
Darda memegang sebuah pulpen yang dia ambil di ruangan kepala sekolah itu. Beruntung sekali dia bisa mengambilnya kemarin dan dia bisa mendengarnya bersama dengan para teman-temannya. Kejahatan kepala sekolah akan terbongkar lewat pulpen yang sekarang ada di tangannya.
"Ini pulpen nya kan benar?" tanya Darda kepada Amar karena Amar yang memberikan paket kepada tukang satpam itu. Oh yah untuk tukang satpam itu, Darda sudah memberikan pelajaran. Seperti yang dia lakukan kepada dirinya.
"Iya, itu pulpen nya," jawab Amar dengan ketus.
Darda menghela napasnya mendengar ucapan dari Amar barusan. Pria itu masih saja marah dengan dirinya. Semuanya karena salah paham karena Amar mengira dirinya punya hubungan dengan Sasha.
"Lo masih marah sama gue gara-gara Sasha? Lo tenang saja, gue nanti akan deketin lo sama dia lagi kalau masih cinta sama," ujar Darda yang lebih baik mengalah. Walaupun dia bukan pakar cinta juga, tetapi dia akan melakukan itu agar Amar tidak membenci dirinya.
"Lo gak lagi becanda bukan?" tanya Amar.
"Gue serius akan bantu lo, tapi gue gak dekat sama dia karena gak sekelas dengan dia. Tetapi nanti Leon dan Dino pasti bisa deketin lo dengan dia," terang Darda kepada Amar. Dia juga ingin meyakinkan Amar kalau tidak ada hubungan apapun dengan Sasha selama ini.
"Deal!"
"Deal!"
Darda dan Amar akhirnya berjabatan tangan dan tersenyum. Bersama dengan hal tersebut, Leon dan Dino baru saja datang ke rumah sakit. Mereka berdua memang sedikit datang terlambat karena sengaja agar melihat Darda dan Amar berbaikan dulu.
"Ciee udah akur aja lo berdua," ujar Dino malah menggoda dua pria yang bermusuhan hanya karena seorang perempuan.
Sedangkan Leon menatap Darda dengan serius." Gimana, apa lo sudah berhasil mengambil benda itu?" tanya Leon kini menatap kearah Darda.
Darda mengangguk, lalu dia mengeluarkan benda tersebut dan memberikan itu kepada Leon. Tadi dia sudah memperlihatkan itu kepada Amar juga, sekarang dia memberikan benda itu kepada Leon.
"Lo gak perlu khawatir, gue sudah berhasil mengambil itu," gumam Darda dengan tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja hanya Darda yang bisa masuk ke ruangan kepala sekolah karena dia punya tujuan yang bersangkutan. Jangan lupakan kalau Darda adalah ketua OSIS yang pintar dan banyak dikagumi oleh para siswa. Walaupun begitu, Darda hanya mencintai satu wanita itu Lena.
Leon mengambil benda tersebut dan tersenyum senang, lalu dia mendengar suara yang memang hasil percakapan antara satpam tersebut dengan kepala sekolah. Begitu pun dengan semua orang yang kini sedang mendengarkan suara kepala sekolah dengan satpam.
"Gila sih ini, mereka rupanya bekerjasama," maki Amar.
Mereka berempat terdiam sambil mendengarkan secara diam-diam. Begitu pun dengan Leon yang tidak menyangka sama sekali. Rupanya memang benar kalau kepala sekolah itu terlibat dalam menutupi kasus Lena.
"Sial, jadi orang yang meneror gue selama ini adalah satpam sialan itu. Dia melakukan itu atas perintah Pak Rudi," maki Darda karena kesal.
Sedangkan Dino menepuk pundak Darda untuk menenangkan pria itu agar tidak dulu terbawa emosi untuk saat ini. "Lo tenang dulu. Kita sudah punya bukti sekarang." Leon mendengarkan percakapan antara satpam dan kepala sekolah itu dengan baik.
