
Leon bersama dengan Dino langsung ke dalam rumah Amar. Dia melihat Amar yang sudah dalam keadaan terluka, begitu juga dengan Fira yang pingsan tidak sadarkan dirinya. Leon langsung menghampiri Fira karena dia merasa khawatir.
"Fira," ujar Leon menepuk pundak Fira. Berharap wanita itu agar segara bangun. Dia merasa khawatir kalau sampai tidak sadar nanti.
Dia membaringkan Fira dia sofa, dia tidak bisa membayangkan kalau Fira akan jadi seperti ini. Pasti ini semuanya gara-gara anak buah Pak Rudi. Dia sudah pergi membawa ibunya Fira sebagai sandra.
Dino berusaha untuk merangkul Amar yang sedang kesakitan sekarang. "Apa mau gue panggilkan dokter?" tawar Dino.
"Tidak usah, tangan gue hanya terluka ringan saja." Amar memang tidak mau jika harus berurusan dengan dokter. Dia sudah terbiasa untuk mengobati lukanya sendiri.
Leon melirik kearah Amar untuk melihat keadaan pria itu juga. Padahal dia sudah menyiapkan para pengawal dari kejauhan. Tetapi malah tetap dia kecolongan juga. "Kenapa Fira bisa pingsan?"
"Tadi ada yang memukulnya dari belakang ketika akan menolong ibunya." Leon mengepalkan tangannya, Rudi benar-benar
sudah membuat dia marah. Pria pengecut itu datang hanya ketika keadaan sedang lengah. Apalagi sedang tidak ada dirinya di tempat ini.
"Sialan, kita harus datang ke sana!" ujar Leon.
Amar menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya lo jangan gegabah Leon. Bu Susan masih istri sahnya Pak Rudi, dia hampir membawa polisi dan melaporkan gue atas penculikan tadi."
Leon lupa dengan hal ini, harusnya dia mempersiapkan gugatan untuk membantu Bu Susan bercerai dengan Pak Rudi. Apalagi dia punya video penganiayaan bisa dia gunakan nanti.
"Kalau begitu gue bakal hubungi bokap buat cari pengacara," jelas Leon yang kini mengambil ponselnya.
Dia menghubungi ayahnya karena sekarang sedang butuh bantuannya.
"Hallo Daddy."
"Kenapa nak? Ada yang bisa Daddy bantu?" tanya Rian kepada anaknya.
"Iya Daddy. Aku butuh pengacara," jelas Leon.
"Untuk apa nak? Kamu tidak sedang terlibat dengan kasus hukum kan?" tanya Rian yang khawatir dengan anaknya.
"Tidak Daddy. Hanya saja memang aku ingin ibunya Fira berpisah dengan Pak Rudi," jelas Leon.
"Itu urusan rumah tangga orang nak, sebaiknya kamu jangan terlalu ikut campur dengan hal ini. Ingat fokus kamu sekarang adalah untuk menemukan pelaku yang sudah membuat adikmu celaka." Rina hanya bisa menasehati anaknya karena memang tujuan awal mereka untuk hal itu.
__ADS_1
Leon mendesah pelan karena Daddy nya berbeda dengan papahnya yang selalu cepat membantu dirinya.
"Aku tahu Daddy kalau tentang itu. Lagian Pak Rudi juga terlibat dengan kasus Lena!"
"Kamu ini memang suka keras kepala, yaudah kalau begitu, nanti Daddy akan carikan pengacara untuk kamu." Rian akhirnya pasrah dengan permintaan anaknya.
"Makasih Daddy."
Leon langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia melihat kearah Amar yang sedang diobati lukanya oleh Dino. Banyak luka legam pada Amar saat ini, dia merasa kasian tetapi mau bagaimana lagi.
"Gue udah hubungi bokap. Dia akan bantu mencarikan pengacara, semoga saja nanti Bu Susan bisa cepat cerai dengan Pak Rudi."
Dino hanya mengangguk setuju, lalu dia melihat kearah Fira yang masih pingsan. Bagaimana caranya agar wanita itu bisa bangun sekarang? Leon belum punya pengalaman tentang hal ini.
"Leon, sebaiknya lo kasih minyak angin pada Fira agar dia bangun," saran Dino.
Leon mengangguk, lalu dia mencari kotak obat. Dia melihat kearah wajah Fira setelah menemukan minyak angin tersebut.
Dia memperhatikan wajah Fira dan membiarkan wanita itu menghirup baunya. Dia berharap wanita itu akan cepat segara sadar.
"Bangun Fira," gumam Leon dengan penuh harap.
"Mamah," panggil Fira.
Leon langsung memeluk Fira karena takut wanita itu akan histeris. "Lo tenang yah, gue janji pasti akan membantu lo," gumam Leon mencoba untuk menenangkan Fira.
"Nyokap gue dibawa Leon." Fira merasa gagal karena tidak bisa mempertahankan ibunya tadi. Orang-orang Pak Rudi sudah membawa paksa ibunya, apalagi dia membawa para warga dan mengatakan kalau ibunya masih istri sah Pak Rudi.
