
Lena kembali ke sekolah bersama dengan Fira yang kini juga sudah kembali datang ke sekolah. Mereka berdua naik mobil milik Lena. Tentu saja diantara oleh supir pribadi keluarganya.
"Akhirnya gue kembali ke sekolah." Lena bernapas lega ketika sudah sampai di sekolah Harapan Bangsa ini, sudah lama sekali semenjak kejadian yang menimpa dirinya dulu membuat dia tidak bisa sekolah. Bahkan dia sudah ketinggalan pelajaran sekarang ini.
"Gue juga, akhirnya bisa kembali ke sekolah, kalau pun gue merasa khawatir," gumam Fira yang sebenarnya masih khawatir kalau dia berangkat ke sekolah. Apalagi takut nanti malah akan ketemu dengan Gumara. Ini yang membuat dia semakin khawatir.
"Ayo kita ke kelas," ajak Lena yang kini berjalan.
Banyak pandang mata yang melihat kearah dua orang tersebut. Terutama Lena yang selama ini diketahui masuk rumah sakit dan koma akibat kejadian yang menimpa dirinya. Apalagi dia yang datang bersama dengan Fira.
"Itu beneran Lena kan?" ujar siswa yang menjadi heboh. Banyak orang yang memang tertarik dengan Lena selama ini. Walaupun wanita itu memang terkesan pendiam selama ini.
"Iya dia datang sama Fira."
"Wah gila sih ini."
"Lena artinya sudah sembuh, lalu tempat yang angker itu bagaimana?" tanya siswa lainnya.
"Tempatnya gak terlalu angker, buktinya Lena gak sampai mati kan?" ucap seseorang lagi.
Semua siswa murid hadapan bangsa heboh melihat kedatangan dari Lena dan Fira yang sudah lama sekali tidak masuk ke sekolah. Bahkan dia tidak percaya dengan yang dia lihat sekarang ini.
"Gila gue gak nyangka."
Raka yang melihat itu pun melirik kearah Deon." Gumara harus tahu kalau sekarang Fira sudah masuk ke sekolah!"
"Lo benar, kita harus ke kelas sekarang."
Raka dan Deon pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kalas untuk memberikan kabar yang menurutnya sangat membahagiakan ini.
Fira masuk ke dalam kelasnya bersama dengan Lena. Dia melihat kearah Sasha dan juga Zahra yang memang sudah duduk sebangku. Fira sudah tahu kalau Zahra adalah orang yang selama ini mencelakai Lena. Tetapi dia sudah punya rencana dengan Leon untuk menjebak Zahra nanti.
"Astaga, Lena sudah sadar," gumam Sasha yang terkejut ketika melihat Lena. Apalagi selama ini wanita itu tidak ada kabarnya sama sekali selama ini. Bahkan ada yang bilang kalau Lena sudah mati.
Begitu pun dengan Zahra yang kini melihat kearah Lena dengan pandangan sinisnya. Apalagi sekarang dia bersama dengan Fira. Zahra menjadi tidak suka Fira lagi. Wanita itu kini sudah bergabung dengan kubu Lena.
"Bukannya lo juga gak suka sama Lena yah," ujar Zahra pada Sasha.
Sasha hanya tersenyum tipis saja, lalu dia melihat kearah Fira. Dia tidak menyangka kalau Fira sudah berani berangkat ke sekolah. Dia langsung mengalihkan pandangannya kearah Fira.
"Fira, gue gak nyangka kalau lo udah kembali ke sekolah, padahal gue pengen ke rumah Amar buat jenguk lo di sana," jelas Sasha yang memang tahu kalau Fira tinggal di sana.
Sedangkan Fira hanya tersenyum tipis, Sasha belum tahu kalau sekarang dia sudah tinggal bersama dengan Lena bukan di rumah Amar lagi.
"Gue tinggal di rumah Lena sekarang, gak tinggal di rumah Amar," jawab Fira.
__ADS_1
Diam-diam Zahra yang mendengar itu pun terkejut. Bagaimana bisa sekarang Fira tinggal di rumah Lena? Zahra terdiam sejenak, Gumara harus tahu tentang hal ini. Apalagi tempat Fira sekarang.
"Oh begitu," gumam Sasha. Padahal kalau Fira di rumah Amar, Sasha bisa dengan mudah untuk bertemu dengan Amar karena ada alasan yaitu Fira.
Zahra berdiri sambil melirik kearah Fira. "Lo kaya orang yang gak keurus saja. Padahal nyokap lo sekarang udah jadi orang kaya kan?"
Fira menatap kearah Zahra yang mengatakan itu padanya. Kali ini dia bisa melihat sendiri sifat asli dari Zahra yang menatapnya sinis. Dia sudah mengeluarkan taringnya rupanya.
"Lo juga tahu tentang nyokap gue karena lo dekat dengan mereka kan? Gue dengar kalau lo sering keluar masuk rumah itu," ucap Fira yang tidak mau kalah.
Zahra menatap kearah Fira yang bisa tahu semuanya. "Lo, tahu dari mana?"
Zahra tahu kalau rumah Gumara memang ketat penjaga. Sedangkan Fira tidak ada di rumah, artinya ada orang yang memberitahu dirinya kalau dia sedang keluar masuk rumah itu. Apa ada orang yang memang sengaja datang kerumah dirinya.
Fira tersenyum sinis. "Gue gak harus cerita kan, sama lo!"
Sasha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sama sekali tidak paham dengan pembahasan kedua temannya itu.
"Kalian bahas apa sih?"
Fira hanya tersenyum sambil menepuk pundak Sasha pelan. "Sebaiknya lo hati-hati." Fira hanya memberikan peringatan kepada Sasha karena dia merasa sangat khawatir.
