SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Leon Berdua Dengan Fira


__ADS_3

Leon datang ke rumah Amar, dia merasa khawatir dengan Fira. Takut nanti Gumara akan datang ke sini dan membawa Fira pergi. Walaupun sebenarnya dia masih banyak urusan, tetapi dia harus menyempatkan waktunya untuk datang ke sini. Apalagi rahasia dirinya belum terbongkar.


Dia membuka pintu rumahnya dan langsung melihat kearah Fira yang sudah berdiri di depan. Leon jadi terdiam ketika Fira yang menatap dirinya dengan pandangan aneh. Apa ada yang salah dengan penampilan dirinya hari ini. Mengapa sekarang Fira malah terus menatap dirinya.


"Lo habis nginap di rumah Dino?" tanya Fira.


Leon awalnya terlihat bingung, tetapi dia teringat dengan Amar. Mungkin Amar memberikan alasan itu agar Fira tidak curiga dengan dirinya. Akhirnya Leon mengatakan itu agar Fira tidak curiga dengan dirinya.


"Iya, gue habis nginap di rumah dia," jawab Leon dengan singkat lalu memutuskan untuk duduk di sofa.


Berbeda dengan Fira yang merasa heran karena Leon tidak membawa buku sama sekali. "Lo bilang habis belajar dengan Dino, kok gue gak melihat lo bawa buku pelajaran? Jangan bilang lo bohongin Amar yah?" tebak Fira menatap curiga kepada Fira.


"Berisik lo!" balas Leon dengan singkat. Mengapa sekarang Fira malah banyak tanya kepada dirinya. Leon sendiri malas untuk memberikan alasan yang logis sekarang kepada Fira katena memang sepenuhnya dia sudah berbohong. Dia menginap di rumah papahnya bukan di rumah Dino sebenernya.


"Jadi benar yah? Lo bohongin Amar," ujar Fira kepada Leon sambil tertawa. Tidak menyangka kalau Leon bisa membohongi Amar seperti itu. Fira yakin kalau Leon tidak belajar di rumah Dino melainkan main pasti.


Tetapi Leon tidak menjawabnya, dia malah menanyakan tentang hal lain. "Luka lo udah sembuh?"


Fira terdiam ketika mendengar Leon yang mengalihkan pembicaraan mereka untuk saat ini. Akhirnya Fira mengangguk karena sekarang dia sudah mendingan lumayan tidak terlalu merasa perih dan mungkin hanya bekas lukanya saja yang tersisa.


"Udah mendingan, lukanya juga sudah mengering. Gue gak harus tidur tengkurap lagi sekarang," jawab Fira mengingat dia jadi susah untuk tidur karena hal ini.


"Syukurlah kalau begitu," balas Leon.


Fira mengangguk dan sekarang mereka berdua malah jadi canggung karena tidak punya pembahasan. Leon menatap kembali kearah Fira.


"Nyokap lo mana?" tanya Leon yang tidak melihat keberadaan ibunya Fira.


"Nyokap gue tadi diajak oleh Amar buat jalan keluar. Katanya mau belanja sayuran," jawab Fira.


Leon malah mendengus kesal karena menurutnya Amar begitu ceroboh dengan mengajak ibunya Fira keluar. Bagaimana kalau ketahuan oleh orang-orang Pak Rudi.


"Dia memang ceroboh, bagaimana kalau ketahuan!" maki Leon yang kini merasa kesal.


"Gue juga sudah melarangnya tadi, tapi Amar kaya maksa nyokap buat keluar," jelas Fira.


Leon berpikir sejenak, sepertinya memang Amar sengaja membiarkan Fira berdua dengan dirinya di rumah ini. Apalagi Amar sudah tahu kalau tadi dia akan ke sini.


"Ini pasti rencana Amar," dengus Leon.


"Rencana apa?" tanya Fira yang merasa bingung. Leon tidak menjawab pertanyaan dari Fira, "lupakan saja!"

__ADS_1


Leon lalu mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Dia memberikan ponselnya kepada Fira.


Sedangkan Fira merasa bingung ketika Leon menyodorkan ponsel padanya. Fira berpikir kalau Leon menyuruh dia untuk menghubungi seseorang seperti yang Amar lakukan kemarin kepada dirinya.


"Lo mau gue menghubungi siapa?" tanya Fira.


Leon menjambak kepalanya karena rupanya Fira tidak paham dengan dirinya. "Buat lo."


Fira melotot dengan ucapan Leon barusan. Dia tidak salah dengar bukan? Bukannya ini ponsel milik Leon, lalu kenapa malah diberikan kepada dirinya.


"Lo kalau mau becanda yang benar aja dong," ujar Fira yang kini malah tertawa sendiri.


Dia benar-benar tidak menyangka melihat sisi Leon yang satu ini, dia benar-benar seperti bunglon. Kadang bersikap main nyosor, kadang cuek dan sekarang dia malah irit bicara seperti wanita sedang PMS.


Leon menatap tajam Fira yang malah menertawakan dirinya. Wanita itu tidak paham juga dengan dirinya. "Gue gak lagi becanda, lagian lo pasti butuh ponsel kan?"


"Terus kalau lo kasih ponsel ke gue, nanti lo bagaimana?" tanya Fira kepada Leon.


"Gue nanti beli lagi, ponsel ini udah jelek," bohong Leon. Padahal itu ponsel baru yang dibelikan oleh dirinya. Dia hanya memasukan nomor teman terdekatnya saja di ponsel itu, seperti nomor Amar, Dino, Sasha dan Zahra. Leon sengaja membelikan ponsel yang satu merek dengan dirinya agar terlihat seperti ponsel miliknya.


