
Bu Sinta tiba-tiba masuk ke dalam ruangan di mana tempat Leon berada. Dia disuruh oleh kepala sekolah untuk memanggil Leon ke dalam ruangan.
"Mana yang namanya Leon? Dia harus menghadap ke ruangan kepala sekolah!"
Bu Sinta mengatakan itu dengan tegas, lalu dia pergi begitu saja setelah mengatakan itu kepada siswa.
Semua orang yang ada di sini berbisik-bisik karena
Leon dipanggil ke ruangan kepala sekolah.
Dino menatap kearah Leon ketika pria itu harus dipanggil ke ruangan kepala sekolah. "Lo gak buat masalah kan?" tanya Dino yang merasa khawatir dengan Leon. Pasalnya Dino tahu kakak orang yang masuk ke sana pasti ada hubungannya dengan Gumara.
"Tidak, emangnya kenapa?" tanya Leon yang kini terlihat heran. Dirinya sampai dipanggil ke ruangan kepala sekolah.
"Sama Gumara, lo gak buat kesal dia kan?" tanya Dino lagi.
Leon terdiam ketika nama Gumara disebut di sini, sekarang dia paham kalau semua ini ada hubungannya dengan Gumara. Pria itu pasti sengaja mengadu kepada ayahnya. Leon mengepalkan tangannya ketika tahu kalau ini semuanya memang ada hubungannya dengan Gumara.
Dino menepuk pundak Leon dengan sekilas saja, ada rasa khawatir dalam hatinya karena takut Leon akan pergi juga, sudah cukup dulu temannya yang terluka dan jangan sampai Lsok bernasib sama juga. " Kenapa lo malah melamun?"
"Eh sorry," gumam Leon yang kini membiasakan ekspresi wajahnya, Sebenarnya dia tadi melamun karena tiba-tiba ada sebuah ide terlintas di kepalanya. Leon sudah menemukan orang yang berkuasa di sekolah ini, yaitu Gumara. Hanya saja Leon belum punya bukti cukup kalau pelaku yang sudah membuat adiknya terluka adalah Gumara.
"Gue tahu, pasti lo takutkan? Kalau begitu nanti gue akan mengantar lo buat datang ke sana," gumam Dino yang merasa kasian dengan Leon. Bahkan Dino khawatir kalau Dino akan dikeluarkan dari sekolah.
Leon tersenyum ketika mendengar ucapan dari Dino barusan. Dia merasa kalau Dino sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Lo tenang saja, gue pasti baik-baik saja," jawab
Leon dengan santai.
"Lo yakin? Kalau ada apa-apa, jangan lupa panggil gue!" ujar Dino.
Leon menatap Dino yang mengkhawatirkan dirinya, dia bisa melihat dari sorot mata pria itu, sepertinya memang dia pernah mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.
"Gak usah khawatir, gue pergi dulu!" Pamit Leon.
Walaupun Leon mengatakan itu dengan santai, tetapi Dino masih merasa khawatir. Hingga dia melihat Leon yang akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruangan kepala sekolah.
Dino melihat kepergian dirinya saja, lalu dia memberanikan diri untuk berjalan menghampiri Fira setelah Leon pergi dari kelas ini.
"Ini semuanya gara-gara lo?" ujar Dino.
__ADS_1
"Apa sih gendut! Gak jelas banget!" maki Zahra memutar bola matanya jengah. Apalagi Zahra yang memang terlihat tidak suka dengan Dino yang menurutnya terlalu ikut campur dengan urusan dirinya.
"Gue lagi gak ngomong sama lo yah, tapi sama teman lo yang itu!" tunjuk Dino pada Fira dan menyalahkan wanita itu.
Fira yang merasa dirinya ditunjuk pun kini melihat kearah Dino dengan sekilas. "Gue tahu semuanya salah gue, tapi gue yakin kalau Leon akan baik-baik saja," gumam Fira mencoba untuk tenang.
Fira yakin kalau Leon akan bisa menghadapi semuanya. Leon juga memang melawan Gumara dan bukan tidak mungkin kalau Leon bisa mengalahkan ayahnya Gumara yang kepala sekolah itu.
Apalagi Fira mulai yakin kalau Leon bukan orang yang sembarang, pria itu bahkan berani membuat dia memberikan tawaran untuk menjadi pacarnya.
"Lo yakin?" bisik Sasha.
"Iya, Leon akan baik-baik saja," gumam Fira meyakinkan dirinya.
Dino menatap tajam ketiga wanita yang ada di hadapannya. Rasa bencinya masih mengalir karena mereka yang sudah membuat Lena jauh.
"Jangan sampai Leon bernasib sama seperti Lena! Gue gak akan memanfaatkan kalian!" marah Dino.
Zahra mendorong Dino dengan kasar, pembahasan itu begitu sangat sensitif sekarang ini. "Heh gendut! Mending lo pergi dari sini! Gue enak liat muka Lo!"
