
Leon tidak mau Fira tinggal berdua dengan Amar. Akhirnya dia menyuruh Fira untuk tinggal di rumah kedua orangtuanya. Kalau pun nanti identitasnya akan ketahuan oleh Fira, dia sudah tidak khawatir lagi. Toh Lena juga sudah sadar dan dia sudah tahu pelaku yang sebenarnya.
"Ini rumah Lena?" tanya Fira ketika motor Leon berhenti di pekarangan rumah yang memang sedikit besar. Hampir sama dengan rumah Gumara, tetapi bedanya di sini tidak banyak penjaga seperti bodyguard.
Hanya ada satpam yang berjaga saja di depan pintu masuk.
"Iya, ini rumah Lena."
Fira turun dari motor milik Leon dan melihat para satpam itu menyambut Leon dengan ramah. Dia jadi berpikir kalau memang Leon begitu sangat dekat dengan keluarga Lena. Buktinya sampai satpam nya saja menyapa dia dengan ramah.
Belum lagi para ART di rumah ini begitu sangat sopan dengan Leon. Fira sudah berasumsi kalau memang Leon sudah sering datang sini. Ada rasa penasaran dengan kedekatan antara Fira dengan Leon.
"Lo kayanya dekat bangat yah dengan Lena?" ujar Leon.
"Bisa dibilang begitu," jawab Leon sambil menahan senyumnya. Wanita itu belum tahu hubungan dirinya dengan Lena yang sebenernya.
Fira jadi teringat dengan ibunya, dia masih khawatir dengan keadaan ibunya. "Gue jadi rindu nyokap gue."
"Dia aman, gue punya mata-mata di rumah itu. Lo mau liat keadaannya?" tawar Leon yang melihat Fira yang tadi melamun.
"Lo? Punya mata-mata di rumah Gumara?" ujar Fira yang tidak menyangka.
Leon hanya tersenyum saja, lalu dia mengeluarkan ponselnya. Beruntung dia punya mata-mata di rumah itu. "Dia hanya mengurungnya saja di kamar. Dia tidak berani bermain fisik ke nyokap lo karena gue memberikan ancaman perlukan Pak Rudi ke pihak polisi
Fira terkejut ketika melihat hal itu, jadi Leon bisa mengancam Pak Rudi. Dia tiba-tiba teringat dengan orang yang waktu itu menolong dirinya kabur dari rumah itu. Atau jangan-jangan memang Leon juga yang sudah membantu dirinya.
"Kalau lo punya mata-mata di sana, artinya orang yang menolong gue waktu itu juga adalah mata-mata lo
Leon tersenyum dan membenarkan semuanya. Kalau iya kenapa?" tanya Leon.
"Gue gak nyangka banget kalau lo beneran yang sudah membantu waktu itu. Tapi gue bingung, kenapa Pak Rudi jahat sama nyokap gue, mana dia ingin berusaha untuk membuat teror pada Darda juga," gumam Fira.
"Dia bekerjasama dengan ibunya zahra untuk menyembunyikan kasus Lena. Mereka melakukan itu untuk melindungi Zahra."
Fira menaikan sebelah alisnya, apalagi ketika nama Zahra disebut di sini. Dia tidak menyangka sama sekali kalau ini semuanya ulah Zahra. Fira baru menyadari kalau dia selama ini jadi kambing hitam.
"Jadi, maksud lo, orang yang mencelakai Lena itu adalah Zahra?" tanya Fira.
"Ya, dia pelukannya. Tetapi gue gak punya bukti kuat," jawab Leon.
Fira menggenggam tangan Leon dengan erat, dia memberikan sebuah janji kepada Leon. "Gue janji akan membantu lo untuk mendapatkan bukti agar Zahra dan orang terlibat itu masuk penjara."
__ADS_1
"Lo serius akan menjebloskan teman lo sendiri?" tanya Leon dengan pandangan penuh arti. Siapa tau Fira seperti adiknya yang tidak mau dipenjara.
"Lo selama ini sudah membantu gue, termasuk nyokap gue. Jika memang lo ingin Zahra masuk penjara, karena dia memang bersalah. Maka gue akan dukung lo. Bukannya lo yang bilang sendiri kalau kebenaran itu harus diungkapkan?" ujar Fira mengingat perkataan dari Leon dulu.
Leon tersenyum ketika mendengar penjelasan dari Fira barusan. Akhirnya ada yang satu frekuensi dengan dirinya. Bahkan adiknya Yann dia bela malah tidak mau memasukan Zahra ka penjara.
"Yaudah kalau begitu, ayo kita masuk."
Leon merangkul Fira untuk masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan sekali Lena sudah bisa pulang sekarang. Dia bisa bertemu dengan Fira untuk saat ini.
