
Leon kembali menuju kearah kamar Lena karena tahu kalau Fira sudah ada di sini.
Dia sudah menaruh barang-barang milik Fira ke kamar dirinya. Lagian Leon jarang tidur di kamarnya selama ini. "Tuh dia orangnya datang," ujar Lena ketika melihat Leon masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Leon menaikan sebelah alisnya ketika mendengar ucapan dari Lena. "lo lagi gibahin gue yah Len?" tuduh Leon..
"Kalau iya kenapa? Dasar kau manusia dingin!" ketus Lena yang kini malah menjewer telinga Leon.
Membuat Leon malah meringis kesal dengan perlakuan dari Lena. "Hei, lo baru bangun dari koma malah makin barbar!" ketus Leon.
"Habisnya lo malah jadi orang menyebalkan sekali. Bahkan lo bohongin Fira tentang hubungan kita, bilang kalau kita teman dari SMP," jelas Lena.
Fira hanya melihat pertengkaran unik dari dua orang yang ada di hadapannya. Bahkan dia lupa kalau dia penasaran dengan hubungan antara Leon dan Lena.
"Iya itu karena gue belum siap saja."
Lena lalu melirik kearah Fira karena ingin memberitahu wanita itu tentang hubungan dirinya selama ini dengan Leon.
"Fira, sebenarnya kami berdua itu bukan teman dari SMP tapi dari bayi eh salah deh. Kita udah jadi bestie pas dalam kandungan," jelas Lena dengan santai.
Berbeda dengan Fira yang kini malah mengerutkan keningnya, pertanda kalau memang wanita itu tidak paham dengan penjelasan dari Lena.
Leon malah tertawa ketika melihat ekspresi wajah Fira yang menurutnya sangat lucu. Leon sudah bisa menebak kalau Fira tidak paham dengan penjelasan dari Lena. Adiknya itu memang tidak bisa to the poin seperti dirinya. "Lihat ekspresi wajah Fira, dia gak paham sama ucapan lo Lena!"
Lena mengerucutkan bibirnya sambil menatap sinis Leon, mereka dari dulu emang jarang sekali akur. Walaupun begitu mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Apalagi mereka anak kembar tetapi seperti bukan anak kembar. Mungkin alasannya karena tidak tinggal bersama selama ini.
Lena akhirnya membisikan sesuatu kepada telinga Fira. "Gue sama si curut itu saudara kembar."
Fira membulatkan matanya, lalu dia menutup mulutnya tidak percaya. Dia benar-benar terkejut dengan fakta yang satu ini. Bahkan mereka terlihat sedikit berbeda, mungkin karena tidak sejenis. Leon laki-laki dan Lena adalah perempuan.
"Lo ngebisikin apa?" tanya Leon penasaran karena takut nanti Lena malah akan mengatakan hal yang aneh-aneh kepada Fira.
"Kepo lo curut!" balas Lena sambil menjulurkan lidahnya kepada Leon.
"Durhaka lo sama saudara sendiri. Gini-gini juga gue abang lo," ketus Leon kepada Lena.
"Abang beda 5 menit dong juga," ketus Lena sambil memutar bola matanya jengah.
"Jadi kalian kembar?" ujar Fira yang membuat Leon paham dengan yang dibisikkan oleh Lena barusan. Apalagi melihat tingkah kedua orang itu yang bertengkar seperti bukan saudara, membuat dia sedikit aneh.
"Gue sama Lena memang kembar. Sorry karena gue belum bisa jujur sama lo," jelas Leon akhirnya membongkar semua identitas dirinya. Leon tidak punya alasan lagi menyembunyikan identitasnya dari Fira. Bagaimana pun wanita itu tidak terlibat dalam kejadian yang menimpa Lena.
"Gue gak nyangka banget. Pantas lo ngotot ingin mengungkapkan keadilan untuk Lena, jadi rupanya ini," jelas Fira yang mengingat dulu Leon sampai menerima tawarannya untuk jadi pacarnya demi menemukan hal penting tentang Lena. Rupanya memang Lena adalah adik kembar dari Leon.
"Lo bisa tidur di kamar gue sebelah kamar Lena. Kalau begitu gue balik dulu," pamit Leon karena memang masih banyak urusan yang harus dia lakukan. Termasuk bertemu dengan Darda untuk menangkap kejahatan ibunya Zahra.
"Ini juga rumah lo, ngapain pake balik?" tanya Lena yang melihat Leon malah ingin pergi. Padahal Lena ingin sekali dekat dengan Kakak laki-lakinya itu yang memang jarang di rumah.
__ADS_1
"Berisik lo, suka-suka gue."
Leon mengatakan itu, sambil melirik kearah Fira dengan sekilas. Dia membisikan sesuatu kepada telinga Fira. "Jaga baik-baik kamar gue."
Leon pergi begitu saja setelah dia membisikkan hal tersebut kepada Fira. Sedangkan Fira hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia baru saja dikasih tahu bukan, kalau kamar yang nanti akan ditempati oleh dirinya memang kamar Leon.
Sedangkan Lena malah kepo dengan yang dibisikkan oleh Leon kepada Fira. "Dia membisikan apa ?" tanya Fira.
"Dia menyuruh untuk menjaga kamarnya saja," ujar Fira.
Lena malah tersenyum sendiri mendengar hal tersebut. Sepertinya Leon sengaja menyuruh Fira untuk tidur di kamar pria itu. Padahal di bawah masih ada kamar tamu sebenarnya.
"Ciee dia ingin lo tidur di kamarnya."
Lena hanya mengatakan hal seperti itu saja kepada Fira untuk menggoda wanita itu. Sedangkan Fira hanya tersenyum tipis karena Leon memberikan kepercayaan pada dirinya.
