
Leon sudah berhasil melawan orang-orang yang ada di sini. Dia juga melihat anak buah Rudi yang sudah kalah di sini. Dia tersenyum sinis lalu berjalan masuk ke dalam. Dia mencari kebenaran Fira karena hendak akan menolong wanita itu.
"Keluar kau Rudi!" teriak Leon yang benar-benar marah. Dia berharap akan memberikan pelajaran kepada orang tersebut.
"Tolong!"
Leon mendengar suara teriakan itu dan dia langsung menghampiri Fira dalam keadaan tersungkur. Dia melepaskan tali yang mengikat Fira dengan hati-hati karena takut wanita itu akan tersakiti oleh dirinya.
"Di mana orang itu?" tanya Leon ketika sedang melepaskan tali tersebut. Dia ingin memberikan pelajaran kepada Rudi.
"Dia kabur lewat sana," tunjuk Fira kearah pintu belakang. Leon mengepalkan tangannya dan mendengus kesal.
"Dasar pengecut!" maki Leon. Padahal ini kesempatan dirinya untuk menghabisi orang seperti Rudi. Apalagi dia sudah mengalahkan semua para anak buahnya.
"Makasih banyak yah," ujar Fira tersenyum tulus kepada Leon karena sudah membantu dirinya.
Sebenernya Fira merasa heran karena tiba-tiba ada orang yang menarik tangannya tadi ketika di kafe edelweis. Padahal dia sudah janji akan ketemu dengan Zahra bersama dengan Sasha tadi.
"Jangan ngeyel untuk keluar rumah, gue udah bilang untuk sementara lo diam di rumah Amar. Kecuali kalau lo emang mau betah di rumah bokap tiri lo sama Gumara," ketus Leon yang sebenernya merasa khawatir dengan keadaan Fira.
"Gue minta maaf, tadi lo bilang kalau itu adalah rumah Amar. Benar kan kalau itu bukan rumah lo yang sebenarnya?" tanya Fira mengingat perkataan Sasha dengan Amar waktu itu.
Fira sudah tahu kalau Leon sebenernya menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Termasuk dengan identitasnya yang belum Fira ketahui.
Leon terdiam dan sekarang dia tahu kalau Fira sudah tahu semuanya. Dia tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi dari Fira. Mungkin ini saatnya dia menceritakan pada wanita itu.
"Oke gue ngaku kalau itu adalah rumah Amar dan bukan rumah gue," jawab Leon.
Fira sempat terkejut dengan pengakuan ini, dari awal juga dia sempat curiga karena Leon selalu tidak ada di rumahnya. Rupanya memang benar kalau itu adalah rumah Amar bukan rumah Leon.
"Gue gak nyangka kalau lo bakal bohongin gue kaya gini," ujar Fira.
"Apa itu penting buat lo, gue berasal dari keluarga mana?" tanya Leon. Fira hanya terdiam ketika mendengar perkataan Leon yang satu ini. Sama saja memang Leon tidak mau terbuka dengan dirinya.
Amar menghampiri Fira dan juga Leon setelah membereskan semua orang yang tadi di bawah. Dia melihat dua orang itu yang malah pada melamun sambil saling tetap satu sama lain.
"Bagaimana? Lo gak papa?" tanya Amar yang merasa khawatir. Sekaligus membuat mereka berdua saling sadar dan Fira langsung menoleh kearah Amar.
"Gue gak papa," balas Fira yang kini langsung berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor. Dengan kakinya yang terlihat lecet.
"Bedebah itu malah kabur dari sini. Padahal gue gak sabar ingin menghabisinya!" maki Leon dengan marah yang begitu menggebu.
Fira menepuk pundak Leon sekilas. "lebih baik kita pulang sekarang. Gue khawatir sama nyokap."
"Lo benar, kita pulang sekarang," ujar Amar yang kini sudah bersiap memakai helmnya.
"Jangan pernah keluar lagi tanpa izin gue, apa lo mengerti Fira?" ujar Leon seperti mengatur Fira sekarang. Mungkin dia merasa khawatir takut kejadian ini akan terulang lagi.
