
Leon sedang duduk santai di kursi miliknya bersama dengan Dino yang memang satu bangku dengan dirinya. Kebetulan sekarang sudah bel jam istirahat tetapi Leon masih terdiam belum keluar dari kelasnya.
"Lo gak keluar?" tanya Dino pada Leon yang diam saja. Padahal Dino saat ini sudah lapar dan dia ingin makan sekarang.
"Gue lagi malas keluar!"
Dino hanya mengangguk paham saja, dia juga tidak bisa menahan sesuatu yang sulit untuk dia tebak sekarang.
"Gue akan pergi ke kantin karena lapar. Lo mau nitip?" tanya Dino.
Siapa yang tidak tahu Dino, pria yang doyan sekali jajan dan membuat dia jadi tidak bisa menahan berat badannya itu. Membuat dia sulit untuk berpikir yang lebih baik.
"Gue gak lapar, gue pengen ke ruangan OSIS sekarang," ujar Leon yang teringat dengan Darda. Dia sekarang mencurigai Darda sebagai pelaku yang sudah membuat adiknya terluka. Atau mungkin dia mengetahui semua kejadian yang sudah membuat adiknya begitu. Makanya dia selalu menjenguk adiknya.
Dino tertawa ketika mendengar ucapan dari Leon barusan. "Buat apa lo mau datang ke sana? Sekarang gak ada lagi perekrutan buat anak OSIS!"
Leon bingung bagaimana dia memberikan alasan kepada Dino. Kalau sebenarnya dia ingin bertemu dengan Darda karana dia ingin menyelidiki tentang Lena lewat pria itu.
"Gue hanya ingin bertanya-tanya tentang organisasi ," ujar Leon.
Dino menatap kearah Leon sejenak. Tetapi dia langsung berdiri, " terserah lo saja. Gue ke kantin dulu."
Dino akhirnya meninggalkan Leon dan pergi ke
kantin karena perutnya merasa lapar. Mungkin karena
efek tubuhnya yang 80 kg sekarang ini.
Leon berjalan keluar ruangan kelasnya. Dia sudah melihat Dino pergi ke kantin dan Fira berserta kedua temannya itu sudah lebih dulu keluar dari kelas.
Ketika Leon hendak akan menuju ke ruangan OSIS, tiba-tiba jalannya sudah dihalangi oleh kedua anak buah Gumara yang selalu mengikuti dirinya.
"Heh cupu!" panggil Raka kepada Leon.
"Lo budek yah!" maki Deon yang menghalangi jalan Leon dengan sengaja. Apalagi Leon nampak tidak merespon mereka sama sekali.
Leon menoleh kearah dua orang tersebut sambil memutar bola matanya jengah. Menganggu dirinya saja
Untuk bertemu dengan Darda. Sebenarnya dia ingin menghajar kedua orang itu, tetapi karena banyak orang di sini jadi, dia tidak bisa melakukan itu karena dia pasti akan ketahuan nanti.
__ADS_1
"Gue gak punya urusan dengan kalian, lebih baik pergi sekarang!"
Leon benar-benar marah, tetapi dia menyadari kalau sekarang mereka sudah jadi pusat perhatian. Banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya.
"Itu murid cupu yang membuat Gumara babak blur kan?"
"Gue masih gak yakin," bisik wanita yang memang
berbicara sambil bergosip di tempat ini.
Raka mendorong Leon dengan keras, dia sengaja melakukan ini untuk dirinya. "Jadi lo yang sudah membuat Gumara kemarin babak blur."
"Gue jadi penasaran dengan kekuatan pria itu!" gumam Deon yang kini hendak akan memukul Leon di depan umum.
Deon memukul Leon dengan keras, dia bahkan tidak perduli dengan semua ini. Banyak siswa yang melihat semuanya. Leon sengaja tidak melawan agar dia bisa membalikan opini kalau Gumara berbohong.
"Bangun lo cupu!" maki Deon.
Raka menendang Leon setelah melihat Deon memukul Leon sekarang. Raka menatapnya dengan sinis karena dia yakin hanya pura-pura saja.
00
Banyak juga siswa yang berbisik-bisik karena melihat Leon yang terkapar lemah seperti ini. Semua orang jadi tidak percaya kalau yang membuat Gumara terluka adalah Leon. Buktinya pria itu tidak melawan ketika sedang dipukuli oleh Deon.
"Jangan ada keributan di sini!"
