SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Lena Bangun Dari Koma


__ADS_3

Rumah sakit.


Dino datang ke rumah sakit seperti bisa. Tujuan dia datang ke sini adalah untuk menjenguk temannya. Dia menutup pintu ruangan ini dengan rapat agar tidak ada yang melihat dia. Beruntung sekali para penjaga juga sekarang sudah tidak berjaga di depan pintu ruangan Lena lagi. Melainkan hanya di depan pintu rumah sakit.


"Gue Dino," ujar Dino yang kini masuk ke dalam ruangan.


Dino akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi sambil menunggu Lena. "Gue tahu dua hari lalu lo sudah sadar," gumam Dino.


Lena akhirnya membuka matanya, dia melirik kearah Dino dengan sekilas. Hanya Dino yang mengetahui kalau Lena sudah sadar dari dua hari yang lalu. Lena terdiam kaku karena kakinya belum bisa digerakkan sama sekali.


"Tangan dan kaki gue masih belum bisa digerakkan ," gumam Lena pelan karena takut ada yang mendengar perkataan mereka di sini.


"Tapi sekarang lo udah percaya bukan kalau Darda begitu cinta sama lo, dia yang selalu menunggu lo buat bangun," ujar Dino memberitahu Lena yang sebenernya. Apalagi Dino sudah tahu kalau Darda dan Lena saling cinta satu sama lain. Dino yang awalnya tidak suka dengan Darda, sekarang sudah mulai mendukungnya.


"Gue tahu sekarang, dia rupanya benar mencintai gue." Lena mengira Darda hanya memberikan harapan palsu padanya. Tetapi pria itu benar-benar menginginkan dirinya, terlibih Lena tahu dua hari lalu Darda ada di sini tidur di rumah sakit menunggu dirinya dengan tulus. Walaupun Lena belum bisa memberitahu Darda kalau dia sudah sadar sekarang.


"Lagian kenapa sih lo malah ingin menyembunyikan keadaan lo yang sekarang kalau sebenarnya lo udah sadar," balas Dino yang merasa penasaran.


Padahal kalau semua orang tahu Lena sudah sadar dari masa komanya, pasti semua orang akan senang. Terutama Darda dan juga Leon yang tidak sabar menunggu dia sadar. Keluarga Lena juga pasti akan senang mendengar wanita itu sadar. Walaupun keluarga Lena pada sibuk, tetapi dia yakin kalau mereka senang.


"Karena keadaan gue yang sekarang belum sepenuhnya pulih. Gue sama sekali gak ingat dengan orang yang mendorong gue dari tangga rooftop sekolah itu."


Dino mendengus kesal dengan kenyataan ini, padahal dia berharap setelah Lena sadar, dia akan ingat dengan pelaku yang sudah membuat dia terluka. Agar kasus ini bisa diselesaikan dengan baik. Tetapi Lena sama sekali malah tidak mengingatnya.


"Padahal gue berharap setelah lo sadar dari koma itu, semua pelakunya tertangkap."


"Iya mau bagaimana lagi, gue gak ingat sama sekali dengan pelakunya." Lena hanya bisa pasrah saja dengan keadaan ini.


Dino hanya menghela napasnya kasar saja, lalu matanya melihat kearah Lena yang memang ada bekas luka sayatan yang membuat orang berpikir kalau Lena bukan hanya bunuh diri tetapi ada yang menyiksa sebelumnya.


"Luka lo yang sayatan itu, kenapa?" tanya Dino yang tahu.


"Waktu itu gue bantu pak satpam buat buka ruangan karena lupa kuncinya, dia pake pisau dan gue kena pisau karena itu. Tetapi bekasnya malah gak hilang. Buat luka yang ini juga Gus gak sengaja waktu itu keserempet mobil pada saat habis nolong Darda," jelas Lena kepada Dino.


Dino menaikan sebelah alisnya ketika mendengar hal tersebut. "Kok aneh yah." Apalagi dengan membuka kunci sekolah dengan pisau.


"Aneh kenapa?" tanya Lena.


"Harusnya satpam itu gak pakai pisau buat buka kunci. Apa nama orang itu Pak Hadi?" tanya Dino mengingat nama orang tersebut. Siapa tahu memang benar dugaan dirinya. Kalau memang benar Pak Hadi yang melakukan itu padanya.


"Kok lo tahu?" tanya Lena.


Dino menghela nafasnya, rupanya benar orang jahat itu yang melakukannya. "Dia kaki tangan kepala sekolah. Dia orang yang selama ini meneror Darda untuk tidak mengusut tuntas kasus lo," jelas Dino.

__ADS_1


"Apa? Darda diteror?" tanya Lena dan langsung mendapat bungkaman dari Dino. Bisa bahaya kalau Lena berteriak seperti itu.


"Jangan berisik. Lo gak mau kan kalau gue sampe di bunuh sama dua penjaga di luar."


"Sorry," ujar Lena sambil tertawa tipis. Dia lupa kalau memang Leon rupanya menyiapkan banyak penjaga.


"Kaki dan tangan lo masih belum bisa digerakkan?" tanya Dino yang melihat Lena hanya bisa berbaring saja.


"Gak bisa, gue takut lumpuh."


"Nggak lah, gue yakin kalau lo bisa sembuh, apa gue harus hubungi Darda dan kasih tahu dia kalau lo sudah sadar?" tanya Dino kepada Lena. Bagaimana pun, Darda harus tahu dengan keadaan Lena sekarang. Apalagi selama ini Dino tahu kalau Darda berharap Lena akan segara bangun.


