
"Suka-suka gue dong kalau mau bermesraan dengan Darda, lagian kaya lo gak pernah aja!" balas Lena menatap kearah Leon. Apalagi dia tahu sendiri kalau Leon habis mencium Fira di tempat umum.
Leon malas berdebat dengan Lena, akhirnya dia langsung menarik tangan adiknya untuk ikut bersama dengan dirinya.
"Ikut gue!"
"Hei bentar dulu, gue tadi bersembunyi dengan Darda karena melihat Zahra dan Gumara!" jelas Lena memberitahu Leon agar melepaskan tangannya yang dipaksa.
"lya benar, kita tadi tidak sengaja mendengar ucapan dari Gumara." Darda ikut menimpali karena dia juga belum mau jika harus berpisah dengan Lena dulu. Apalagi memang dia beda kelas dengan kekasihnya.
"Apa yang kalian dengar?" tanya Fira yang merasa penasaran. Apalagi ini menyangkut Gumara, pasti ada hal yang memang penting bukan.
Lena tersenyum dengan penuh arti ketika mendengar pertanyaan dari Fira barusan. "Gumara marah karena lihat Leon mencium lo, emang benar yah, Leon cium lo?" tanya Leon.
Fira bersemu merah ketika mendengar itu dari mulut Lena, memang Leon asal menciumnya saja di tempat umum, membuat dia merasa malu. Apalagi kalau sampai ada orang yang melihat tingkah mereka.
"Kirain ada yang penting, hanya itu saja!" balas Leon yang tidak tertarik dengan ucapan itu.
Ketika Leon hendak akan pergi, Darda lebih dulu mencekal tangan Leon untuk menahannya karena dia belum selesai mengatakan itu.
"Kita mendengarkan perkataan Zahra dengan ibunya, katanya rumah dia diintai oleh seseorang, apa lo yang nyuruh orang buat ngintai rumah dia?" tanya Darda membuat Leon menggelengkan kepalanya. Pertanda kalau memang dia sama sekali tidak melakukan hal tersebut.
"Gue gak melakukan itu," jawab Leon yang memang benar adanya.
"Lo gak bohong kan?" tanya Lena menatap Leon dengan serius.
"Bukan gue Len," jawab Leon. Dia tidak menyuruh orang untuk mengintai rumah Zahra, bahkan Leon lebih memilih untuk mengintai rumah Gumara karena di sana ada ibunya Fira.
"Kalau bukan lo, lalu siapa orangnya?" tanya Darda yang merasa bingung.
Leon berpikir sejenak memikirkan sesuatu. Artinya memang ada seseorang yang ikut campur dengan hal ini. Yang jelas orang itu sekarang ada di pihak dirinya.
"Gue serius gak menyuruh orang buat ngintai rumah itu. Lagian bukannya kita sudah menyuruh Sasha buat menyusup ke rumah Zahra untuk mengambil hp nya," gumam Leon.
"Terus siapa kalau bukan lo? Gue juga gak melakukan itu masalahnya," ujar Darda yang penasaran dengan orang yang mengintai rumah Zahra.
"Artinya memang ada orang lain selain kita yang mengintai rumah Zahra," gumam Fira.
"Gue jadi penasaran dengan orang yang mengintai, pasti deh orang itu ada di pihak kita yang memang tidak suka dengan Ibunya Zahra," balas Lena.
Leon berpikir sejenak sambil menatap kearah Darda, begitu pun dengan Fira yang sepertinya berpikir sama dengan Leon.
"Jangan-jangan nyokap nya Darda lagi," balas Leon dan Fira bersama.
__ADS_1
"Ciee," ledek Lena ketika Fira dan Leon menjawab dengan barengan.
Tetapi jawaban tersebut ditolak oleh Darda karena ibunya tidak mungkin melakukan hal tersebut. Bahkan ibunya sampai sekarang masih ingin melindungi saudaranya walaupun sudah berniat jahat.
"Gak mungkin nyokap gue.
Hingga bell istirahat sudah berbunyi dan semua orang harus masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
"Sudah bell berbunyi, lebih baik kita ke kelas masing-masing."
Akhirnya dia menyuruh untuk melakukan itu semuanya. Leon juga memutuskan untuk pergi ke kelasnya bersama Fira dan Lena.
