SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
HARI SENIN LEON


__ADS_3

Fira sudah berada di kelas bersama dengan kedua teman-teman. Mereka tadi sudah melaksanakan upacara bendera karena hari ini memang kebetulan hari senin.


Setelah kemarin Fira menghabiskan hari weekend nya bersama dengan Leon, sambil meng-upload foto dirinya yang memakai topi, membuat semua teman-temannya malah jadi kepo.


"Jadi ceritanya lo mau putus saja si cupu dan pacaran sama yang pakai topi kemarin," gumam Zahra mengingat kemarin Fira mengposting foto seorang pria yang lebih keren. Walaupun dia tidak tahu orang tersebut dan sepertinya memang bukan bersekolah di sini.


"Iya nih, lo gak bilang kalau udah punya gebetan baru!" balas Sasha.


Fira menatap kearah dua temannya yang memang sedikit kepo tersebut. "Pertama gue gak akan putus dari Leon. Kedua dia bukan gebetan gue!" jawab Fira seadanya.


"Jadi dia bukan gebetan lo, boleh dong buat gue yang jomblo," gumam Sasha yang langsung mendapatkan pukulan di kepalanya oleh Zahra.


"Bukannya lo mau sama Darda yah, atau lo masih belum move on sama mantan lo yang beda sekolah itu," sindir Zahra.


"Gue gak perduli lagi dengan Darda, bukannya dia sudah jadi pria dingin yah. Apalagi kayanya dia murung semenjak Lena celaka," gumam Sasha mengingat sikap Darda yang sekarang sudah berbeda. Lagian dia juga masih memikirkan tentang mantannya yang beda sekolah dengan dirinya. Gara-gara dulu dia hampir tergoda oleh Darda, jadi memutuskan kekasihnya.


"Berati lo masih cinta sama mantan lo kan?" tanya Zahra menatap kearah Sasha. Itu juga alasan mengapa Sasha sampai sekarang masih jomblo. Dia belum bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Sasha malah terdiam, sudah lama sekali dia tidak berkirim kabar dengan mantannya yang memang sudah lama sekali. Apalagi dengan jarak mereka yang jauh. Bahkan Sasha juga sudah lama tidak main ke rumah pria itu.


"Apa sih kalian malah bahas mantan," balas Fira memutar bola matanya jengah. Apalagi Fira yang pacaran jarang pakai hati, banyak mengecewakan banyak pria.


"Jadi cowo itu siapa?" tanya Zahra yang penasaran dengan cowo yang di-posting oleh Fira. Dia yakin kalau pria itu bukan sembarang. Apalagi sampai Fira malah tidak menampilkan wajahnya.


"Hanya kebetulan bertemu saja di kafe edelweis tempat kita nongkrong, kita makan berdua dan gue foto dia secara diam-diam," bohong Fira karena dia masih ingin menyembunyikan identitas Leon.


"Kebetulan? Kok bisa?" tanya Sasha yang tidak menyangka sama sekali. Tetapi kalau dilihat memang Fira tipe orang yang bisa dekat dengan orang lain. Dia bisa asik dengan orang yang dikenalnya. Berbeda dengan Sasha yang memang begitu sulit dekat dengan orang yang menurut dirinya asing.


"Sudah ah, kalian jangan bahas tentang cowo itu lagi. Gue sendiri saja udah lupa!" balas Fira dengan berbohong.


Dia memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin mengatakan itu pada semua orang saat ini. Lalu, kini matanya melirik kearah belakang. Dia menaikan sebelah alisnya ketika tidak melihat Leon dan Dino.


"Leon dan Dino kok gak ada?" batin Fira ketika melihat dia cowo itu tak ada ditempatnya.


Sasha menyadari pandangan mata Fira yang menoleh ke belakang. "Lo lagi cari pacar taruhan lo yah, dia gak ada di kelas," gumam Sasha.


"Ke mana dia?" tanya Fira menaikan sebelah alisnya karena dia merasa heran. Leon belum datang ke kelas padahal ini sudah jam pelajaran pertama setelah upacara. Tiba-tiba dia merasa khawatir takut Gumara akan menyakitinya.

__ADS_1


"Paling juga ke kantin, lo kaya gak tahu saja si gendut itu suka makan banyak. Pasti Leon menemani dia," jelas Sasha.


Fira hanya mengangguk paham, bisa masuk akal juga jika mereka memang saat ini pergi ke sana. Dia jadi sedikit merasa bersyukur untuk saat ini. Semoga dia gak bertemu dengan Gumara dan geng nya. Walaupun Leon bisa melawan Gumara dan jago berkelahi tetapi tetap saja Leon pasti yang nanti akan kena masalah bukan Gumara. Sebab Gumara adalah anak kepala sekolah.


"Lagian kenapa lo nyariin si cupu itu? Jangan bilang kalau sekarang selera lo turun beneran. Jadi lo udah benar cinta sama si cupu itu?" tebak Zahra sambil menertawakan Fira jika memang hal itu terjadi.


Berbeda dengan raut wajah Fira saat ini, dia sendiri mengakui kalau Leon sebenarnya adalah pria yang tampan. Dia sedang berpura-pura menjadi pria cupu saja. Tetapi jika dia mengakui semuanya, bukan tidak mungkin nanti Leon malah akan menjadi sasaran berikutnya dari Gumara.


"Apa sih kalian berdua, jangan meledek!"


Fira memalingkan wajahnya karena dia sedikit kesal. Padahal hatinya merasa sedikit gelisah karena takut kalau nanti Gumara bisa saja melakukan hal buruk pada Leon dan Dino.