Fira yang notabenenya hanya membutuhkan perlindungan saja, akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia menuruti keinginan Leon untuk tetap izin kepada pria itu kalau akan keluar.
"Oke, gue akan izin ke lo kalau akan keluar nanti," jelas Fira.
__ADS_1
Amar yang mendengar itu pun malah tertawa kepada Leon. "Sumpah lo udah kaya suami yang positif, pergi keluar rumah harus izin dulu."
"Berisik lo Amar. Ini demi kebaikan Fira. Apalagi mantan lo yang ajak Fira keluar gak tanggungjawab!" sindir Leon.
"Eh kok lo nyalahin mantan gue, begitu juga dia yang udah ngasih nomor plat kendaraan orang yang culik Fira," jelas Amar tidak terima ketika Sasha juga ikut disalahkan.
"Udah jadi mantan juga masih saja lo bela!" balas Leon.
"Sudah, kalian malah berdebat. Ayo cepat kita pulang!" ajak Fira yang sudah tidak sabar ingin sampai ke rumahnya.
Amar mendengus kesal dan langsung menyalakan mesin motornya. Dia memang ingin segara pergi dari sini daripada terus berdebat dengan Amar nantinya. Membuat dia jadi sedikit kesal.
Leon naik ke motor ninja putih miliknya, lalu mengkode Fira untuk naik bersama dirinya. "buruan naik!"
Fira hanya mengangguk, sedangkan Amar sudah mengendarai kendaraannya duluan paling depan.
Padahal Fira ingin bersama dengan Amar saja, tetapi pria itu sudah duluan. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Fira memutuskan untuk naik motor milik Leon.
"Pegangan!" perintah Leon.
Fira tidak mengeratkan pelukannya, tetapi Leon malah mengencangkan laju motornya membuat Fira refleks langsung memeluk Leon dengan erat.
Sedangkan Leon, diam-diam tersenyum dibalik helm yang dia gunakan. Dia mengendarai motornya dengan tenang sekarang. Fira sendiri malah merasa canggung dengan kedekatan ini.
Sementara itu.
Gumara diam-diam merasa kesal, selama dia diskors tidak masuk sekolah. Belum lagi ayahnya yang memang sengaja mengurung dia di kamar. Sekarang dia tidak bisa bebas untuk pergi.
"Sialan! Apa yang harus gue lakukan," kesal Gumara.
Dia sebenernya bisa saja kabur dari kamar ini,tetapi dia tidak bisa keluar dari rumah ini dengan sembarang. Apalagi banyak penjaga diluar rumahnya.
Jika dia keluar dari kamar maka percuma saja karena orang-orang yang menjaga diluar rumah akan menangkap dirinya. Gumara berpikir sejenak untuk mengatasi hal tersebut.
Hanya ada satu cara agar dia bisa keluar mencari kebenaran Fira untuk saat ini. Yaitu dengan pura-pura mengikut keinginan papahnya.
Gumara diam-diam membuka ponsel milik Fira. Beruntung sebelumnya dia mengambil ponsel Fira, jadi walaupun ponselnya rusak oleh ayahnya kemarin karena berdebat. Dia masih ada ponsel Fira untuk menghubungi seseorang.
"Hallo."
"Gue kira Fira karena pake nomornya. Kenapa lo menghubungi gue?" tanya orang tersebut kepada Gumara.
"Gue butuh bantuan lo," ujar Gumara.
"Apa gue gak salah dengar? Seorang Gumara, meminta bantuan sama orang seperti gue," ujar orang itu sambil tertawa.
Gumara mendengus kesal ketika orang tersebut malah menertawakan dirinya. "Lakukan apa yang gue mau!"
"Apa lo ngancam gue sekarang?" tanya orang tersebut dengan berani.
"Cepat datang ke sini. Ingat rahasia lo masih ada di tangan gue. Walau pun lo udah ngambil ponsel Lena kemarin pas lo datang ke sini, tetapi gue masih punya bukti salinannya."