Sampai dia mendengar kalau dibelakang Pak Rudi ada Bu Ketua.
"Siapa Bu Ketua yang dimaksud oleh Pak Rudi?" tanya Leon yang merasa bingung.
Semua orang terdiam dan ikut berpikir keras tentang hal tersebut. Termasuk dengan Dino yang merasa bingung, artinya masih ada pelaku di sini. Bahkan Dino pusing sendiri karena banyak sekali pelaku yang sudah menjadi dugaan dirinya selama ini.
"Dari kata-katanya sepertinya dia orang berkuasa di sini," ujar Dino.
Amar melihat kearah Darda saat ini, "Lo cucu pemilik sekolah ini kan? Jangan-jangan yang dimaksud oleh orang tersebut adalah nyokap lo lagi. Kan dia anak dari pemilik sekolah ini," ujar Amar membuat semua orang terdiam.
__ADS_1
Sedangkan Darda menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Kalian gila? Mana mungkin kalau nyokap gue melakukan itu," balas Darda.
"Lalu siapa dong?" tanya Dino bingung.
"Dia bilang ibu ketua, artinya memang dia adalah seorang wanita. Mengingat tadi perkataan orang tersebut kalau di belakang gue ada Pak Hamdan dan dibelakang kepala sekolah ada orang yang disebut Bu Ketua, artinya memang orang tersebut jabatannya setara dengan bokap Darda," jelas Leon.
Amar menatap kearah semua orang sekarang. Udah jelas kalau begini, orangnya pasti nyokap lo!"
"Atau bisa jadi orang tersebut nenek lo?" tanya Dino.
Darda terdiam mendengar hal tersebut, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang terlibat lebih dalam adalah pihak keluarganya. Dia harus memastikan sendiri tentang hal ini. Bagaimana pun kebenaran sekarang harus terungkap.
"Gue harus memastikan sendiri!" Darda langsung berdiri setelah ini.
Sedangkan Dino mencegah Darda untuk pergi dari sini. "Lo mau kemana?"
"Iya, kita belum selesai berdiskusi," balas Amar.
"Biarkan Darda pergi dan menyelesaikan semuanya ," balas Leon kepada kedua temannya itu. Leon paham kalau Darda pasti ingin mencaritahu ini lewat keluarganya.
Akhirnya Dino dan Amar tidak menghalangi Darda lagi untuk pergi. Dia memberikan Darda untuk mencaritahu semuanya sendiri karena ini berhubungan dengan keluarganya.
Amar hanya melihat kepergian dari Darda saja. Lalu dia menatap kearah Dino dan Leon dengan serius." Darda bilang kalau kalian berdua satu kelas dengan Sasha?"
Dino menatap kearah Amar karena pertanyaan yang seperti itu. "Lo masih belum bisa move on dari dia ?"
Amar hanya bisa mengangguk, bagaimana pun hubungan mereka memang dulu tidak jelas. Bahkan Sasha sendiri malah mengirimkan pesan untuk putus.
"Lo mau kan bantu gue?" tanya Amar kepada Dino.
Berbeda dengan Leon yang malah memutar bola matanya jengah. Entah kenapa dia malah tidak suka dengan yang namanya cinta. Mungkin karena dia sedikit kecewa dengan Fira.
"Gue sih gak jadi masalah buat bantu lo," jawab Dino dengan santai. Dia tidak jadi masalah jika harus membantu Amar.
"Lebih baik lo bantu gue buat menyelesaikan semua misi ini. Menangkap pelaku yang sebenarnya, daripada lo mikirin cinta terus," ujar Leon memutar bola matanya jengah.
"Lama-lama lo udah kaya Papah lo saja, Om Rehan.
Jangan-jangan lo gak mau nikah juga sama kaya beliau, dan memilih buat adopsi lo," ujar Amar mendapatkan pelototan dari Leon.
"Leon anak adopsi?" tanya Dino.
