SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Mengintrogasi Satpam


__ADS_3

Siang hari setelah pulang sekolah, Darda sudah berada di tempat yang gelap dan tidak ada penerangan sama sekali. Kali ini dia tersenyum sinis sambil menjambak orang yang selama ini meneror dirinya dengan pesan ancaman untuk dirinya.


"Ampun!"


Satpam itu ketakutan ketika melihat Darda yang kini terlihat begitu sangat bruntal. Dia tidak menyangka orang yang selama ini dia kira begitu sangat kalem dan aktif di organisasi sekolah akan seperti ini.


"Gue tahu kalau lo adalah orang yang disuruh oleh kepala sekolah kan?" maki Darda dengan sinis.


"Bu..kan."


Darda tersenyum sinis ketika orang tersebut tidak mau mengaku sama sekali. Padahal dia sudah punya bukti yang nyata kalau satpam itu suruhan Pak Rudi. Selama ini dia selalu ketakutan dan tidak bebas mengungkapkan kasus yang terjadi dengan Lena hanya karena bedebah ini.


"Lo mau bohongin gue, semua bukti sekarang ada di tangan gue, termasuk bukti rekaman lo dengan si bangsat itu!" hardik Darda yang kini penuh dengan emosi.


Dia sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui pelaku yang sebenarnya. Orang yang pasti punya kekuatan besar seperti ayahnya. Tetapi sampai sekarang Darda belum tahu orang tersebut. Tetapi dia yakin kalau ini ada hubungannya dengan keluarganya sebagai pemilik perusahaan ini.


"Lo dengar baik-baik rekaman ini," ujar Darda yang kini memutar rekaman yang ada di sebuah alat canggih seperti pulpen.


Orang tersebut hanya menundukkan kepalanya setelah Darda memutar percakapan antara satpam tersebut dengan kepala sekolah. Dia sudah tertangkap dan tidak bisa mengelak lagi untuk sekarang.


Darda tersenyum sinis kepada orang tersebut, Sekarang lo gak mau ngaku hah!" maki Darda yang hendak akan memukul orang tersebut.


Tetapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Leon, Dino dan Amar ke ruangan gelap ini. Mereka baru saja datang ke ruangan yang ditujukan oleh Darda untuk menyekap satpam sekolah yang sudah bersekongkol dengan Pak Rudi.


Dino terkejut ketika melihat Darda yang bisa menyekap satpam seperti ini. Apalagi di tempat yang sedikit gelap. Darda sudah seperti psikopat sekarang, bendanya dia tidak memakai senjata tajam.


"Tahan emosi lo Darda, kita masih membutuhkan dia," ujar Dino.


Leon sedikit tersenyum melihat sisi lain dari Darda yang baru dia ketahui. Pria itu ternyata mempunyai sifat yang sedikit bengis seperti dirinya juga.


"Sudah Darda, kita sekarang sudah punya bukti. Bukannya bagus kita tinggal lapor saja ke polisi," balas Leon membuat satpam bernama Hadi itu merasa ketakutan. Apalagi sampai berurusan dengan pihak berwajib.


"Ampun, jangan laporkan saya ke pihak berwajib. Saya ngaku salah telah meneror Darda. Saya hanya diperintahkan oleh Pak Rudi," jelas Hadi yang mengakui kesalahannya.


Keempat pemuda itu tertawa dengan penuh kemenangan ketika mendengar Hadi yang kini mengaku kalau ternyata dia hanya perintah oleh kelapa sekolah.


"Akhirnya lo ngaku juga," ujar Darda menjambak rambut pria tersebut kebelakang.


"Punya sisi sadis juga yah si Darda," bisik Amar pada telinga Dino.


"Makanya selesaikan masalah lo dengan Darda tentang Sasha," jelas Dino sedikit menakuti Amar.


"Iya, gue paham," dengus Amar mengingat dia memang salah mengira Darda yang merusak hubungan dirinya dengan Amar.

__ADS_1


Leon teringat sesuatu, tentang ibu ketua yang mereka maksud. Mereka sama sekali tidak tahu sampai sekarang. Dia yakin kalau satpam itu bisa saja tahu siapa sebenernya orang yang dimaksud ibu ketua tersebut.


"Lalu siapa ibu ketua yang dimaksud oleh Pak Rudi ?" tanya Leon yang penasaran.


"Apa dia salah satu dari anggota keluarga gue?" tanya Darda dengan tajam. Sebentar lagi dia akan mengetahui tentang kebenarannya.


Satpam itu terdiam tidak mengatakan apapun juga, membuat Darda kini mengepalkan tangannya, dia akan mukul keras orang tersebut tetapi tangannya ditangan oleh Leon.


"Tahan emosi bro, sepertinya kita harus bermain-main dulu," gumam Leon dengan senyuman penuh arti. Lalu dia mengkode Amar untuk membawa seseorang ke sini.


Amar membawa istri dari Pak Hadi ke sini, wanita yang tidak bersalah itu pun ketakutan ketika ditarik tangannya dan melihat suaminya yang kini dalam keadaan terikat.


"Jangan sakiti istri saya," mohon Pak Hadi.


"Makanya katakan yang sebenarnya, jika tidak mau istri bapak kami sakiti!" ancam Dino.


