
Leon kini sudah sampai di tempat tujuannya sekarang. Dia membuka pintu rumah itu dengan sedikit tergesa. Dia yakin kalau sekarang Fira sudah tahu tentang dirinya. Ada rasa khawatir karena Fira pasti akan membenci dirinya.
"Fira!" teriak Leon dengan sedikit keras. Dia sudah tidak sabar ingin menjelaskan semuanya kepada Fira.
"Kenapa teriak-teriak begitu sih Leon?" tanya Amar yang sudah menduga kalau terjadi sesuatu dengan Leon. Raut wajah pria itu terlihat begitu panik.
"Fira mana?" panik Leon yang merasa takut kalau Fira akan pergi jauh dari dirinya. Apalagi Leon jadi merasa yakin dengan perkataan Fira yang sepertinya sudah tahu semuanya.
"Dia tadi diajak oleh Sasha untuk keluar," jawab Amar.
Leon mencekal kerah baju Amar dan menatap dirinya dengan tajam. "Lo yang sudah membongkar semua tentang gue?" balas Leon.
Amar menaikan sebelah alisnya heran, dia sama sekali tidak tahu dengan hal ini.
"Apa maksud lo hah!" balas Amar.
"Fira sudah mengetahui semua kalau gue bukan sepupu lo," jelas Leon membuat Amar terdiam. Dia tidak mengatakan apapun juga, tetapi Amar jadi teringat dengan Sasha.
"Sorry, bukan gue yang mengatakan itu. Tapi gue tahu siapa yang sudah mengatakan itu kepada Fira," jawab Amar mengingat tadi Sasha bersama dengan Fira. Dua wanita itu pasti banyak bercerita.
"Siapa?" tidak ada yang tahu tentang dirinya dengan Amar. Jika bukan Amar yang memberitahunya, lalu siapa?
"Sasha, mantan gue." Amar menundukkan kepalanya. Leon teringat dengan Sasha yang memang bertemu dengan Lena. Dia lupa kalau wanita itu pasti sudah kenal dengan Amar begitu lama.
"Ah sulit dipercaya." Leon jadi marah sendiri.
"Kalian kenapa pada ribut?" tanya Susan yang baru saja kekuar dari kamarnya. Tadi dia habis tidur siang sebentar.
"Maaf Tante, Leon lagi becanda saja nih, dia suka begitu." Amar menjelaskan kepada Susan agar tidak salah paham.
Sedangkan Leon hanya tersenyum tipis. Dia lupa kalau di rumah ini ada ibunya Fira juga. Dia jadi merasa tidak enak sekarang.
Sampai ponsel Amar berdering dan tiba-tiba ada telpon dari Sasha. Amar menaikan sebelah alisnya ketika Sasha yang menghubunginya. Bukannya wanita itu sekarang sedang bersama dengan Fira karena tadi izin bertemu dengan temannya di kafe edelweis.
"Sasha menelpon, gue angkat dulu."
Amar mengatakan itu, lalu dia langsung mengangkat telepon dari Sasha dan langsung menjauh dari mereka.
"Kenapa Sha?"
"Amar tolong gue, Fira dibawa oleh kepala sekolah."
"Apa? Kenapa bisa?" tanya Amar yang tidak menyangka kalau Fira akan dibawa oleh ayah tirinya.
"Gue tadi mau ketemuan dengan Zahra bersama Fira di kafe edelweis. Tempat biasa kita nongkrong. Gue juga gak tahu gimana Pak kepala sekolah bisa tahu kalau kita di sini," jelas Sasha.
"Dia di bawa ke mana sekarang?" tanya Amar.
"Gue gak tahu dia dibawa ke mana, mereka datang dengan banyak anak buah. Gue takut tadi, tapi lo gue sempat foto plat nomor kendaraannya."
__ADS_1
"Okeh kalau begitu lo tenang, kirim plat nomornya ke gue. Nanti gue sama Leon yang bantu cari Fira," jelas Amar.
"Baiklah Amar. Hati-hati."
Amar langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mendengar kabar buruk ini. Dia langsung berjalan menuju Leon dan juga ibunya Fira.
"Gawat!" panik Amar sekarang.
"Kenapa Amar?" tanya Susan menaikan sebelah alisnya heran.
"Itu, Fira dibawa oleh Pak Rudi," ujar Amar.
Leon yang mendengar itu pun langsung melotot, dia langsung mengepalkan tangannya karena mendengar hal tersebut. "Bukannya dari awal juga gue sudah memperingatkan, jangan bawa Fira keluar dari rumah."
Amar menundukkan kepalanya, "Gue minta maaf, tapi tadi Sasha yang bilang ingin bertemu dengan Zahra juga."
"Tante mohon, bawa Fira ke sini. Jangan sampai ayah tirinya menyakiti dia lagi," gumam Susan membayangkan nasib anaknya saat ini.
Leon melihat kearah Susan dengan sekilas. "Tante
tenang dulu yah. Sasha pasti akan diselamatkan."
