SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Mengintip Zahra


__ADS_3

Lena menemui Darda di perpustakaan, dia merindukan pria itu. Sampai matanya kini tertuju pada orang yang selalu dia rindukan. "Hai."


Darda terkejut ketika melihat kearah Lena yang datang menghampiri dirinya. "Kamu sendiri ke sini?" tanya Darda yang melihat Lena datang sendiri.


Apalagi sebenernya Darda merasa khawatir kalau Lena berjalan sendiri. Takut kejadian itu terulang kembali karena pelakunya belum tertangkap. Bukan tidak lain akan ada orang yang menyakiti dirinya.


"Iya, aku sendiri ke sini karena ingin membuat Fira dan Leon dekat lagi," jawab Lena sambil tersenyum dengan penuh arti.


"Lain kali jangan sendirian, kalau tentang hubungan mereka. Aku yakin kalau Leon sendiri pasti akan mendekati dia."


"Kamu gak tahu orang seperti Leon itu gak pernah peka. Apalagi tentang perasaan! mungkin karena dia selama ini tinggal sama papah bukan daddy," jelas Lena menceritakan semuanya kepada Darda.


Tetapi Darda hanya tersenyum saja menanggapi hal ini. Apalagi Darda adalah seorang pria yang paham tentang Leon. Dia pasti punya cara tersendiri untuk mendekati wanitanya.


Ketika dia akan mengatakan sesuatu, Darda malah melihat silent seseorang. Dia langsung menarik tangan Lena untuk bersembunyi dengan cepat.


"Hei, kenapa malah narik," belum sempat Lena mengatakan semuanya, Darda sudah mengkode Lena dengan menunjukan jari telunjuk pada bibirnya.


"Jangan berisik," ujar Darda pelan.


Lena menaikan sebelah alisnya, apalagi Darda malah membawa dia ke tempat pojokan. Membuat dia merasa khawatir saja.


"Kenapa?" tanya Lena.


"Ada Zahra dan Gumara."


Lena membulatkan matanya, lalu dia mengintip sekilas dan benar saja. Tidak jauh dari sana ada Zahra dengan Gumara. Dia langsung menutup mulut takut dia nanti malah akan berteriak.


"Kamu benar, mereka ngapain?" tanya Lena yang penasaran ketika melihat Gumara dan Zahra.


"Kita dengarkan saja, jangan lupa siapkan ponsel, aku yakin nanti kita pasti akan mendapatkan informasi penting," saran Darda.


Lena teringat dengan ponsel lamannya yang memang hilang. Dia tidak mau pakai ponsel dirinya lagi. Akan lebih aman jika pakai ponsel Darda.


"Yaudah pake ponsel kamu saja, sini ponselnya," pinta Lena.


Darda akhirnya mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan memberikannya kepada Lena. Setelah itu dia membuka ponsel milik Darda.


Sementara tidak jauh dari sana. Gumara malah mengebrak meja dengan keras. Dia terlihat seperti sedang emosi karena raut mukanya yang memang terlihat memerah.


"Sialan!" maki Gumara.


"Lo jangan berisik! Ini perpustakaan!" maki Zahra yang memperingatkan Gumara. Apalagi tempat ini adalah perpustakaan.

__ADS_1


"Habisnya gue kesal, lo tahu apa yang dilakukan oleh si cupu Leon itu? Dia mencium Fira di tempat umum!" ujar Gumara.


Lena yang sedang menguping dibelakang pun hampir saja berteriak karena mendengar ucapan dari Darda. Apalagi yang dia dengar begitu membuat terkejut. Bagaimana mungkin Leon bisa mencium Fira dengan begitu saja.


Darda langsung menutup mulut Lena ketika tahu wanita itu pasti akan berteriak kegirangan. Bisa bahaya kalau ada yang mendengarkan perkataan mereka.


Kembali ke arah Zahra yang kini sedang mengobrol dengan Gumara. Terlihat dari raut wajahnya kalau dia tengah marah.


"Gue harus memberikan pelajaran pada Leon." Gumara tidak tahan dipermalukan seperti itu oleh dirinya.


"Lo jangan gegabah Gumara. Bukannya lo bilang kalau bekingan dia Pak Hamdan. Ini akan sulit membuat dia terjatuh!" ujar Zahra.


"Terus gue harus bagaimana?" tanya Gumara meminta saran dari Zahra. Baga pun wanita itu pintar dan begitu licik.


Zahra berpikir sejenak, dia akan memberikan rencana yang ampuh untuk Gumara. "Nyokap Fira masih ada di rumah lo kan? Kenapa gak lo gunain dia buat ngancam Fira."


"Gue udah gunakan itu buat Fira, gue ingin menghancurkan Leon bukan Fira!" ujar Gumara.


Zahra yang mendengar itu pun hanya mendengus saja, benar-benar tidak paham dengan ucapan dia. " Sama saja, bukannya tadi lo bilang kalau Leon cium Fira di tempat umum, artinya memang sekarang mereka bersama. Kalau lo ngancam Fira, otomatis Leon akan berada di samping wanita itu. Terus lo tahu kan yang harus dilakukan?" sambung Zahra sambil tersenyum penuh arti.