Semua orang menoleh kearah Darda yang datang dan membantu Leon untuk bangun saat ini. Dia menoleh kearah Deon dan Raka dengan tajam.
"Kalian tidak bisa seenaknya melakukan kekerasan seperti ini! Jangan karena kalian teman dekat Gumara jadi bisa ikut membully orang lain seperti yang Gumara lakukan!" ujar Darda dengan nada yang dingin.
"Gak asik, Ayo Deon kita pergi."
"Ayo!" Deon dan Raka akhirnya memutuskan untuk pergi dari sini. Mereka sebenarnya sedikit takut dengan Darda karena posisi dia sebagai ketua OSIS.
Darda melirik kearah Leon dan membawa pria itu, dia akan datang ke ruang UKS. "Sini, biar gue obati luka lo,"
Leon hanya menuruti ucapan dari Darda karena sebelumnya dia ingin menyelidiki sesuatu juga saat ini. Tentu saja ini ada hubungannya dengan Lena.
Hingga mereka sampai di sebuah UKS. Darda mengambil kotak obat untuk Leon, dia membantu mengobatinya dengan perlahan.
__ADS_1
"Lo ketua OSIS di sekolah ini?" tanya Leon membuat Darda yang tadinya sedang fokus mengobati luka Leon pun akhirnya melihat kearah pria itu.
"Iya, gue ketua OSIS di sini," jawab Darda.
Leon hanya mengangguk, mungkin ini saatnya dia menanyakan tentang Lena kepada pria itu, walaupun nanti pasti pria itu akan semakin curiga dengan hubungan dia dengan Darda nantinya.
"Gue dengar lo punya hubungan dulu dengan siswa yang namanya Lena yah?" tanya Leon.
Darda melihat kearah Leon sambil tersenyum tipis. Dia dari awal memang sudah menduga kalau Leon ada hubungannya dengan Lena, karena waktu dia mengintip Lena, dia melihat Leon ada di sana.
"Gue hanya temanan dengan dia," jawab Darda
dengan jujur.
Tetapi berbeda dengan Leon yang tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan dari Darda barusan. Dia yakin kalau Darda bukan hanya teman, buktinya pria itu selalu ingin datang menjenguk adiknya.
"Oh hanya teman saja," gumam Leon yang tidak ingin memperpanjang masalah mereka. Walaupun dia sebenarnya masih merasa penasaran karena ingin mengetahui sesuatu.
"Kenapa lo menanyakan itu? Apa sebelumnya lo kenal dengan Lena? Kamu murid baru di sini kan?" tanya Darda memancing Leon agar mengatakan semuanya kepada dirinya tentang hubungan wanita itu dengan Leon. Dia merasa sedikit penasaran dengan Leon.
Leon sudah tebak kalau Darda akan menanyakan itu kepada dirinya. Beruntung sekali dia sudah mempunyai jawaban yang sebenarnya.
"Kenapa diam?" tanya Darda.
"Lo memang punya hubungan dengan Lena. Kebetulan kami dulu pernah satu SMP," jawab Leon.
Darda melihat mata itu, sebenernya dia sedikit merasa penasaran dan mencari kebenaran dibalik makanya. Tetapi dia tidak bisa melihatnya sama sekali.
"Hanya pernah satu sekolah saja? Apa kalian teman dekat?" tanya Darda.
"Em bisa dibilang seperti itu," jawab Leon tentu saja berbohong. Apalagi dia merasa kalau sekarang Darda sedang mengorek informasi dari dirinya.
"Gue gak nyangka kalau Lena punya teman seperti diri lo. Teman ceweknya semuanya seperti tidak terlihat tulus, buktinya dia malah menjauhi temannya sendiri, Lena selama ini sendirian, beruntung dia dekat dengan Dino," ujar Darda membuat Leon menaikan sebelah alisnya.
Dia memang tahu kalau Fira dan kedua temannya itu menjauhi Lena. Tetapi dia tidak tahu kalau Lena jadi dekat dengan Dino. Mengapa pria itu tidak memberitahunya.
Darda seperti merasa salah ucap, dia menepuk pundak Leon dengan sekilas. "Gue pergi dulu."
Leon menatap kepergian dari Darda, entah kenapa dia merasa kalau tadi Darda seperti salah ucap. Atau dia sengaja mengatakan itu padanya. Leon jadi penasaran dengan Dino, memangnya hubungan anak itu seberapa dekat dengan adiknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG