
Pulang sekolah, Darda sengaja mengadakan rapat OSIS yang biasa dia lakukan. Apalagi ini membahas pentas seni yang akan dilakukan di sekolah Harapan Bangsa.
Sampai mata Darda melihat kearah Zahra yang juga masuk ke dalam ruangan ini. Dia tersenyum penuh arti karena sudah tahu kejahatan wanita itu. Sekarang saatnya dia melakukan kegiatan dirinya.
"Zahra gue butuh bantuan lo," ujar Darda menyuruh wanita itu melakukan sesuatu yang dia inginkan.
"Apa?" tanya Zahra melirik kearah Darda.
"Gue ingin lo mendata ini," gumam Darda.
Zahra hanya mengangguk, dia melakukan semuanya dengan baik. Hingga tiba-tiba Darda menyuruh semua orang untuk mendekorasi tempat acara dan hanya Zahra sendiri yang dibiarkan di ruangan OSIS karena sedang mendata.
"Kalian semuanya ke gedung sekolah buat dekorasi tempatnya yah. Gue mau temani Zahra di sini dulu."
"Okeh bro," ujar Siswa yang lain.
"Baiklah, kita akan ke sana.
Semua orang akhirnya keluar dari ruangan OSIS dan hanya ada Zahra dan Darda saja berdua di sini. Memang ini adalah salah satu rencana dari Darda untuk bisa bicara berdua dengan Zahra. Ini kesempatan dirinya untuk mengintimidasi wanita itu.
"Gue gak nyangka yah. Ternyata selama ini lo adalah sepupu gue," gumam Darda membuat Zahra kini menoleh kearah pria itu. Darda memang baru tahu tentang fakta ini karena hanya ibunya yang tahu tentang dirinya.
Apalagi selama ini, Zahra seperti orang yang disembunyikan. Bahkan dia tidak tahu keluarganya selama ini selain ibunya Darda yang menjadi kakak dari ibunya.
"Lo ngomong gini karena sudah tahu faktanya kan?" tanya Zahra menatap kearah Darda.
"Lo sama nyokap lo emang paling pintar menyembunyikan sesuatu."
Zahra menatap kearah Darda karena menyebut ibunya juga, "Jangan sangkut pautkan itu kepada nyokap gue."
Darda malah tertawa ketika mendengar ucapan dari Zahra barusan. "pada kenyataannya benar kan? Nyokap lo bahkan yang membantu lo buat menyembunyikan fakta kalau sebenarnya pelaku yang sudah membuat Lena celaka itu adalah lo," maki Darda.
Zahra menggebrak mejanya dengan cepat, lalu melihat kearah Darda sambil menunjuknya. "Lo gak tahu apa-apa tentang gue, jadi jangan sok ikut campur!"
Darda tersenyum sinis, "Sekarang lo udah berani gebrak meja yah. Satu lagi, gue akan tetap ikut campur karena ini hubungannya dengan Lena."
__ADS_1
Zahra mengepalkan tangannya, semua orang lebih memilih membela Lena sekarang. Bahkan semua orang tidak tahu alasan mengapa dia melakukan itu kepada Lena. Dia hanya merasa iri karena semua orang lebih memilih Lena, wanita itu bisa hidup bahagia sedangkan dirinya tidak.
Dia tidak lebih dari anak yang disembunyikan selama ini karena dia anak haram. Itu yang Zahra ketahui, bahkan ibunya sendiri tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Lena sialan!" maki Zahra yang handak akan pergi dari ruangan OSIS. tetapi sebelum dia pergi, tangannya sudah dicekal oleh Darda.
"Jangan pernah melakukan sesuatu untuk menyakiti Lena, atau lo dan nyokap lo akan tahu akibatnya. Lo harus tahu kalau gue adalah saksi dan korban nyokap lo yang ingin membunuh nyokap gue!" ujar Darda dengan penuh ancaman kepada Zahra.
Zahra terdiam ketika mendengar hal tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Darda tahu tentang kejadian ibunya yang menyuruh orang untuk mencelakai ibunya Darda.
"Gue gak ada urusan untuk itu!" balas Zahra.
"Nyokap gue sudah tahu kejahatan nyokap lo, tetapi dia terlalu baik membela adiknya sendiri. Lo harusnya terimakasih sama dia, karena berkat dia, gue belum menjebloskan nyokap lo ke penjara!" jelas Darda.
Apalagi Darda sudah tahu kejahatan Tante nya sendiri. Zahra menatap kearah Darda dengan sekilas." Lo gak tahu apapun tentang gue, jangan sok ikut campur. Gue sama nyokap gue selama ini berjuang sendirian, tanpa tahu bokap gue di mana."
Zahra mengatakan itu dengan nada yang sedikit tinggi kepada Darda, berharap kalau pria itu akan simpati dengan dirinya. Bagaimana pun posisi Zahra juga memang tersakiti di sini.
"Terus apa hubungannya dengan semua ini hah! Gara-gara lo gak punya bokap terus lo sekarang kaya anak yang tidak diurus begitu! Mencelakakan anak orang kaya kriminal!" sindir Darda.
