi disebut oleh Fira barusan. Dino menatap tajam kearah Fira.
"Lo sengaja membuat Leon jadi umpan!" marah Dino kepada Fira dengan rasa benci. Dino adalah orang yang tidak suka dengan Fira, apalagi setelah wanita itu membuat seseorang temannya terluka.
"Apa sih lo gendut! Gak usah sok ngurusin urusan gue!" maki Fira memutar bola matanya jengah.
"Lo sama Gumara itu sama saja! Tukang menyiksa banyak orang!" ujar Dino.
"Sudah jangan berisik! Gue baik-baik saja! Kalian tidak usah khawatir!"
Leon akhirnya memutuskan untuk duduk, lagian mereka semuanya tidak tahu kalau sekarang Leon sudah mengalahkan Gumara, jadi dia tidak usah khawatir.
Dino membawa lap yang memang selalu dia bawa, dia melihat kearah luka Leon. "Ini lap darahnya," gumam Dino.
"Thanks," gumam Leon yang kini mengobati
lukanya agar tidak keluar.
Tetapi Fira tidak terima melihat Leon seperti ini, Lebih baik sekarang lo ikut gue ke ruangan UKS yuk," ajak Fira.
Leon menatap kearah Fira, dia tidak mau jika harus pergi ke ruang UKS, lukanya tidak terlalu banyak, lagian dia bisa mengobatinya sendiri nanti.
"Gue gak terlalu terluka, Lo gak usah khawatir," gumam Leon dengan santai.
Sampai Zahra masuk ke dalam ruang kelas ini dan membuat semua orang heboh. Pasalnya Zahra baru pertama kali melihat Gumara terluka, biasanya tidak ada orang yang berani menyentuh pria itu, apalagi sampai membuat terluka.
__ADS_1
"Gue dapat berita baru! Gumara terluka dan ada di ruangan UKS!" ujar Zahra.
"Ngaco lo Zahra, tukang bully kaya gitu gak mungkin bisa terluka!" balas Dino yang tidak percaya sama sekali.
"Iya benar, pasti itu alasan saja kalau dia mau bolos kelas dan milih sembunyi di UKS!" kata siswa yang lainnya. Mereka semuanya tidak percaya kalau Gumara bisa terluka seperti itu.
"Gue serius elah! Masa lo semuanya gak percaya!" ujar Zahra memutar bola matanya jengah.
Sasha melihat kearah Zahra, dia tahu kalau temannya pasti berkata benar. "Siapa orang yang sudah membuat Gumara terluka kaya gitu? Pasti dia orang yang hebat," gumam Sasha yang malah membayangkan sesuatu.
Berbeda dengan tatapan mata Fira yang kini tertuju kepada Leon. Setahu dia tadi, Gumara membawa Leon, tetapi membuat Gumara terluka seperti itu rasanya hal yang aneh.
Leon menyadari tatapan dari Fira, dia tersenyum cool karena memang dia adalah orang yang sudah membuat Gumara terluka.
"Eh itu lihat, Gumara benar-benar terluka!" gumam ketua kelas mereka ketika melihat kearah Gumara dan kedua anak buahnya yang selalu mengikuti dirinya ke mana pun juga.
Gumara melirik kearah kelas ini sekilas sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi, semua siswa yang ada di sini ikut heboh karena melihat Gumara yang terluka. Banyak dari mereka yang merasa bahagia karena Gumara mendapatkan karma karena sudah membully orang lain.
"Gila, Gumara benar-benar babak belur begitu," gumam Dino yang memang memiliki dendam dengan Gumara Karena selalu membully dirinya.
Sasha yang ada di sana juga ikut heboh, "Siapa yah orang yang sudah membuat Gumara babak belur seperti ini, dia pasti orang yang tampan dan juga keren!" puji Sasha.
Sedangkan Fira malah berjalan mendekati Leon karena dia merasa yakin kalau Leon adalah orang yang sudah membuat Gumara terluka. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Leon bisa melakukan itu.
"Gue tahu kalau lo yang sudah melakukan itu, selamat yah." Fira berbisik pelan agar tidak ada yang mendengar perkataan mereka untuk saat ini.
Leon hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya guru datang ke kelas dan semua siswa kini sudah duduk di kursinya.
***
Sementara di tempat lain, Gumara kesal dengan Leon yang sudah membuat dia terluka. Akhirnya dia datang ke ruangan ayahnya untuk melaporkan kejadian yang sudah menimpa dirinya saat ini.
"Papah!" panggil Gumara dengan nada yang sedikit manja kepada ayahnya.
Rudi melihat kearah anaknya sambil menaikkan sebelah alisnya, "Ada apa nak? Muka kamu kenapa jadi bonyok begitu?"
__ADS_1
"Itu pah, ada siswa baru yang sudah berani membuatku begini," ujar Gumara yang kini mengadu kepada ayahnya kalau memang dia sudah dibuat celaka oleh seseorang yang membuat dia menjadi kesal.
"Kenapa kamu tidak bisa mengalahkan dia?" tanya
Rudi.
"Susah pah, dia jago berkelahi rupanya. Tampilannya saja yang terlihat cupu!" ujar Gumara.
Rudi terdiam sejenak, dia teringat dengan siswa cupu yang memang baru masuk ke sekolah ini. "Siswa pindahan itu, yang cupu? Apa kamu becanda nak? Tidak mungkin kalau dia melakukan itu padamu," ujar Rudi yang malah tertawa.
Gumara mencibir karena dia kesal dengan ayahnya. Mengapa tidak membela dirinya? Malah dia yang kini disalahkan seperti ini. Membuat dia merasa sangat kesal saja.
"Pokonya aku gak mau tahu! Papah harus membawa dia ke sini. Anak itu sudah membuat malu aku!" paksa Gumara kepada ayahnya.
Rudi menghela napasnya, dia selalu menuruti keinginan anaknya. Termasuk untuk menutupi kesalahan yang sudah dibuat oleh anaknya.
"Baiklah, papah akan memanggil dia datang ke sini," ujar Rudi yang menuruti keinginan anaknya.
Gumara tersenyum senang karena ayahnya akan memberikan pelajaran pada anak itu nanti, walaupun sebenarnya dia sedikit kesal tetapi untuk saat ini dia bisa menahannya.
Rudi mengambil teleponnya dan menyuruh salah satu guru untuk memanggil siswa baru yang cupu itu datang ke sini.
"Hallo, panggil siswa baru yang pakai kacamata bernama Leon itu datang ke ruang saya sekarang!" Perintah Rudi.
"Baik Pak Rudi, akan saya laksanakan!" gumam orang tersebut.
Rudi akhirnya memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Dia jadi merasa tenang untuk sekarang, tidak pernah dia bayangkan kalau semuanya jadi lebih baik.
"Papah sudah memanggil anak itu untuk datang ke sini, kamu tinggal menunggu saja!" ujar Rudi kepada anaknya.
Gumara tersenyum dengan penuh arti, dia akan memang melawan pria cupu yang sudah membuat dia merasa sangat malu. "Terima kasih banyak pah."
Rudi hanya mengangguk dan menunggu anak baru yang sudah membuat anaknya jadi terluka seperti ini. Sebenernya dia sedikit merasa malu, tetapi dia tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini.
Gumara tersenyum dengan sinis karena rencana dia membuat Leon akan berhasil lewat hukuman yang diberikan oleh ayahnya nanti.
__ADS_1
"Lihat lo Leon," gumam Gumara.
BERSAMBUNG