Dino kesal dengan Zahra, hingga bell terdengar dan semua orang sudah diperbolehkan untuk beristirahat. Dino keluar dari kelasnya dan dia merasa kesal.
Kalau bukan bertahan untuk Lena, dia tidak mungkin satu kelas dengan orang-orang seperti itu.
"Semoga Leon baik-baik saja."
Dino hanya bergumam dengan pelan, dia berdoa semoga Leon tidak akan mendapatkan masalah apapun juga. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Leon untuk saat ini.
***
Di ruangan kantor kepala sekolah.
Leon dengan sopan duduk di kursi berhadapan dengan kepala sekolah. Semua orang tahu kalau kepala sekolah ini adalah ayah dari Gumara. Leon sudah membuat Gumara terluka, itu akibatnya dia di panggil ke sini.
Bukan merasa khawatir, Leon justru malah merasa senang ketika dirinya disuruh masuk ke dalam ruangan ini. Dia akan melihat sendiri hukuman bagi orang yang tidak bersalah sama sekali.
"Kamu tahu, kenapa saya memanggil kamu ke sini?" ujar Rudi kepada Leon.
Leon pura-pura menunduk ketakutan sambil membenarkan kacamatanya. Memang di terlalu santai untuk saat ini, bahkan dia tidak bisa membayangkan kalau semuanya akan jadi lebih baik.
"Saya tidak tahu, Pak kepala sekolah. Saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Leon dengan tenang.
__ADS_1
Rudi menatap kearah Leon dengan sinis, bahkan pria cupu itu terlihat begitu tenang, dia tidak terlihat seperti orang ketakutan sama sekali n
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Gumara?" tanya Rudi. Leon sudah menebak dari awal kalau ini ada
hubungannya dengan Gumara. Anak dari kepala sekolah yang begitu sangat angkuh dan suka membalikan beberapa fakta yang nyata.
"Saya tidak melakukan apapun juga kepada
Gumara," jawab Leon.
"Kamu tidak melakukan apapun? Tetapi kamu sudah berani memukul dirinya hingga babak belur?" Rudi terlihat begitu emosi kepada Leon.
"Saya hanya membalas yang sudah dia lakukan kepada saya saja, jangan salahkan saya juga melakukan ini kepada anak Pak Rudi!" ujar Leon.
Rudi menunjuk kearah Leon dengan sinis. Baru kali ini dia melihat siswa yang begitu berani kepada dirinya. " Kamu tidak takut kalau saya mengeluarkan kamu dari sekolah ini hah!"
"Pak Rudi mengancam saya hanya karena anda adalah seorang kepala sekolah di sini," ujar Leon dengan tajam.
"Apa maksud perkataan kamu tidak sopan seperti itu kepada saya!" marah Rudi sambil menggebrak mejanya dengan keras.
"Anda menjadi kepala sekolah begitu tidak profesional, hanya karena ingin membela anak anda sendiri bahkan anda tidak melihat keberadaannya!"
"Bocah ingusan seperti kamu, saya akan mengeluarkan kamu dari sekolah!" ujar Rudi.
"Lakukan saja, saya tidak takut. Tetapi ada harus membuktikan dulu kalau saya bersalah kepada semua orang, baru saya dengan senang hati akan keluar dari sekolah ini," ujar Leon yang kini memberikan dirinya untuk melawan.
Rudi melihat anak itu yang menantang dirinya. " Saya terima tantangan kamu!"
Leon hanya tersenyum dengan penuh arti, dia tinggal minta ayahnya untuk dekat dengan donatur sekolah ini, dengan begitu dia akan mengalahkan Pak Rudi tadi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu karena sebentar lagi akan ada bell masuk," gumam Leon yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan ini.
Baru juga beberapa langkah setelah pergi dari ruangan kepala sekolah. Tiba-tiba ada yang menghampiri dirinya.
"Leon, Lo gak papa kan?" tanya Fira yang kini malah terlihat begitu khawatir. Apalagi dia tahu kalau ini ada hubungannya dengan Gumara.
"Lo tenang aja, gue baik-baik saja." Leon mengatakan itu dengan tenang, tetapi berbeda dengan Fira yang memang masih penasaran dengan kejadian yang sebenarnya antara mereka.
"Lo pasti berbohong kan? Lebih baik lo ikut gue sekarang ke taman belakang, lo bisa cerita di sana," ajak Fira yang memang sedikit paham kalau Leon orang yang sedikit misterius.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat Fira menarik tangan Leon, dia hanya ingin menguping pembicaraan antara mereka karena sebenarnya dia sedikit penasaran juga. Leon sampai di suruh ke ruangan kepala sekolah yang artinya ada hubungannya dengan Gumara.
__ADS_1
"Apa Leon yang sudah membuat Gumara terluka? Tetapi bagaimana bisa pria cupu itu bisa membuat Gumara terluka?"
BERSAMBUNG