SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Fira Dibantu Mata-mata Leon


__ADS_3

Fira sudah memakai jaket untuk menutupi lukanya sekarang. Bersama dengan ibunya yang kini merangkul anaknya.


Dia mengendap-endap berusaha untuk kabur dari sini.


Sampai di depan pintu, banyak penjaga yang ada di sini. "Penjaganya banyak sekali," gumam Fira yang sama sekali tidak bisa berlari dari sini. Terlalu banyak penjaga di depan rumah ini.


"Sepertinya memang kita susah untuk keluar dari sini nak," gumam Susan kepada anaknya dengan pasrah.


Fira berpikir sejenak, tiba-tiba teringat dengan pria yang tadi memberikan dia pisau. Dia membisikan sesuatu kepada ibunya untuk idenya.


"Kamu yakin nak?" tanya Susan setelah mendengar bisikan dari anaknya.


"Iya, aku yakin. Ibu tenang dulu."


Fira mengatakan itu, lalu dia mencari penjaga yang memang tadi menolong dirinya dengan memberikan pisau. Dia mencari orang tersebut karena Fira ingat dengan mukanya. Jadi membuat dia gampang mencari orangnya. Dia akan meminta bantuan orang tersebut untuk kabur dari tempat ini.


"Hei pengawal, sini sebentar!" Fira mengatakan itu kepada pengawal yang tadi memberikan pisau. Tanpa mencari curiga dengan yang lain, orang yang dipanggil tersebut menghampiri Fira.


Dia hanya berbisik pelan, agar tidak ada yang mendengar perkataan mereka. "tolong saya."


Hanya berkata seperti itu, tetapi pengawal tersebut langsung paham. Dia langsung mengeluarkan keras dari saku yang ada di tangannya. Ini adalah sebuah denah para penjaga yang berjaga di sini.


Fira menerimanya dan dia langsung pergi menghampiri ibunya. Dia melihat kertas yang diberikan oleh penjaga tadi. Dia tersenyum dengan tenang sekarang karena paham maksud orang tersebut.


"Dia hanya memberikan kertas ini," ujar Fira.


Susan melihatnya secara seksama, "ini denah tentang orang yang ada di rumah. Sepertinya dia meminta kita untuk jalan ke belakang, di depan penjaganya tidak terlalu ketat," ujar Susan.


Fira paham dengan perkataan ibunya, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar lewat pintu belakang. Dia berjalan menuju kearah sana, tempat itu memang sedikit penjaga. Berbada dengan yang di depan banyak sekali penjagaanya. Sepertinya orang yang tadi membantu dirinya memang sudah paham tentang tata letak penjaga di sini.


"Ayo jalan sini mah," ujar Fira.


Susan berjalan kearah belakang rumah bersama


dengan anaknya. Sampai ada orang yang melihatnya.


Susan melotot dan Fira menjadi panik karena sekarang mereka malah ketahuan. "Mau ke mana kalian?" tanya penjaga tersebut yang


melihat Fira dan Susan hendak akan keluar.


Orang tersebut hendak akan berteriak memberitahu yang lain kalau Fira dan ibunya kabur, tetapi sudah dipukul dari belakang orang seseorang. Dia adalah yang memberikan kertas kepada Fira.


"Cepat kalian keluar, jangan sampai yang lain menyadarinya. Saya yang akan mengurus orang tersebut!" kata orang yang tadi menolong mereka.


Fira mengangguk bersama dengan ibunya, dia tidak tahu orang baik yang membantu dirinya kabur dari sini. Yang jelas nanti mungkin mereka akan berhutang budi kepada orang tersebut. Fira mengingat wajah orang tersebut, siapa tahu memang mereka bisa ketemu lagi nanti.

__ADS_1


"Terima kasih banyak."


"Cepat pergi sebelum ketahuan!" ujar orang


tersebut.


Fira mengatakan itu, lalu dia memutuskan untuk pergi dari sini. Bersama dengan ibunya sekarang, mereka berdua berlari sedikit agar jauh dari tempat ini.


Tidak membawa apapun dan sekarang Fira bingung harus ke mana dengan ibunya. Ponselnya juga masih disita oleh Gumara. Begitu pun dengan ponsel ibunya yang sengaja dirusak oleh Gumara. "Kita ke mana? Rumah lama kita bukannya sudah dijual," gumam Susan.


Fira terdiam sejenak, dia tidak punya tempat tujuan sekarang. Tidak mungkin kalau dia pergi ke rumah temannya Zahra atau Sasha sekarang. Tiba-tiba dia teringat dengan rumah Leon. Mungkin dia bisa berkunjung ke sana, walaupun kemungkinannya dia tidak akan menerima dia.


"Ikut dengan aku mah. Kita akan berkunjung ke rumah temanku," gumam Fira yang kini penuh dengan keyakinan.


"Kamu yakin?" tanya Susan yang sedikit ragu dengan anaknya. Susan hanya takut merepotkan teman dari anaknya tersebut.


"Aku yakin, kita tidak punya pilihan lain," gumam Fira.


Susan hanya mengangguk, dia mengambil uang dalam sakunya yang memang tidak seberapa. Mungkin ini cukup untuk mereka berdua pergi naik kendaraan.


"Kita naik kendaraan yah, aku punya uang segini di saku."