"Halo semuanya," ujar Leon yang kini datang bersama dengan Fira.
Sedangkan Fira hanya tersenyum canggung ketika Leon yang kini membawa dirinya. Banyak orang yang menjadi art di sini, tidak lupa juga dengan Lena beserta dengan Indah.
Lena yang melihat ada Fira pun tersenyum. Apalagi Dino sudah menceritakan semuanya tentang kedekatan antara Kakaknya dengan Fira.
"Fira," ujar Lena.
"Lena," balas Fira yang kini memeluk Fira.
Fira benar-benar merasa bersalah karena dulu dia yang sudah menyuruh Gumara untuk membully wanita itu. Hanya karena tahu kalau dia adalah anak dari wanita simpanan.
"Iya gue udah maafin lo," gumam Lena yang memang tulus. Dia melepaskan pelukannya dan melirik kearah tas yang dibawa oleh Leon.
Leon melihat kearah ibunya ketika Lena tadi menatapnya. "Aku titip Fira untuk tinggal di sini."
Indah hanya mengangguk saja, dia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Apalagi itu artinya Lena akan punya teman di rumah. Selama ini dia selalu sibuk dan Lena kadang merasa sendirian.
"Iya boleh kok. Dia bisa tinggal di sini," jawab Indah.
"Makasih yah Mommy. Kita akan tinggal bareng," ujar Lena yang merasa bahagia.
Fira tersenyum canggung karena keluarga ini begitu sangat baik dengan menerima dirinya apa adanya.
"Dia tidur di kamar sebelah yah Lena," ujar Leon.
"Terus lo?" tanya Lena yang tahu kalau kamar sebelah itu adalah kamar Leon.
"Gue balik ke rumah papah, lagian dia sendiri." Leon mengatakan itu dengan santai. Lagian Leon selama ini tinggal di mana saja. Ke rumah papahnya kadang, bahkan tidur di rumah Amar selama tidak ada Fira.
"Terserah lo deh!" ujar Lena. Bahkan mereka berdua sudah terbiasa seperti teman bisa bukan seperti kakak adik.
__ADS_1
"Kalau begitu, gue mau bawa baju Fira ke kamar atas dulu."
Leon mengatakan itu sambil membawa baju Fira
ke lantai atas bekas kamar dirinya. Bahkan baju Leon juga masih ada di sana belum dibereskan.
"Kamu juga Lena, harus istirahat. Belum sepenuhnya sehat kan," ujar Indah.
"Iya mommy. Kalau begitu kita akan pergi ke kamar dulu."
Lena mengatakan itu sambil menarik tangan Fira. Dia merasa senang sekaligus ada yang ingin dia ketahui dengan kedekatan antara Fira dengan Leon.
Fira hanya ikut dengan Lena saja, dia mengajak Lena untuk masuk ke kamarnya. "Gue senang lo mau tinggal di sini," ujar Lena.
"Iya, maaf yah. Gue jadi ngerepotin lo," ujar Fira yang tetap saja tidak enak.
"Malah gue senang kalau lo mau tinggal di sini. Apalagi Leon sendiri yang merekomendasikan lo buat datang ke sini," ujar Lena.
Fira tiba-tiba teringat dengan kedekatan antara Lena dan Leon yang sepertinya dekat. Ada rasa khawatir dalam hatinya jika memang benar mereka dekat.
"Lo dekat banget yah dengan Leon?" tanya Fira yang memang penasaran dengan kedekatan mereka.
Lena hanya mengangguk membenarkan kalau
mereka memang dekat. "lya bisa dibilang begitu."
"Tapi lo tetap pacar Darda kan?" tanya Fira.
Lena menaikan sebelah alisnya ketika mendengar ucapan dari Fira barusan. Mengapa wanita itu tiba-tiba menanyakan hal tersebut padanya. Atau memang Fira tidak diberitahu tentang hubungan dirinya dengan Leon.
"Leon gak ngasih tahu hubungan gue sama dia?" tanya Lena yang benar-benar kesal dengan Leon. Pria itu bahkan belum menceritakan semua jati dirinya kepada semua orang bahkan kepada Fira juga.
"Emangnya apa? Dia bilang dulu kalau kalian teman dari SMP, artinya dekat banget kan," jawab Fira.
"Astaga Leon. Pria itu benar-benar yah!" ujar Lena menepuk jidatnya sedikit kesal.
Sedangkan Fira malah menaikan sebelah alisnya ketika mendengar hal tersebut.
"Emang kenapa sih!"
"Leon adalah pria yang menyebalkan!" maki Lena kesal, menunggu Leon yang akan datang ke sini.
__ADS_1