
Paket itu di letakan di meja ruangan tempat kepala sekolah berada. Orang yang membawa itu adalah seorang penjaga sekolah. Dia sendiri menduga kalau paket itu adalah pemberian dari Bu Ketua.
"Ini ada paket, tetapi tidak tahu pengirimnya Pak, mungkin saja ini dari Ibu Ketua," jawab satpam tersebut memberikan sebuah paket kepada Rudi.
Sedangkan Rudi malah menaikan sebelah alisnya. Tidak biasanya Ibu Ketua mengirimkan dia paket. Apa itu adalah hadiah untuk dirinya. Tetapi jarang sekali kalau Ibu Ketua memberikan dirinya seperti ini.
"Paket apa?" tanya Rudi yang memang penasaran dengan paket tersebut.
"Saya tidak tahu, yang jelas orang tersebut menghubungi saya lewat nomor yang selalu saya pake untuk meneror Darda."
Rudi langsung melotot ketika mendengar hal tersebut, lalu menatap satpam tersebut dengan tajam. Dia jadi mencurigai sesuatu, apalagi Darda bukan orang yang bodoh. Dia juga sama liciknya.
"Tidak mungkin ketua memberikan ini untuk kita!"
"Lalu siapa yang sudah mengirimkan ini? Apa Darda!?" tanya penjaga sekolah itu. Dia sedikit merasa khawatir jika memang ini adalah ulah Darda, maka identitasnya bisa saja ketahuan nanti.
"Hadi bodoh, buka cepat paketnya!" maki Rudi menatap tajam kearah Hadi. Dia sudah tidak sabar dengan isi dari paket tersebut.
Akhirnya satpam sekolah itu membuka paket tersebut. Dia menaikan sebelah alisnya karena yang orang tersebut kirim hanya benda aneh dan pulpen seperti ini. Sama sekali tidak ada fungsinya, artinya memang benar ini semuanya hanya jebakan saja.
"Benda apa ini?" tanya Hadi yang heran sendiri.
"Tidak berguna, buang saja!" maki Rudi yang memikirkan siapa orang yang sudah mengirimkan pekat ini kepada dirinya. Sekarang dia yakin kalau orang tersebut adalah Darda, dia harus berhati-hati sekarang.
"Kamu bodoh Hadi, pasti orang itu adalah Darda, dia sengaja ingin mengetahui kita, dengan mengirimkan paket ini," maki Rudi memukul Hadi dengan keras, sebuah pukulan yang membuat Hadi kini tersungkur ke lantai.
"Ampun bos, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Hadi yang memegangi perutnya dan berusaha untuk kembali bangkit.
"Kirim pesan lagi ke nomor Darda sekarang, berikan dia ancaman," ujar Rudi.
Hadi mengangguk dan dia mengirimkan pesan untuk Darda, sebuah ancaman yang jelas karena paket itu dia yakin berasal dari Darda.
Setelah Hadi mengirimkan pesan untuk Darda, lalu dia teringat dengan orang yang kemarin datang ke tempat kejadian. Hadi mengetahuinya karena dia disuruh oleh Rudi untuk mengikuti orang tersebut.
"Tentang anak tiri bos dan murid yang dulu cupu bernama Leon itu, apa kita juga harus memberikan mereka pelajaran?" tanya Hadi.
Rudi terdiam sejenak, lalu dia melihat kearah Hadi. Anak tiriku sudah diberikan pelajaran kemarin, aku sudah mengurungnya. Dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana. Karena dia sudah mengetahui rahasiaku," jelas Rudi.
Hadi hanya tertawa dengan hal tersebut, lalu bagaimana dengan siswa yang bernama Leon itu. Siswa itu juga begitu berbahaya untuk dirinya, apalagi dia melihat sendiri Leon datang ke tempat kejadian tersebut. Padahal Hadi dulu sudah membuat rumor kepada semua siswa kalau tempat itu angker.
__ADS_1
"Lalu siswa yang cupu itu, sepertinya dia juga tidak akan diam. Apalagi setelah dia tidak menyamar menjadi cupu lagi. Kita harus berhati-hati, Pak Bos."
"Aku memang tidak bisa menyentuh bocah ingusan itu, tetapi aku yakin akan satu hal, Bu Ketua bisa melakukan itu," gumam Rudi.
Hadi menatap kearah Rudi, dia tahu kalau Rudi sedikit takut karena dibelakang anak itu ada ayahnya Darda. Harusnya Rudi juga takut kepada Darda karena dibelakangnya itu ada ayah'nya. Tetapi berhubung selama ini Darda adalah anak yang disembunyikan keberadaannya. Itu membuat Rudi semakin berani untuk menjatuhkan anak tersebut.
"Bos takut karena dibelakang anak yang bernama Leon itu ada Pak Hamdan?"
"Aku tidak takut, lagian dibelakang aku juga ada Bu Ketua." Rudi mengatakan itu sambil tertawa. Seseorang yang jabatannya lebih tinggi dari dirinya, yaitu pemilik Yayasan ini. Rudi bahkan ingin menjodohkan anaknya dengan anak Bu Ketua itu. Alasan dia menikahi ibunya Fira bukan karena cinta, karena dia ingin menghalangi anaknya Gumara yang cinta dengan Fira. Karena Rudi sudah punya rencana menjodohkan anaknya dengan anak Bu Ketua.
