
Semua murid sekarang sedang akan datang ke rumah Fira, Gita sendiri selaku wali kelas mereka bahkan tidak bisa berkata apapun juga. Apalagi berhadapan dengan Leon yang notabenenya susah sekali untuk disentuh.
Akhirnya Gita masuk ke dalam ruangan kepala sekolah sambil menundukkan kepalanya. Ada perasaan takut ketika dia akan melaporkan hal ini. Apalagi dia tidak bisa mencegah para murid untuk tidak datang ke sana.
"Maaf Pak, saya tidak bisa mencegah anak-anak untuk menjenguk Fira," ujar Gita membuat Rudi mengeraskan rahangnya.
Dia langsung menggebrak mejanya dengan keras ketika mendengar hal tersebut. "Bodoh! Bagaimana bisa hah!"
"Semuanya gara-gara siswa bernama Leon itu. Dia malah bersikeras untuk datang ke rumah anda, dia bilang merindukan Fira," gumam Gita.
Rudi hanya bisa tersenyum dengan sekilas, walaupun dia sedikit marah. Tetapi mendengar hal tersebut sedikit membuat dia bahagia. Gumara akan marah karena wanita yang dia cinta di dekati oleh orang lain. Bukanlah ini bagus agar Gumara menjauh dari Fira dan dia bisa menjodohkan Gumara dengan anak Bu Ketua.
"Biarkan saja. Tetapi di mana mereka bisa tahu rumah ku?" tanya Rudi penasaran. Tidak ada yang tahu rumah dirinya, apalagi memang dia sengaja membuat penjagaan yang ketat.
"Saya tidak tahu kalau tentang itu."
Rudi berpikir sejenak, sepertinya memang ada yang tahu tentang dirinya. Atau mungkin Fira sendiri yang mengatakan semuanya. Jika memang benar anak itu yang memberitahu maka, dia akan marah sendiri.
"Anak tidak tahu diri itu yang pasti memberitahunya ," maki Rudi yang benar-benar merasa marah sekarang. Siapa lagi yang bisa tahu alamat rumahnya selain orang-orang terdekatnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Gita mengatakan itu karena takut jadi pelampiasan marahnya, lalu dia memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Baru dia membuka matanya, dia sudah berpapasan dengan Darda.
"Darda kamu ke sini?" tanya Bu Gita sedikit terkejut karena melihat kearah ketua OSIS sekolah ini yang sedang berdiri di depan ruangan kepala sekolah.
Darda hanya tersenyum tipis, wanita bermuka dua itu memang pandai sekali membiaskan ekspresi wajahnya seperti itu. "Iya Bu Gita, kebetulan saya sendiri ingin bertemu dengan Pak kepala sekolah."
"Oh baiklah kalau begitu."
Gita pergi begitu saja dari tempat ini. Sedangkan Darda mengepalkan tangannya. Wanita itu juga rupanya bawahan kepala sekolah. Tetapi sepertinya dia tidak bisa menyentuh dirinya karena dia tahu kalau Darda cucu pemilik sekolah ini.
Darda mengetuk pintu ruangan ini dengan sopan. Walaupun dia malas datang ke sini, tetapi dia punya misi yaitu mengambil pulpen yang memang sudah diisi sebuah rekaman. Semuanya atas permintaan dari Leon karena itu bisa dijadikan bukti.
"Permisi Pak," ujar Darda.
Darda masuk ke dalam ruangan kepala sekolah sambil membawa proposal tentang acara yang dia lakukan. Itu dia lakukan agar tidak ada yang curiga, maksud dia datang ke ruangan itu untuk mengambil pulpen remakan yang dipaketkan oleh Amar.
Rudi melihat kearah Darda dan mempersilahkan duduk. Walaupun sebenarnya Rudi sedikit terkejut karena Darda langsung bisa masuk ke ruangan dirinya. Bahkan Hadi anak buahnya itu tidak melaporkan kegiatan Darda. "Ayo silakan duduk dulu Darda."
"Saya hanya ingin melaporkan kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak OSIS kemarin, silakan dibaca dulu Pak," ujar Darda.