"Lo minum dulu, lebih baik tenang."
Leon memberikan minum untuk Fira, mencoba untuk membuat wanita itu lebih tenang. Dia sebisa mungkin akan membantu Fira untuk membantu membawa ibunya kembali ke sisinya.
Amar dan Dino hanya bisa melihat kedua pasangan itu. "Lo liat kan? Leon sudah mulai perhatian," bisik Amar kepada Dino.
"Iya, gue bisa liat sisi lain dari Leon," jelas Dino ketika melihat itu semuanya. Awalnya memang Dino tidak suka dengan Fira, tetapi setelah melihat keadaan wanita itu dan mengetahui kalau Fira tidak terlibat. Jadi sekarang sudah baik mendukung hubungan mereka. Walaupun Leon sendiri masih gengsi mengakui hubungan dirinya.
Sementara itu. Di tempat lain Hamdan melihat kearah istrinya dengan sengit. Dia tidak bisa menyangka sama sekali dengan hal ini. Satu fakta yang dia ketahui kalau istrinya memang tahu keberadaan Yura.
__ADS_1
"Selama ini kamu menyembunyikan kebenaran saudaramu sendiri," ujar Hamdan.
Yuna menatap kearah suaminya, dia terkejut ketika suaminya tiba-tiba mengatakan ini padanya. Memang dari awal dia yang menyembunyikan keberadaan adiknya. "Aku memang sengaja melakukan itu. Kamu tahu sendiri keadaan dia dulu."
Hamdan menatap istrinya sambil menahan emosi. Bukan tanpa alasan dia tidak suka dengan ide suaminya. Gara-gara hal tersebut, anaknya yang hampir saja akan menjadi korban. "Kamu tidak tahu kalau selama ini anak kita sering diteror oleh orang lain."
Yuna yang mendengar hal tersebut pun terkejut. Darda tidak pernah mengatakan apapun kepada dirinya selama ini. Yang dia tahu kalau Darda jarang masuk ke sekolah saja. Anak itu sering bolos sekolah.
"Siapa orang yang berani meneror anak kita?" tanya Yuna penasaran. Yuna sama sekali tidak tahu kalau anaknya bisa mendapatkan teror. Padahal selama ini dia selalu menyembunyikan identitas anaknya dari orang lain.
Yuna takut ada orang yang sengaja ingin mencelakai anaknya. Makanya dia selama ini menyembunyikan hal itu dari orang lain. Lalu siapa orang yang sudah berani menganggu anaknya. Apa ini ada hubungannya dengan alasan anaknya tidak masuk ke sekolah.
"Aku menemui Rehan ke rumahnya dan kebetulan ada Leon juga di sana kemarin. Dia menceritakan tentang Darda yang sering diteror oleh orang misterius dan ternyata orang tersebut adalah satpam sekolah. Satpam sekolah itu anak buah dari kepala sekolah. Kamu tahu orang yang ada di belakang kepala sekolah itu siapa? Adik kamu!" jelas Hamdan memberitahu istrinya tentang apa yang sudah terjadi.
Yuna terkejut ketika mendengar fakta yang baru saja dia ketahui. Dia tidak menyangka kalau adiknya akan melakukan itu. Untuk apa adiknya sampai melakukan hal tersebut? Pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui di sini.
"Kamu yakin? Adikku tidak mungkin melakukan hal itu!" bela Yuna yang tidak percaya.
"Iya, aku tidak tahu motif dia melakukan itu apa, yang jelas ini ada hubungannya dengan anaknya Rian, pacar dari Darda. Wanita yang koma karena kecelakaan di sekolah. Bahkan aku yakin kalau kamu juga tidak tahu kasus ini di tutup oleh pihak sekolah," jelas Hamdan.
Hamdan mengatakan itu kepada istrinya, hanya istrinya yang tahu keberadaan adik iparnya itu. Semoga dengan hal ini, istrinya jadi sedikit sadar.
Yuna hanya diam setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan begini. Selama ini dia selalu sibuk di rumah mengurus rumah tangganya. Urusan sekolah dia serahkan semuanya kepada adiknya.
"Kalau begitu, nanti aku akan bertemu dengan dia."
Hamdan tersenyum mendengar hal tersebut. "Aku harap kamu tidak hanya menemui dia, tetapi memberikan peringatan kepada wanita itu."
Hamdan mengatakan itu dengan tegas dengan istrinya. Dia sudah berpikir kalau semuanya akan jadi lebih baik.
"Aku akan menemui dia dan menanyakan hal ini padanya," gumam Yuna. Dia tidak menyangka kalau anaknya sampai mendapatkan teror seperti itu.
"Sebaiknya memang begitu," jelas Hamdan.
Yuna mengambil tas milik dirinya dan mengambil kunci mobilnya sendiri, sekarang saatnya dia untuk bertemu dengan dengan adiknya. Dia akan mendengar sendiri alasan dari adiknya. "Aku pamit keluar dulu," pamit Yuna.
"Hati-hati," jawab Hamdan yang melihat kepergian dari istrinya.
__ADS_1
Dia akan membiarkan istrinya pergi, lalu dia mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang.