SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Fakta Leon Saudara Lena


__ADS_3

Lena menjelaskan semua alasan dirinya belum memberitahu kedua orangtuanya kalau sudah sadar. Termasuk kepada Leon dan juga Darda. Dia punya alasan sendiri untuk tidak memberitahu orang lain dulu.


"Terus sekarang lo bagaimana?" tanya Leon menatap Lena. Walaupun dalam hati Leon merasa lega karena adiknya sudah sadar dari koma. Tetap saja dia harus menemukan keadilan untuk menangkap pelakunya.


"Gue belum sebuah total, kaki dan tangan gue sulit digerakkan."


"Harusnya lo bilang ke dokter biar sekarang lo langsung diperiksa," ujar Leon sedikit memberikan saran. Wajar kalau Lena masih berbaring sekarang, tubuhnya pasti kaku setelah koma.


"Kalau gue bilang ke dokter nanti yang ada malah nyokap sama bokap tahu kalau gue udah sadar," ujar Lena.


Leon menjitak kepala adiknya, "mereka khawatir sama lo tahu. Lagian kalau masalah itu, gue bisa sogok dokternya buat gak bilang ke mereka," jelas Leon.


Lena hanya diam saja mendengar ide dari Leon.


Lalu Darda menatap kearah Lena sekilas.


"Kamu serius gak ingat apapun dengan kejadian itu?" tanya Darda kepada Lena.


"Aku benar-benar tidak ingat, hanya saja waktu itu ada yang bilang kalau kamu mengajak aku untuk bertemu di rooftop."


Darda menaikan sebelah alisnya, dia sama sekali tidak pernah mengatakan itu pada Lena. "kapan? Aku gak pernah mengatakan itu," jelas Darda.


"Aku lupa, tetapi waktu itu ada yang krim pesan," jelas Lena.


Dino malah berbisik kepada Leon, "Orang pacaran mah pake aku kamu, bukan lo gue."


"Diam!" tegas Leon yang sedang serius mendengarkan penjelasan dari Lena tentang kejadian itu.


Darda mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan dirinya dengan Lena yang masih dia simpan. Tetapi di sini tidak ada pesan dirinya yang mengajak Lena untuk bertemu.


"Ini ponselku, tidak ada pesan sama sekali," jelas Darda menjelaskan semuanya pada Lena.


Sedangkan Lena begitu ingat kalau dia menerima pesan dari Darda kalau dia mengajak ketemuan.


"Aku ingat kok waktu itu, kamu kirim pesan," ujar Lena yang memang ingat. Leon hanya mendengarkan semuanya, Lena jelas tidak pernah berbohong kepada orang lain.


Leon mengambil ponsel milik Darda dan memeriksanya langsung. "Gue liat," ujar Leon.


Dia memeriksa pesan dari ponsel Darda dengan sekilas. Apa mungkin pesan itu sudah dihapus oleh orang yang mengirimkan ini pada Lena agar Darda tidak tahu.


"Sepertinya orang itu licik, dia menghapus pesan itu dari ponsel Darda untuk menghilangkan jejak," gumam Leon.


Dino ikut setuju, dia teringat dengan ponsel milik Lena yang memang sampai saat ini belum juga ditemukan. "apa ini juga alasan mengapa ponsel Lena hilang. Itu karena di sana ada barang buktinya," jelas Dino.

__ADS_1


"Lo benar Dino, kaya nya begitu."


Darda berpikir sejenak, siapa orang yang bisa membajak ponselnya. Sedangkan dia selama ini tidak pernah keluar kecuali sibuk dengan kegiatan OSIS.


"Siapa orang yang sudah berani bajak hp gue. Selama ini gue sibuk dengan kegiatan OSIS," jelas Darda mengingat semuanya. Dia juga tidak pernah membiarkan hpnya dipegang oleh orang I lain.


Tiba-tiba Leon teringat akan sesuatu, bukannya Zahra juga adalah anggota OSIS, dia jadi semakin yakin kalau sebenarnya Zahra juga terlihat dalam hal ini.


"Gue yakin kalau ini adalah ulah dari Zahra. Bukanya dia anggota OSIS juga," jelas Leon. Mengingat Zahra ada hubungan dengan Gumara, jadi dia pasti pelaku yang sebenarnya. Tetapi jika memang dia pelakunya, maka apa motif wanita itu melakukan ini?


"Nah benar tuh kata Leon. Jangan-jangan dia adalah pelakunya," gumam Dino yang setuju dengan pikiran Leon. Apalagi setelah kemarin di sekolah Dino sendiri tahu tentang Zahra dari Leon.


Berbeda dengan Lena yang kini menatap semua orang. "Zahra? Tidak mungkin kalau dia melakukan itu."


Leon menggenggam tangan Lena dengan erat. Mungkin sekarang kita tidak punya buktinya. Tetapi gue yakin kalau dia terlibat. Dia dekat dengan Gumara sekarang, itu membuat gue berpikir kalau pasti ada hubungannya dengan dia juga."


Darda menarik tangan Leon yang mencekal tangan Lena. "Gak usah pake pegangan tangan juga kali!" balas Darda.


"Posesif amat lo jadi cewe!" ketus Leon.


"Walaupun gue tahu lo sepupunya Lena, tetap aja gue cemburu." Darda mengatakan itu membuat Dino terkejut. Dia sama sekali tidak tahu dengan hal ini.


"Leon sepupunya Lena? Bukannya hanya teman SMP saja?" tanya Dino yang terkejut dengan hal ini. Padahal waktu itu Leon mengatakan pada Dino kalau Lena hanya teman SMP saja.