Amar menyadari kalau dia salah bicara, dia kira Dino tahu semuanya tentang Leon. Tetapi rupanya memang Leon masih menyembunyikan sesuatu dari para teman-temannya.
"Ups, sepertinya gue salah bicara," gumam Amar.
Dino menatap kearah Leon untuk meminta penjelasan sekarang tentang Leon. Apalagi selama ini Dino juga merasa kalau Leon menyimpan sesuatu dari dirinya. Membuat dia sedikit merasa marah juga.
__ADS_1
"Leon, apa benar?" tanya Dino.
"Apa itu penting Dino? Kalau gue anak adopsi atau tidak. Lebih baik kita cari bukti sekarang," ujar Leon.
Amar menepuk pundak Dino dengan sekilas." Turutin saja keinginan dari Leon, nanti kalau saatnya tiba, dia pasti akan cerita," ujar Amar yang memang sudah lebih lama mengenal Leon. Dia tahu sifatnya Leon semenjak mereka kecil juga.
"Baiklah."
"Gue pulang dulu kalau begitu," ujar Amar yang kini memutuskan untuk berpamitan.
"Gue juga pamit pulang yah," ujar Dino yang kini ikut pulang juga menaiki motor vespa miliknya.
Dia sedikit merasa lebih tenang karena semuanya sudah berjalan dengan lancar.
Leon hanya mengangguk, lalu dia masuk ke dalam ruangan tempat di mana Lena sedang. Dia terdiam sejenak, lalu mengelus pipi adiknya.
"Tidak lama lagi, semuanya akan terungkap," gumam Leon meyakinkan semuanya.
Hingga ponselnya Leon berdering tanda ada yang menghubunginya, dia langsung mengangkatnya karena melihat foto profil pria tersebut yang ternyata mata-matanya di rumah Gumara.
"Hallo Bos."
"Kenapa? Ada sesuatu yang kamu dapatkan?" tanya Leon penasaran.
"Istri Pak Rudi diikat dan dikurung di sebuah ruangan tadi ketika ada tamu, terus anak perempuannya dicambuk oleh Pak Rudi. Mereka berdua disiksa oleh Pak Rudi," jelas mata-mata tersebut membuat Leon kini malah melotot.
"Kamu tahu, mengapa mereka sampai disiksa seperti itu?" tanya Leon yang kini mengepalkan tangannya.
"Yang saya dengar, anak perempuannya berusaha untuk berontak dan mengungkapkan kasus tentang adik bos. Terus ibunya membela anaknya dan tidak mau anaknya terluka dan akhirnya mereka semuanya disiksa oleh Pak Rudi."
"Gumara tidak menolong mereka?" tanya Leon yang tahu kalau Gumara tidak mungkin menyakiti Fira.
"Anak laki-lakinya di kurung sekarang di kamarnya oleh Pak Rudi karena dia menolak dijodohkan dengan orang lain," ujar mata-mata tersebut.
Leon jadi frustasi sekarang, apa benar Fira memang tidak terlibat dalam hal ini, dia sampai membela ingin mengungkapkan hal ini. Kalau memang benar Fira dan ibunya ingin membantu dia untuk mengungkap kasus ini, maka dia harus membantu untuk membebaskan Fira.
"Kamu bisa membantu mereka keluar dari sana kan?" tanya Leon kepada mata-mata tersebut.
"Bisa, tetapi mungkin tidak sekarang. Hanya malam hari ketika para pangawal sedang lengah," ujar orang tersebut.
"Bagus kalau begitu, kalau mereka ingin kabur, kamu bantu mereka. Tetapi kalau mereka masih betah di rumah terkutuk itu, biarkan saja. Apa kamu paham!" ujar Leon.
"Baik Bos."
Leon akhirnya memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya, hatinya jadi gundah setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut. "Apa benar Fira tidak terlibat?"
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
__ADS_1
Sekian dulu yaa
Sampai jumpa di part selanjutnya