
Dino sedang di kantin bersama dengan Leon, dia memesan siomay yang begitu enak yang sekolah ini. Begitu pun dengan Leon yang dipesankan oleh Dino karena sedari tadi Leon malah diam tidak bicara sama sekali.
"Sekarang lo coba deh, pasti enak."
Leon hanya mengangguk tanpa berbicara sedikit pun kepada Dino. Entah mengapa memang sekarang moodnya sedang buruk.
"Lo masih marah sama gue tentang Darda, gue minta maaf deh," ujar Dino yang memang merasa kesepian karena Leon bersikap dingin. Satu hal yang Dino tahu kalau Leon memang bukan pria yang sembarangan. Dia jago berkelahi karena itu dia dikit takut nanti kena bogeman pas pria itu marah padanya.
Leon awalnya terdiam, lalu dia teringat dengan perkataan kedua ayahnya tentang anak Pak Hamdan. Mungkin saja Dino tahu semuanya, lagian dia juga tidak bisa marah kepada Dino. Pria gendut itu juga teman baiknya Lena.
"Gue akan maafin lo, asal lo jawab pertanyaan dari gue," ujar Leon yang kini kembali memulai pertanyaan.
Dino menaikan sebelah alisnya heran, "Pertanyaan
apa?"
"Tentang anaknya Pak Hamdan, apa lo tahu?" tanya
Leon.
Dino yang tadinya sedang makan pun tersedak karena pertanyaan dari Leon barusan. Dia memang tahu anak Pak Hamdan tetapi dia tidak akan mengatakan di tempat umum ini karena memang hanya beberapa orang saja yang tahu.
Dino mendekatkan wajahnya kepada telinga Leon dengan sedikit takut. "Gue tahu tetapi gak bisa gue jawab di sini."
Leon paham karena ini memang bersifat sedikit rahasia. Makanya Dino tidak berani mengatakan semuanya. Leon juga percaya kalau Dino akan mengatakan itu kalau dia tahu. Apalagi dia sudah berjanji akan memberitahu dirinya.
"Yaudah kalau begitu, kita pergi ke tempat lain," ajak Leon.
"Tunggu dulu, nanti gue akan cerita. Tetapi gue mau isi perut gue dulu karena lapar!" ujar Dino.
Leon mendengus sambil menatap kearah Dino. Pantas saja dia terlihat gemuk. Dino adalah tipe orang yang memang suka sekali doyan makan. Dia bahkan tidak percaya kalau semuanya malah jadi seperti ini.
Dino menikmati makannya, bersama dengan Leon di satu meja. Hingga ada yang menghampiri dirinya. Siapa lagi kalau bukan Fira.
"Gue ikut bergabung yah," pinta Fira yang melihat Leon ada di sini.
"Nggak! Biasanya juga lo bareng teman-teman lo
itu!" ketus Dino yang memutar bola matanya jengah. "Bacot lo gentong! Girls duduk di sini!" ujar Fira kepada Zahra dan juga Sasha.
Akhirnya mereka berdua Sasha dan Zahra ikut bergabung di sana. Walaupun sepertinya Zahra maling malas jika harus bergabung dengan orang-orang seperti Dino dan Leon.
"Kaya gak ada temat lain aja lo," ketus Zahra.
"Udah sih, jangan banyak protes. Gue masih mau dekat dengan pacar gue," ujar Fira yang malah mendapatkan ejekan dari Sasha.
"Jangan-jangan lo beneran punya perasaan dengan pria cupu itu," ejek Sasha yang tidak menyangka sama sekali.
"Lo gak lupa bukan, jika dia hanya taruhan saja," bisik Zahra ditelinga Fira agar tidak ada yang mendengar hal tersebut.
__ADS_1
Tetapi posisinya yang dekat dengan Fira malah Dino. Pria itu melotot dan sudah menduganya. Kalau Leon hanya dipermainkan oleh Fira. Dino sebagai teman jelas membela Leon, apalagi Dino paling tidak suka dengan ketiga wanita itu karena dulu meninggalkan Lena.
Jadi lo hanya menjadikan Leon taruhan saja?" marah Dino sambil mengebrak mejanya.
Semua siswa-siswi yang ada di kantin yang mendengar itu pun malah berbisik-bisik. Banyak dari mereka yang malah menertawakan dan menghina Leon.
Fira melotot kearah Zahra karena sudah mengatakan itu, jadi semua orang malah tahu kalau Leon dijadikan barang taruhan saja.
Dino melihat kearah Leon yang santai makan, dia tampak lebih tenang dari bisanya. "Lo kok santai dijadikan bahan taruhan oleh Fira!" marah Dino melirik kearah Leon.
Leon diam saja karena sedari awal sudah tahu kalau hanya dijadikan bahan taruhan oleh Fira saja. Jadi dia tidak emosi sama sekali untuk sekarang, lagian tujuan utamanya datang ke sini untuk menemukan pelaku yang sebenarnya. Kalau Fira ingin putus dan berpisah dengan dirinya maka, Leon tidak akan memaksa.
"Mungkin dia nerima kenyataan kali, kalau dijadikan bahan taruhan dong oleh Fira," sinis Zahra sambil menertawakan Leon yang tidak berkutik sama sekali. Pria itu bungkam seribu bahasa tetapi mampu membuat hati Fira merasa ketar-ketir tidak nyaman.
