
Leon sudah tidak menyembunyikan tentang dia yang memang tidak tinggal bersama dengan Amar. Jadi Leon tidak usah berpura-pura lagi sekarang. Dia bisa pulang ke rumah keluarganya kembali tanpa harus menginap di rumah Amar.
"Gue punya rumah sendiri, lo masih kecewa sama gue?" tanya Leon kepada Fira yang sedari tadi diam saja.
Fira sebenernya kecewa dengan Leon yang sudah berbohong padanya. Tahu begitu dia tidak akan merepotkan Amar karena dari awal dia tidak terlalu dekat dengan Amar. Dia kira memang ini benar rumah Leon.
"Gue jadi gak enak sama Amar karena tinggal di sini. Tahu gitu, gue gak datang ke sini," balas Fira.
"Kalau lo gak datang ke sini, emangnya lo mau datang ke mana? Gak ada tempat lain yang aman selain di sini," ujar Leon.
Sebenernya mengapa rumah ini terlihat aman, karena Fira tidak tahu saja kalau Leon sudah menyiapkan seorang penjaga yang melewati gang kecil milik rumah Amar. Orang-orang tersebut memang terlihat seperti layaknya orang bisa tidak seperti bodyguard. Dia yang menjaga kompleks keamanan rumah sekitar Amar.
Jadi, jika dia melihat ada orang yang mencurigakan lewat geng tersebut. Maka akan ada yang melaporkan hal tersebut kepada Amar atau dirinya. Jadi semuanya terpantau. Kecuali jika kasusnya seperti kemarin, Fira keluar dari tempat ini sangat jauh dari kompleks ini. Jadi tidak bisa dia pantau dengan baik.
"Bukan begitu maksud gue Leon, jadi gak enak harus merepotkan Amar,' gumam Fira.
"Sudah yang penting sekarang lo udah baik-baiksaja kan. Gak ada yang perlu dikhawatirkan," gumam Leon.
Amar ikut nimbrung setelah dia membuat kopi untuk dirinya sendiri. "Gue juga gak keberatan kalau lo sama nyokap lo tinggal di sini. Justru gue malah senang karena selama ini gue tinggal sendirian. Kalian juga baik sudah membantu gue mengurus rumah ini," jelas Amar yang tidak merasa terbebani sama sekali.
Fira tersenyum mendengar penjelasan dari Amar barusan. Dia juga tahu kalau sebenarnya Amar juga orang yang baik. Tetapi Fira penasaran dengan kedua orang tua Amar yang tidak keliatan..
"Lo selama ini tinggal sendiri, nyokap dan bokap lo ke mana?" tanya Fira yang penasaran dengan kehidupan Amar. Selama dia tinggal di sini, dia tidak menemukan foto atau keluarga Amar yang berkunjung.
Amar tidak menjawab hal tersebut. Lalu Leon yang paham akan hal tersebut menatap kearah Fira untuk memberitahu wanita itu.
"Nyokap dan bokap Amar sudah tidak ada," jawab Leon.
Fira yang mendengar hal tersebut malah merasa bersalah, dia sepertinya memang salah karena sudah menanyakan hal tersebut kepada Amar. "Sorry Amar. Gue gak maksud," gumam Fira yang tidak tahu tentang Amar.
"Gak apa, gue paham. Jadi lo mau kan tinggal di sini sama nyokap lo?" tanya Amar.
"Gue sih terserah nyokap. Tapi masalahnya nyokap gue masih istri sahnya Pak Rudi. Cepat atau lambat pasti dia nyari nyokap gue," jelas Fira yang sebenernya sedikit khawatir dengan keadaan ibunya. Dia bagaimana pun masih istri dari Pak Rudi.
"Kalau begitu, lo nyuruh nyokap lo buat gugat Pak Rudi, gue punya video penganiayaan kalian jika mau," jelas Leon membuat Fira terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Leon mempunyai video penganiayaan dirinya.
__ADS_1
"Lo punya video penganiayaan gue diri mana?"tanya Fira.
Leon terdiam ketika Fira menanyakan tentang hal ini, selama ini Fira memang tidak tahu kalau dia menyimpan mata-mata di rumah Gumara. Termasuk orang yang membantu Fira keluar dari rumah itu.
"Leon, kok lo gak jawab, kenapa lo bisa punya video penganiayaan?" tanya Fira yang memmah penasaran dengan Leon. Sepertinya memang benar Leon banyak menyembuhkan rahasia yang tidak dia ketahui.
Amar hanya ikut menatap saja, dia walaupun tahu tetap diam. Membiarkan Leon sendiri yang akan menjelaskan pada Amar yang sebenarnya.
Leon menghela napasnya, hendak akan mengatakan semuanya. Tetapi ponselnya malah berdering tanda ada yang menghubunginya. Leon menatap ponselnya sekilas dan tersenyum. Akhirnya dia punya alasan untuk menghindar dari pertanyaan Fira. Belum saatnya dia memberitahu Fira tentang ini.
