
Rumah Leon
Leon akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sebenernya dia ingin datang ke rumah sakit untuk memastikan semuanya. Tetapi dia yang akan datang sendiri menemui Dino di sekolah.
Dia masih penasaran dengan kedekatan antara Dino dan Darda, dia yakin kalau Dino menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tetapi Dino bilang akan membantu dirinya untuk mengungkapkan semuanya.
"Leon," panggil Rian.
"Daddy dan Papah, ada di sini."
Leon terkejut ketika melihat ayah angkatnya juga ada di sini. Dia menyalami tangan kedua laki-laki yang ada di sini.
"Duduk dulu nak," ujar Rehan adik kembar Rian yang juga merupakan ayah angkat dari Leon. Selama ini Leon tinggal bersama dengan Rehan yaitu pamannya sendiri.
"Kami sudah bekerjasama dengan donatur di sekolah itu," jelas Rian memberitahu anaknya.
Leon hanya mengangguk lalu dia ikut bergabung sama kedua ayahnya sekarang. Menunggu penjelasan
dari orang yang ada di hadapannya itu. Dia yakin kalau kedua orangtuanya akan berbicara serius tentang donatur sekolah itu.
"Jadi, siapa donatur itu?" tanya Leon yang langsung bertanya karena dia merasa penasaran.
"Pak Hamdan Albas! Dia adalah donatur di sekolah itu. Dia juga menantu dari pemilik sekolah itu." Rian mengatakan itu memberitahu anaknya.
Leon tersenyum ketika dia sudah punya sekutu ketika nanti ayahnya Gumara Pak Rudi yang merupakan kepala sekolah ingin mengeluarkan dirinya dari sekolah. Dia tidak akan mudah keluar begitu saja.
"Terimakasih Daddy dan Papah sudah dekat dengan donatur nya," gumam Leon.
"Satu info lagi yang harus kamu tahu Leon. Hamdan juga rupanya mempunyai anak yang sekolah di sana. Tetapi sepertinya anaknya tidak terlihat mencolok. Kami bahkan tidak tahu siapa anaknya, Hamdan sepertinya sengaja menyembunyikan identitas anaknya agar bisa terlihat normal seperti siswa yang lainnya," jelas Rehan.
"Papah yakin?" tanya Leon.
(Buat yang bingung, Leon manggil papah ke Rehan karena ayah angkatnya. Sedangkan kepada Rian ayah kandungnya, Leon memanggil Daddy).
"Iya, mungkin kamu bisa berteman dengan dia juga kalau berhasil menemukannya," jelas Rehan
Secara tidak langsung Rehan menyuruh untuk Leon mencaritahu tentang anaknya Pak Hamdan juga.
"Papah kamu benar, Daddy juga setuju. Jika kamu berhasil menemukan anak Pak Hamdan itu, akan lebih baik jika kamu berteman juga dengan dia."
Leon hanya mengangguk paham sambil tersenyum tipis. Dia mungkin nanti akan menemukan orang itu. Karena dia yakin kalau orang tersebut adalah orang baik. Buktinya tidak mau terlihat mencolok dari siswa yang lainnya.
"Baik Papah dan Daddy. Terima kasih banyak."
Leon tersenyum bahagia karena mempunyai dua ayah yang selalu menyayangi dirinya. Lalu dia teringat dengan ibunya, ke mana pergi ibunya sekarang.
__ADS_1
"Aku gak liat mommy. Ke mana dia sekarang?" tanya Leon yang merasa penasaran.
Rehan menaikan sebelah alisnya, pertanda kalau memang dia tidak tahu apapun juga. "Daddy mu mungkin tahu."
"Dia ke rumah sakit tadi, mommy kamu rindu dengan Lena."
Leon hanya mengangguk paham, "Kalau begitu aku yang akan menjemput mommy," ujar Leon.
Tangan Leon sudah lebih dulu dicekal oleh Rian. Dia tidak mau anaknya pergi untuk sekarang. "Tidak usah, nanti biar Daddy saja yang akan menjemput ibumu."
Akhirnya Leon hanya bisa pasrah saja, "Baiklah."
Leon akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Dia memutuskan untuk melepaskan baju hoodie yang dia gunakan.
Hingga dia melihat kearah ponselnya yang berdering. Tanda ada orang yang menghubunginya dirinya.
Dia melihat kearah ponsel dan rupanya itu dari Fira. Lebih parah lagi dia bukan menghubunginya secara biasa tetapi malah video call. Karena terus berdering, akhirnya dengan pasrah Leon akhirnya mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" tanya Leon.
"OMG! Gue dikasih tontonan otot yang bagus!" Fira malah menjadi heboh sendiri. Apalagi kali ini dia melihat otot kekar milik Leon.