Rudi membaca itu dengan sekilas, walaupun sebenarnya ini tidak terlalu penting untuk dirinya. Tetapi karena dia tidak ingin membuat Darda curiga, akhirnya dia memeriksanya saja.
Sedangkan mata Darda tertuju kepada sebuah pulpen yang difoto oleh Amar. Dia akan mengambil itu secara diam-diam karena sudah diisi dengan rekaman. Setelah dia menemukan benda itu, dia pura-pura terjatuh dan memasukannya pulpen itu ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Kamu sedang apa Darda?" tanya Rudi melihat kearah Darda.
"Saya ingin membenarkan tali sepatu, tetapi sepertinya benar," ujar Darda kembali duduk dengan santai. Dia sudah mendapatkan bukti rekaman tentang satpam dan kepala sekolah.
Sementara itu, Leon dan teman-teman semuanya sudah berada di depan rumah tempat di mana Fira berada. Di sana banyak penjaga yang membuat semua siswa malah merasa bingung.
"Gila banyak penjaganya," gumam Sasha yang malah heboh sendiri "
Sedangkan Zahara malah memukul kepala Sasha dengan pelan. "Biasa saja kali, gak usah lebay kaya gitu."
"Iya kan gue baru liat, kayanya ketat banget
rumahnya. Apa ini alasan dia selalu mengajak dia bertemu di kafe edelweis tidak di rumahnya?" tanya Sasha.
"Berisik kalian berdua," ujar Dino.
Leon bertanya kepada satpam yang menjaga rumah tersebut. "Permisi Pak, kami teman-temannya Fira. Ingin menjenguk dia di rumahnya, apa kita boleh masuk?" tanya Leon.
Satpam itu terlihat diam sejenak, lalu tiba-tiba beliau seperti mendapatkan pesan dari seseorang. Akhirnya dia mengizinkan Leon dan teman-teman untuk masuk.
Dia membuka gerbangnya dan mempersilakan orang itu untuk masuk ke dalam. Semua orang akhirnya masuk ke dalam rumah ini. Leon merasa kalau memang orang tersebut mendapat izin dari orang rumah untuk membiarkan mereka masuk ke dalam.
"Terima kasih banyak."
Sasha malah merasa takut sendiri melihat orang-orang tersebut. "Serem banget muka-muka penjaganya."
"Mereka gak akan gigit juga," gumam Zahra.
Hingga di depan pintu, Leon mengetuk pintu rumah tersebut dan yang membuka pintu tersebut adalah Gumara.
Semua orang merasa terkejut kecuali Leon dan Dino yang memang tahu kalau Fira tinggal di sini bersama dengan Gumara. Tidak ada yang tahu kalau hubungan antara Gumara dengan Fira adalah saudara tiri.
"Ngapain lo ada di sini?" tanya Sasha dengan tajam. Dia terlihat tidak suka sekali dengan Gumara.
"Silakan masuk."
Gumara tidak menjawab dan malah mempersilakan masuk ke dalam. Semua orang akhirnya masuk ke dalam setelah Gumara mengatakan itu. Ada yang memang merasa takut dengan Gunara jadi langsung masuk begitu saja. Tetapi Leon sengaja jalan pelan dan melihat orang yang ada di depannya.
Kecuali Leon yang memang lengannya dicekal oleh Gumara sekarang. "Keliatannya lo gak terkejut sama sekali, apa lo tahu sesuatu tentang gue?" tanya Gumara dengan sinis kepada Leon.
Leon malah tersenyum sinis ketika mendengar ucapan dari Gumara.
"Apa itu penting?" Gumara mengepalkan tangannya dengan keras, dia masih bisa menahan emosinya sekarang. "Lo tahu hubungan gue dengan Fira bukan? Tapi lo gak akan bisa menang, karena Fira akan tetap jadi milik gue!" balas Gumara.
Leon tidak membalas perkataan dari Gumara barusan. Dia langsung masuk ke dalam ruangan yang memang dia tempati. Semuanya sudah berkumpul di kursi ruang tamu termasuk Fira yang sudah duduk.