"Tapi aneh, kok dia gak marah?" tanya Sasha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat Leon yang begitu santai sambil makan, berbeda dengan Dino yang notabennya sebagai temannya malah sampai terbawa emosi.
"Leon? Lo baik-baik saja?" tanya Dino yang merasa khawatir dengan Leon sekarang. Dia takut nanti Leon malah akan lepas kendali dan berkelahi seperti waktu itu dia mengalahkan Gumara ketika menolong dirinya di toilet.
Fira menatap kearah Leon dengan perasaan bersalah, Fira tahu kalau Leon sudah tahu tentang taruhan tersebut. Tetapi perkataan temannya itu malah keterlaluan sudah merendahkan Leon.
"Leon, gue minta maaf."
Fira merasa tidak enak dengan Leon, apalagi sepertinya sorot mata Leon kini berbeda dari biasanya. Bagaimana kalau sekarang hubungan dirinya berakhir? Mengapa sekarang Fira malah tidak mau.
Sedangkan banyak siswa yang ada di sini malah
"Sudah gue duga kalau Fira tidak cinta beneran sama si cupu itu."
"Gak menyangka yah, hanya jadi bahan taruhan saja."
"Kasian juga si cupu."
"Gue dengar si cupu hebat bisa mengalahkan si Gumara."
Banyak dari mereka yang berbisik-bisik membicarakan tentang Leon dan juga Fira. Termasuk dengan hubungan mereka.
"BERBISIK KALIAN SEMUA!" teriak Fira kepada siswa yang ada di sini. Semua orang langsung terdiam karena sedikit
merasa takut. Apalagi melihat Fira yang sepertinya
marah.
Zahra malah tersenyum puas setelah dia mengatakan itu dan semua orang sudah tahu kalau Fira memang hanya menjadikan Leon sebagai bahan taruhan.
"Sudah lebih baik lo akhir saja hubungan lo dengan Leon."
Fira mendengus ketika mendengar perkataan dari Zahra. Padahal dia belum siap melepaskan Leon untuk saat ini. Entah kenapa dia lebih menyukai Leon sekarang.
Dino menatap kearah Leon yang sedari tadi diam saja. "Leon?" panggil Dino yang merasa khawatir.
__ADS_1
Leon melihat kearah makanan Dino yang sudah habis. Dia tidak suka dengan drama yang ada di sini, makanya dia memilih diam. Lagian ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan sekarang.
"Ayo kita pergi, bukannya lo sudah janji akan mengatakan tentang orang tersebut," ujar Leon kepada Dino dengan santai. Mengabaikan Fira sekarang.
Dino yang paham akhirnya mengangguk dan pergi bersama dengan Leon saat ini. Dia melewati Fira dengan begitu, tidak mengatakan sepatah kata pun.
Berbeda dengan Fira yang melihat kearah Leon."
"Leon," panggil Fira yang merasa bersalah. Leon tidak mengatakan atau menoleh kearah Fira,
membuat semua orang yang ada sini malah berasumsi kalau memang Leon marah kepada Fira.
Padahal dari awal memang Leon sudah tahu kalau memang dia mengajak pacaran untuk taruhan. Fira akhirnya memutuskan untuk kembali duduk di kursinya.
"Si cupu itu ngambek yah?" tanya Sasha.
"Udah sih, malah bagus dong kalau begitu. Fira dengan lebih mudah putus dari dia!" balas Zahra sambil tertawa bahagia.
"Gila, ekspresi nya dingin banget si cupu." Sasha melihat ekspresi wajah Leon tadi.
"Alah, paling juga sebentar lagi akan nangis di toilet, cowo cupu kaya dia," ejak Zahra menertawakan Leon.
Berbeda dengan ekspresi wajah Fira saat ini yang tidak suka dengan hinaan para temannya. Ada rasa yang tidak suka ketika dia harus berpisah dengan Leon. Apalagi dia sudah berjanji akan membantu anak itu untuk mengungkap kejadian Lena.
"Nggak yah, gue gak akan putus dari dia."
"Taruhannya sudah berakhir, lo juga udah memang sekarang, kenapa lo malah ingin mempertahankan dia? Tanya Zahra membuat Fira merasa gugup untuk menjawab semuanya.
"Iya, lo gak beneran suka dengan cowok cupu itu kan?" tebak Sasha.
"Atau ada yang lo sembunyikan tetapi gue gak tahu !" ujar Zahra dengan pandangan yang menyipit kepada
Fira.
Fira terdiam tidak mengatakan apapun juga, dia lebih memilih untuk mengejar Leon saat ini, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Leon saat ini.
Sasha melihat kearah Fira yang pergi dari sini, dia melirik kearah Zahra sekilas. "Fira kenapa? Kok aneh banget," ujar Sasha.
"Biarkan saja, nanti juga sadar sendiri. Mending kita pesan makan sekarang," ajak Zahra sambil tersenyum penuh arti.
Sasha hanya mengangguk paham, lalu dia memutuskan untuk bersama dengan Zahra di kantin sekolah.
"Semoga Fira baik-baik saja."
Jangan lupa follow, komen dan share teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..
Sekian dulu yaa😊
Sampai jumpa di part selanjutnya
__ADS_1