***
Semetara itu.
Darda memaksa ingin pulang juga ke rumahnya setelah tahu kalau Lena juga pulang. Dia akan masuk ke sekolah besok dan bisa bertemu dengan kekasihnya. Tetapi sebelum itu, dia harus memberitahu satu fakta kepada ibunya.
"Papah, mamah ke mana?" tanya Darda kepada Hamdan.
"Tadi dia sedang ke dapur. Dia akan membuatkan masakan kesukaan kamu," jelas Hamdan.
"Belum sempat, papah sibuk."
Darda sudah bisa menduganya kalau ayahnya pasti sibuk dengan bisnisnya. Tetapi satu fakta yang dia tahu sekarang.
"Sebenernya aku sudah tahu pelakunya. Tante Yura yang menyuruh orang untuk membunuh mamah."
"Kamu serius?" tanya Hamdan.
"Aku sendiri yang mendengar kalau Tante Yura sendiri mengubungi orang suruhannya untuk membunuh mamah."
Hamdan hanya mengangguk sambil mengepalkan tangannya, kali ini dia benar-benar sudah dibuat emosi dengan fakta yang satu ini.
"Kalau memang benar begitu, artinya kita harus melaporkan ini ke pihak berwajib atas tuduhan pembunuhan!" ujar Hamdan.
"Aku setuju papah," ujar Darda.
"Mamah tidak setuju!" Yuna tiba-tiba menghampiri anak dan suaminya sambil membawa sayur asem kesukaan dari Darda. Dia tadi sempat mendengar pembicaraan antara anak dan suaminya. Dia tidak mau kalau adiknya itu akan dimasukkan ke penjara. Bagaimana pun adiknya dulu pernah menderita dan Yuna tidak mau kalau sampai adiknya masuk penjara.
"Kenapa mamah tidak setuju?" tanya Darda yang memang penasaran dengan alasan ibunya. Padahal dia tahu kalau yang bersalah itu tantenya.
Yuna menaruh sayur buatannya di meja makan, di mana ada Hamdan dan juga Darda. "Pokonya mamah tidak mau. Bagaimana pun dia adalah saudaraku satu-satunya."
__ADS_1
"Tapi dia udah berusaha untuk membunuh kamu
Yuna, yang notabenenya adalah kakaknya sendiri," balas Hamdan.
"Benar mah, dia juga tega sama mamah, masa
mamah gak tega sama dia! Biarkan saja dia masuk ke penjara!" balas Darda.
Darda tidak habis pikir dengan ibunya, bahkan dia sama sifatnya seperti Lena yang tidak mau memenjarakan orang yang bersalah. Mungkin itu alasan dia menjadikan Lena kekasihnya. Karena sifatnya yang hampir sama dengan ibunya, mempunyai sifat lembut dan penyayang.
"Kamu jangan terlalu baik Yuna, anak kita yang hampir jadi korban. Walaupun dia adik kamu satu-satunya, dia juga sudah dikeluarkan dari keluarga besar karena kesalahannya sendiri!" jelas Hamdan.
Yuna tetap menggelengkan kepalanya, dia langsung berdiri karena tidak setuju dengan usulan anak dan suaminya. "Maaf, aku tetap tidak bisa."
Yuna berdiri dan langsung pergi begitu saja di dalam kamarnya. Hamdan menghela nafas ketika melihat kelakukan dari istrinya. Lalu dia menepuk pundak Darda.
"Ibumu memang sedikit keras kepala sama seperti dirimu, lihat sudah dinasehati malah tidak mau mendengarkan!" Hamdan mengatakan itu kepada Darda.
Sedangkan Darda hanya bisa tersenyum paham dengan semua ini.
Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Dia minta bantuan dari temannya karena akan menghubungi seseorang.
"Hallo," ujar Darda kepada orang yang ada seberang teleponnya.
"Kenapa lo hubungi gue?" tanya orang tersebut.
"Lo udah nyuruh Sasha buat datang ke rumah Zahra dan mengambil ponselnya kan?" tanya Darda.
"Gue udah kirim pesan ke dia, tetapi dia belum balas pesan dari gue, sepertinya dia sedang sibuk belajar. Apalagi lomba olimpiade sudah dekat," ujar Amar.
Dia hanya mengangguk paham saja dengan hal ini. Sekarang sudah tidak ada hal penting yang akan dia lakukan di sini. Semuanya sudah berjalan dengan lancar.
"Pokonya lo harus berhasil buat bujuk dia," ujar Darda.
"Iya lo tenang aja. Gue yang akan bujuk dia nanti. Kalau begitu gue tutup teleponnya."
Darda menaruh ponselnya ketika mendengar Amar yang menutup ponselnya. Dia harus menemukan bukti yang kuat untuk memenjarakan sepupu dan tantenya. Walaupun mungkin nanti ibunya dan Lena pasti akan marah padanya, tetapi dia harus melakukan itu.
"Papah akan bantu kamu untuk menyelidiki tentang pembunuh bayaran yang waktu itu. Pertama papah akan menangkap mereka dulu, dengan begitu nanti pasti mereka akan menyebutkan siapa dalangnya. Walaupun kita sudah tahu dalangnya. Tetapi polisi tetap tidak akan percaya karena tidak ada bukti," jelas Hamdan.
"Lalu bagaimana dengan mamah? Dia pasti akan membenci kita?" tanya Darda yang saat ini saja tahu ibunya menyayangi adiknya yang jahat.
"Nanti papah yang akan mengurusnya. Kamu tenang saja, besok kamu ke sekolah dan bersikap biasa saja kepada pelakunya," saran Hamdan.
"Baik pah. Aku akan melakukan itu."
next >>
__ADS_1
(71)Kembali Masuk Sekolah