"Leon Lo kurang ajar banget gak ngasih tahu yang sebenarnya sama mereka!" ujar Lena sedikit berteriak.


"Berisik lo! lya gue ngaku salah," balas Leon.


Lena hanya mencebikan bibirnya saja kepada Leon. Pria itu memang sok misterius sekali sampai tidak memberitahu semua yang terjadi sekarang.


"Jadi, maksud lo apa?" tanya Darda melihat kearah Leon.


Leon menghela napasnya, dia tidak akan menyembunyikan identitasnya lagi karena sekarang Lena sudah sadar.


"Dia adik kandung gue," jelas Leon membuat Darda dan Dino kini terkejut dengan kebenaran ini.


"Apa? Kalian beneran saudara kandung?" ujar Darda yang terkejut dengan hal ini. Dia tidak menyangka kalau Leon beneran saudara dari Lena.


"Tunggu dulu, kalian beneran saudara kandung? Umur kalian sama, jangan bilang kalau kalian adalah anak kembar?" tanya Dino yang memang pintar.


Lena mengangguk membenarkan semuanya. Dia dengan Leon memang kembar, tetapi mereka mempunyai karakter yang berbeda. Leon mempunyai sifat yang lebih cuek kepada orang lain. Dibandingkan dengan dirinya yang memang mempunyai sifat yang sangat peduli dengan orang lain.


"Iya begitu deh. Kita kembar tetapi sifat kita memang berbeda."

__ADS_1


Dino tersenyum mendengar hal tersebut. "Iya sih, kalian memang mempunyai sifat yang berbeda. Gue sendiri jadi tahu karena sering bersama kalian," gumam Dino.


Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba ponsel Leon berdering tanda ada yang menghubunginya. Leon menaikan sebelah alisnya ketika melihat nama Amar.


"Bentar, Amar ada telepon," ujar Leon yang berpamitan untuk keluar karena ingin mengangkat telepon.


"Alah palingan juga soal Fira," ujar Dino yang sudah bisa menebak. Apalagi Fira yang sekarang tinggal di rumah Amar. Belum lagi Amar yang biasanya suka ikut datang kesini malah disuruh tunggu di rumah saja. Karena di rumahnya ada Fira.


Lena yang mendengar nama Fira disebut pun, tiba-tiba teringat dengan temannya. "Fira? Leon dekat dengan Fira?" tanya Lena yang memang tidak tahu apapun dengan hubungan mereka.


"Iya begitu deh, mereka dekat karena Leon mau cari informasi tentang lo, sampai Fira ngajak pacaran tapi sekarang mereka sudah putus," jelas Dino memberitahu Lena.


"Leon pacaran? Gila banget, dia pria yang kaku!" jelas Lena yang memang tahu sifat Leon seperti apa. Pria yang memang terlihat cuek dan gak peduli juga bisa pacaran.


"Namanya juga pacaran taruhan mereka," sambung Darda yang memang sedikit tahu tentang hubungan antara Fira dan Leon.


"Tapi kalau gue liat yah, Leon kayanya suka sama Fira, buktinya dia membiarkan Fira tinggal di rumah Amar untuk dia pantau terus," jelas Dino.


"Serius? Wah gila benar," ujar Lena terkejut dengan fakta ini. Berbeda dengan Darda yang memutar bola matanya jengah ketika melihat interaksi antara Dino dengan Lena.


"Mending lo juga keluar Din, daripada ganggu orang yang mau berduaan di sini," usir Darda secara halus karena tidak mau kegiatan dirinya dengan Lena malah diganggu.


Dino malah melotot dengan sindiran dari Darda barusan. "Hei, justru gue harus di sini. Biar kalian gak berduaan, bisa khilaf kalau kalian cuman berdua!" balas Dino.


"Daripada yang ketiga setan!" balas Darda tidak mau kalah, memang gak ada Leon, jadi Darda bisa mengusir Dino agar dia bisa berdua saja dengan Lena di sini.


Dino malah mendengus kesal sekarang, dia tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini. "Beda yah kalau udah bucin!"


Ketika mereka sedang berdebat seperti itu. Leon kembali masuk ke dalam ruangan ini dengan gusar. Dia baru saja mendapatkan kabar kalau Susan dibawa oleh Rudi. Amar baru saja memberitahu dirinya lewat telepon.


"Kenapa Leon?" tanya Darda ketika melihat raut panik dari Leon.


"Gawat! Ibunya Fira dibawa oleh Pak Rudi. Dia membawa warga dan menampilkan surat nikahnya. Jadi Amar gak bisa mencegah, gue harus ke sana sekarang!"


"Astaga, kalau begitu gue ikut sama lo aja, daripada liat orang pacaran!" balas Dino yang akhirnya memutuskan untuk pergi.


Darda hanya tersenyum melihat dua orang itu pergi dari sini, akhirnya dia bisa berduaan dengan kekasihnya sekarang. Lagian Darda juga tidak terlalu peduli dengan kasusnya Fira. Darda hanya ingin mengusut tuntas kasus Fira. Apalagi Darda sudah tahu kalau orang yang disebut oleh Ibu Ketua itu adalah Tantenya sendiri.


"Akhirnya mereka pergi dulu."


"Kamu ini gak boleh begitu tahu, Leon juga saudara aku"


Darda merangkul mesra adiknya, dia hanya mengangguk paham saja. "Iya aku tahu. Tugasku hanya untuk mencari tahu pelaku yang sudah membuat kamu celaka."

__ADS_1


__ADS_2