SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Leon Kerumah Amar


__ADS_3

"Lena gak ada di ruangannya!"


"Bagaimana bisa? Apa yang sudah terjadi?" tanya


Rian yang kini merasa panik.


Indah hanya bisa diam sejenak, ada rasa bersalah ketika dia yang selama ini selalu sibuk dengan urusan butiknya. Bahkan jarang menemui anaknya di rumah sakit. Sekarang anaknya malah tidak ada di ruangannya.


"Mommy merasa bersalah," gumam Indah.


Rian berpikir sejenak, apa ini ada hubungannya dengan anaknya. "Leon, cepat hubungi dia."


Indah mengangguk dan memutuskan untuk menghubungi anaknya. Dia merasa panik karena anak perempuan hilang.


"Hallo, Mommy."


"Leon, tolong mommy. Lena tidak ada di ruangannya," panik Indah yang memang merasa bersalah. Apalagi dia tidak tahu harus mencari kebenaran anaknya.


"Dia tidak mungkin hilang karena aku punya banyak penjaga, mommy tenang saja," balas Leon.


Kalau memang ada orang yang membawa kabur Lena pasti sudah ada anak buahnya yang melaporkan hal itu kepada dirinya. Tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang melaporkan nya.


"Dia tidak ada di ruangannya. Apalagi dia masih koma!" ujar Indah.


Leon lupa kalau ibunya belum tahu kalau sekarang Lena sudah tidak koma lagi. Kemudian, Leon teringat dengan Darda, pasti wanita itu pergi ke ruangan Darda.


"Lebih baik mommy ke ruangan Darda sekarang."


"Darda anaknya Pak Hamdan?" tanya Indah.


"Iya, lebih baik datang ke sana dan temukan jawabannya."


Indah melihat ponselnya yang sudah dimatikan oleh Leon sekarang. Lalu dia menatap kearah suaminya. "Leon bilang kalau kita harus ke ruangan Darda sekarang."


Rian akhirnya mengangguk dan mereka memutuskan untuk berjalan menuju ke ruangan Darda bersama dengan istrinya.


Sampai dia membuka pintu ruangan itu. Rian dan Indah melihat kearah Lena dan Darda yang saling pelukan. Rian melihatnya sekilas, anaknya bahkan tidak bilang kalau dia sudah sadar dari rumah sakit.


"Lena," gumam Indah yang terkejut ketika melihat anaknya sudah sadar.


Rian juga sama terkejut ketika melihat anaknya yang sadar dari koma. Bahkan anak perempuan nya itu tidak mengabari dirinya kalau sudah sadar.


"Mommy dan Daddy," gumam Lena yang kini refleks melepaskan pelukannya dari Darda.


"Kamu sudah sadar nak."


Indah kini mendekati anaknya dan langsung memeluk anaknya dengan erat. Dia sama sekali tidak menyangka dengan yang dia lihat sekarang. Anak perempuannya sudah sadar dari koma.


Rian menatap kearah Darda, "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Rian.


"Sudah baikan Om," jawab Darda kepada Rian.


Rian hanya mengangguk saja, dia sudah tahu hubungan Darda dengan anaknya Lena. Apalagi ayahnya Darda adalah rekan bisnisnya.

__ADS_1


Darda tersenyum karena dia secara tidak langsung untuk mendapatkan lampu hijau dari calon mertuanya. Dia sudah bisa nebak kalau semuanya akan jadi lebih baik.


***


Sementara itu.


Leon saat ini sedang melaporkan semua kejadian yang terjadi terhadap adiknya kepada pihak berwajib. Dia sudah melaporkan semuanya dengan baik. Termasuk dengan melaporkan kejadian yang terjadi pada ibunya Fira. Kecuali kejadian yang menimpa Darda karena dia akan membiarkan Darda melaporkan sendiri karena statusnya menjadi saksi dan korban.


"Apakah anda punya bukti lebih banyak?" tanya polisi tersebut setelah mendengar laporan dari Leon barusan.


Leon mengambil ponselnya dan dia mengirimkan barang bukti yang dia miliki. Dia temani oleh Amar untuk melaporkan kasus ini. Semoga dia menemukan titik terang karena dia tidak sabar ingin melaporkan Zahra.


"Untuk kasus kecelakaan yang disebutkan oleh anda tadi, ini bukti belum cukup. Tetapi untuk laporan KDRT yang dilakukan oleh Pak Rudi bisa kami proses."


Leon terdiam ketika mendengar penuturan oleh pihak kepolisian. Dia ingin melaporkan tindakan yang dilakukan oleh Zahra terhadap Lena karena sekarang sudah tahu pelakunya.


Amar menepuk pundak Leon dengan pelan. Sepertinya bukti itu belum cukup. Kita harus menjebak Zahra dan membuat wanita itu mengakuinya sendiri."


"Nah benar sekali. Tidak ada CCTV yang membuktikan kalau orang tersebut bersalah. Kami tidak bisa menangkap seseorang sembarangan. Untuk laporan KDRT ini juga atas nama Pak Rudi, tidak bisa dilakukan kalau bukan pihak keluarga sendiri yang melaporkan," jelas polisi tersebut.


Leon kesal karena dia bisa melaporkan ini begitu saja. Kalau begitu mungkin Fira sendiri yang bisa melaporkan kejadian yang menimpa ibunya. Leon berpikir sejenak untuk bertemu dengan Fira saat ini.