Sedangkan istri Pak Hadi merasa ketakutan dengan empat orang yang seperti berandal ini, dia bahkan tidak tahu apapun yang terjadi dengan suaminya sekarang.


"Katakan!" maki Darda dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Ibu ketua yang kami maksud adalah anak dari pemilik sekolah ini," jawab Pak Hadi.


Semuanya saling lirik satu sama lain. Terutama dengan Darda, anak pemilik itu artinya adalah ibunya. Darda menggelengkan kepalanya karena tidak mungkin ibunya melakukan hal ini.


"Nyokap gue?" tanya Darda sambil menendang kursi. Siapa lagi kalau bukan ibunya karena dia satu-satunya anak pemilik sekolah ini.


Saudara? Bahkan dia sama sekali tidak tahu kalau selama ini ibunya punya saudara. Yang dia tahu ibunya adalah anak tunggal. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Pikir Darda yang merasa bingung.


"Di mana dia sekarang?" tanya Leon yang penasaran dengan wanita itu. Dia harus menemui wanita itu karena dia pasti berhubungan dengan pelaku yang sudah membuat Lena celaka.


"Saya tidak tahu." Hadi menggelengkan kepalanya karena dia belum pernah ketemu dengan orang tersebut. Selama ini yang dia temui hanya Pak Rudi dan dia selalu menyebut atasannya dengan nama ibu ketua. Tidak pernah menyebut nama aslinya.


"Jangan berbohong!" maki Leon.


"Katakan di mana dia sekarang?" tanya Darda yang penasaran. Dia yakin kalau memang itu adalah saudara ibunya, maka wanita itu pasti menginginkan dia celaka.


Darda teringat dengan keluarganya yang menyuruh dia untuk menyembunyikan identitasnya. Apa karena ini sebabnya. Dia juga jadi bahan incaran wanita itu.


"Saya tidak tahu," jawab satpam itu, kali ini dia mengatakan dengan jujur.


"Kau berani bermain-main dengan gue hah!" maki Darda yang kini sudah mencekal kerah baju Hadi dengan kencang.


"Sungguh saya benar-benar tidak tahu. Bahkan namanya saja saya tidak tahu. Pak Rudi selaku memanggil dia dengan sebutan ibu ketua," gumam Hadi menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Sepertinya memang dia tidak tahu," gumam Amar yang bisa melihat dari sorot matanya kalau kali ini dia berkata jujur.


"Kalau dia tidak tahu, artinya Pak Rudi tahu di mana wanita itu," gumam Dino yang memang pintar.


"Lo benar Din, kita harus melakukan rencana untuk membuat Pak Rudi mengatakan yang sebenarnya," ujar Amar.


Leon terdiam ketika mengingat kartu as milik Pak Rudi ada ditangan dirinya. Dia bisa mengancam itu untuk Pak Rudi mengatakan semuanya.


"Urus dia kembali Darda, kita pergi dulu."


Leon mengatakan itu, lalu dia meninggalkan Darda yang dibantu oleh Dino untuk membereskan satpam dan istrinya.


Sedang kan Amar dan Leon memutuskan untuk pergi duluan. Bukan tanpa alasan mereka pergi duluan untuk saat ini. Apalagi di rumah Amar sedang ada Fira dan ibunya.


"Fira dan ibunya jangan dulu keluar jangan sampai ketemu dengan Pak Rudi dan Gumara, ini uang buat beli kebutuhan mereka," ujar Leon memberikan uang kepada Amar.


Sedangkan Amar hanya mengangguk paham," Thanks yah. Kalau begitu gue pulang dulu buat bertemu dengan mereka."


"Jaga mereka baik-baik," saran Leon.


"Lo gak akan ke rumah?" tanya Amar yang heran kepada Leon. Bagaimana kalau nanti Fira akan curiga dengan dirinya. Ini yang akan membuat Amar susah menjelaskannya.


"Gue gak akan pulang ke rumah lo dulu, gue akan pulang ke rumah papah, sudah seminggu kita gak ketemu," ujar Leon. Yang dimaksud papah di sini oleh Leon adalah Rehan, ayah angkat Leon.


"Terus kalau Fira nanyain lo nanti, gue harus jawab apa?" tanya Amar yang pasti Fira akan menanyakan Leon nanti.


"Katakan saja gue ada urusan, atau menginap di rumah Dino," jelas Leon.


"Baiklah, gue paham. Nanti gue akan mengatakan itu pada Fira."


"Kalau begitu, gue pergi dulu," ujar Leon yang kini naik motor ninja warna putih.


"Hati-hati di jalan."


Amar mengatakan itu, lalu dia naik ke dalam motornya. Sedangkan Leon ingin pergi menemui Papah Rehan. Dia sudah tidak bertemu lagi dengan papahnya. Sekaligus menanyakannya tentang pemilik sekolah ini yang sebenarnya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memang mengintip di sini. Dia hanya tersenyum dengan sekilas saja melihat kejadian itu dari jauh.


"Sudah gue duga kalau sekarang Fira sedang ada di sana. Gue harus mengabari Gumara sekarang."


Orang tersebut tersenyum dengan penuh arti, dia mengirimkan pesan kepada Gumara kalau saat ini Fira sedang ada di rumah Amar.


Jangan lupa follow, komen dan share  teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..

__ADS_1


Sekian dulu yaa


Sampai jumpa di part selanjutnya


__ADS_2