SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Fira Dikurung


__ADS_3

Gumara mendengus kesal karena pagi ini malah dia menerima pesan dari Deon kalau teman-teman sekelas Fira akan datang ke sini. Gunara kelas karena artinya mereka tahu tentang rumah ini.


Gumara melihat kearah Susan dengan sinis, wanita itu adalah istri dari papahnya dan ibunya dari Fira. Sampai saat ini, Gumara masih membenci wanita itu karena wanita itu sudah menghancurkan rumah tangga orangtuanya dan membuat dia jadi saudara tiri dengan Fira.


"Heh pelakor! Pasti lo yang sudah memberitahu alamat rumah ini kan?" tuduh Gumara kepada ibunya Fira.


Susan menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak tahu dengan hal ini. Dia juga tidak dekat dengan teman-teman anaknya. Bahkan untuk membebaskan anaknya yang dikurung ini malah membuat dia susah.


"Aku tidak tahu."


"Jangan bohong lo, kalau papah tahu. Maka lo yang akan kena, gue sih bersyukur kalau seorang pelakor seperti lo kena siksa boleh bokap gue. Biar lo sekalian cerai!" maki Gumara.


Susan diam tidak berani melawan, dia sama sekali tidak tahu dengan hal itu. Lalu Susan membawa roti untuk anaknya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan ini semuanya.


"Itu roti untuk siapa?" tanya Gumara dengan tajam.


"Ini untuk Fira," jawab Susan sedikit takut.


Gumara langsung merebutnya dengan begitu saja. Lalu mendorong Susan hingga wanita itu terjatuh. Dia menatap Susan dengan tajam dengan tatapan kebencian. Bahkan dia tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini.


"Biar gue aja yang akan memberi ini untuk Fira."


Gumara mengatakan itu, lalu dia pergi berjalan menuju ke dalam kamar Fira. Dia membuka pintu kamar Fira yang memang terkunci dari luar.


Gumara masuk ke dalam ruangan itu, lalu dia kembali mengunci kamar ini. "Ini sarapan buat lo," ujar Gumara kepada Fira.


"Gue bosan di sini terus," gumam Fira yang memang ingin bebas. Dia tidak mau di sini terus tetapi ke mana pun dia pergi pasti akan ditemukan. Apalagi banyak penjaga di luar rumah ini.


Gumara tertawa mendengar ucapan dari Fira barusan. Dia juga sudah menyita ponsel milik Fira agar wanita itu tidak bisa menghubungi orang lain.


Selama Gumara diskors, selama itu pula Fira di kurang. Lagian ini bukan keinginan dari Gumara sendiri tetapi keinginan ayahnya.


"Ini salah lo sendiri, lo sudah memberitahu tempat di mana Lena celaka dulu. Lo tahu, papah merasa marah."


Fira tersenyum sinis ketika mengetahui ayah tirinya marah. Dia jadi semakin yakin kalau ini memang ada hubungannya dengan beliau.


"Sudah gue duga dari awal. Kalau Pak Rudi terlihat di sini," ujar Fira dengan sinis.


"Lebih baik lo diam, papah juga yang menyuruh lo buat dibully. Semuanya karena lo bawa Leon ke tempat kejadian Lena. Lo sendiri tahu kalau tempat itu dilarang oleh papah, tapi lo nekat buat bawa dia ke sana," ujar Gumara.

__ADS_1


"Gue dari awal sudah curiga kalau bokap lo terlibat kan?" tanya Fira dengan pandangan sengitnya.


"Kalau iya kenapa? Sekarang lo gak bisa berbuat apa-apa kan? Gue juga gak bisa bebasin lo yang terkurung di sini karena gue takut bokap akan memberikan gue pelajaran atau tidak akan menutupi pembullyan yang selama ini gue lakukan ke anak-anak," ujar Gumara.


Fira menatap sinis kearah Gumara, lagian dia tidak membutuhkan pria. Dia bisa membawa ibunya pergi dari tempat ini nanti. Tetapi dia akan memikirkan cara sendiri nanti, dia akan membuat kesalahan dengan Pak Rudi agar Fira diusir dari tempat ini.


"Gue gak butuh bantuan lo!" ujar Fira.


Gumara tersenyum sinis, lalu menatap kearah Fira sekarang, dia mencekal dagu dengan begitu keras. "Lo gak butuh bantuan dari gue karena lo sudah mengajak teman-teman lo buat datang ke sini kan?"


Fira menaikan sebelah alisnya karena dia tidak paham dengan ucapan yang dikatakan oleh Gumara barusan. Bahkan teman-temannya tidak tahu tentang dirinya yang tinggal satu atap dengan Gumara.


"Maksud lo apa?" tanya Fira yang kini penasaran.


"Gak usah bohong lo! Asal lo tahu yah, teman-teman lo bakal datang ke sini buat jenguk lo!" ujar Gumara dengan sinis.


Fira terkejut mendengar hal tersebut, bahkan teman-temannya sama sekali tidak tahu tentang rumahnya. Dia juga selama ini selalu bertemu dengan kedua sahabatnya itu di kafe edelweis.