Zahra menatap kearah Fira dan juga Lena yang kini terlihat dekat. "Sialan!"
Fira dan Lena jalan ke belakang dan memutuskan untuk mencari bangku yang cocok untuk dirinya. Pada saat yang bersamaan Dino datang bersama dengan Leon juga datang.
"Nggak, gue yang duduk sama Dino. Lo mau nanti Darda malah ngamuk!" balas Leon yang memang suka ngajak ribut dengan adiknya.
"Darda gak akan cemburu, gue tahu kok kalau Dino hanya teman gue!" balas Lena tidak mau kalah. Padahal niat Lena sudah baik ingin mendekatkan Fira dengan Leon. Tetapi sepertinya Leon tidak terlalu peka dengan keadaan ini.
Dino melihat kedua orang ini malah berantem. Dia menghela napasnya, akan lebih baik dia yakin mengalah saja. "yaudah kalau begitu, gue duduk sama Fira aja," sambung Dino.
"Nggak!" jawab Leon dan Lena berbarengan.
Dino terdiam ketika mendengar ucapan dari Lena dan Leon. Sedangkan Fira hanya melihat orang yang melihatnya sekilas.
"Terus gimana?" tanya Fira yang hanya pasrah saja akan duduk dengan siapapun juga.
"Yaudah lebih aman lo sama Lena, gue sama Dino," ujar Leon memberikan saran. Keputusan ini sepertinya memang sudah bulat. Daripada dia dan Lena malah rebutan bangku saja.
"Yaudah kalau begitu," akhirnya Dino memutuskan untuk duduk di tempat biasanya. Hanya karena bangku saja mereka sampai berantem seperti ini. Tidak tahu kah mereka ada hal yang lebih penting dari ini semuanya. Yaitu mengungkapkan kejahatan Zahra.
Lena juga akhirnya menurut saja dan dia duduk disebelah Fira sekarang. Sedangkan Dino duduk bersama dengan Leon. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk bersama.
Diam-diam Zahra memperhatikan kearah belakang, dia mengepalkan tangannya karena tidak suka melihat mereka berempat yang kini sudah bersatu. Belum lagi sekarang Darda juga sudah ada di tangan mereka.
__ADS_1
Sedangkan di kelas lain.
Raka dan Deon memberitahu tentang Fira yang kini sudah masuk ke sekolah kepada Gumara. Bahkan semua siswa dan siswi juga heboh dengan kehadiran Lena yang sudah secara dari koma.
"Lena sudah kembali sekolah bersama dengan Fira, semua orang heboh karena kehadiran mereka," jelas Raka memberitahu Gumara ketika mereka sedang ada di kelas.
"Lo berdua gak bohong?" tanya Gumara menatap kearah orang tersebut. Lena sudah sadar dari koma, ini membuat dia semakin khawatir. Bukan tidak mungkin nanti Lena pasti akan mengungkapkan semua kejadian itu. Secara otomatis ayahnya pasti akan terlibat.
"lya gue serius. Bahkan tadi dia bersama dengan Lena juga," ujar Raka.
Gumara yang mendengar itu pun langsung terdiam. Ada rasa khawatir dalam dirinya sekarang ini. Kalau tentang Fira, dia bisa mengendalikannya karena ibunya Fira masih ada di rumah dirinya.
"Hei, Gumara. Kenapa lo melamun?" tanya Deon menepuk pundak Gumara yang melamun.
"Lo pasti sedang merencanakan sesuatu kan?" tebak Raka yang tahu sifat dari Gumara. Apalagi ini membahas tentang Fira, Gumara selalu punya ide untuk wanita itu.
"Nanti istirahat, kita ke sana," gumam Gumara kepada kedua temannya.
Darda diam-diam mendengarkan perkataan Gumara dan teman-temannya. Dia merasa lega karena Lena sekarang sudah akan masuk sekolah.
Dia dengan Leon sudah berjanji akan menjebak Zahra agar wanita itu mau mengungkapkan semua kejahatannya.
Darda mengirimkan pesan kepada Leon untuk memulai rencana dirinya. Apalagi dia yang akan lebih mudah untuk bertemu dengan Zahra nanti ketika rapat OSIS. Setelah dia mengirimkan pesan, dia tersenyum penuh arti. Darda yang notabennya sekelas dengan Gumara saat ini, bertugas untuk mengawasinya.
Gumara melihat kearah Darda sambil tersenyum sinis. Selama ini memang Gumara tidak pernah berani melawan Darda.
"Pacar lo udah sadar dari koma tuh," ujar Gumara sengaja memancing Darda.
Darda tersenyum dengan penuh arti. "Iya jelas dia sudah sadar. Dia pasti akan menangkap pelakunya."
Darda mengatakan itu dengan berani, apalagi dia sudah tahu pelakunya semua orang yang ada di dekat Gumara.
"Silakan saja kalau bisa!" balas Gumara dengan penuh percaya diri.
"Tentu saja gue bisa menemukan pelakunya. Semua orang yang terlibat juga gue tahu," jawab Darda dengan penuh kemenangan.
Berbeda dengan raut wajah Gumara yang kini mengepalkan tangannya. Pria itu seperti marah dengan dirinya, bahkan dia seperti tidak tahan.
"Sialan!" maki Gumara yang kini mengambil ponselnya. Dia mengirimkan pesan kepada seseorang.
(Sebaiknya lo hati-hati. Karena mereka sudah tahu siapa pelakunya).
Gumara mengirimkan pesan itu kepada seseorang. Dia hanya bisa memberikan peringatan saja. Apalagi Darda sepertinya sudah tahu karena sekarang Lena sudah sadar.
Next >>
__ADS_1
(72) Tiba-tiba Dicium