"Gaya lo," ujar Fira.


"Mau gak? Kalau gak mau sih gak papa, gue bisa buang ponselnya ke tong sampah."


"Yaudah buat gue saja!" balas Fira yang mengambil ponsel tersebut dari Leon.


Sedangkan Leon diam-diam tersenyum tipis ketika melihat Fira yang mengambil ponselnya. Sekarang urusan dirinya sudah selesai memberikan ponsel baru kepada Fira.


"Hubungi gue jika terjadi sesuatu," balas Leon.


"Ngapain harus hubungin lo, lagian bukannya lo tinggal satu atap bareng gue," ujar Fira.


Leon masih berbohong kepada Fira kalau dia tinggal di rumah ini, pada kenyataannya memang dia tidak tinggal di sini. Sampai saat ini pun Leon belum bisa jujur kepada Fira tentang jati diri yang sebenarnya. Walaupun dia sudah percaya kalau Fira tidak terlibat tetapi Leon masih belum siap memberitahu wanita itu.


"Karena gue gak selalu ada di rumah, jadi jangan lupa hubungi gue."


Leon mengatakan itu karena dia merasa khawatir kalau Gumara dan Pak Rudi akan datang ke sini nanti. Jadi dia memberikan ponsel untuk Fira agar wanita itu nanti hubungi dirinya.


"Okeh baiklah gue paham. Makasih banyak yah."


Leon hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, entah senyuman itu dilihat oleh Fira atau tidak untuk saat ini, dia hanya melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Sampai terdengar suara ketukan pintu terdengar dari sini. Leon menaikan sebelah alisnya karena dia merasa heran ketika ada tamu. Fira akan membukakan pintunya tetapi dicegah oleh Leon.


"Biar gue intip dulu. Ingat jangan asal buka pintu sembarang. Apalagi lo yang notabenenya melarikan diri dari rumah orang, gue bisa dituduh menculik lo sama Amar nanti," peringat Leon kepada Fira.


Fira akhirnya membiarkan Leon yang sekarang berjalan menuju kearah depan. Pria itu sekarang sedang mengintip di jendela.


"Siapa orangnya?" tanya Fira yang penasaran dengan Leon yang mengintip dengan serius.


Leon menghela napasnya tenang setelah tahu kalau orang itu bukan ancaman yang serius. "Dia Sasha


Fira lantas teringat dengan janjinya waktu itu. Rupanya Sasha beneran akan datang ke sini. Tetapi sayang banget lagi, pria itu tidak sedang ada di rumah. Amar sedang keluar bersama dengan ibunya.


"Yaudah kalau begitu, gue yang akan buka pintunya ," ujar Fira yang nampak semangat dengan Sasha.


Leon menatap kearah Fira sejenak, lagian dia niat datang ke sini memang untuk memberikan ponsel itu kepada Fira. Sekarang dia harus pergi karena banyak urusan yang dia lakukan. Termasuk untuk datang ke rumah sakit tempat Lena berada.


"Gue pergi dulu. Kalau ada apa-apa hubungi gue pake hp itu. Ada nomor gue di sana," jelas Leon.


Fira hanya mengangguk dan Leon membukakan pintu. Di sana sudah berdiri Sasha yang memang ada di rumah Leon.


Leon menatap Sasha dengan sekilas saja, lalu dia naik motor ninja warna putih miliknya. Leon percaya dengan Sasha yang tidak akan mungkin berbuat macam-macam karena Amar sudah menceritakan karakter wanita itu.


"Leon pergi begitu saja," ucap Sasha yang tidak disapa sama sekali.


Sedangkan Fira hanya tersenyum, mungkin itu


memang sifat asli pria itu yang sebenarnya. Walaupun begitu, Fira sedikit merasa senang karena Leon sudah baik kepada dirinya.


"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik lo masuk sekarang. Gue banyak mau cerita sama lo," ajak Fira masuk.


Sasha akhirnya masuk ke rumah Amar karena dia penasaran dengan Fira yang bisa ada di rumah mantannya. Apalagi dia bilang tinggal di sini bersama dengan Leon. Setahu dia dulu, Amar hanya tinggal sendiri setelah kedua orangtuanya tidak ada.


"Lo beneran tinggal di sini, bukannya kemarin rumah lo mewah banget pas gue jenguk sama teman-teman?" tanya Sasha.


Fira terdiam ketika mendengar ucapan dari Sasha barusan, bagaimana sekarang dia menjelaskan semuanya kepada Sasha kalau rumah yang waktu itu dia datangi adalah rumah Gumara. Tetapi Fira sekarang tidak mau menyembunyikan sesuatu lagi dari temannya.


"Kok lo malah melamun? Gue butuh penjelasan ini," paksa Sasha yang marah kepada Fira karena tidak mau bercerita.


"Iya gue bingung harus jelasinnya dari mana, yang jelas kemarin itu bukan rumah gue. Melainkan rumah Gumara," jelas Fira membuat Sasha membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan apa yang dia dengar berusan.


"Lo becanda kan?" tanya Sasha. Tetapi dia teringat kembali ketika waktu itu datang ke rumah tersebut, memang ada Gumara yang membuka pintunya.

__ADS_1


"Gue tinggal sama Gumara karena dia saudara tiri gue," jelas Fira.


"Apa?" Heboh Sasha yang terkejut dengan kenyataan ini.


__ADS_2