SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Leon Melihat Luka Fira


__ADS_3

Leon terdiam di rumahnya, dia hendak akan tertidur tetapi ada yang menghubunginya dirinya. Melihat kalau orang yang menghubunginya adalah seorang mata-mata di rumah Gumara. Membuat dia merasa senang karena bisa tahu keadaan Fira sekarang.


"Hallo Bos."


"Iya kenapa?" tanya Leon yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar bahagia ini.


"Saya hanya ingin memberitahu bos kalau anak perempuan dan istrinya Pak Rudi sudah keluar dari rumah tersebut. Saya yang membantu mereka untuk keluar."


Leon tersenyum mendengar hal tersebut, ada rasa syukur karena Fira dan ibunya sudah keluar dari rumah terkutuk itu. Dia merasa lebih tenang sekarang, tetapi ke mana mereka saat ini.


"Lalu sekarang mereka ke mana?" tanya Leon penasaran.


"Saya tidak tahu bos. Mereka tadi naik kendaraan umum, kebetulan saya tidak mengikutinya karena bisa ketahuan Pak Rudi."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak informasinya."


Leon langsung mematikan sambungan teleponnya, ada rasa kesal juga dalam hatinya sekarang. Di mana Fira berada? ke mana wanita itu pergi bersama dengan ibunya.


Leon harus mencarinya sekarang, tetapi kalau dia mencarinya. Nanti malah membuat Fira malah berpikir kalau dia peduli dengan wanita itu.


"Cari gak yah?" bingung Leon.


Di saat tengah gundah gulana seperti ini. Indah tiba-tiba mengetuk pintu kamar anaknya. Dia hanya ingin mengetahui sesuatu tentang anaknya.


"Mommy boleh masuk?"


Leon mendengar suara Indah dan mempersilahkan masuk. "Iya mommy, masuk saja."


Indah akhirnya masuk ke dalam kamar anaknya. Dia duduk di tepi ranjang melihat kearah Leon. Terlihat pria itu malah kebingungan entah apa yang dipikirkan nya.


"Ada apa Mom?" tanya Leon yang penasaran dengan kedatangan mommy nya.


Indah hanya tersenyum sekilas, dia hanya ingin mengabari sesuatu kepada anaknya.


"Nak, tadi mommy habis dari rumah sakit menjenguk adikmu."


Leon yakin kalau ada pembahasan yang serius dari ibunya sekarang. "Kenapa Mommy? Apa terjadi sesuatu dengan Lena?"


"Tidak terjadi sesuatu dengan adikmu. Hanya saja tadi ada seorang lelaki yang sedang menunggu dia dengan setia, apakah dia kekasih Lena?" tanya Indah.


Leon paham sekarang arah pembicaraan dari mommy nya tersebut. Rupanya dia ingin membicarakan tentang Darda. Tetapi bagaimana dia menjelaskan semuanya pada mommy nya.


"Dia namanya Darda, anak dari Pak Hamdan dan rekan bisnis Daddy dan Papah," jelas Leon.


Indah yang mendengar itu terkejut, lalu dia langsung tersenyum. Rupanya dia bukan anak yang sembarangan juga. "Jadi dia anak Pak Hamdan?"


"Iya, memangnya kenapa Mommy?" tanya Leon.


"Tidak, mommy sedikit bahagia mendengar hal ini. Mommy berharap adikmu akan segera bangun."

__ADS_1


"Semoga yah mommy."


"Kalau begitu, mommy pergi dulu ke kamar, Daddy pasti mencari."


Leon hanya memperhatikan kepergian dari mommy saja. Dia menghela napasnya pelan karena mommy nya hanya menanyakan hal itu. Begitulah sifat mommy nya yang sok sibuk bahkan Lena saja dulu merasa terabaikan, tetapi sebenarnya dia begitu peduli. Sifatnya hampir sama dengan dirinya.


