SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Saling Menyalahkan


__ADS_3

Leon dinyatakan keritis oleh dokter, Lena hanya bisa pasrah dengan hal ini. Sedangkan Fira berdoa untuk keselamatan Leon. Berhadap kalau Leon akan segera sadar sekarang, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Apalagi Leon datang ke tempat itu untuk menyelamatkan ibunya.


"Leon, lo pasti kuat, jangan tinggalin gue," batin Fira dalam hatinya. Hatinya begitu sakit melihat pengorbanan dirinya selama ini. Sedangkan Fira belum sama sekali membalas kebaikan dari Leon.


Begitu pun dengan Lena yang hanya bisa bersedih melihat keadaan Leon. Apa ini yang dirasakan oleh Leon juga ketika dirinya sakit dulu. Mereka mempunyai perasaan yang sama karena kembar.


"Bertahan demi gue Leon. Lo udah janji bakal bantu kasus gue," gumam Lena dengan pelan. Fira merangkul Lena untuk menenangkan wanita itu.


"Dia pasti kuat," ujar Fira.


"Bagaimana kalau dia tidak bisa melalui masa kritisnya?" ujar Lena yang kini hanya bisa bersedih. Bahkan Lena belum sempat memberitahu Darda tentang keadaan Leon saat ini.


"Lo harus percaya, Leon pasti akan melewati semuanya," jelas Fira kepada Lena. Walaupun sebenarnya Fira sendiri tidak yakin.


Kedua orang tuanya Leon sudah ada di sini, dia hanya bisa meratapi yang terjadi dengan anaknya. Terutama Rian yang kini malah menatap istrinya dengan tajam. Mengapa semua anaknya selalu berakhir dengan menderita.


"Sudah aku bilang kalau kamu berhenti bekerja dan lebih memperhatikan anak-anak!" ujar Rian kepada sang istri.


"Mereka sudah dewasa sekarang, tidak mungkin untuk kita kekang lagi."


"Tapi kamu lihat sendiri? Buktinya sekarang anak kita masuk rumah sakit!" marah Rian kepada sang istri.


"Sudah, kalian malah bertengkar, bukan malah memikirkan tentang Leon!" marah Lena ketika kedua orangtuanya malah berdebat tentang Leon.


Lena sendiri bahkan tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang ini. Sedangkan Fira ikut merangkul Lena yang kini sedang rapuh. Bahkan kedua orang tua Leon sekarang malah berdebat.


Rian dan Indah hanya diam setelah mendengar ucapan dari Lena barusan. Dia diam sejenak, lalu berpikir untuk melakukan sesuatu saat ini. Mereka menyadari kesalahannya yang selalu sibuk dan tidak memperhatikan anaknya.


Hingga seorang dokter datang dari ruangan Leon sekarang. Rian langsung menghampiri dokter tersebut karena penasaran dengan keadaan anaknya.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Rian.


"Dia akan baik-baik saja nanti, hanya butuh pemulihan, luka tembaknya sudah terobati."


Rian bernapas lega sekarang, anak laki-lakinya setidaknya selamat sekarang, bahkan dia tidak menghubungi Rehan karena tahu kalau pria itu akan murka setelah tahu kalau Leon masuk ke rumah sakit.


"Terima kasih dokter. Boleh saya melihat keadaannya?" tanya Indah yang sudah tidak sabar ingin melihatnya.


"Silakan."


Akhirnya Indah memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan anaknya. Begitu pun dengan Rian yang ingin melihat keadaan Leon.


Fira merangkul Lena yang masih merasa sedih. " Kita lihat keadaan Leon juga yuk. Dia pasti baik-baik saja," gumam Fira.


Padahal dia juga sekarang merasa khawatir dengan Leon, berharap kalau Leon akan segara sadar.


"Ayo kita melihat Leon."

__ADS_1


Lena masuk kedalam ruangan tersebut, melihat Leon yang terbaring lemah di rumah sakit membuat dia merasa bersalah.


Begitu pun dengan Fira, dia berjalan mendekati Leon. "Gue minta maaf Leon. Gara-gara lo bela nyokap gue, jadi sekarang lo jadi begini."


Dia hanya bergumam saja, bahkan dia tidak bisa berpikir lebih jelas. Melihat keadaan Leon yang sekarang membuat hatinya hancur. Dia berharap kalau Leon akan segara bangun.


Semetara di tempat lain.


Yura terdiam di tempat persembunyian dirinya. Dia tidak pulang ke rumah karena masih ada yang mengintainya. Beruntung dia sudah menyuruh orang untuk mencaritahu orang yang mengintainya.


"Lapor Bu Ketua."


Yura melihat anak buahnya yang datang menghampiri dirinya. Dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat banyak luka dari wajah pria tersebut. Sepertinya memang sudah terjadi perkelahian.


"Ada apa?" tanya Yura.


"Pak Rudi sekarang sudah ditangkap polisi karena menembak seorang siswanya sendiri. Dia juga dilaporkan atas penganiayaan istrinya."


Yura membanting pas bunga yang ada di depannya setelah mendengar kabar tersebut. "Tidak berguna! Rudi memang bodoh!" maki Yura.


"Maaf sebelumnya Bu Ketua."