"Terima kasih nak."
"Ayo Amar, kita pergi cari dia," ujar Leon.
Amar membuka ponselnya dulu sebelum pergi dengan Leon. Dia ingin melihat foto kendaraan yang dikirim oleh Sasha kepada dirinya.
Leon mengangguk sambil tersenyum tipis. Ini memudahkan dia untuk menemukan ke mana orang tersebut membawa Fira.
***
Semetara di tempat lain.
Fira sedang berusaha untuk memberontak dari orang-orang suruhan ayah tirinya. Dia ingin kabur dan sepertinya tidak bisa. Fira diduduk di kursi lalu tangan dan kakinya malah diikat dengan begitu kuat.
"Lepaskan!" berontak Fira yang tidak mau diikat seperti ini. Tetapi tidak ada satu orangpun yang mendengarkan perkataan dirinya.
"Jangan harap kami akan melepaskan lo."
Fira benar-benar dibawa ke tempat rumah kosong dan terlihat kumuh. Dia tidak tahu akan dibawa ke tempat yang seperti ini. Dia kira orang-orang ayah tirinya itu akan membawa dia ke tempat rumah Gumara.
"Kenapa kalian membawa gue ke tempat ini?" tanya Fira yang merasa heran.
"Apa lo berharap kalau kami akan membawa lo ke rumah mewah milik keluarga Pak Rudi? Tentu saja hal itu tidak akan terjadi lagi. Lo hanya akan dijadikan umpan di sini," gumam orang tersebut yang tidak tahu namanya.
"Maksud kalian apa ini hah?" marah Fira yang tidak tahu maksud dari perkataan orang tersebut.
"Banyak tanya, cepat ikat dia!"
__ADS_1
Orang suruhan itu mencekal tangan Fira dan mengikatnya. Sedangkan Fira berusaha untuk berontak tetapi orang-orang tersebut yang memang begitu sangat kuat.
Fira hanya mendengus kesal sekarang, apalagi dia tidak tahu berbuat apa. Semoga Sasha akan mengabari ibunya dan Leon. Dia berharap orang-orang tersebut bisa membantu dirinya.
"Apa kabar?" ujar orang tersebut sambil tersenyum sinis melihat kearah Fira.
Fira menatap orang tersebut dengan tajam. Ada rasa kebencian dalam matanya. Bisa-bisanya ibunya dulu tergoda oleh orang seperti itu.
"Lepaskan gue!" hardik Fira.
"Tidak akan pernah! Sampai orang itu muncul," gumam Rudi tertawa.
"Siapa orang yang lo maksud hah!" marah Fira yang berkata tidak sopan lagi kepada orang tersebut.
"Leon, apa kamu tidak penasaran dengan Leon, anakku sayang," ujar Rudi membuat Fira terdiam. Dia seperti mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. Fira bisa memancingnya Agara ayahnya mengatakan semuanya tentang Leon. Apalagi selama ini Fira tidak tahu Leon orang seperti apa.
"Gue gak penasaran!" balas Fira.
Rudi malah tertawa dengan puas, wanita itu tidak berkata sopan lagi kepada dirinya. Tidak juga berkata formal untuk menghargainya. Tetapi dia tidak peduli sama sekali dengan hal ini.
Ada hal penting yang dia katakan. "Leon mempunyai hubungan dengan Lena."
Deg...
Fira menaikkan sebelah alisnya, jangan sampai pikirannya benar. Fira takut kalau Leon adalah kekasih Lena. Tetapi yang dia tahu kalau Lena dekat dengan Darda.
"Hubungan apa?" tanya Fira.
Rudi hendak akan mengatakan semuanya kepada Fira, tetapi tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan kalau markas mereka sekarang diserang.
"Bos, markas kita diserang," ujar salah satu anak buahnya menghampiri Rudi.
"Siapa?" tanya Rudi. Tidak mungkin Leon bukan? Bocah itu tidak mungkin mengetahui tempat persembunyian dirinya dengan cepat.
"Sepertinya Leon dan semua anak buahnya datang ke sini."
Rudi mengepalkan tangannya, mengapa orang tersebut begitu mudah menemukan tempat persembunyian dirinya. Padahal dia sudah ingin bermain-main dulu dengan anak tirinya.
"Bedebah, kita harus ke sana."
"Bos, anak buah kita kalah semuanya," gumam anak buah yang lainnya yang kembali masuk dengan muka yang sudah bonyok. Dia tadi langsung kabur menghampiri bosnya ketika para temannya hampir tergeletak.
"Sial, kita harus segara pergi dari sini," gumam Rudi yang mendorong kursi Fira hingga membuat wanita itu jatuh.
Fira hanya meringis ketika kakinya yang sedikit merasa sakit, apalagi dia masih dalam keadaan terikat. Dia ditinggalkan sendirian, berharap Leon agar segera menyelamatkan dirinya dari tempat ini.
"Leon."
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
__ADS_1
Sekian dulu yaa
Sampai jumpa di part selanjutnya