Sampai akhirnya ponsel Leon kembali berdering ada sebuah notifikasi masuk. Leon membaca pesan tersebut yang rupanya itu pesan dari Amar. Dia menaikan sebelah alisnya awalnya dan tiba-tiba tersenyum.


(Fira sekarang ada di rumah gue, kalau lo mau liat keadaan nya mending ke sini).


"Rupanya sekarang Fira ada di rumah Amar,"


gumam Leon yang kini merasa sedikit tenang.


Leon teringat juga kalau dia selama ini berpura-pura kepada Fira kalau dia tinggal di rumah Amar. Kalau dia tidak ke sana sekarang nanti yang ada malah Fira akan curiga kepada dirinya.


"Gue harus ke sana," batin Leon yang sebenarnya penasaran juga.


Akhirnya Leon mengambil jaket yang dia gunakan, dan akhirnya dia akan berjalan keluar. Ketika dia hendak keluar, ada Indah yang melihatnya.


"Kamu mau ke mana Leon?"


Leon menoleh kearah ibunya dengan sekilas. "Aku mau menginap di rumah Amar. Sepertinya aku tidak bisa tidur di kamar, aku pergi dulu mom."


Leon mengatakan itu, lalu dia memutuskan untuk naik motor ninja warna putih milik dirinya. Dia hanya ingin memastikan keadaan Fira sendiri untuk saat ini.


***


Dia membuka pintu rumah tersebut dan langsung melihat punggung Fira yang penuh dengan darah sedang diobati oleh ibunya.


"Leon," ujar Amar ketika melihat kearah Leon datang. Begitu pun dengan Susan dan Fira yang masih memunggungi dirinya. Dia tidak boleh bergerak karena lukanya tengah diobati.


"Siapa dia?" tanya Susan yang memang tidak tahu kepada Leon.


Amar tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu. Dia sengaja menggoda Leon di hadapan ibunya Fira. Amar sudah tahu kalau Leon punya gengsi yang selangit, kalau tidak maka, dia tidak akan menyuruh mata-mata itu untuk membawa Fira kabur. Tetapi dirinya sendiri yang datang ke rumah Pak Rudi seharusnya.


"Dia pacarnya Fira, Tante." Amar mengatakan itu sambil tersenyum tanpa dosa sana sekali.


Sedangkan Leon hanya melotot kearah Amar sambil menginjak kakinya. Ada perasaan kesal karena Amar malah mengatakan itu diharapkan ibunya Fira. Bahkan hubungan mereka pun sudah berakhir karena memang dulu hanya taruhan saja.


"Benar nak?" tanya Susan kepada anaknya dengan penasaran. Apalagi Susan tahu kalau selama ini, Gumara yang notabenenya saudara tirinya Fira selalu posesif padanya kadang-kadang. Bahkan Susan tahu kalau Gumara selalu membully orang yang dekat dengan Fira.


"Kita sudah putus mah," jawab Fira sedikit gugup menahan rasa sakit dipungungnya.


"Putus? Apa karena Gumara?" tanya Susan dengan hati-hati.


Fira terdiam begitu pun dengan Leon, kali ini memang mereka bukan putus karena Gumara. Melainkan Leon yang memilih untuk mengakhiri hubungan dengan dirinya karena Leon mengira Fira juga terlibat.


"Bukan, mah. Kali ini bukan karena Gumara, jadi mamah tidak usah merasa khawatir," gumam Fira.

__ADS_1


"Maafin mamah nak, andai saja mamah tidak


Menikah dengan ayah Gumara. Mungkin kamu tidak akan seperti ini."


"Jangan bahas itu lagi mah. Semuanya sudah terjadi," gumam Fira.


Sedangkan Leon melirik kearah Amar dan fokus kembali kepada punggung Fira yang tengah diobati oleh ibunya. Ara perasaan yang tidak suka ketika melihat Amar melihat pugung Fira yang sedikit terbuka karena sedang diobati.