"Gue benci dengan Lena karena dia bisa mendapatkan semuanya, bahkan kasih sayang yang seharusnya ada buat gue!" kata Zahra dengan pandangan sendu. Ada rasa iri dan sakit dalam hatinya ketika mengatakan hal tersebut.
"Maksud lo bokap Lena adalah bokap lo juga?" tanya Darda melihat kearah Zahra sambil menaikan sebelah alisnya. Apa ini alasan Zahra melakukan hal tersebut? Tetapi masa iya ayahnya Lena melakukan itu? Dia bahkan kenal sendiri dengan ayahnya.
"Iya, itu alasan gue ingin membunuh Lena, wanita itu yang sudah membuat gue hancur. Bahkan nyokap gue sendiri tidak memberitahu tentang bokap gue sekarang!" ujar Zahra.
Darda menggelengkan kepalanya, tetap saja yang dilakukan oleh Zahra adalah sebuah tindakan kriminal. Zahra sudah salah dengan menyakiti orang lain dengan rasa iri. Harusnya dia menemui ayahnya sendiri dan menjelaskan semuanya. Bukan malah membuat Lena celaka.
"Tetapi lo gak sadar kalau yang lo lakukan adalah tindakan kriminal! Lo bisa di tuntut masuk penjara, sama nyokap lo dan semua pihak sekolah yang menyembunyikan fakta ini."
Zahra terdiam karena dia menyadari kesalahannya. Semua orang menyembunyikan fakta ini untuk melindungi dirinya agar tidak ditangkap oleh polisi. Termasuk dengan ibunya sendiri yang ikut menyembunyikan fakta ini.
"Gue gak peduli, yang penting gue tetap dendam dengan Lena!" Zahra mengatakan itu, lalu dia pergi begitu saja dari ruangan ini. Dia terlalu malas jika harus berdebat dengan Darda lagi.
Darda diam-diam sudah merekam pembicaraan tadi di ponselnya. Sekarang dia sudah punya bukti untuk melaporkan Zahra ke pihak polisi kalau dia yang sudah membuat Lena celaka.
__ADS_1
Darda menaruh kembali ponselnya ke saku baju miliknya. Dia tersenyum tipis karena sudah mempunyai bukti. "walaupun lo adalah sepupu gue, tetap aja lo yang salah di sini. Gue akan tetap membela Lena tidak seperti nyokap gue yang bela keluarga lo Zahra."
Darda mengatakan itu, lalu dia memutuskan untuk pergi ke tempat pentas seni.
***
Sementara di tempat lain, seseorang memberikan sebuah foto yang memperlihatkan kedekatan antara Fira dengan Leon.
"Kamu lihat itu, Leon sudah berani merangkul cewe lo".
Gumara mengepalkan tangannya, dia benar-benar kesal ketika melihat kedekatan antara dua orang tersebut. "Sial, mereka sudah semakin dekat, gue harus bertindak."
"Lo bilang bertindak terus, tapi pada kenyataannya apa? Bahkan sampai sekarang lo tetap kalah dengan Leon."
"Leon sialan! Lo harus bantu gue untuk menghancurkan mereka!" ketus Gumara. Dia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Leon dari sisi Fira.
"Gue sih bisa membantu lo, tapi bagaimana dengan bokap lo. Dia pasti akan curiga kalau lo masih menginginkan Fira dibandingkan dengan Zahra."
"Raka, bukanya gue sudah bilang sama lo, jangan sampai bokap gue merasa curiga. Gue udah memberikan lo kesempatan untuk dekat dengan Zahra. Jadi, lakukan yang gue mau!" ujar Gumara.
"Iya mau bagaimana lagi, nyokap lo juga kayanya mantau lo terus," gumam Raka.
Gumara mengepalkan tangannya, dia lupa dengan satu fakta itu. Lalu dia teringat dengan ucapan Zahra waktu itu. Dia harus menggunakan ibunya Fira untuk mengembalikan semuanya.
"Tetap awasi mereka, gue akan tetap membuat kehidupan Leon hancur."
"Okeh kalau begitu, gue akan melakukan itu. Tetapi satu hal yang harus lo ketahui, Zahra tetap harus menjadi milik gue!" ujar Raka yang memang suka dengan Zahra.
"Iya, sudah sana pergi sama Deon, awasi Darda yang sedang melakukan pentas seni. Bukanya Zahra juga ada di sana."
Gumara mengatakan itu karena tahu kalau sekarang sedang akan diadakan lomba pentas sendi dan Zahra sebagai anggota OSIS pasti ada di sana untuk mempersiapkan semuanya.
"Okeh kalau begitu, gue pergi dulu."
Raka akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Gumara. Sedangkan Gumara mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu.
__ADS_1
"Siksa nyokap tiri gue, terus kirimkan videonya sama gue."
Gumara tersenyum puas setelah dia mengetikan itu kepada para penjaga yang ada di rumahnya.