SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Kenapa Dengan Fira??


__ADS_3

Leon terdiam sejenak, dia melihat seseorang yang memang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Dia tidak pulang ke rumah papah angkatnya karena masih merasa kesal dengan permintaannya.


"Lo tumben ikut pulang ke rumah," ujar Lena yang melihat Leon pulang ke rumah keluarganya.


Apalagi Lena tahu sendiri kalau Leon lebih dekat dengan ayah angkatnya dibandingkan dengan keluarganya sendiri karena sedari kecil sudah tinggal bersama beliau.


"Berisik lo, kalau gue di sini juga kenapa? Toh ini juga rumah gue kan," ujar Leon sambil memutar bola matanya jengah.


Dia belum bisa jika semuanya malah jadi seperti ini.


"Bilang aja kalau lo mau deketin Fira lagi kan? Ngaku gak lo?" tebak Lena yang tersenyum dengan penuh arti. Dia sudah bisa nebak modus dari Leon pasti.


"Kalau pun iya memangnya kenapa? Bukanya bagus yah kalau Fira jadi ipar lo," sergah Leon.


Diam-diam Fira hanya bisa mendengar percakapan dua orang anak kembar yang berbeda itu.


"Ciee, pipi Fira sampe bersemu merah itu," goda Lena.


"Nggak," jawab Fira dengan cepat karena dia merasa malu.


"Ngaku saja kali, gue gak keberatan kok," balas


Lena sambil merangkul tubuh Fira.


"Sekarang lo malah yang modus deketin dia," kata Leon.


"Sudah mending lo pulang sana ke rumah papah, jangan ke rumah daddy," usir Lena kepada Leon karena dia ingin berdua saja dengan Fira.


Sedangkan Fira malah menahan tawanya sejenak. Padahal dia tahu alasan mengapa Leon tidak mau pulang ke rumah ayah angkatnya. Semuanya karena permintaan ayah angkatnya yang kemarin.


"Tunggu dulu, kalau lo mau tidur di sini, terus nanti tidur di mana? Bukannya kamar lo udah dipake sama Fira," jelas Lena mengingat kamar Leon yang memang sekarang ditempati oleh Fira.


"Gue tidur di mana aja bisa," balas Leon dengan singkat. Bahkan di kasur keras seperti ranjang milik Amar pun Leon sudah terbiasa.


Fira ikut menimpali, dia tahu kalau kamar yang dia tempati adalah kamar milik Leon. Akan lebih baik dia saat yang mengalah. Lagian Fira sangat sadar kalau dia hanya menumpang di rumah ini.


"Gue bisa tidur sama Lena. Nanti Leon bisa tidur di kamarnya," jawab Fira.


Lena mengangguk setuju karena dia bisa tidur dengan Fira. "Baiklah. Gue setuju tuh dengan ucapan lo."


"Padahal kalau mau tidur berdua sama gue juga gak papa," ujar Leon sarkas tetapi mendapatkan sebuah pelototan dari Lena.


"Ngaco lo, Leon. Fira tetap tidur sama gue. Walaupun barang-barangnya dan bajunya ada di kamar lo," tegas Lena yang tidak mau diganggu gugat.


Akhirnya ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, Leon sendiri memutuskan untuk langsung pergi ke dalam kamarnya. Entah kenapa hatinya masih merasa belum tenang dengan permintaan ayah angkatnya. Bahkan Leon sudah mendapatkan sebuah pesan dari Darda kalau sekarang pria itu sudah mempunyai bukti untuk menjebloskan pelakunya.


Berbeda dengan Lena yang memutuskan untuk duduk. Begitu pula dengan Fira yang melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Tadi kan lo ngomong berdua dengan Leon, dia bilang apa aja?" tanya Lena yang penasaran.


Fira terdiam sejenak, dia tidak mungkin mengatakan semuanya kepada Lena tentang pembicaraan dirinya dengan Leon. Ini akan membuat semua orang malah akan salah paham dengan dirinya nanti.


"Kenapa? Kok kamu malah diam?" tanya Lena melihat kearah Fira.


"Dia hanya sedang ada masalah saja dengan papahnya. Mungkin itu alasan kenapa dia tidak mau pulang."


Fira hanya bisa menjawab seperti itu saja kepada Lena, dia sudah berjanji kepada Leon untuk sementara tidak menceritakan semuanya kepada Lena. Apalagi ini menyangkut dengan kasus pria tersebut.


"Oh begitu rupanya, kalau begitu kita ganti baju dulu yuk. Habis itu kita main," ajak Lena.


Fira hanya mengangguk saja, akhirnya dia memutuskan untuk mengganti bajunya, tetapi dia lupa kalau di kamarnya ada Leon sekarang.


Lena masuk ke dalam kamarnya sendiri, sedangkan Fira akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamarnya.


"Leon!"


Dengan sopan akhirnya Fira mengetuk pintu kamarnya dan ketika pintu terbuka, Leon langsung menarik Fira untuk masuk ke dalam kamarnya.


Fira awalnya terkejut, terlebih Leon malah langsung mengunci kamarnya.


"Kok kamarnya di kunci?" tanya Fira menaikan sebelah alisnya heran.


"Ada hal yang ingin gue bicarakan sama lo!" ujar yang tidak bisa menahannya lagi.


Leon


"Bukan itu, Darda sudah menemukan bukti kalau dengan rekaman percakapan antara dirinya dengan Zahra. Ini bisa dijadikan barang bukti untuk menjebloskan dia ke penjara," gumam Leon memberitahu yang sebenarnya.


Fira menatap kearah Leon dengan serius mengenai hal tersebut. "Bukannya bagus yah, akhirnya pelaku yang sebenarnya bisa tertangkap."


"Bukan itu masalahnya, gue belum siap. Bokap gue pasti marah besar setelah tahu kebenaran ini," gumam Leon yang kini menundukkan kepalanya.


Fira bisa melihat sendiri bagaimana raut wajah dari Leon sekarang, pria itu tampak tidak sedang baik-baik saja sekarang ini.


"Gue yakin, kalau bokap lo juga nanti akan paham. Atau lo kasih ketemu aja bokap lo sama Zahra, mungkin saja nanti mereka bisa akur," gumam Fira.


Leon terdiam sejenak, apa mungkin dia harus mempertemukan Zahra dengan ayah angkatnya. Tetapi bagaimana kalau nanti ayahnya jadi menyayangi wanita itu dan tidak jadi menghukumnya.


"Itu bukan ide yang bagus," tolak Leon yang tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh Fira barusan.


"Bagaimana pun, papah angkat lo juga punya anak, masa lo gak mau mempertemukan mereka. Apalagi lo bilang sendiri kalau bokap lo gak tahu tentang anaknya yang masih hidup."


Leon terdiam sejenak, hingga terdengar ketukan pintu dari luar. Terdengar suara Lena yang mengetuk pintu. Dia mendengus kesal karena hal tersebut.


"Hei kalian, lagi bikin bayi yah. Di kamar berdua sambil dikunci segala!" ujar Lena sambil berteriak.


Fira terkejut ketika mendengar ucapan frontal dari Lena barusan, lagian Leon pake acara mengunci kamar segala, membuat orang malah jadi salah paham jadinya.

__ADS_1


"Anak itu, ganggu saja!" maki Leon yang akhirnya handak akan membuka pintu kamarnya.


"Gue ke kamar mandi dulu, mau ganti pakaian," gumam Fira yang mengambil baju ganti dirinya di lemari sebelah Leon, lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Leon membukakan pintu untuk Lena yang ada diluar.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Lo ngapain sih pake kunci kamar segala, apalagi gue tahu kalau Fira ada di dalam," gumam Lena.


"Yah terus kenapa kalau dia ada di dalam, harusnya lo bersyukur dong sama gue, siapa tahu bisa dapat keponakan yang unyu dari gue nanti," gumam Leon dengan asal tetapi malah mendapat satu pukulan di kepalanya oleh Lena.


"Nikah dulu baru kawin, otak lo yah kadang-kadang!" sergah Lena sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi lo gak mau punya keponakan unyu dari gue?" canda Leon.


"Bukanya gak mau, lo aja belum bisa menguasai bisnis Daddy. Bagaimana bisa nanti lo nafkahi dia!" ujar Lena.


"Gue udah menguasai bisnis papah, kalau Daddy yah itu nanti buat lo saja," ujar Leon.


"Gak yah, gue lebih milih kerja di butik nanti, nerusin bisnis mommy," gumam Lena.


"Lo mau nanti suatu saat anak lo bernasib sama kaya gitu, kurang kasih sayang kedua orangtuanya karena sibuk, gue harap lo gak kerja di sana," saran Leon.


Lena terdiam, dia memang menyadari kesibukan kedua orangtuanya selama ini. Bahkan jarang sekali bertemu dengan mereka.


"Aaa..."


Lena dan Leon saling tatap satu sama lain, apalagi mereka berdua barusan mendengar sebuah teriakan dari seseorang.


"Fira," gumam Leon yang langsung berdiri karena merasa khawatir takut terjadi sesuatu dengan wanita itu.


"Kenapa dia berteriak?" tanya Lena bingung.


Leon akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi karena khawatir dengan Fira. Begitu pun dengan Lena yang ikut masuk ke dalam.


"Fira, lo kenapa?" tanya Leon.


"Fira," panggil Lena juga.


Tidak ada sahutan sama sekali dan ini membuat Leon dan juga Lena malah kebingungan. Ada apa dengan Fira sebenarnya.


"Lebih baik lo dobrak pintunya, gue khawatir sama dia," ujar Lena.


Leon mengangguk dan akhirnya dia berusaha untuk mendobrak pintu dengan kekuatannya. Beberapa kali dia berusaha untuk membukanya. Sampai pada akhirnya dia berhasil membuka pintu tersebut.


Bruk


"Ya ampun, Fira."

__ADS_1


__ADS_2