
Leon benar di bawa ke ruangan kepala sekolah bersama dengan Gumara juga. Tidak lupa dengan guru BK yang tadi melihat perkelahian tadi.
Bahkan semua para guru juga sudah disuruh berkumpul datang ke sini. Semua karena video yang tersebar di sosial media yang pasti akan membuat nama sekolah ini buruk. Ada rasa khawatir di sekolah ini karena takut.
Tentu saja ini adalah rencana licik Gumara agar bisa membuat Leon dikeluarkan dari sekolah ini. Dia kemarin sudah berdiskusi dengan papahnya tentang hal ini.
"Hubungi orangtuanya untuk datang ke sini!" Rudi selaku kepala sekolah menyuruh guru untuk menghubungi keluarga dari Leon.
Dia juga sengaja mengatakan itu agar bisa tahu keluarga dari Leon yang sebenarnya. Dia ingin tahu kekuatan dari keluarga Leon seperti apa.
"Baik Pak Rudi."
Seorang guru meminta nomor telepon dari Leon. Sedangkan Leon berpikir siapa yang akan dibolehkan datang ke sini. Terapi akhirnya dia mengembalikan nomor Papahnya.
"Ini nomornya."
Leon dengan santai memberikan nomor tersebut. Lalu menunggu apa yang akan dilakukan oleh Gumara dengan ayahnya. Membiarkan guru itu menghubungi ayahnya untuk datang ke sekolah.
Gumara menatap kearah ayahnya sambil tersenyum penuh arti. Dia bahagia karena rencananya sudah berhasil. Dia akan membuat Leon kalah dan akan mengalahkan dirinya.
"Aku sudah berhasil." Gumara berbisik kepada ayahnya.
"Syukurlah kalau begitu."
Dia terdiam sejenak, Leon tersenyum sinis sambil melirik kearah Gumara. Dia sudah bisa nebak kalau semua ini memang rencana Gumara. Pria itu sengaja ingin menjebak dirinya agar bisa dikeluarkan dari sekolah.
"Lo memang licik." Leon memaki Gumara dengan sinis. Gumara lupa dia berhadapan dengan siapa, pria itu memang harus diberikan pelajaran juga.
"Tentu saja, gue orang yang licik!"
Gumara membisikan itu kepada Leon, dia tersenyum karena rencana yang sudah dia susun berjalan dengan baik. Sekarang dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dirinya saja.
"Saya akan memanggil orang tua kamu ke sini dan mengeluarkan Leon dari sekolah ini. Video yang tersebar tentang perkelahian ini sudah memalukan nama sekolah!" Rudi mengatakan itu dengan tegas.
Semua guru yang ada di sini tidak ada yang berani melawan keputusan yang sudah dibuat oleh Rudi. Karena ancaman jika dia membela Gumara maka, nanti dia akan dipecat.
Leon menatap kearah Rudi dengan pandangan yang tajam. "Pak Rudi tidak bisa mengeluarkan saya dari sekolah begitu saja, walaupun saya berkelahi tetapi Gumara juga ikut bersama."
"Gak bisa gue dong!" Gumara tidak terima ketika dirinya yang malah disalahkan untuk saat ini.
"Harus ada keadilan!"
Leon mengatakan itu dengan tegas, tetapi tidak ada guru yang membela dirinya karena takut merasa bersalah untuk saat ini. Para guru tidak ada yang berani membela Leon untuk memberikan keadilan di sini. Membuat Leon malah mendengus kesal, pasti mereka takut juga dipecat.
Di tempat lain.
Rehan bersama dengan Hamdan kali ini sedang berdiskusi. Hingga dia mendengar kabar kalau anaknya saat ini sedang berada di ruangan kepala sekolah. Rehan sudah bisa nebak saat ini Leon pasti udah memulai aksinya.
"Pak Hamdan, saya boleh minta bantuan anda, kebetulan anak saya sedang berada di bawa ke ruangan kepala sekolah."
__ADS_1
"Anda punya anak?" tanya Hamdan.
"Iya lebih tepatnya anak angkat saya, dia berkelahi di sekolah dan akan dikeluarkan dari sana," jelas Rehan memperlihatkan sebuah video di mana dirinya yang saat ini beneran sedang berkelahi.
Hamdan melihatnya dengan sekilas, lalu dia paham sekarang. "Kalau begitu ayo kita ke sekolah sekarang."
"Terimakasih banyak karena anda mau membantu
saya."
"Tidak usah formal begitu, bukannya kita teman." Hamdan mengatakan dengan dengan tenang.
Rehan tersenyum tipis karena memang dulu mereka adalah teman. Lebih tepatnya dulu Rehan pernah ada hubungan dengan adik Hamdan dulu. Rehan merangkul Hamdan dan mereka akhirnya tidak berbicara formal lagi karena rapatnya sudah selesai.
"Makasih bro."
Rehan memeluk Hamdan dengan senang, dia akhirnya bisa bekerjasama dengan Leon yang mau membantu dirinya. Dia bahkan tidak menyangka kalau
semuanya sudah jadi lebih baik. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil
masing-masing, mereka berdua akan datang ke sekolah dan Hamdan akan membantu Rehan yang akan membantu agar anaknya tidak dikeluarkan di sekolah.
Sampai sekitar 30 menit kemudian, mereka sudah sampai di sekolah ini. Hamdan keluar dari mobil bersama dengan Rehan, membuat semua siswa yang ada di sekolah ini malah jadi heboh.
"Gila Hot Daddy."
Banyak yang malah terpesona dengan Rehan dan Hamdan. Di usia mereka yang 40 tahun dan masih terlihat begitu bagus. Apalagi keduanya kini memakai jas membuat semakin berwibawa.