"Orang itu sudah tidak bisa diandalkan lagi, bahkan pasti nanti jabatannya akan dicopot!" marah Yura. Dia kesal karena secara tidak langsung kaki tangannya selama ini malah tertangkap. Apalagi dengan laporan penganiayaan istrinya dan penembakan siswanya.


"Siapa orang yang dia tembak?" tanya Yura penasaran.


"Leon kalau tidak salah, dia anak cupu yang ingin mengusut kasus Lena," jelas anak buah tersebut membuat Yura terdiam.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Bu Ketua. Kita bisa juga tertangkap," ujar orang tersebut yang kini merasa khawatir. Bagaimana kalau Rudi mengatakan tentang dirinya juga, ini membuat dia sedikit khawatir.


"Tidak akan ada orang yang bisa menangkap kita."


Yura tersenyum dengan penuh percaya diri. Lagian yang melakukan kejahatan selama ini adalah Rudi. Dia hanya membantu untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya saja.


Urusan tentang anaknya, nanti dia yang akan mengurus. Dia yakin kalau Kakaknya juga pasti akan membantu dirinya untuk menyembunyikan fakta ini.


"Bu Ketua, saya sudah mengetahui siapa orang yang mengintai rumah anda," ujar salah satu anak buah lagi yang kini ikut masuk ke dalam ruangan persembunyian.


"Siapa orang yang sudah melakukan itu? Apa bocah ingusan itu lagi?" tanya Yura mengingat Leon yang pasti melakukan ini.


"Bukan Bu ketua, dia suruhan seorang pria dewasa," gumam anak buah itu.


Yura menaikan sebelah alisnya, apa Hamdan yang melakukan itu. Mengingat pria itu punya dendam dengan dirinya yang sudah membuat Darda celaka.


"Katakan!"


"Pak Rehan yang melakukan itu."

__ADS_1


Yura terdiam ketika mendengar nama itu yang disebutkan oleh anak buahnya. Nama yang memang tidak ingin dia dengar lagi.


"Si berengsek itu ikut campur dengan urusanku!" maki Yura dengan kesal.


Untuk apa Rehan malah ikut campur dengan urusan dirinya. Membuat dia jadi kesal, bukannya hubungan mereka sudah berakhir.


"Apa motif dia melakukan itu?" tanya Yura penasaran. Dia yakin kalau pria itu pasti menginginkan sesuatu.


"Saya tidak tahu motif!"


"Kamu cari tahu bodoh, sudah sana pergi," usir yang membanting barang-barang yang ada di sini. Yura


Dia tersenyum sinis, sekarang dia yang harus bergerak sendiri setelah Rudi tertangkap oleh polisi. Yura terdiam sejenak, dia memikirkan cara agar bisa lebih maju ke depan.


"Lihat besok, aku pasti akan melakukan rencana," gumam Yura dengan senyuman penuh arti.


Hingga ponsel Yura berdering tanda kalau ada Zahra yang menghubunginya. Yura menaikan sebelah alisnya heran, mengapa anaknya malah menghubunginya.


"Halo Zahra, kenapa?"


"Aku sedang bersama dengan Gumara, dia terluka karena berkelahi dengan Amar." Zahra mengatakan itu kepada ibunya, dia tahu yang terjadi saat ini.


"Kamu baik-baik saja tapi?" tanya Yura yang khawatir dengan anaknya.


"Aku baik-baik saja, kebetulan ketika sedang ada kejadian itu. Aku bersembunyi di kamar yang terpisah."


"Syukurlah kalau begitu, terus bersama dengan Gumara saja, jangan pernah ke mana-mana, termasuk datang ke sekolah. Sebaiknya kamu jangan dulu datang ke sekolah," jelas Yura.


Zahra yang berada di sebrang sana pun merasa heran, mengapa ibunya melarang dia untuk pergi ke sekolah juga.


"Emangnya kenapa mah?" tanya Zahra heran.


"Lakukan saja, jangan banyak tanya!" ujar Yura yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Yura hanya tidak mau jika nanti Zahra akan bertemu dengan Rehan, apalagi dia tidak mau kehilangan anaknya. Jangan sampai nanti Rehan akan mengambil Zahra jika dia tahu kebenarannya.


"Bagas!" panggil Yura kepada salah satu anak buahnya.


Orang yang namanya bagas itu akhirnya menghampiri Yura sambil menundukkan kepalanya." Ada apa Bu Ketua?"


"Awasi sekitar sekolah, lakukan bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke sekolah itu."


"Tetapi Bu Ketua bukannya sudah mengambil kendali yayasan sekolah itu. Keluarga anda pasti sangat bangga dengan hasilnya."


Yura terdiam, dia akan memikirkan cara agar dirinya bisa masuk. Tetapi bagaimana caranya mengambil kendali, sedangkan kakaknya saja sekarang mengawasinya.


"Aku ingin menggantikan Rudi menjadi kepala sekolah. Katakan ini kepada Yuna, kalau tidak maka aku akan melakukan pemberontakan nanti!" ancam Yura.

__ADS_1


"Saya akan mengatakan itu kepada Bu Yuna."


"Katakan itu," ujar Yura sambil tertawa dengan penuh kemenangan.


__ADS_2