***


Semetara itu. Dino yang memang sudah selesai upacara tiba-tiba tangannya ditarik oleh Leon. Dia merasa heran mengapa Leon malah menarik tangannya seperti ini.


"Kenapa tangan gue di tarik?" tanya Dino yang merasa heran sendiri.


"Ikut gue!"


Leon mengatakan itu dan mengajak Dino ke tempat yang memang sepi. Dia sengaja mengajak Dino ke tempat sepi karena ada hal yang penting yang ingin dia bicarakan. Ini tentang video kemarin ketika Darda bersama dengan Dino di rumah sakit.


Leon mendorong Dino dengan keras ke tembok. Dia belum sepenuhnya percaya dengan Dino sekarang. Apalagi setelah melihat dia bersama dengan Darda di rumah sakit waktu itu.


"Lo punya hubungan apa dengan Darda hah!"


"Maksud lo apa sih? Gue gak ngerti!" balas Dino dengan pandangan yang sedikit heran.


Leon menatap tajam kearah Dino, "Gue punya video


kalau lo sama Darda ada di rumah sakit mutiara. Lo cuman pura-pura buat bantu gue menemukan pelaku yang sebenarnya kan?" tuduh Leon dengan sinis.


Dino menggelengkan kepalanya, Leon sudah salah paham dengan dirinya. Justru Dino hanya memberikan pelajaran untuk Darda saja.


"Lo salah paham, gue tulus ingin membantu lo untuk mengungkap kasus tentang Lena. Lo harus tahu kalau Darda adalah seorang pengecut. Mereka sebenernya saling mencintai, tetapi Darda selalu mengabaikan Lena. Termasuk tentang pembullyan itu."


Dino mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Leon agar pria itu tidak salah paham kepada dirinya. Apalagi Dino sendiri bisa melihat sebuah amarah dari raut muka Leon.

__ADS_1


"Lalu kenapa lo ada di rumah sakit itu juga?" tanya Leon.


"Karena gue mau jenguk Lena. Ketika gue ke sana, Darda juga selalu ada di sana. Dia sama tidak bisa masuk ke dalam karena banyak yang berjaga di luar ruangan tersebut. Begitu pun dengan gue," jelas Dino menceritakan semuanya.


Bahkan dia dengan Darda kadang mengelabui para penjaga bergantian sekedar untuk melihat keadaan Lena. Itu alasan mengapa mereka bisa dibilang dekat. Tetapi tetap saja Dino tidak suka dengan Darda karena gara-gara itu, Lena jadi putus asa dan seperti hilang sama hidup dulu.


Bisa dibilang kalau dulu Dino adalah tempat keluh kesah Lena ketika disakiti oleh Darda, itu yang membuat Dino masih kadang kesal dan memakai Darda. Hanya itu saja?" tanya Leon.


"Gue dan Darda pernah melihat lo keluar dari ruangan Lena dengan mudah tanpa dihalangi oleh pengawal. Darda sempat ingin mengetahui tentang itu, makanya dia kembali datang ke rumah sakit, berharap lo akan ada di sana dan kita bisa menjenguk Lena," jelas Dino menceritakan semuanya.


Kemarin memang Leon tidak datang ke rumah sakit karena dia habis kencan dengan Lena. Dia lupa dengan hal ini.


"Lo tahu Dino, gue masih curiga kalau Darda juga terlibat dalam hal ini," bisik Leon pada telinga Dino.


"Darda? Gue rasa gak mungkin kalau dia pelakunya


," gumam Dino.


"Lo membela dia?" marah Leon dengan pandangan mata yang tajam.


"Bukan begitu maksud gue, selama ini Darda sebenarnya mencintai Lena, hanya saja dia terlalu pengecut, jadi gak mungkin kalau dia pelakunya," jelas Dino.


Leon terdiam ketika mendengar penjelasan dari Dino tersebut, tetapi dia butuh bukti kalau memang Darda tidak terlihat. "Gue akan tetap menuduh dia sebagai pelakunya karena gue gak punya bukti kalau dia bersalah."


"Sebenernya buktinya ada di ponsel Lena, tetapi ponsel wanita itu gak ada," gumam Dino.


"Ponsel Lena, ini juga yang sebenarnya gue cari. Ada orang yang memang sengaja menyembunyikan ponsel Lena agar kita semuanya tidak bisa menemukan buktinya!" gumam Leon yang tahu kalau memang ponsel milik adiknya tidak ada.


"Darda sudah mulai membuka hatinya untuk Lena, semua itu ada bukti pesan mereka yang hampir dekat tetapi saling menyembunyikan satu sama lain. Semuanya ada di ponsel itu," gumam Dino mengingat semuanya.


"Jadi maksud lo, Darda juga suka sama Lena. Tidak mungkin kalau dia menyakiti Lena?" tanya Leon.


"Iya itu maksud gue," jelas Dino.


"Bagaimana kalau itu hanya akal-akalan Darda saja agar bisa menyakiti Lena hingga seperti ini sekarang?" marah Leon yang kini memutuskan untuk berjalan kembali ke kelasnya.


Dino hanya terdiam, lalu dia mengikuti Leon untuk masuk ke dalam kelasnya. Dia tahu kalau saat ini Leon masih marah dengan dirinya. Dino juga terdiam karena perkataan Leon ada benarnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau memang ini hanya jebakan Darda saja, membuka hatinya untuk Lena, hanya untuk membuat wanita itu celaka," batin Dino.


__ADS_2