"Gak mungkin mereka bisa datang ke sini, lo jangan becanda Gumara! Teman-teman gue tidak ada satupun yang tahu tentang alamat rumah ini," ujar Fira.


Mendengar hal tersebut dari mulut Fira membuat Gumara mengepalkan tangannya, artinya memang salah satu temannya Fira ada yang tahu tentang alamat ini.


"Nggak, gue sama sekali tidak berbohong!"


Fira menggelengkan kepalanya, bahkan dia sengaja tidak memberitahu alamat rumah ini karena memang dia merasa malu. Jika semua orang tahu, maka ibunya bisa saja dihina oleh orang lain.


Fira masih menyembunyikan status dirinya sebagai saudara tiri dari Gumara. Apalagi dia tahu kalau hal ini adalah aib.


"Tapi lo terlambat, nanti siang teman-teman lo bakal datang ke sini."


Gumara hendak akan pergi dari sini, tetapi tangannya dicekal oleh Fira. Sebenernya Fira masih penasaran dengan semua ini.


"Bagaimana mereka bisa akan ke sini?" tanya Fira.


"Mana gue tahu! Lebih baik lo persiapkan diri lo. Ada kemungkinan papah juga akan marah sama lo nanti," ujar Gumara yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat ini.


Fira hanya bisa terdiam mendengar penuturan dari Gumara barusan. Dia benar-benar tidak tahu harus berbicara apalagi sekarang ini. Bagaimana temannya bisa tahu tentang rumah ini.


***

__ADS_1


Sementara di sekolah.


Dino sudah memberitahu teman sekelas untuk datang menjenguk Fira sekarang di rumahnya. Walaupun begitu, salah satu wali kelasnya melarang keras untuk datang ke rumah Fira.


Semua murid yang ada di sini malah menatap wali kelas yang melarang keras untuk menjenguk Fira.


"Ibu tidak mau kalian semuanya menjenguk Fira!" cegah wali kelas yang bernama Bu Gita.


"Kenapa Bu Gita melarang kita? Seharusnya ibu yang notabenenya sebagai wali kelas khawatir dengan muridnya sendiri dong, Fira sudah lima hari tidak sekolah. Dia jadi bahan bullyan loh," ujar Dino.


"Iya benar Bu," bela ketua kelas mereka.


"Bukan begitu, nanti ibu sendiri yang akan datang ke rumah dia, kalian tidak usah datang yah," ujar Bu Gita membuat semua murid menatap dirinya dengan curiga.


"Bu Gita kaya menyembunyikan sesuatu gak sih?" bisik salah satu murid tukang gosip.


"Iya, mencurigakan sekali. Kaya gak pingin benget kita menjenguk Fira. Jadi ingat gue sama Lena dulu, dia juga melarang kita buat jenguk dia," bisik salah satu murid tukang gosip itu.


Leon diam-diam mendengar bisikan dari dua orang tukang gosip itu. Dia jadi teringat dengan Lena yang tidak dijenguk oleh para temannya. Hanya ada Darda dan Dino yang berusaha untuk menjenguk adiknya dulu. Rupanya ternyata memang wali kelas ini mencegah muridnya untuk menjenguk.


Pasti wali kelas ini, ada hubungannya dengan kepsek. Leon yakin dengan hal ini dan dia harus menceritahunya nanti. Beruntung dia sudah menghubungi Darda untuk mengawasi kepala sekolah. Berhubung Darda adalah ketua OSIS dan akan banyak berkomunikasi dengan kepala sekolah nanti.


"Bu Gita, kita tetap akan menjenguk Fira, saya rindu dengan dia," ujar Leon sengaja mengatakan itu. Entah dia sengaja atau benar mengatakan itu semuanya.


Yang jelas ucapan dari Leon barusan membuat semua orang berbisik-bisik. Bagaimana pun, Leon pernah ada hubungan dengan Fira. Bahkan jadi bahan gibah semua orang yang ada di sini.


Dino menepuk pundak Leon karena berani berkata seperti itu. "Lo gila yah, bilang begitu!"


"Biar dapat izin," balas Leon sambil tersenyum dengan penuh arti.


Dino melihat kearah Bu Gita yang ada di sini dengan senyuman penuh arti. Dia bahkan tidak tahan dengan semuanya. "Bagaimana Bu Gita?"


"Iya, bagaimana nih Bu Gita?" tanya dia pada orang lain.


Leon mendekati Bu Gita dengan pelan, dia membisikan sesuatu pada telinga Bu Gita. "Bu Gita tidak lupa dengan saya bukan?"


Gita jadi merinding sendiri mendengar hal tersebut, tentu saja dia ingat dengan Leon yang waktu itu ada dalam perlindungan Pak Hamdan. Menantu dari pemilik sekolah ini, dia tidak mungkin bisa melawan. Tetapi bagaimana dengan Pak kepala sekolah yang pasti akan marah besar dengan dirinya.


"Jadi bagaimana Bu Gita?'

__ADS_1


Gita terpaksa hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan semua orang yang ada di sini malah merasa bahagia.


__ADS_2