"Jangan dulu. Gue mohon. Setidaknya setelah gue bisa berjalan nanti," mohon Lena. Dia sebenarnya belum percaya diri jika bertemu dengan Darda dalam keadaan dirinya yang memang masih terbilang kaku.


"Darda bisa ngamuk sama gue, apalagi Leon. Kalau tahu gue menyembunyikan fakta ini," ujar Dino memikirkan kemungkinan yang terjadi. Menghadapi dua orang tempramental seperti Leon dan Darda membuat dia sedikit khawatir.


"Plis, gue mohon. Gue punya rencana sendiri untuk menangkap pelakunya. Siapa tahu pelaku yang sebenarnya datang ke rumah sakit ini dan nemui gue di sini. Dia bisa mengakui semuanya selama dia tahu gue masih koma," jelas Lena.


Dino tidak punya pilihan lain kalau Lena sudah mengatakan hal yang seperti ini. Tetapi kalau Leon dan Darda tahu kalau dia menyembunyikan fakta ini. Pasti nanti kedua pria jago berkelahi itu bisa mengajar dirinya.


"Terserah lo saja, tapi gue mau kalau lo tanggungjawab nanti seandainya mereka semuanya marah sama gue," gumam Dino.


"Makasih yah Dino, lo emang baik banget. Gue doakan semoga lo bisa berjodoh dengan kakak kelas itu ," gumam Lena membuat Dino malu.


"Lo paling bisa buat gue tersenyum. Gue bawa ini,kita makan berdua. Lo udah lama gak makan ini kan?" tanya Dino tersenyum bahagia.


"Tapi tangan gue sulit untuk digerakkan," gumam Lena. Dia kembali mengeluh dan berusaha untuk kembali menggerakkan tangannya.


"Mau gue suapin?" tanya Dino yang baik.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tadi hendak akan masuk ke dalam ruangan ini. Tetapi tidak jadi, dia awalnya terkejut ketika melihat Lena yang benar-benar sudah membuka matanya.


Dia mengepalkan tangannya ketika ada Dino yang malah sedang tertawa sambil menyuapi Lena.


"Sialan lo Dino," maki Darda yang merasa cemburu ketika melihat kedekatan antara Lena dengan Dino.


Walaupun mereka bilang hanya sahabatan, tetapi tetap saja Darda merasa cemburu. Apalagi dia baru mengetahui kalau Lena rupanya sudah sadar.


Darda membalikan kembali badannya dan memutuskan untuk pergi dari sini. Sampai matanya melihat kearah Rehan yang memang tadi datang bersama dengan dirinya.


"Loh, kamu gak jadi jenguk Lena?" tanya Rehan merasa heran dengan Darda.


Darda menggelengkan kepalanya tanda kalau memang dia tidak jadi menjenguk Lena. Apalagi dia melihat Dino yang sedang menyuapi Lena. Dia sedikit kecewa karena bukan dia orang yang pertama melihat Lena bangun.

__ADS_1


"Di sana sudah ada Dino. Aku pamit pulang saja,"pamit Darda membuat Rehan bingung. Leon bilang kalau Dino dan Darda sudah berteman. Tetapi mengapa Darda terlihat begitu tidak nyaman.


"Kamu kan pacarnya. Memangnya kamu tidak rindu dengan kekasihmu?" goda Rehan yang tahu tentang hubungan Darda dengan Lena.


"Nanti saja, Om."


Darda langsung pergi keluar begitu saja. Mungkin dia sekarang tengah menahan emosinya.


Rehan menggelengkan kepalanya melihat itu. " Anak muda jaman sekarang," gumam Rehan.


Akhirnya Rehan memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tempat di mana Lena berada. Di sana ada Dino yang sedang duduk dengan makanan.


"Eh ada Om Rian."


Dino belum bisa membedakan antara Rehan dan Rian karena memang kembar. Dia selama ini mengira kalau mereka orang yang sama.


Rehan hanya tersenyum tipis saja kepada Dino. Tadi Darda sempat akan datang ke sini. Tetapi dia pulang lagi. Gak tahu karena apa," jelas Rehan membuat Dino terdiam.


Lena yang pura-pura memejamkan matanya karena belum memberitahu Rehan kalau dia sudah bangun. Dia mendengar hal tersebut dan dia yakin kalau Darda mungkin saja tahu kalau dia sudah bangun dan pria itu salah paham padanya.


Tetapi Lena tidak bisa melakukan apapun sekarang, dia masih dalam posisi seperti ini. Walaupun dalam hati, dia berharap kalau Darda tidak akan salah paham.


"Dia sempat akan masuk Om?" tanya Dino.


"Iya, tapi pulang lagi. Kayanya dia cemburu karena kamu ada di dalam," ujar Rehan.


Dino jadi yakin kalau Darda sekarang sudah tahu kalau Lena sudah sadar. Sekarang bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya pada Darda.


"Kalau begitu, saya pamit dulu Om Rian," ujar Dino pada Rehan yang langsung menyalami tangannya.


Rehan hanya mengangguk melihat kepergian dari Dino barusan. Lalu mata Rehan melihat kearah sudut bibir Lena yang masih nyangkut satu biji nasi. Tetapi dia hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya.


"Anak muda emang," gumam Rehan.


Jangan lupa follow, komen dan share  teman-teman! Terus masukin cerita ini ke reading list kalian atau bisa share cerita ini ke temen-temen kalian biar banyak yang baca hehe..


Sekian dulu yaa


Sampai jumpa di part selanjutnya


***


oh Iya mimin mau tanya, kalian baca novel suka kapan nich, biar mimin atur jadwal update nya 😁

__ADS_1


Komen dibawah yaa terimakasih!


__ADS_2