"Bentar gue ada telepon dulu," ujar Leon yang memutuskan untuk berdiri meninggalkan Fira dan juga Amar.
Leon berjalan keluar rumah untuk mengangkat telepon dari orang tersebut. Takut ada yang mendengarkan perkataan mereka.
"Hallo, kenapa?" tanya Leon.
"Saya melihat Gumara bersama dengan seorang wanita yang memang waktu itu datang ke rumah untuk menjenguk Fira," jelas orang tersebut membuat Leon malah menaikan sebelah alisnya.
"Emangnya apa hubungannya dengan gue?" kesal Leon yang menurutnya itu tidak penting.
Awalnya Leon tampak tidak tertarik dengan hal ini. Tetapi, ada yang membuat dia jadi penasaran juga dengan sosok wanita tersebut. Bukannya selama ini Gumara terobsesi dengan Fira, lalu mengapa bisa dekat dengan wanita itu.
"Apa lo tahu siapa nama wanita tersebut?" tanya Leon yang penasaran dengan wanita yang seperti kekasih Gumara. Bukannya selama ini Gumara terobsesi dengan Fira, lalu mengapa dia malah dekat dengan seorang wanita.
"Kalau gak salah nama wanita tersebut adalah Zahra."
Deg
Leon terdiam seketika mendengar nama Zahra disebut. Bukannya dia adalah teman baiknya Fira sama seperti Sasha. Lalu bagaimana dia bisa dekat dengan Gumara. Atau ada hal yang memang tidak dia ketahui di sini. Apa kedekatan antara Zahra dengan Gumara?
Kenapa ini sangat mencurigakan sekali di mata Leon. Apalagi sampai membuat Gumara bisa bebas dari dekat ayahnya. Pak Rudi mendukung anaknya dekat dengan Zahra, tetapi dia tidak suka dengan Fira. Makanya dia menikah dengan ibunya Fira tanpa cinta hanya agar anaknya tidak bisa menikah dengan Fira.
"Lo gak salah ngasih info ke gue kan?" tanya Leon lagi hanya untuk sekedar memastikan. Siapa tahu yang dilihat oleh mata-matanya itu bukan Zahra.
"Saya serius bos. Kalau tidak percaya, nanti saya kirimkan foto wanita yang datang ke rumah Pak Rudi tersebut," jelas anak buahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, terus pantau kedekatan mereka dan katakan yang mencurigakan dari dua orang tersebut ketika di rumahnya," perintah dari Leon. Mungkin jika benar adalah Zahra, maka dia harus tahu rencana mereka terlebih dahulu.
"Baik bos."
Akhirnya Leon memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Dia jadi berpikir untuk menjauhkan Fira dari Zahra. Apalagi dia sedikit merasa aneh dengan wanita itu.
Leon tiba-tiba teringat dengan kejadian di mana Fira bisa tertangkap oleh Rudi kemarin. Dia yakin kalau ini ada sangkut pautnya dengan Zahra. Apalagi mereka bilang akan bertemu bertiga.
"Kalau begitu, bagaimana dengan mantannya Amar juga. Apa dia wanita baik-baik?" batin Leon yang merasa was-was.
Mereka bisa meninggalkan Lena dulu ketika seperti itu. Bukan berarti mereka juga tidak mengkhianati Fira nantinya. Tetapi dia ingat kalau Sasha bahkan memberitahu Fira ketika diculik waktu itu.
"Nak Leon melamun?" tanya Susan membuat Leon jadi tersadarkan.
"Eh iya Tante."
Akhirnya Leon kembali masuk ke dalam di sana ada Amar dan Fira sedang duduk berdua. "Siapa yang telepon?" tanya Amar penasaran.
"Biasa bawahan," jawab Leon.
Sedangkan Fira menaikan sebelah alisnya ketika mendengar hal tersebut. Leon mempunyai bawahan?" Lo mempunyai bawahan?"
Leon sepertinya sekarang sudah salah bicara. Melihat ekspresi wajah Fira yang seperti ini, membuat dia jadi merasa intimidasi sekali. Apalagi memang Fira banyak yang tidak tahu tentang dirinya.
"Semacam anak buah begitu," jelas Amar yang malah bukan membantu Leon, dia semakin menyudutkan Leon untuk menceritakan semuanya kepada Fira.
"Seberapa banyak rahasia lo selama ini yang tidak gue ketahui tentang lo Leon? Lo sering kali bohongin gue," balas Fira yang nampak kecewa dan memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Leon hendak akan mencegah tangan Fira, tetapi ditahan oleh Amar. "Biarkan dia tenang dulu. Nanti gue yang bantu jelaskan sama dia," terang Amar.
"Baiklah, kalau begitu gue pamit yah. Gak bisa lama-lama di sini, masih banyak yang harus gue lakukan," jelas Leon.
"Iya, salam buat keluarga lo."
Leon hanya mengangguk, sebenarnya dia ingin tidur di rumah Amar, tetapi perasaannya sedang tidak enak. Banyak yang harus dia selidiki sekarang.
__ADS_1