SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
FIRA MENGAJAK KENCAN


__ADS_3

Di rumah milik Leon.


Dia sudah rapih dengan baju yang dia gunakan saat ini. Leon terdiam melihat yang terbaik untuk dirinya saat ini. Apalagi dia akan berkencan dengan Fira, mungkin ini pertama kalinya juga bagi Leon berkencan.


Indah melihat anaknya sambil menaikan sebelah alisnya. "Tumben kamu pakai baju rapih begitu. Apalagi tidak pakai kacamata seperti biasanya."


"Kamu masih menyamar kan Leon?" tanya Rian yang sedang menyesap kopinya. Melihat anaknya yang kini kembali kepada penampilan dirinya yang terdahulu.


"Iya Dad, tidak usah khawatir. Aku memang masih menyamar. Ini kan hari weekend jadi aku akan jalan-jalan. Tidak akan ada orang yang mencurigaiku," terang Leon kepada kedua orangtuanya.


"Bagus kalau begitu, bagaimana dengan perkembangan pelakunya? Apa kamu sudah menemukan jejaknya?" tanya Rian.


Leon mengangguk karena dia sedikitnya sudah menemukan jejaknya. "Aku sudah tahu teman terdekatnya Lena, orang yang Lena cintai dan orang yang selalu membully dirinya."


Rian kali ini melihat kearah anaknya, tidak diragukan lagi kalau Leon lebih cepat menemukan jejak tentang anaknya. "Bagus kalau begitu, selidik tentang mereka. Daddy yakin kalau mereka tahu kejadian tersebut!" ujar Rian.


"Daddy tenang saja, aku sedang menyelidiki semuanya."


Leon meyakinkan Daddy, setelah selesai sarapan akhirnya dia mengambil topi agar tidak terlalu ketahuan. Dia akan senang jika semuanya akan jadi lebih baik.


"Syukurlah kalau begitu." Rian merasa lebih tenang, dia tidak akan membiarkan pelaku yang sudah membuat anaknya hidup tenang begitu saja. Walaupun dia adalah seorang remaja sekalipun. Rian merasa bersalah karena dulu sibuk bekerja hingga tidak tahu anaknya menjadi korban bullying di sekolah. Begitu pun dengan istrinya yang hampir saja depresi ketika melihat keadaan anak perempuannya hampir merenggang nyawanya.


"Kalau aku berangkat dulu," ujar Leon yang kini menyalami tangan kedua orangtuanya dengan sopan. Walaupun Leon dulu tidak tinggal bersama mereka tetapi tetap sesekali Leon dulu sering datang ke sini. Jadi tidak caggung dan selalu berlaku sopan.


Leon juga tidak merasa dibuang oleh kedua orangtuanya ketika dia yang harus tinggal bersama dengan pamannya yang selalu dianggap sebagai ayahnya. Dia paham situasi juga karena pamannya yang memang belum menikah sampai sekarang dan hanya tinggal sendiri. Leon adalah obat pelipur lara pamannya yang tidak punya anak.


"Kamu mau naik apa?" tanya Indah kepada anaknya ketika melihat Leon akan pergi.


"Aku akan bawa motor lama," ujar Leon memberitahu ibunya.


"Kenapa gak bawa mobil kamu saja?" ujar Indah yang merasa khawatir dengan anaknya jika harus bawa motor. Apalagi suaminya sudah memberikan Leon mobil karena usai dia sudah 17 tahun.


"Kalau aku pakai mobil nanti, akan ada yang curiga," jawab Leon dengan santai menjelaskan itu kepada kedua orangtuanya.


"Memangnya siapa yang ingin kamu temui?" tanya Indah yang penasaran dengan anaknya.


"Sudah Indah, itu urusan anak muda. Daddy percaya sama kamu kok," ujar Rian yang membela anaknya.


Indah mendengus ketika anak laki-lakinya itu memiliki sifat yang sama dengan suaminya. Dia malah jadi kesal sekarang.


"Makasih yah Daddy. Aku berangkat!"


Leon akhirnya memutuskan keluar dari rumahnya.


Indah menatap kearah suaminya, dia mendengus sedikit kesal. "Kamu itu terlalu membiarkan dia, aku khawatir tahu!"

__ADS_1


"Anak laki-laki kita sangat kuat. Dia tinggal bersama saudaraku selama ini. Kamu tenang saja," jelas Rian menenangkan istrinya.


Indah hanya mengangguk saja sekarang, dia hanya bisa berdoa dan pasrah dengan semuanya.


"Habis ini, kita datang ke rumah sakit yah," ujar Indah yang merindukan anak perempuannya.


Rian hanya mengangguk, apalagi selama ini istrinya selalu memanjakan anak perempuannya. Sampai dia celaka sekarang ini, istrinya juga masih menyalahkan dirinya sendiri. Makanya Rian menyuruh anak laki-lakinya untuk kembali tinggal bersama dengan dirinya dan sekaligus menyelidiki kejadian yang terjadi dengan adiknya.


"lya, kita akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak perempuan kita," kata Rian merangkul istrinya dengan senang.


"Makasih banyak," gumam Indah yang merasa lebih tenang sekarang.


***


Semetara itu.


Leon melajukan motornya dengan kecepatan senang, hingga tak berapa lama kemudian. Dia sudah sampai di tempat yang memang dia tuju. Di mana lagi kalau bukan di rumah Amar.


Leon langsung masuk ke rumah milik Amar, dia duduk di kursinya hingga Amar yang sedang minum pun malah terkejut. Tidak ada yang mengetuk rumahnya tetapi main nyerobot masuk.


"Astaga, lo masuk rumah gak bilang, macam maling tahu gak!" marah Amar.


"Sudah jangan banyak drama kaya cewe deh lo! Lagian ini sudah gue anggap rumah sendiri juga."


Leon mengatakan itu dengan santai, lalu dia melihat kearah lain. "Lo harus nyimpen foto gue juga di sini, biar yang lain gak curiga."


"Kan udah gue kata! Dia pasti sedikit curiga!" balas Leon yang sudah pasti menduga hal tersebut. Fira memang orang yang penuh akan curiga.


"Gue sudah bilang sih ke dia kalau lo gak suka di foto!" balas Amar dengan santai. Dia memang sedikitnya sudah tahu kalau Leon jarang mau diajak foto.


"Dia percaya?" tanya Leon dengan penasaran. Pasalnya dia tahu kalau Fira memang tipe orang yang sedikit kepo. Apalagi dia tahu kalau Fira sepertinya juga sedang mengulik informasi dengan jati dirinya. Dia harus hati-hati sebenarnya dengan orang seperti Fira.


"Iya, dia percaya."


Leon mengangguk tenang, merasa bersyukur kalau memang Fira tidak merasa curiga sekali dengan dirinya.


Sampai terdengar suara ketukan dari pintu. Leon langsung melirik kearah Amar.


Baru juga Amar akan membukakan pintu rumahnya, tangannya langsung dicegah oleh Amar sekarang. " Kenapa?"


"Biar gue saja yang buka pintunya," jelas Leon.


Amar tersenyum karena dia tahu tamu yang datang ke sini siapa. Dia membiarkan Leon yang akan membukakan pintunya.


Leon membuka pintunya dan melihat Fira yang kini terus menatap dirinya. Wanita itu menatap dirinya tanpa berkedip. Membuat dia sedikit merasa merinding sekarang ini.

__ADS_1


"Kenapa lo menatap gue kaya gitu?" tanya Leon menaikan sebelah alisnya ketika Fira terus sama menatap dirinya.


"Ini beneran Lo kan Leon? Gue sama sekali tidak menyangka kalau beneran lo!"


Fira terlalu girang karena sekarang Leon tidak menampilkan sisi cupu yang selama ini dia lihat di sekolah. Dia benar-benar berbeda dari yang dia lihat


sekarang ini. "Mau jadi berangkatnya?" tanya Leon yang kini


mengambil topinya. Dia akan lebih senang memakai topi untuk menutupi wajahnya. Setidaknya tidak akan ada orang yang curiga nantinya.


"Kenapa lo mesti pake topi sih?" ujar Fira yang benar-benar dibuat kesal dengan Leon. Padahal kalau pria itu tidak pakai topi maka akan terlihat tampan sekali. Sayang banget malah pake topi seperti ini.


"Udah jangan banyak protes. Atau lo mau kalau gue kembali berpenampilan cupu?" tawar Leon dengan mata yang sulit untuk diartikan.


"Gak yah, udah lo kaya gini aja!" balas Fira.


Leon tersenyum ketika melihat kearah Fira, lalu dia melihat kearah wanita itu.


"Lo mau naik motor gue?" tanya Leon memperlihatkan motor lama yang memang sebenernya milik ayahnya dulu. Dia sengaja memakai motor itu agar tidak ketahuan oleh Fira kalau sebenarnya dia adalah orang kaya.


Penyamarannya akan terbongkar kalau dia saudara kandung dari Lena. Untuk saat ini, Leon lebih memilih Fira mengenalnya seperti ini. Tidak mengungkap identitas yang sebenarnya.


Fira melihat kearah motor butut yang ada di


pekarangan rumah ini. Dia belum terbiasa naik yang seperti ini. Apalagi nanti dia pasti akan ditertawakan oleh teman-temannya kalau sampai ketahuan.


"No! Lo gila yah. Ngajak gue pakai motor yang seperti itu! Pokoknya gue gak setuju!" tolak Fira yang memang tidak mau kalau sampai naik motor yang menurutnya sangat butut seperti ini.


Leon sudah bisa melihatnya, dia tahu kalau Fira memang wanita yang sedikit matre, artinya memang wanita itu tidak akan cocok dengan dirinya.


"Jadi lo mau gimana sekarang?" tanya Leon.


Fira berpikir sejenak, dia naik mobil ke sini bersama dengan supir pribadi tadi. Tidak akan jadi masalah juga jika dia mengajak Leon untuk pergi menggunakan mobilnya.


"Gimana kalau lo naik mobil gue aja? Lo gak keberatan kan?" tanya Fira terhadap Leon.


"Terserah lo aja! Lagian lo sendiri yang ngajak gue buat pergi kencan tadi kan?"


Fira tersenyum dengan melihat respon dari Leon barusan. Akhirnya dia menarik tangan Leon menuju kearah mobilnya. Dia akan pergi kencan sekarang.


"Oke kalau begitu, lo naik mobil gue!"


Fira terlalu bersemangat untuk berkencan dengan Leon sekarang ini. Dia akan menghabiskan waktu bersama sekarang.


"Akhirnya gue bisa pergi bersama lo, bukan dengan tampilan cupu lagi. Walaupun hanya sementara karena kasus Lena belum terungkap," batin Fira.

__ADS_1


Sedangkan dalam hati Leon, dia sendiri pun tidak mengerti bisa menurut begitu saja kepada Fira. Padahal sebelumnya dia memang tipe orang yang sulit untuk diatur sama sekali.


BERSAMBUNG


__ADS_2