Susan mengeluarkan uang satu lembar berwarna biru dan satu lembar berwarna hijau. Fira hanya mengangguk dan menunggu ada kendaraan lewat. Bersyukur ibunya selalu menyimpan uang di sakunya. Walaupun sedikit tetapi itu cukup untuk mereka berdua ke tempat tujuan sekarang.


Sementara di tempat lain. Amar hanya bisa terdiam di dalam kamarnya sambil memandang foto Sasha yang dikirim oleh Dino. Amar juga mempunyai nomor baru Sasha karena Dino yang memberikannya.


"Permisi."


Amar menaikan sebelah alisnya ketika mendengar suara seorang perempuan diluar. Akhirnya dia menaruh ponselnya dan memutuskan untuk melihat orang tersebut.


Amar mengintip dari jendela karena ingin memastikan. Setelah dia melihat ternyata itu adalah Fira dan seorang wanita paruh baya, akhirnya dia membukakan pintu tersebut.


"Lo, Fira."


"Amar, apa kita boleh masuk ke rumah lo. Gue gak punya tempat tujuan," gumam Fira yang nampak sedih. Membuat Amar menaikan sebelah alisnya. Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu dengan Fira sekarang.


"Yaudah ayo masuk dulu."


Fira akhirnya masuk dan mengajak ibunya juga untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Lalu Fira teringat dengan Leon, pria itu pasti tidak akan mengizinkan dia.


"Leon mana? Gue pengen minta maaf sama dia," ujar Fira kepada Amar.


Amar menggaruk kepalanya sendiri, bingung harus mengatakan apa, karena memang selama ini Leon sudah membohongi Fira tentang rumahnya.


"Em dia sedang keluar, nanti gue akan menghubunginya."

__ADS_1


Amar mengatakan itu kepada Fira agar tidak curiga. Tidak lupa dia mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Leon agar pria itu mau datang ke sini.


"Ini nyokap lo?" tanya Amar ketika melihat kearah Susan.


"Iya ini nyokap gue," ujar Fira.


Susan menjabat tangan Amar dengan lembut. Maaf yah, jadi merepotkan nak Amar," ujar Susan.


"Tidak apa Tante. Oh yah, kalian datang ke sini tadi karena tidak punya tempat tujuan. Apa lo sedang ada masalah?" tanya Amar.


Walaupun kemungkinan besar Amar sudah tahu tentang hal ini. Apalagi dia tahu hubungan Fira dengan Gumara karena Leon sudah menjelaskan semuanya.


"Kami berdua sebenernya kabur dari rumah. Kita tidak punya tujuan harus ke mana. Kalau diizinkan bolehkan kami di sini untuk sementara waktu." Fira mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya karena malu mengatakan ini pada Amar.


Sedangkan Amar paham dengan situasi seperti ini. "Yaudah kalau begitu, kalian berdua boleh tinggal di sini. Anggap saja sebagai rumah sendiri," ujar Amar dengan santai.


Lagian dia selama ini hanya tinggal sendirian. Tidak jadi masalah jika Fira dan ibunya tinggal di sini. Hanya saja memang di rumah ini dia hanya punya dua kamar. Nanti Fira dan ibunya akan tinggal satu kamar." Di sini hanya ada dua kamar tapi, nanti lo sama nyokap tinggal satu kamar."


"Terimakasih nak," ujar Susan yang berterima kasih.


Fira memikirkan tentang Leon. Apa dia juga akan mengizinkan jika dia sementara tinggal di sini. "Apa Leon tidak akan marah kalau kita tinggal di sini?"


Amar tersenyum sekilas, lagian sebenarnya ini adalah rumah dirinya. Leon tidak akan mungkin marah juga kalau Fira tinggal di sini. Amar juga kasian kepada dua wanita yang tidak punya tujuan itu.


"Dia tidak akan marah, kalian berdua bisa tinggal di sini untuk sementara," ujar Amar.


"Makasih banyak yah nak," ujar Susan.


"Iya Tante sama-sama." Amar jadi bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi dengan tulus setelah sekian lama dia tidak merasakan hal itu lagi.


"Boleh Tante minta obat, Tante ingin mengobati luka Fira dulu," ujar Susan mengingat luka dipunggung anaknya.


Amar baru menyadari kalau tangan Susan terluka dan Fira terlihat pucat seperti menahan kesakitan. Dia yakin kalau sudah terjadi sesuatu dengan dua orang wanita tersebut..


"Sebentar yah," ujar Amar.


Lalu dia mengambil kotak obat dan memberikan itu pada ibunya Fira. Amar terkejut ketika melihat Fira membuka jaket yang digunakannya. Punggungnya sudah dipenuhi oleh luka. Dia yakin kalau Leon melihat ini, maka dia akan langsung emosi. yang


"Ya ampun, kenapa ini punggungnya penuh dengan luka?" tanya Amar terkejut.


"Iya, suami saya ternyata bukan orang yang baik selama ini. Dia selalu menyiksa anak saya," terang Susan merasa bersalah karena sudah menikah dengan ayahnya Gumara.


Sedangkan Fira tidak bisa berkata apapun, dia sesekali meringis ketika lukanya sedang diobati oleh ibunya.


"Kalau Leon tahu, bisa berabe ini urusan."

__ADS_1


__ADS_2