Gumara paham dengan ucapan dari Zahra barusan. Jadi dia sedikit paham dengan rencana dari Zahra. Fira saat ini berada di dalam lindungan Leon dan dia bisa melakukan itu dengan baik. "Lo benar, emang cuma lo yang bisa berpikir logis kaya gini."


Zahra mengangguk, lalu ponselnya tiba-tiba berdering tanda ada yang menghubunginya. Dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat siapa orang yang menghubunginya.


"Hallo mah."


"Lebih baik, kamu jangan pulang ke rumah. Banyak orang yang mengintai rumah kita di depan. Mamah akan kabur dan memilih tempat tinggal lain."


Zahra menaikan sebelah alisnya karena merasa heran. Kenapa begitu terburu-buru sekali. "Apa maksudnya mah?"


"Lakukan yang mamah bilang saja, sementara kamu tinggal di rumah Gumara dulu."


"Mah kenapa?" tanya Zahra merasa kalau ada sesuatu. Dia khawatir dengan ibunya, walaupun Zahra benci kepada ibunya yang tidak memberitahu tentang ayah kandungnya. Tetapi sekarang ini, orang yang dia punya adalah ibunya sendiri.


"Lakukan saja, jangan banyak tanya!"


Ponselnya langsung dimatikan begitu saja oleh ibunya tanpa menjelaskan semuanya kepada dirinya, Zahra mendengus kesal. Dia benar-benar terkejut dengan pesan tersebut. Dia harus tinggal bersama dengan ibunya.


"Nyokap lo bilang apa?" tanya Gumara yang merasa heran. Apalagi raut wajah Zahra yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Dia bilang kalau gue gak boleh tinggal di rumah karena ada orang yang mengintai, terus gue disuruh tinggal di tempat rumah lo dulu," jelas Zahra memberitahu Gumara.


"Siapa orang yang mengintai rumah lo?" tanya Gumara.

__ADS_1


"Gue takut kalau itu pihak kepolisian. Nyokap gue gak pernah merasa waspada seperti ini. Mungkin karena hubungan antara ibuku dan ibunya Darda waktu itu," jelas Zahra mengingat yang dilakukan oleh ibunya untuk menyuruh orang membunuh ibunya Darda. Tetapi tidak berhasil karena Darda sendiri yang menolong ibunya.


"Kalau begitu, ayo kita ke ruangan nyokap gue!" ajak Gumara dan Zahra mengangguk paham.


"Buat apa?" tanya Zahra menaikan sebelah alisnya.


"Masa lo gak paham, kita diskusikan di sana. Siapa tau bokap gue tahu yang terjadi sama nyokap lo," gumam Gumara.


"Lo jalan duluan, gue nanti nyusul ke sana biar gak ada orang yang curiga," saran Zahra yang akhirnya memutuskan untuk ke ruangan kepala sekolah.


Gumara akhirnya mengangguk paham, dia langsung keluar dari tempat ini. Bersama dengan itu juga, Zahra ikut keluar beberapa menit kemudian agar tidak ada yang curiga dengan dirinya.


Sedangkan Darda dan Lena yang ada di tempat itu pun akhirnya saling tetap satu sama lain. setelah mendengarkan perkataan Zahra dan Gumara.


"Untung saja kita tidak ketahuan," gumam Darda yang kini merasa tenang setelah Zahra dan Gumara pergi. Mereka tidak perlu untuk bersembunyi lagi di tempat yang seperti ini.


Lena memberikan ponsel milik Darda. "Aku udah merekamnya tadi, tapi kayanya mereka gak bisa ngomong aneh-aneh deh," gumam dia pelan.


"Tadi kamu dengar kan, kalau rumah Zahra sedang diintai, kira-kira siapa yang mengintai rumah dia?" tanya Darda.


"Sudah pasti anak buah Leon deh, dia bergerak cepat untuk menemukan buktinya," ujar Lena.


"Kamu benar juga, pasti dia. Padahal aku juga mau melakukan itu untuk menemukan ponsel kamu," gumam Darda.


Lena menggenggam tangan Darda dan berusaha untuk meyakinkan pria itu. "Ponsel itu sudah tidak penting jika Zahra mau mengakui kesalahannya. Bukannya kita akan menjebak Zahra kan?" tanya Lena.


"Kamu benar juga, aku akan menjebak Zahra


bersama dengan Leon."


Darda mengatakan itu, lalu dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya kearah Lena, hampir dengan jarak yang begitu sangat dekat.


Sampai ada orang suara yang membuat mereka berdua jadi terkejut. "Kalian bersembunyi di tempat gelap seperti ini untuk berbuat mesum."


Darda dan Lena yang tadinya jongkok langsung berdiri, dia hampir terkejut karena menyangka kalau ketahuan, tetapi rupanya Leon datang ke sini.


"Leon."


"Gue sama Fira cari lo karena takut terjadi sesuatu. Tetapi lo berdua malah bermesraan!"


"Lo buat kita berdua kaget saja, lagian kita gak melakukan apapun juga kok," bela Lena yang memang jujur.


"Masa sih?" tanya Fira.

__ADS_1


__ADS_2