"Aku jadi kembali ke masa muda."
"Kamu tahu, aku dengar anak kepala sekolah dan kepala sekolah itu angkuh. Dia selalu melindungi anaknya dengan kuasanya." Rehan menceritakan semuanya kepada Hamdan.
Dia malah tersenyum tipis ketika melihat kearah Rehan. "Sepertinya kamu banyak tahu dibandingkan aku
"Sudah, di mana ruangan kepala sekolahnya, aku tidak sabar ingin bertemu dengan anakku," ujar Rehan yang kini mengikuti Hamdan yang sedang berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah.
Hingga Rehan masuk duluan dan melirik kearah Leon sekarang. Semua orang menatap kearah Leon yang dihampiri oleh orang yang pakai jas.
"Kamu membuat masalah son?" tanya Rehan
dengan santai kepada anaknya.
"Bukan aku yang mulai duluan," jawab Leon dengan
santai.
Rehan yang tahu hanya melirik sekilas kearah kepala sekolah yang ada di sini. Hingga tak lama kemudian Hamdan datang ke ruangan ini, membuat semua orang terkejut.
Walaupun Hamdan adalah donatur di sekolah ini sekaligus menantu dari pemilik sekolah ini. Secara tidak langsung Darda adalah cucu dari pemilik sekolah ini.
__ADS_1
Rudi menaikan sebelah alisnya ketika melihat Hamdan juga ikut datang ke sini. Rudi langsung membiasakan ekspresi wajahnya lalu menghampiri Hamdan.
"Pak Hamdan datang ke sini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rudi dengan heran.
"Saya mendengar berita kalau anak dari rekan bisnis saya kebetulan membuat masalah di sini. Saya juga kebetulan sudah melihat videonya," ujar Hamdan membuat Rudi terdiam.
Semua guru yang sekitar 8 orang di ruangan ini pun terdiam, mereka tidak berani mengatakan apapun.
Sedangkan Gumara terdiam sejenak, dia bahkan tidak menyangka kalau Leon adalah anak dari rekan bisnis donatur yang ada di sekolah ini.
"Maafkan saya Pak Hamdan," ujar Rudi yang kini meminta maaf dan menatap kearah anaknya yang sudah gegabah mengambil keputusan ketika akan menjebak Leon.
"Pak Rudi mengeluarkan saya dari sekolah ini, tetapi Gumara yang memulai malah tidak dihukum sama sekali," jelas Leon mengatakan itu kepada donatur sekolah ini.
"Benarkah itu?" tanya Hamdan sambil melirik kearah Rudi.
"Maaf, saya akan menghukum Gumara juga," jelas
Rudi yang merasa tidak bisa berkutik sama sekali.
"Sebaiknya Pak Rudi memberikan hukuman yang pantas untuk anak anda, saya juga dengar kalau anak anda sering membuat ulah di sekolah ini. Dan anda selalu membelanya terus," ujar Hamdan membuat Rudi terkejut dan dia langsung menundukkan kepalanya.
Sedangkan Leon tersenyum puas ketika melihat kepala sekolah itu tidak bisa berkutik sama sekali. Dia kali ini merasa menang karena kepala sekolah ini tidak angkuh lagi. Walaupun dia sedikit belum puas kalau kepala sekolah juga belum dikeluarkan.
"Saya akan memberikan hukuman diskors satu minggu untuk anak saya," ujar Rudi.
Gumara nampak kecewa tetapi dia tidak punya pilihan lain sekarang ini. Dia mengepalkan tangannya menatap Leon dengan pandangan kebencian. Semuanya gara-gara Leon, sekarang dia tidak bisa protes kepada ayahnya.
"Sayang sekali hanya diskors doang," ujar Rehan yang mengacuhkan bajunya.
Tetapi Hamdan berbisik kepada telinga Rehan saat ini. "Tidak mudah untuk menecat dia sekarang, kamu tahu adik iparku bukan? Dia pasti akan membela si bedah itu," bisik Hamdan pada Rehan.
Rehan yang paham hanga mengangguk saja, lagian dia percaya kepada anaknya yang pasti akan mengumpulkan bukti yang banyak nanti. "Baiklah aku paham."
Hamdan lalu kembali melihat kearah Rudi saat ini, dia tersenyum dengan sengit ketika melihat pria itu.
"Jangan pernah ada yang mengeluarkan Leon dari sekolah ini, dia anak rekan bisnis saya! Anda juga jangan pakai wewenang untuk membela anak Pak Rudi," ujar Pak Hamdan mengatakan itu dengan tegas.
"Baik Pak Hamdan."
Rehan dan Leon tersenyum puas ketika mendengar hal tersebut. Hingga Hamdan keluar dari ruangan ini, Rehan langsung mengusap anaknya.
"Kamu tidak usah menjadi cupu lagi besok. Kita menyelidiki kasusnya bisa lebih mudah," bisik Rehan sebelum akhirnya dia ikut keluar bersama dengan Hamdan.
Leon tersenyum puas karena dia menang sekarang. Besok dia tidak akan berpura-pura menjadi cupu lagi karena video tersebut sudah viral. Kalau memang dia jago berkelahi, dia tidak khawatir Gumara akan menganggu dirinya untuk menyelidiki kasus adiknya besok. Dia tinggal mencari bukti kalau Pak Rudi ada hubungannya dengan kasus adiknya yang jatuh dari tangga karena kasusnya di tutup.
"Kalian bisa bubar!" ujar Rudi kepada guru yang lainnya. Semua orang yang menyaksikannya tersebut jadi
tahu posisi Leon sama dengan posisi Darda, orang yang
__ADS_1
memang tidak boleh disentuh sama sekali kalau tidak
maka, mereka semuanya akan terkena masalah besar.