***
Semetara di tempat lain.
Seseorang pria tangah duduk di kursi kebesarannya, dia memakai jas warna hitam sedang menghubungi seseorang.
"Apa kamu sudah menemukan jejaknya di sana?" tanya orang tersebut.
"Kami semuanya sudah berada di lokasi tetapi tidak ada orang sama sekali."
Pria itu mendengus kesal, "cari sampai ketemu dengan wanita itu!"
Ponsel akhirnya dimatikan, dia langsung mengambil rokok yang ada di meja. Dia menghisapnya agar bisa membuat hatinya merasa tenang.
"Permisi, Pak."
Seseorang masuk ke dalam ruangan pria tersebut. Dia adalah sekertaris dari pria tersebut, dia memberikan sebuah dokumen yang memang dibutuhkan oleh pria tersebut.
"Ada apa?"
"Saya hanya ingin memberikan dokumen rumah sakit yang ada minta waktu itu."
Orang tersebut hanya memberikan dokumennya di depan meja pria itu.
"Kamu boleh keluar sekarang!" usir pria itu.
"Baik."
Orang tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi setelah memberikan dokumen tersebut. Sedangkan pria itu masih terdiam sambil menyesap rokoknya.
Sampai habis, akhirnya dia membuka dokumen tersebut karena merasa penasaran. Dia membukanya secara perlahan dan membacanya, hingga dia menemukan sesuatu yang membuat dia sedikit terkejut.
__ADS_1
"Sial, jadi anakku selama ini ada dua. Yang satu meninggal ketika sedang bayi, aku sendiri yang menguburkannya. Artinya masih ada satu anakku yang masih hidup, Yura sialan, dia membohongiku," gumam orang tersebut.
Dia menggebrak mejanya karena merasa kesal, selama ini dia selalu merasa bersalah sampai tidak menikah, tetapi rupanya dia masih punya satu anak yang disembunyikan.
"Aku harus menemui Hamdan dan istrinya, mereka berdua pasti tahu keberadaan anakku!"
Rehan langsung pergi dari kantornya dan tujuan utamanya yaitu untuk bertemu dengan dua orang tersebut. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sampai akhirnya dia sampai di tempat tujuannya.
Sampai tak lama kemudian dia sudah berada di depan rumah Hamdan. Rehan berjalan masuk menuju pintu depan.
"Majikan kalian ada di dalam?" tanya Rehan.
"Ada Pak Rehan, silakan masuk."
Rehan hanya mengangguk, lalu dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Hingga dia melihat kearah Hamdan yang sedang duduk.
"Hamdan," panggil Rehan.
"Rehan, kok kamu tumben datang ke sini."
"Aku datang ke sini karena ada hal yang ingin aku tanyakan kepada istrimu," jelas Rehan. Hamdan terdiam ketika Rehan mengatakan itu.
Dia yakin kalau ini ada hubungannya dengan Yura. "apa ini ada hubungannya dengan Yura."
"Iya tentu saja. Aku sudah menemukan dokumen rumah sakit tempat wanita itu melahirkan dulu. Rupanya dia melahirkan anak kembar dan anak yang bersama denganku meninggal, lalu artinya masih ada satu anak lagi yang masih hidup bersama dengan Yura sekarang," jelas Rehan.
Hamdan terdiam, lalu dia teringat dengan anaknya juga. "Sebenernya memang benar, maaf aku tidak bisa menceritakan ini dulu kepadamu, semuanya karena permintaan dari istriku," jelas Hamdan.
"Sial kau Hamdan! Bahkan kamu menyembunyikan fakta tentang anak kandungku!" maki Rehan yang kini emosi dengan kenyataan ini.
"Harusnya kamu bilang padaku Hamdan, 17 tahun aku tidak mengetahui anakku selama ini."
Rehan benar-benar merasa marah dan juga frustasi dengan kenyataan ini.
"Yura adalah orang yang melindungi anaknya ketika melakukan kesalahan, dia orang yang pandai menyembunyikan fakta," gumam Hamdan.
Rehan tiba-tiba teringat dengan suatu.
"Maksud mu anak Yura yang sudah membuat Lena celaka?" tanya Rehan.
"Iya," jawab Hamdan.
"Kalau anak Yura, artinya memang anakku juga," gumam dia dengan pelan.
__ADS_1