SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Ada Apa Dengan Darda


__ADS_3

Di sekolah.


Leon merasa heran ketika melihat Darda yang hanya menyapa dirinya tetapi tidak menyapa Dino. Leon berjalan menuju ke kelasnya dan heran dengan tingkah Darda yang terlihat tidak suka dengan Dino.


"Lo lagi ada masalah dengan Darda?" bisik Leon ketika tadi berpapasan dengan pria itu. Bahkan malah terlihat berbeda menatap tajam Dino.


"Enggak tuh. Emangnya kenapa?" tanya Dino yang merasa heran sendiri. Bahkan dia tidak tahu mengapa Darda malah menatap dirinya dengan dingin.


"Gue merasa tatapan dia ke lo beda," ujar Leon.


Dino teringat dengan Darda yang waktu itu sempat datang ke rumah sakit. Tetapi pria itu tidak jadi datang. Apa mungkin Darda sudah mengetahui tentang hal ini.


"Kita temui dia pas istirahat nanti," jelas Leon. Dia juga penasaran sebenernya dengan Darda.


"Yaudah, nanti kita ke sana."


Leon hanya mengangguk, lalu matanya tertuju kepada Sasha dan Zahra yang kini duduk sebangku. Dia harus hati-hati dengan Zahra karena Leon tahu kalau Zahra punya hubungan spesial dengan Gumara.


"Woy, malah merhatiin dua cewe itu. Lo naksir sama dia?" tanya Dino.


"Ngaco loh," jawab Leon sambil memutar bola matanya jengah.


"Ingat Sasha udah milik Amar, jangan sampe lo nanti malah jadi salah paham dengan Amar," balas Dino memperingati Leon. Dia tidak ingin membuat semua pria berantem tanpa menyadari dirinya sendiri sudah membuat Darda marah.


Bukan itu yang dimaksud oleh Leon sebenernya. Gue lagi mikirin Zahra."


"Lo naksir Zahra? Gila, Fira bagaimana?" Dino malah heboh seperti wanita ketika membahas tentang hal ini.


"Bukan tentang perasaan Dino! Otak lo jadi lemot gara-gara kebanyakan makan," hina Leon karena Dino yang memang tidak paham, bukan masalah dia suka dengan Zahra. Tetapi dia curiga dengan Zahra. Terlihat mata-mata yang dirumah Gumara mengatakan kedekatan wanita itu dengan Gumara.


"Sial lo Leon, lagian lo kenapa malah memikirkan Zahra?" tanya Dino.


Leon membisikan sesuatu pada telinga Dino agar tidak ada yang mendengar perkataan mereka.


"Zahra dekat dengan Gumara."


"Maksud lo?" tanya Dino yang sama sekali tidak paham. Dino sendiri terkejut dengan perkataan Lain barusan. Bagaimana bisa seorang Zahra yang memang terlihat cuek itu bisa dekat dengan Gumara si tukang buli. Apalagi Gumara sendiri terobsesi dengan Fira bukan Zahra.


"Mereka punya hubungan, gue curiga dengan dia."


Dino terkejut ketika mendengar hal tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka dengan hal tersebut. Walaupun dia sebenernya sedikit tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia dengarkan hal ini.


"Lo gak lagi becanda kan? Kayanya gak mungkin kalau mereka punya hubungan khusus," ujar Dino yang tidak percaya sama sekali dengan kedekatan mereka.


"Gue serius. Anak buah gue sendiri yang bilang. Makanya dia harus hati-hati dengan dia."


Dino mengangguk paham sekarang. "Kok aneh yah


"Iya makanya, kita harus hati-hati sama dia, gue curiga kalau dia sergala berbulu domba," gumam Leon.

__ADS_1


Dino mengerti sekarang dengan perkataan dari Leon, dia harus memposisikan dirinya sendiri berhati-hati dengan Zahra. Jika felling Leon benar, maka dia harus mencari bukti keterlibatan Zahra juga.


***


Di kelas Darda, dia sedang melamun memikirkan tentang Lena. Dia baru tahu jika kedua orang tuanya Lena juga belum tahu kalau wanita itu sudah bangun dari koma. Namun, dia masih heran dengan alasan Lena yang menyembunyikan fakta ini. Terlebih yang mengetahui dia sudah bangun hanya Dino seorang. Bahkan Leon sendiri juga sepertinya tidak tahu dengan fakta ini.


Darda ingat kalau Dino kemarin tengah mengobrol dengan Lena di rumah sakit. Ada perasaan dalam hatinya yang memang tidak suka.


"Sial, membayangkan itu semuanya membuat gue kesal."


Darda tidak bisa melakukan apapun juga. Lalu dia menatap kearah Gumara yang memang sudah kembali masuk ke sekolah. Waktu diskors nya sudah habis dan dia sudah ke sekolah. Darda hanya menatapnya sekilas dan semoga pria itu tidak membuat kerusuhan di sini.


"Akhirnya lo sudah kembali lagi ke sekolah," ujar Raka yang bahagia saat melihat Gumara datang.


"Iya bro." Gumara hanya tersenyum melihat kedua teman akrabnya.


Deon teringat dengan Gumara yang waktu itu dia lihat bersama dengan Zahra. "Oh yah, sekarang lo dekatnya dengan Zahra yah, bukan Fira lagi?" tanya Deon.


"Berisik lo!"


Gumara mengalihkan pembicaraan ini karena dia takut dengan orang yang bisa saja melaporkan dia ke ayahnya. Lagian Gumara hanya menggunakan Zahra agar bisa bebas saja.


"Lo lupa yah Deon. Gumara kan juga bad boy, pemain wanita, jadi bebas dong mau sama siapa saja," bela Raka sambil tersenyum puas.