__ADS_1
"Sialan lo Gumara!" marah orang tersebut yang membuat Gumara jadi senang. Walaupun Gumara dan orang itu tidak pernah akur, tetapi mereka punya satu sisi masing-masing. Apalagi tentang rahasia besar orang tersebut.
Gumara melihat ponselnya yang sudah dimatikan oleh orang tersebut. Dia yakin orang itu sekarang tengah mengumpat kesal. Tinggal menunggu beberapa menit saja maka, orang itu akan datang ke sini.
Beberapa hari yang lalu, ketika banyak teman-teman Lena datang ke sini. Ada yang menyusup masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponsel milik Lena karena selama ini ponsel itu ada ditangan Gumara.
Adapun Gumara menyembunyikan ponsel milik Lena adalah untuk melindungi ayahnya. Dia tahu ayahnya terlibat dalam kasus tersebut. Buktinya dia sampai menutup kasus tersebut dengan mudah.
Walaupun dia benci dengan ayahnya yang jahat, tetapi Gumara juga berhutang budi dengan ayahnya yang melindungi dirinya selama ini.
Hingga tak lama kemudian, terdengar suara dari depan, sepertinya orang tersebut sedang mengobrol dengan pembantunya. Gumara tersenyum karena orang itu akhirnya datang ke sini juga.
Pintu terbuka dan Gumara bisa melihat kalau orang itu kini sedang mendengus ketika melihat kearahnya.
"Gue udah datang ke sini."
"Akhirnya lo datang juga. Bantu gue keluar dari sini," ujar Gumara kepada orang tersebut. Hanya orang tersebut yang memang bisa mengeluarkan dia dari sini.
"Lo mau menyelamatkan Fira? Tadi gue disuruh bokap lo buat bertemu dengan Fira agar bisa menangkap wanita itu."
Gumara terkejut mendengar fakta tersebut, dia benar-benar tidak menyangka sama sekali dengan fakta ini. Rupanya diam-diam orang yang ada dihadapannya itu membantu papahnya.
"Lo gila!" Maki Gumara yang hendak akan pergi dari tempat ini. Tetapi tangannya dicegah oleh orang tersebut.
"Lo gak bisa pergi kabur dari rumah lo sendiri tanpa gue," ujar orang tersebut.
"Sial!" ketus Gumara yang memang lupa kalau dia masih punya hukuman dari ayahnya.
Gumara akhirnya memutuskan untuk merangkul orang tersebut dengan sedikit mesra agar para penjaga tidak bisa mencegah yang dia akan lakukan.
"Tuan muda gak bisa pergi!" cegah penjaga.
Gumara tidak berbicara, lalu Zahra yang kini menatap kearah para penjaga tersebut. "Katakan sama Om Rudi, kalau Gumara mau gue ajak kencan."
Penjaga itu menghubungi Pak Rudi dan memberitahu kalau Gumara akan pergi bersama dengan Zahra.
Zahra dan Gumara saling lirik satu sama lain. Menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Pak Rudi.
"Bagaimana?" tanya Gumara.
"Kalian boleh pergi," ujar penjaga tersebut membuat Gumara merasa senang. Dia langsung berakting mendekatkan wajahnya pada Zahra dengan jarak yang dekat. Semua akan mengira kalau mereka ciuman, tetapi sebenarnya Gumara membisikan sesuatu pada telinga Zahra.
"Thanks, Lo udah bantu gue keluar."
Zahra mengangguk, kalau bukan karena Gumara mempunyai kartu as nya. Maka, dia tidak akan membantu pria itu. "Awas kalau sampai bocor!"
"Ayo sayang, kita pergi," ujar Gumara.
Sedangkan Zahra mendengus kesal, pria yang ada dihadapannya itu sangat pintar sekali berakting dihadapan para penjaga rumah ini.
"Jijik tahu gak!" balas Zahra memutar bola matanya malas.
__ADS_1