"Sebaiknya Tante dan Fira mengobati lukanya di kamar saja. Tidak enak kalau di sini, ada mata jelalatan," balas Leon membuat Amar melotot.


Dia juga di sini yang disalahkan. Padahal bilang saja kalau sebenarnya Leon tidak ingin melihat kalau Fira dilihat orang lain.


Susan mengangguk paham, lalu mengajak anaknya untuk ke kamar sekarang. Sedangkan Amar menunjuk kamar yang akan ditempati oleh Fira dan ibunya.


"Itu kamar tamunya, kalian bisa tidur di sana."


"Terima kasih banyak," jawab Susan dia Fira yang kini masuk ke dalam kamarnya.


Leon melirik kearah Fira yang tidak berkata apapun sedari tadi, dia sepertinya memang menahan rasa sakit. Apalagi Leon tahu sendiri dari mata-matanya tentang Fira yang memang disakiti oleh ayah tirinya.


Dia juga punya video penganiayaan Pak Rudi kepada istri dan anak tirinya. Suatu saat ini akan menjadi senjata dirinya melawan kepala sekolah.


"Kasian banget yah Fira," gumam Amar kepada Leon.


"Iya, gue tahu. Untuk sementara dia sudah dicoret dari daftar yang kita curigai itu. Melihat dia yang memang sering disiksa oleh ayah tirinya. Artinya memang Pak Rudi tidak mungkin melindungi Fira."


"Lo benar, gue juga dari awal gak percaya sih kalau cewe kaya gitu pelaku yang sebenarnya," gumam Amar.


Leon mengangguk setuju, lalu dia teringat dengan orang yang ada dibelakang Pak Rudi. "Lo udah dapat kabar dari Darda tentang pelaku yang sebenarnya?" tanya Leon pada Amar.


"Darda sudah mengamankan satpam tersebut. Dia bilang akan mengintegrasi nya besok bersama kita," jelas Amar.


"Bagus deh kalau begitu, besok kita ketemu di mana?" tanya Leon karena biasanya mereka akan bertemu di rumah sakit. Tetapi kali ini tidak mungkin kalau mereka akan ketemu di sana.


"Tempat Darda mengurung satpam tersebut, nanti Darda akan mengirimkan alamatnya."


"Baiklah kalau begitu," ujar Leon tenang.


Lalu Amar kembali melihat ke Leon yang masih ada di sini, sedangkan dia tahu kalau sekarang sudah malam. Jangan bilang kalau pria itu akan menginap juga di sini.


"Lo gak pulang? Fira sudah sudah diobati oleh ibunya," ujar Amar.


"Lo ngusir gue!" Marah Leon menatap Amar dengan tajam. Leon masih ingin di sini sebenernya, daripada di rumah dirinya sendiri yang luas. Tidak ada Lena juga yang selalu menganggu dirinya seperti dulu. Membuat dia merasa sepi ketika di rumah.


"Bukan begitu, di sini akan ada ibunya Fira juga. Jadi gue dan dia gak hanya berduaan saja dengan Fira," jelas Amar yang sedikit tahu kalau Leon diam-diam posesif pada Fira. Beruntung Amar sudah mengenal Leon sejak kecil, jadi dia bisa tahu tentang pria itu.


Leon menengok kembali kearah Amar. "Gue nginep di sini. Malas pulang, lagian lo udah biasa tidur satu ranjang bareng lo," balas Leon dengan tenang.


"Geli gue," umpat Amar yang merasa merinding sendiri.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak protes," gumam Leon yang kini masuk ke kamar Amar. Ada perasaan lega karena Fira sudah tidak tinggal di rumah Gumara lagi. Sekarang dia harus memikirkan cara agar PAK Rudi dan Gumara tidak bisa membawa balik Fira.


"Sebagai gantinya, nanti gue bantu lo buat balikan sama Sasha," gumam Leon yang melirik foto Sasha ada di kamar Amar.


__ADS_2