"Nah, tumben lo pintar," balas Gumara sambil


Sedangkan tidak jauh dari sana, diam-diam Darda mendengarkan perkataan Gumara dengan teman-temannya. Ada hal yang membuat dia terkejut juga.


Bagaimana bisa Gumara dekat dengan Zahra. Padahal yang dia tahu kalau Gumara saudara tirinya Fira dan terobsesi dengan wanita itu. Tetapi sekarang malah Gumara dekat dengan Zahra.


"Ada yang aneh di sini," batin Darda.


Dia akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya dan bertemu dengan Leon, kebetulan memang Darda beda kelas dengan Leon.


(Kita ketemuan di belakang sekolah)


Darda mengetik pesan kepada Leon untuk mengajak dia ketemuan. Siapa tahu memang Leon tahu tentang hal ini.


Setelah itu, Darda memutuskan untuk keluar kelasnya. Dia melihat kearah jam dan memang sebentar lagi akan istirahat. Tidak masalah jika dia keluar sekarang.


Darda menunggu kedatangan Leon yang akan menemui dirinya. Dia memang sedikit penasaran dengan kedekatan antara Gumara dengan Zahra.


"Udah lama?" tanya Leon ketika melihat Darda sedang duduk sendirian.


"Baru saja," jawab Darda.


"Lo kenapa ngajak gue ketemuan duluan? Padahal gue juga sebenernya ada yang ingin gue tanyanya sama lo."


"Kalau begitu lo duluan saja," ujar Darda.

__ADS_1


"Nggak, Lo duluan, karena lo yang ngajak gue ketemuan duluan. Pasti ada hal yang penting kan?" tanya Leon yang merasa yakin dengan Darda. Kalau tidak terlalu penting mungkin mereka akan bertemu di rumah sakit tempat Lena berada.


Darda menghela napas panjang, mungkin dirinya sekarang yang akan menyampaikan ini. "Gumara dan Zahra sejak kapan jadi dekat? Gue gak sengaja mendengar perkataan Gumara dan teman-temannya," jelas Darda yang pasti Leon tahu tentang hal ini.


Leon malah tertawa ketika mendengar hal tersebut, "Sekarang lo jadi tukang nguping juga yah," seru Leon.


"Sialan lo, gue serius!" ketus Darda yang memang serius mengatakan ini.


"Gue juga curiga. Zahra bisa saja terlihat dengan kejadian Lena," jawab Leon.


Darda tersenyum dengan Leon yang satu pemikiran dengan dirinya. "Gue juga mikir gitu. Lalu tadi lo bilang akan ada yang ditanyakan dengan gue, jadi lo mau nanya apa?" tanya Darda yang merasa penasaran.


"Kenapa tadi lo menatap Dino dengan sinis, apa lo lagi ada masalah dengan dia?" tanya Leon penasaran. Sebagai seorang pria, jelas Leon paham dengan tatapan tersebut seolah mengibarkan permusuhan antara keduanya.


Kalaupun akan beradu otot, sepertinya Dino yang akan kalah karena dia tidak terlalu jago berkelahi, belum lagi berat badannya yang memang susah menahan sesuatu.


"Dino menyembunyikan hal besar dari kita," bisik Darda dengan serius.


Leon menaikan sebelah alisnya heran, "maksud lo? Dia tidak mungkin melakukan itu."


Sampai akhirnya Dino sendiri datang menghampiri mereka berdua yang sedang berbicara. Darda langsung bersikap dingin ketika melihat Dino datang.


Leon kini menatap kearah Dino karena Darda tidak mungkin berbohong dengan hal ini. Dia jadi penasaran dengan rahasia yang dimaksud oleh Dino.


"Kenapa kalian menatap gue kaya gitu?" ujar Dino yang merasa takut. Apalagi dia tahu dua pria itu sangat jago berkelahi.


"Darda bilang kalau lo menyembunyikan rahasia terbesar, rahasia apa?" tanya Leon membuat Dino jadi keringat dingin sekarang.


Lalu Dino menatap kearah Darda untuk meminta penjelasan sekarang. Tetapi Darda sudah menatap dia sinis. Kemudian, Dino teringat dengan kejadian yang ada di rumah sakit.


"Katakan yang lo sembunyikan tentang Lena," ujar Darda.


Dino menundukkan kepalanya, dia sama saja mencari mati memang dari awal menyembunyikan fakta ini. Tetapi Lena memintanya untuk menyembunyikan fakta besar ini.


"Sorry sebelumnya gue gak bisa mengatakan ini semuanya. Gue gak tahu kalau sekarang lo sudah tahu yang sebenarnya Darda. Tetapi kalau lo penasaran, mending lo datang sendiri ke rumah sakit." Dino mengatakan itu karena sudah janji dengan Lena.


Sedangkan Leon menaikan sebelah alisnya, dia penasaran dengan pembahasan dua orang tersebut.


"Kenapa sebenarnya?" tanya Leon bingung.


"Habis pulang dari sekolah, kita datang ke rumah sakit. Gue gak mungkin mengatakan semuanya di sini


Dan buat lo Darda, gue harap lo gak salah paham sama gue. Bagaimana pun gue cuman tamanan saja dengan Lena."


Darda terdiam ketika mendengar perkataan dari Dino barusan. Begitu juga dengan Leon yang paham arah perkataan mereka. Rupanya ini tentang Lena.


"Okeh kalau begitu, kita akan datang ke rumah sakit


"Udah yah, gue lapar ingin ke kantin!" Dino mengatakan itu, setelah menjelaskan kepada dua orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2