
Zahra menatap kearah ibunya ketika mengetahui sebuah fakta kalau Darda masuk ke rumah sakit. Zahra sudah bisa menebak orang yang melakukan itu pasti ibunya.
Terlebih waktu itu Zahra sempat mendengar percakapan yang membuat dia terkejut. Dia bahkan tidak menyangka sama sekali dengan niat ibunya yang ingin membunuh saudaranya sendiri.
Zahra berjalan menuju kearah ibunya yang sedang duduk manis di kursi. Dengan pandangan santai sambil menyilangkan kakinya.
"Mamah yang melakukan itu semuanya?" tanya Zahra yang benar-benar menatap ibunya dengan tajam.
Yura yang mendengar itu pun malah tertawa dengan puas. Memang dia yang sudah melakukan itu. Tetapi bukan dia target utamanya. Melainkan Yuna, kakaknya sendiri. Salah sendiri karena Darda malah ikut campur dengan urusan dirinya.
"Kalau iya memangnya kenapa? Lagian target utamaku bukan dia."
Yura malah tertawa sambil melirik kearah anaknya. Dia mengakui kalau anaknya memang pintar, tetapi tujuan utamanya bukan untuk membunuh Darda melainkan ibunya. Darda saja yang terlalu ikut campur dengan urusan dirinya.
"Jadi benar, mamah ingin mencelakai Tante Yuna? Tetapi malah Darda yang jadi sasaran mereka," jelas Zahra.
Yura menatap Zahra dengan tajam, dia pikir siapa alasan dia melakukan ini semuanya. "Kamu tidak tahu, mamah melakukan ini semuanya untuk melindungi kamu!"
Zahra terdiam ketika mendengarkan ucapan dari ibunya. "Aku tidak akan melakukan itu kalau mamah sendiri memberitahu siapa ayahku!" marah Zahra.
Yura menatap kearah anaknya dengan tatapan tidak mau kalah. "Jangan katakan itu lagi! Semuanya demi kamu."
"Aku sudah tahu siapa ayahku sebenernya, jangan bilang kalau selama ini mamah adalah wanita simpanan!" ujar Zahra menghina ibunya sendiri.
Yura langsung menampar pipi anaknya karena dia tidak terima dengan tuduhan yang dikatakan oleh anaknya. "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu."
"Kenapa? Aku melihat pria itu sudah bahagia dengan keluarganya! Aku merasa iri karena tidak pernah merasakan sosok ayah!"
Yura terdiam ketika mendengar penuturan dari anaknya.Bocah ingusan itu tidak tahu tentang dirinya. Kadang Yura sendiri kesal dengan anak kandungnya sendiri tidak pernah paham dengan perjuangan dia selama ini.
"Zahra, semua ini mamah lakukan demi kamu!" teriak Yura mencoba untuk menjelaskan kepada anaknya.
"Terserah!" ketus Zahra yang tidak mau mendengarkan penjelasan dari ibunya. Lagian dia kesal karena ibunya tidak pernah berkata jujur yang sebenarnya tentang dirinya.
Hingga Zahra masuk ke dalam kamarnya dengan mendorong pintu kamarnya begitu keras.
"Anak itu!" marah Yura setelah melihat kepergian dari anaknya. Selama ini dia sudah berusaha untuk melindungi anaknya atas kelakuan yang dilakukannya itu.
Tetapi mengapa dia malah membahas hal yang dia benci. Dia benar-benar sudah dibuat kesal sekarang ini.
***
Di rumah sakit.
Darda berada di rumah sakit yang sama dengan Lena sekarang. Darda banyak mengeluarkan darah karena tusukan tersebut. Dia butuh transfusi darah tadi dan sudah lakukan.
__ADS_1
Hamdan merangkul istrinya yang kini tengah menangis. Istrinya merasa bersalah karena anaknya yang malah menggantikan dirinya.
"Yuna, kamu tenang dulu," jelas Hamdan.
"Aku khawatir dengan anak kita," gumam Yuna yang merasa bersalah. Bagaimana pun kalau tidak ada dia, mungkin semuanya tidak akan terjadi.
"Dia akan baik-baik saja. Dia adalah anak yang kuat ," jelas Hamdan berusaha menenangkan istrinya.
"Ini semuanya salah aku. Aku sudah sudah
membuat Darda jadi seperti ini." Yuna hanya bisa menangis dengan sendu.
Hamdan mengakui kalau dia juga salah di sini. Dia yang sudah menyuruh Darda untuk mengikuti Yuna karena merasa khawatir.
"Maafkan aku juga, sejujurnya aku yang sudah menyuruh Darda mengikuti dirimu. Jujur aku khawatir dengan keadaan kamu, apalagi aku tahu kalau kamu akan bertemu dengan adikmu," jelas Hamdan menceritakan semuanya pada istrinya.
Yuna terdiam ketika mendengar hal tersebut. Jadi suaminya yang menyuruh anaknya untuk mengikuti dirinya. "Seharusnya kamu tidak melakukan itu Hamdan!"
"Semuanya sudah terjadi Yuna. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Hamdan memeluk istrinya dengan erat. Hamdan yakin kalau ini semuanya ulah Yura, wanita busuk itu yang sudah berusaha untuk membuat anak dan istrinya celaka.
Hingga tak lama kemudian, Rehan dan Leon datang ke rumah sakit. Apalagi setelah mendengar keadaan Darda yang kini dibawa ke rumah sakit. Mereka berdua datang ke sini karena merasa khawatir. Leon juga sudah mengabari para temannya.
"Bagaimana keadaan Darda?" tanya Leon kepada kedua orangtuanya Darda yang sedang berpelukan.
Leon hanya mengangguk paham, dia berhadap keadaan Darda akan baik-baik saja. Apalagi kalau sampai Lena tahu dengan hal ini, wanita itu tidak bisa pura-pura koma lagi. Pasti ngamuk ingin melihat keadaan Darda.
Rehan melihat kearah Hamdan karena penasaran dengan kejadian yang sudah menimpa Darda. Bagaimana bisa terjadi?"
Hamdan melirik istrinya dengan sekilas. Lalu kembali melihat kearah Rehan sekarang. "aku menyuruh Darda untuk mengikuti istriku awalnya. Dia dicegat oleh orang yang tidak dikenal."
"Memangnya dia habis dari mana?" tanya Rehan.
Hamdan terdiam ketika mendengar Rehan mengatakan itu. Begitu juga dengan Yuna yang memilih untuk bungkam. Membuat Rehan sendiri kini malah merasa bingung. Mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Padahal siapa tahu Rehan bisa membantu untuk menyelidiki kasus ini.
"Kenapa kalian diam?" tanya Rehan.
Leon yang memang tahu pun, akhirnya dia yang memutuskan untuk angkat bicara. "Apa Bu Yuna bertemu dengan adiknya?"
"Adik?" Rehan teringat kalau Yuna hanya mempunyai satu adik.
Rehan langsung melotot ketika mendengar itu, dia langsung menatap Yuna dengan pandangan yang tajam. "Yuna, katakan yang sebenarnya? Adikmu sebenernya masih hidup hah!" marah Rehan.
Yuna hanya bisa menangis tidak bisa berkata apapun juga. Dia sulit sekali untuk menjelaskan semuanya untuk saat ini. Pikirannya hanya fokus dengan Darda yang sakit sekarang.
"Sudah Rehan, jangan bahas itu sekarang. Istriku masih syok dengan kejadian anakku!" balas Hamdan mencegah Rehan bertanya lebih dalam lagi.
__ADS_1
Sedangkan Rehan yang tampak kesal, akhirnya memutuskan untuk keluar dari sini, dia butuh sesuatu untuk dilampiaskan untuk saat ini. Apalagi dengan kenyataan kalau adiknya Yuna masih hidup. Selama ini dia mengira kalau wanita itu mati setelah melahirkan anak.
Membayangkan tentang anak, membuat Rehan kembali teringat dengan masa lalunya. Dia harus mengubur anak perempuannya dulu.
Leon yang melihat kearah papahnya pun heran. Papahnya pergi dengan begitu saja seperti merasa kecewa. Leon yakin kalau sudah terjadi sesuatu dengan papahnya.
"Om Hamdan, aku pamit nyusul papah."
Setelah mengatakan itu, akhirnya Leon memutuskan untuk mencari kepergian ayahnya. Dia merasa kalau ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Apalagi dia masih penasaran dengan foto yang waktu itu diperlihatkan oleh Darda.
Dia belum menemukan jawaban dari foto tersebut. Sampai matanya melihat kearah ayah angkatnya.
"Papah tunggu!"
Rehan menoleh kearah Leon yang menghampiri dirinya. "Kenapa Leon?"
"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada papah. Bisa kita bicara sebentar?" pinta Leon. Berharap kali ini ayah angkatnya itu mau berbicara dengan dirinya.
"Kalau begitu, kita ke kantin rumah sakit saja. Kita ngobrol di sana," ujar Rehan.
Leon akhirnya menuruti keinginan ayahnya. Hingga mereka berdua sampai di tempat tujuannya. Leon duduk bersama dengan Rehan.
"Sebenernya aku ingin menanyakan tentang hubungan ayah dengan adiknya ibunya Darda."
Rehan terdiam sejenak, tetapi akhirnya dia mengangguk. Lagian Leon juga sudah dewasa menurut Rehan, jadi dia juga boleh tahu.
"Kami dulu memang sempat dekat di masa lalu. Bahkan dia sempat dirumorkan meninggal oleh keluarganya," ujar Rehan membuat Leon terdiam, dia sama sekali tidak menyangka dengan hal ini. Mungkinkah ayahnya kecewa karena fakta sekarang kalau wanita itu masih hidup.
"Papah kecewa karena pada kenyataannya wanita itu masih hidup sampai sekarang?" tanya Leon.
Rehan hanya mengangguk membenarkan semuanya. Dia memang sedikit kecewa karena mengetahui fakta itu.
"Papah sudah lama tidak bertemu dengan dia lagi."
"Sedekat apa hubungan kalian?" tanya Leon.
Rehan tidak menjawab tentang hal tersebut. Sampai tiba-tiba Dino datang menghampiri Leon karena merasa khawatir juga.
"Lo ada di sini, gue nyari ruangan Darda gak tahu," ujar Dino.
Leon menghela napas panjang ketika melihat Dino yang tiba-tiba saja datang. Lalu Dino melihat kearah Rehan.
"Eh ada Om Rian di sini," ujar Dino yang tidak bisa membedakan Rehan dan Rian karena kembar. "Iya Dino. Oh yah Leon, papah pulang dulu." Rehan berpamitan memutuskan untuk pergi dari tempat ini.
"lya pah." Padahal dia ingin bicara lebih dalam lagi. Tetapi mungkin ini belum waktunya.
__ADS_1