__ADS_1
Leon ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Fira. Dia tahu kalau wanita itu di kurang oleh ayah tirinya. Beruntung sekali dia punya mata-mata di rumah ini, hanya saja dia masih yakin kalau Fira juga terlibat. Ini yang membuat Leon masih merasa benci dengan Fira saat ini.
"Gue khawatir tahu gak sama lo," ujar Sasha sambil memeluk Fira dengan erat.
Sedangkan Fira hanya membalasnya dengan sekilas saja. Dia nampak tidak bahagia sama sekali, seperti sedang menyimpan beban. Leon sendiri yang memperhatikan itu bisa melihatnya.
"Zahra emang lebay kadang-kadang orangnya, maklum dia masih jomblo sampe sekarang," ejak Zahra.
"Lo juga jomblo." Sasha mengatakan itu sambil kembali mengejek Zahra.
"Kalian malah pada ribut," ujar ketua kelas yang melerai semuanya.
"Oh yah, tadi di sekolah, Leon berhasil meminta izin kepada Bu Gita untuk menjenguk kamu," jelas salah satu teman sekelas mereka.
Fira yang mendengar itu pun kini menatap kearah Leon. Mata mereka saling ketemu satu sama lain. Fira tahu kalau Leon orang yang cerdas. Apa dia juga yang sudah mengetahui alamat rumahnya. Berbagai pertanyaan itu muncul di otak Fira sekarang.
"Gimana kabar lo? Udah baikan?" tanya Leon yang menyadari tatapan mata Fira.
Fira hanya tersenyum tipis lalu mengangguk, dia baik-baik saja saat ini. Tetapi seseorang yang dia sayangi saat ini sedang dalam keadaan yang tidak baik. Ibunya diikat oleh Gumara untuk dijadikan sandara agar dirinya tidak bisa mengatakan apapun kepada para teman-temannya.
"Gue baik-baik saja. Makasih Leon sudah mau jenguk gue," ujar Fira.
Sasha melihat kearah Fira sambil tersenyum, "Ciee jadi makasih nya sama Leon saja, kepada kami nggak?" tanya Sasha yang sengaja menggoda Fira. Apalagi setelah Leon berubah tidak cupu lagi, sepertinya memang Sasha sudah setuju.
"Iya nih, curang Fira. Masa ke kita nggak," balas ketua kelas itu kepada Fira.
Fira tersenyum tipis, "lya makasih karena kalian sudah mau datang ke sini. Eh btw kalian semuanya kok bisa tahu alamat rumah gue?" Tanya Fira yang memang penasaran. Ini akan menjawab semuanya termasuk dengan tuduhan Gumara yang mengatakan kalau dia memberitahu para temannya. Padahal dia sama sekali tidak memberitahu alamat rumah ini pada siapapun.
Zahra melirik kearah Dino karena pria itu yang memang dari awal memberitahu alamat ini pada para temannya. "Tanya tuh pada Dino. Dia yang memberitahu alamat lo."
Fira jadi melirik kearah Dino menunggu penjelasan dari Dino yang bisa tahu alamat rumah dirinya. "Lo tahu dari mana Dino?" tanya Fira.
"Itu gak penting, lagian yang jelas kan kita semuanya bisa datang ke sini," ujar Dino sambil tertawa. Dino tidak mengatakan kalau Leon yang sudah memberikan alamat rumah ini karena dia menyimpan mata-mata di rumah ini.
Sasha menoleh kearah Fira. "Oh yah, Gumara tadi kok membukakan pintu. Lo bilang gak suka dengan Gumara, kok dia ada di sini?"
Fira bingung harus menjelaskan apa kepada temannya, tidak mungkin kalau dia mengatakan ini pada semua temannya. Kemudian, matanya tidak sengaja melihat siluet Gumara dari jauh. Dia teringat dengan ibunya yang kini disekap oleh Gumara menggantikan dirinya yang keluar.
"Kok lo diam?" tanya Zahra.
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
Sekian dulu yaa
Sampai jumpa di part selanjutnya
__ADS_1