Seketika Leon menyadari kalau dia sekarang memang sedang tidak memakai baju, dia sedikit merasa malu sekarang. Dengan buru-buru dia kembali memakai baju kaos dan menaruh ponselnya di ranjang.
"Kenapa lo menghubungi gue?" tanya Leon dengan sinis tidak memperlihatkan wajahnya karena dia merasa malu.
"Gue udah sampai rumah sekarang, jika lo khawatir ," gumam Leon.
Fira malah melihat pemandangan kamar Leon yang terlihat sedikit mewah. Padahal dia tahu sendiri kalau rumah pria itu begitu kecil. Rasanya itu seperti berbeda dari yang dia lihat.
"Kamar lo kaya luas," gumam Fira.
Leon menyadari kalau dia memang sedang pura-pura. Apalagi Fira hanya mengetahui kalau rumah yang dia tinggali adalah rumah Amar bukan rumah dirinya.
"Iya, gue tutup dulu. Gak enak dengan Amar!"
Leon akhirnya memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Dia tidak mau nanti Fira akan semakin curiga dengan dirinya. Hampir saja Fira akan curiga dengan dirinya.
"Semoga dia gak curiga," gumam Leon yang kembali menaruh ponselnya di ranjang. Dia mengambil handuk karena sudah merasa gerah dan ganti bajunya.
Fira di dalam rumahnya, dia sedikit merasa curiga dengan kelakukan Leon yang menurut dirinya aneh. Apalagi dia tadi melihat sedikit kamar Leon yang sedikit luas dan atas kamarnya yang terlihat bagus.
"Kenapa gue malah merasa kalau dia menyembunyikan sesuatu," gumam Fira.
Pertama-tama yang Fira sedikit ketahui tentang Leon adalah alasan pria itu mencari cupu. Yaitu untuk menemukan pelaku yang sudah membuat Lena celaka.
__ADS_1
Adapun hubungan Lena dengan Leon yang dia ketahui hanya sebatas teman lama yang mungkin masih dekat. Hanya saja Leon dulu beda sekolah dengan Lena. Makanya dia datang ke sini ingin menyelidiki kecelakaan Lena.
"Mereka bukan cinta pertama kan? Leon tidak mencintai Lena kan?" gumam Fira malah merasa gelisah ketika memikirkan hal tersebut.
Lalu dia sadar sejenak. "Kenapa gue malah memikirkan tentang Leon? Sudah tahu kalau gue gak ada perasaan dengan dia!" bimbang Fira pada dirinya sendiri.
Sampai ponsel Fira malah berdering, dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat rupanya Gumara yang menghubunginya.
"Ngapain sih cowok itu menghubungi gue!" balas Fira dengan malas ketika membaca pesan yang rupanya adalah Gumara.
Dengan begitu terpaksa akhir Fira mengangkat telepon dari Gumara.
"Hallo."
"Akhirnya kamu mengangkat telepon dariku."Berbisik lo, jijik! Kenapa lo menghubungi gue?" tanya Fira dengan ketus kepada Gumara. Apalagi Gumara selalu memakai aku-kamu kepada dirinya. Sedangkan Fira geli sendiri menggunakan kata itu.
"Siapa pria yang sama kamu di kafe edelweis tadi?" tanya Gumara.
Fira memutar bola matanya jengah, memangnya dia tidak tahu kalau Gumara bisa saja menyakiti pria tersebut. Dia akan bersembunyi atas semua kesalahan dirinya di ketiak ayahnya.
"Bukan urusan lo!"
"Oh sayang, kamu sudah berani bermain-main denganku. Jangan lupakan kalau rahasia kamu masih aku pegang."
Fira mengepalkan tangannya, dia kesal dengan Gumara yang terus saja mengancam dirinya dengan hal yang disebut rahasia itu.
"Jangan macam-macam atau lo akan tahu
akibatnya!" ancam Fira dengan sinis.
"Uww kamu mengancam ku sayang. Tentu saja kamu tidak akan pernah bisa menang. Kamu lupa kalau dulu pernah menyuruhku melakukan sesuatu," gumam Gumara.
"Jangan pernah bahas itu lagi! Gue tahu lo orang seperti apa Gumara! Jangan bilang kalau lo yang membuat Lena celaka juga!" sinis Fira.
Gumara hanya tertawa ketika mendengar ucapan dari Fira lewat telepon itu. "Sepertinya kamu belum mengenal aku sepenuhnya."
"Gak usah pake aku-kamu, jijik tahu dengarnya!"
Fira mematikan sambungan teleponnya karena kesal dengan Gumara yang selalu menganggu dirinya. Membuat dia yang kini sedikit kesal.
"Gumara sialan!" maki Fira yang melempar ponselnya, harusnya dia memblokir saja nomor orang tersebut. Membuat dia merasa tidak nyaman saja.
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
Sekian dulu yaa
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya