
Yuna keluar dari kamarnya dan melihat kearah suaminya dan Rehan yang sedang berdiskusi. Dia datang menghampiri suaminya karena penasaran.
"Akhirnya kamu datang juga." Rehan mengatakan itu setelah melihat Yuna datang.
"Kenapa Rehan?"
Rehan langsung menatap Yuna dengan tajam. Bagaimana pun wanita itu telah menyembunyikan fakta tentang anaknya selama ini.
"Aku tidak tahu kalau selama ini kamu menyembunyikan fakta tentang satu anakku yang masih hidup, Yuna. Harusnya kamu bilang padaku tentang fakta ini!" ujar Rehan.
Yuna menatap kearah Rehan dengan pandangan penuh keberanian. "Harusnya kamu tanya sendiri pada adikku, bahkan hubungan kalian saja tidak jelas di masa lalu!" jelas Yuna.
Rehan terdiam ketika mendengar itu, memang hubungan mereka memang tidak jelas, tetapi dia bukan pria yang bisa lepas tanggungjawab begitu saja. Apalagi dengan kenyataan dan fakta yang baru saja terkuak. Kalau bukan karena kasus ini, mungkin dia tidak akan tahu anak ada yang masih hidup selama ini. Aku harus bertemu Yura untuk menyelesaikan semua masalah ini."
"Bahkan aku merasa kalau dia tidak mau bertemu dengan orang seperti dirimu lagi, Rehan. Jangan pernah kamu ganggu dia dengan kehidupan dia lagi," sergah Yuna yang memang tahu tentang adiknya selama ini.
Sedangkan Hamdan menepuk pundak Rehan dengan sekilas saja. "Aku hanya memberikan kamu peringatan untuk tidak gegabah. Anakmu yang sudah membuat Lena celaka."
"Aku tahu!"
Rehan mengatakan itu, lalu dia langsung keluar begitu saja dari rumah ini. Kalau Yura tidak mau bertemu dengan dirinya maka, dia sendiri yang harus menemuinya.
Sedangkan Yuna terdiam ketika melihat kepergian dari Rehan, sampai Hamdan merangkul pundak istrinya. "Semuanya saling berhubungan satu sama lain. Keponakan kamu yang jadi biang masalah dari awal hingga membuat adikmu membelanya. Tanpa kita sadari kalau anak kita yang pacaran dengan korbannya yaitu Lena. Sampai akhirnya Darda juga berlawanan dengan adikmu."
"Aku tidak ingin membalasnya," ujar Yuna. Posisi saat ini membuat dia merasa bingung, entah siapa yang akan dia bela sekarang. Apalagi dengan Rehan yang juga sudah mengetahui fakta tersebut. Dia juga pasti sama bingungnya dengan dirinya.
***
Semetara di tempat lain.
Lena melihat kearah Leon yang tidak jauh dari bangkunya. Bahkan Lena malah kepikiran tentang Zahra yang tidak ada di bangkunya. "Zahra belum masuk ke kelasnya."
Dino yang melihat bangku Zahra kosong dan hanya ada Sasha saja yang sedang duduk sendirian sambil membaca buku.
"Iya, dia ke mana? Jangan bilang kalau dia sedang merencanakan sesuatu?" tebak Dino.
"Bukannya tadi lo bilang kalau sedang bersama Gumara?" balas Fira ikut menimpali.
__ADS_1
"Itu dia, tadi Zahra bilang akan ke ruangan kepsek. Gumara juga begitu, mereka kayanya sedang diskusi tentang rumah Zahra yang diintai oleh seseorang," belas Lena.
"Udah fiks ini, kalau memang Zahra sedang merencanakan sesuatu."
Dino mengatakan itu, lalu dia melirik kearah Leon yang sedari tahu melamun. "Lo kenapa Leon?" tanya dino
"Gue keluar dulu,"
Leon berdiri begitu saja membuat Dino dan yang lain malah heran. Tidak biasanya Leon bersikap seperti itu. Dia yakin kalau ada hal yang disembunyikan oleh pria itu.
"Leon kenapa sih?" tanya Dino yang melihat raut wajah Leon berbeda dari biasanya. Auranya terlihat dingin dan malah banyak diam, dia yakin kalau Dino sekarang sedang ada masalah.
"Gue juga gak tahu, tapi dia malah kaya aneh gitu," gumam Lena.
Fira sendiri malah merasa penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Leon saja. Dia yakin kalau Leon pasti butuh teman untuk berbicara.
"Gue susul Leon," gumam Fira yang memutuskan untuk pergi.
Dino handak akan pergi juga, tetapi tangannya dicekal oleh Lena. "Biarkan Fira saja yang nyusul Leon."
Fira mengelilingi sekolah dan mencari keberadaan Leon sekarang, sampai akhirnya dia melihat sebuah asap rokok. Fira berjalan menuju tempat itu dan benar, rupanya itu adalah Leon.
"Leon."
Leon melihat kearah Fira. "Lo ikutan bolos pelajaran juga."
Bukan menjawab pertanyaan dari Leon, Fira malah menatap Leon yang terlihat banyak pikiran. "Lo sendiri tadi kenapa diam saja? Sekarang malah merokok kaya gitu. Lo lagi ada masalah?" tanya Fira yang akhirnya memutuskan untuk duduk disebelah Leon. Dia merasa sedikit penasaran dengan pria itu.
Leon tidak menjawabnya, dia hanya mengeluarkan ponselnya lalu memberikan itu kepada Fira. Dia memperlihatkan sendiri percakapan dirinya dengan papahnya.
Fira menerimanya dan dia membaca pesan tersebut. Papah Rehan nama yang ada di kontrak pesan tersebut.
(Hentikan penyelidikan tentang kasus Lena, ini permintaan dari papah)
Leon menjawab pesan tersebut. Sedangkan Fira hanya membaca pesan yang diberikan oleh Leon.
(Kenapa pah? Apa terjadi sesuatu?)
__ADS_1
Lalu Fira kembali membaca pesan dari Rehan yang membuat dia menaikan sebelah alisnya. (Anak kandung papah masih hidup dan pelakunya adalah anak papah)
Leon tidak membalas lagi di sini, Fira hanya membaca pesan tersebut saja. Lalu dia berpikir sejenak. Papahnya Lena dan Leon sama, apa papah Zahra juga sama? Mereka bersaudara?
"Jadi maksud lo, Zahra saudara lo? Kalian satu papah?" tanya Fira yang memang tidak tahu kalau orang yang dimaksud oleh papah itu adalah papah angkatnya.
"Itu bokap angkat gue, bukan bokap kandung gue. Kembaran bokap gue, yang artinya Zahra sepupu gue."
Fira hanya mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan oleh Leon barusan. Lalu dia teringat akan sesuatu.
"Jadi bokap lo meminta lo buat menghentikan kasus Lena karena itu?" gumam Fira yang tidak menyangka sama sekali. Pantas saja Leon merasa bimbang sekarang ini. Dia sudah pura-pura cupu untuk menemukan pelakunya tetapi kalau makin ke sini maka, akan susah.
Leon membuang kuntum rokoknya dengan sembarang, dia benar-benar tidak kuat lagi dengan semuanya. "Jujur gue kecewa dengan permintaan dari bokap angkat gue itu. Dia minta gue buat menghentikan kasus ini, padahal selama ini gue sudah berjuang untuk memberikan keadilan untuk Lena, tapi bokap angkat gue yang dulu mendukung buat mengusut kasus ini malah meminta gue buat menghentikannya!" ujar Leon yang memang tidak bisa marah sama sekali. Apalagi ini permintaan ayah angkatnya. Bisa dikatakan kalau selama ini juga Leon lebih dekat dengan ayah angkatnya dibandingkan dengan ayah dan ibu kandungnya.
"Lena tahu tentang ini?" tanya Fira penasaran.
"Dia belum tahu tentang ini, gue takut dia akan kecewa kalau mendengar pernyataan bokap angkat gue gumam Leon.
Fira menggenggam tangan Leon dengan erat. "Jadi ini yang membuat lo diam tadi," gumam Fira.
Leon mengangguk dan tanpa sadar, pria itu menyandarkan kepalanya kepada pundak Fira. Dia benar-benar lelah sekarang ini. Apalagi dengan permintaan papahnya untuk menghentikan kasus tentang Lena. Semudah itu kah papahnya mengatakan untuk menghentikan kasus tersebut hanya karena tahu kalau pelakunya adalah anak kandungnya sendiri.
"Gue bingung siapa yang harus gue bela sekarang. Kasus Lena gue usut pasti bokap akan kecewa. Tetapi kalau gue gak mengusut kasus ini, tidak akan ada keadilan untuk Lena," gumam Leon.
Fira hanya bisa mendengarkan curahan hati dari Leon, dia bisa melihat kalau pria itu sedang frustasi.
Apalagi dia sampai merokok segala seperti ini.
"Gue gak bisa memberikan saran buat lo, jalankan semua sesuai hati lo, pilih Lena yang jadi korban, atau pilih bokap lo yang ingin bela pelaku," gumam Fira.
Leon terdiam masih menyadarkan kepalanya pada pundak Fira, ada satu pencerahan dari ucapan wanita itu. Dia langsung tersenyum tipis sambil melirik kearah Fira. Wanita itu sedikit meneduhkan untuk dirinya sekarang.
"Gue gak bisa memilih," gumam Leon yang masih menyadarkan kepalanya pada pundak Fira.
Tanpa mereka sadari, posisi tersebut membuat seseorang yang tidak jauh dari sana malah tersenyum sinis. Orang tersebut mengambil ponselnya dan memotret adegan tersebut ke ponselnya.
"Gue akan memanfaatkan posisi ini," gumam seseorang yang sudah mendapatkan foto tentang Fira dan Leon.
__ADS_1