"Baiklah Pak, terima kasih banyak."


Leon menjabat tangan pihak kepolisian. Bersama dengan Amar yang kini menemani dirinya. Kebetulan Amar sekarang sudah sembuh dan dia bisa menolong Leon.


"Lo udah bilang ke pengacara nyokap lo. Biar dia nanti bantu untuk surat gugatan cerainya," saran Amar.


"Gue harus menemukan bukti ponselnya Lena, kita harus jebak Zahra agar mengakui semuanya."


"Lo benar. Kira-kira ponselnya Lena ada di mana sekarang?" tanya Amar.


Leon teringat perkataan dari mata-matanya yang bekerja di rumah Gumara. Awalnya ponsel itu ada ditangan Gumara, tetapi sekarang sudah beralih ke tangan Zahra.


"Ponsel itu ada di tangan Zahra, kemungkinan sekarang ada di rumahnya," jawab Leon.


Amar berpikir sejenak sambil tersenyum. Dia tahu orang yang dekat dengan Zahra sekarang. Mungkinkah dia bisa menggunakan Sasha untuk memasuk ke dalam rumah Zahra untuk menemukan ponselnya.


"Mungkin kita bisa minta bantuan Sasha, kebetulan sekali wanita itu dekat dengan Zahra," saran Amar.


Leon tersenyum ketika mendengar hal tersebut. Dia setuju dengan usul dari Amar barusan.


"Lo benar, kita butuh bantuan dia. Tetapi lo bisa bujuk dia kan?" tanya Leon.


"Tentu saja," jawab Amar sambil tersenyum dengan penuh arti. Dia bisa berteman dengan Sasha.


"Bagus deh," ujar Leon.


"Yaudah kalau begitu, kita pulang."


Leon mengangguk sambil mengendarai motornya. Kali ini dia akan pulang ke rumah Amar, apalagi Fira tinggal di rumah Amar.


Ada perasaan yang tidak suka dalam hati Leon ketika Fira tinggal di rumah Amar. Apalagi sekarang ibunya Fira yang dibawa oleh Pak Rudi.

__ADS_1


Sampai di rumah Amar, Leon akhirnya membuka pintu rumah tersebut. Dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat Fira yang memang sedang menyapu rumah Amar.


"Tumben lo rajin," ujar Leon.


"Lo juga tumben ke sini," ujar Fira.


"Emangnya gak boleh kalau gue ke sini. Apa menganggu kegiatan lo sama Amar?" ujar Leon.


"Apa sih lo, gak jelas!" balas Fira yang kini menyelesaikan menyapu lantai.


Bersama dengan itu juga, Amar ikut masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat Fira yang sedang menyapu, lalu menggoda wanita itu. "Gue merasa jadi punya ART pribadi," canda Amar.


"Bisa saja lo," balas Fira sambil tersenyum kepada Amar.


Leon yang mendengar itu pun tidak terima. Mengapa wanita itu sama Amar malah tertawa, tetapi kepada dirinya malah tidak.


"Gue dan Amar udah dari kantor polisi untuk melaporkan kasus Lena, tapi tetap gak terima karena gak punya bukti yang falid. Tetapi untuk kasus nyokap lo bisa di laporkan oleh pihak yang bersangkutan. Lo keluarganya jadi bisa," jelas Leon.


Fira yang mendengar itu pun tersenyum. Akhirnya dia sudah bisa menemukan titik terang untuk menyelamatkan ibunya.


"Makasih, lo punya buktinya kan? Nanti gue akan laporkan ini."


Leon.


"Lo juga bisa diskusi ke pengacara gue nanti," jelas


"Makasih yah Leon," ujar Fira yang kini tersenyum karena Leon sudah mau membantu dirinya.


Leon lalu teringat dengan sesuatu. "Lena sudah sadar dari koma, gue gak mau lo tinggal berdua di rumah ini bersama dengan Amar. Akan lebih baik jika lo tinggal bersama dengan Lena."


Fira membulatkan matanya mendengar hal tersebut. "Lena sudah sadar? Eh tadi lo bilang gue harus tinggal bersama dengan Lena, bagaimana dengan keluarga dia?" tanya Fira.


Amar hanya tersenyum karena sudah tahu. Sedangkan Leon melirik kearah Fira.


"Dia nerima lo kok. Gue anter nanti ke sana. Sekarang lo bisa bereskan barang-barang lo," balas Leon. Jelas saja kedua orangtuanya pasti akan menerima Fira karena dia yang menyuruhnya.


"Okeh kalau begitu. Gue akan membereskan barang-barangnya," jelas Fira yang kini merasa lebih lega karena semuanya sudah jadi lebih baik.


"Buru-buru banget," balas Amar kepada Leon ketika melihat Fira yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Biar gak timbul fitnah," balas Leon.


Amar malah ingin tertawa mendengar Leon mengatakan itu. "Bilang aja lo cemburu," bisik Amar.


"Berisik lo!" balas Leon yang memutar bola matanya jengah ketika melihat ini. Ada rasa yang membuat dia malah jadi kesal sekarang.


* * *


Jangan lupa follow, komen dan share  teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..


Sekian dulu yaa


Sampai jumpa di part selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2