Hadi ikut tertawa juga karena memang benar, dibelakang Rudi ada Bu Ketua yang melindungi dirinya dan mempertahankan dia di sini.
"Bos benar, ahahah."
"Kamu boleh keluar sekarang, terus mantau yang dilakukan oleh Darda sekarang, jangan sampai kehilangan jejak anak itu! Laporkan semua kegiatan dia," ujar Rudi.
"Baik Bos, kalau begitu saya permisi dulu."
Hadi akhirnya keluar dari ruangan kepala sekolah. Tidak ada yang curiga kepada dirinya sebagai mata-mata di sekolah ini karena dia yang dijadikan satpam sekolah.
Jam pulang sekolah.
"Darda belum datang?" tanya Dino ketika tidak melihat Darda di rumah sakit mutiara ini. Biasanya dia yang paling semangat datang ke sini karena Lena.
"Sepertinya begitu," gumam Leon.
"Gue masih dendam dengan dia, gara-gara dia dulu. Gue sampe putus dengan Sasha Sabila," gumam Amar yang memang masih menyimpan kebencian dengan Darda.
Dino malah menaikan sebelah alisnya heran, dia seperti tidak asing dengan nama tersebut. Jangan bilang kalau Amar ini beneran mantan Sasha yang satu kelas dengan dirinya.
"Jangan bilang cewe yang lo maksud adalah teman sekelas kita," ujar Dino.
Dino memperlihatkan foto tentang Sasha kepada Amar. Dan reaksi Amar hanya mengangguk membenarkan kalau dia adalah orangnya.
"Iya dia orangnya."
"Gila jadi benar? Lo mantannya Sasha? Eh tapi benar deh kata Darda, lo pasti salah paham saja. Gue tahu Darda cinta matinya sama Lena," jelas Dino yang memang tahu kalau Darda hanya mencintai Lena saja. Walaupun awalnya Darda mencintai Fira, tetapi setelahnya dia mencintai Lena karena melihat ketulusan wanita itu. Berbeda dengan Fira yang dulu sering mencampakkan Darda.
Sedangkan Leon sendiri yang mendengar hal tersebut malah memutar bola matanya jengah. "Berisik kalian, malah membahas tentang mantan, ingat kita ke sini bukan untuk membahas tentang hal itu sekarang." Peringat dari Leon kedua orang tersebut.
__ADS_1
Amar dan Dino lalu terdiam setelah mendengar peringatan dari Leon barusan. Hingga tak lama kemudian, Darda datang ke sini dengan keadaan yang bisa dikatakan sangat buruk. Bajunya kotor dan tercium bau amis dari darah.
"Muka lo kenapa? Abis berkelahi?" tanya Leon kepada Darda yang melihat muka bonyok Darda.
"Ada yang nyerang gue, gak tahu orangnya siapa, dia menghalangi jalan gue tadi, makanya datang lama ke sini," ujar Darda yang memilih untuk duduk. Dia lelah karena sudah menghabiskan tenaga untuk orang yang menyerangnya tadi.
"Siapa yang berani nyerang lo?" tanya Leon merasa penasaran. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan orang yang misterius itu.
"Mana gue tahu," balas Darda yang tidak tahu sama sekali dengan orang itu. Apalagi setelah mereka kalah langsung kabur begitu saja.
"Apa orang misterius itu?" tanya Dino mengingat hanya orang tersebut yang sepertinya tidak suka dengan Darda.
Amar menatap kearah mereka bertiga. "Orang misterius itu satpam sekolah, gue yang nganterin paket itu ke depan gerbang dan dia yang mengambilnya," jelas Amar.
"Satpam sekolah?" tanya Darda heran.
"Lo udah ngecek lokasinya belum?" tanya Leon yang memang memasang GPS di dalam paket tersebut.
"Belum gue cek, sebentar gue buka laptop dulu." Amar akhirnya membuka laptop tersebut untuk melacak tempatnya.
Sedangkan Dino memanggil seorang suster untuk membantu mengobati luka Darda sekarang.
"Suster cantik, boleh minta bantuannya gak. Itu teman saya kebetulan terluka." Dino mengatakan itu dan suster tersebut melihat kearah anak SMA.
"Baik, akan saya obati."
Darda memutar bola matanya jengah ketika melihat itu. "Gak usah, nanti juga sembuh sendiri!" balas
"Ketemu, ini GPS nya berada di ruangan kepala sekolah," ujar Amar memberitahu ketika temannya.
"Jadi orang misterius itu Pak Rudi?" gumam Dino.
"Gue udah menduganya kalau dia adalah pelakunya gumam Leon berpikir sejenak. Siapa lagi kalau bukan dia di sekolah ini yang ingin menghalangi Darda mengungkapkan kasus ini.
Berbeda dengan Darda sekarang, jelas orang itu tahu kalau waktu itu dia mengintip di ruangan kepala sekolah.
"Gak mungkin kalau Pak Rudi, soalnya dia tahu kalau aku sedang mengintip Pak Rudi dan Gumara di sekolah," terang Darda.
"Tunggu dulu deh, tadi yang mengambil paket itu adalah satpam sekolah, apa mungkin satpam sekolah itu suruhan Pak Rudi?" ujar Amar.
__ADS_1