
Darda datang ke rumah sakit setelah pulang dari sekolah. Dia akhirnya memberikan diri untuk datang ke sini setelah kemarin dia pulang lagi. Dia juga sengaja datang lebih dulu ke sini dibandingkan dengan Dino dan Leon.
"Hallo sayang," panggil Darda sambil tersenyum melihat Lena memejamkan matanya.
Darda duduk di kursi melihat kearah Lena yang terbaring, kali ini dia bisa melihat raut mukanya yang memang sudah tidak terlihat pucat.
Darda sudah tahu kalau Lena sudah sadar karena dia melihatnya sendiri. Tetapi dia merasa heran karena hanya Dino saja yang tahu kalau dia sudah sadar. Bahkan kedua orang tua Lena tidak tahu kalau anaknya sudah sadar dari koma nya.
"Kamu semakin cantik," ujar Darda.
Diam-diam Lena tahu kalau Darda ada disampingnya, pria itu selalu membuat jantungnya berdebar. Tetapi dia belum siap memberitahu pria itu. Ada rasa takut dalam hatinya karena takut Darda tidak bisa menerimanya.
Tiba-tiba Darda punya ide untuk menggoda Lena yang pura-pura memejamkan matanya. Darda sengaja membelai wajah Lena dengan lembut.
"Aku kangen kamu," bisik Darda ditelinga Lena.
Lena merasakan mukanya sedang dibelai oleh Darda, bahkan dia sedikit merasakan sebuah kecupan mesra dari Darda.
"Ah mamah jantung gue copot, ini beneran Darda lagi ngapain?" batin Lena yang benar-benar jadi girang sekarang. Dia tidak menyangka kalau Darda akan memberikan sebuah ciuman pada pipinya seperti itu. Apa pria itu juga melakukan hal tersebut ketika dia belum sadar?
Darda tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Lena, walaupun memejamkan matanya, tetapi kelopak mata wanita itu bergerak. Ketahuan sekali kalau Lena memang pura-pura tidur.
"Aku membawakan makanan kesukaan kamu, kapan kamu akan bangun?" kata Darda sambil mengeluarkan sebuah coklat dan juga permen lollipop kesukaan wanita itu.
Lena ingin sekali merebutnya sekarang, apakah itu memang makanan kesukaan dirinya. Dia kira selama ini Darda sudah melupakannya. Tetapi dia salah, Darda masih ingat dengan makanannya.
Darda tersenyum melihat Lena, wanita itu masih saja menyembunyikan keadaan dirinya yang masih belum bangun. Akhirnya Darda memutuskan untuk memberikan sentuhan pada bibir manis milik Lena.
Lena bisa merasakan duru napas milik Darda dan sentuhan benda lembut menyentuh bibirnya. Lena berpikir apa itu permen yang dibelikan oleh Darda. Tanpa sadar Lena malah menikmati sentuhan tersebut.
Darda tersenyum ketika melihat Lena yang membalas ciuman tersebut. Lalu dia membelai telinga wanita itu sebelum akhirnya berbisik.
"Kamu menikmatinya sayang."
Deg
Jantung Lena berdetak lebih kencang ketika menyadari kalau yang tadi bukan permen, buktinya dia tidak merasakan manis sama sekali. Lalu apa yang dia rasakan tadi? Benar-benar sekarang sudah berada diluar nalarnya.
"Aku tahu kamu sudah bangun," ujar Darda.
Lena yang mendengar hal tersebut pun terkejut. Jadi benar kalau Darda sudah mengetahui dirinya yang sudah sadar dari koma. Artinya memang Darda tahu kalau sekarang dia hanya pura-pura memejamkan matanya saja. Lena jadi merasa malu sekarang, antara mau buka mata atau tidak.
"Jangan-jangan yang waktu itu," batin Lena ketika menyadari hal yang kemarin. Alasan Darda pergi begitu saja tanpa menjenguknya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah pura-pura lagi sayang," gumam Darda.
Akhirnya mau tidak mau, Lena membuka matanya. Dia tidak bisa pura-pura lagi. Walaupun tubuhnya masih sulit untuk bergerak sekarang. Tetapi dia tidak mau berbohong kepada Darda lagi. Apalagi dengan perlakukan Darda tadi yang membuat dia malu.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" dengus Lena. Padahal wanita itu sangat malu, ciuman pertamanya dicuri oleh Darda ketika sedang tidur. Atau jangan-jangan memang ini bukan ciuman pertama mereka karena bisa saja Darda mengambil kesempatan ketika dia belum sadar.
Darda tertawa ketika melihat Lena yang kini benar-benar membuka matanya. Lalu dia tersenyum melihat kearah Lena. "Tentu saja mencium kekasih ku."
Bisa dibayangkan sekarang pipi Lena malah berubah seperti kepiting rebus, dia benar-benar sudah dibuat malu oleh Darda, bisa-bisanya dia malah mencuri ciuman seperti itu.
"Sekarang berubah yah jadi agresif!" sindir Lena.
Darda menggenggam tangan Lena dengan tulus. Dia tersenyum dengan serius melihat kearah kekasihnya. "Bisa dibilang begitu. Melihat kamu jadi korban membuatku benar-benar sadar. Aku merasa bersalah padamu, karena tidak bisa melindungi kamu. Aku juga menyesal telah menyembunyikan hubungan kita dulu."
Darda mengatakan itu dengan tulus, dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri setelah Lena sadar nanti. Darda tidak akan menyembunyikan hubungan dirinya dengan Lena dan dia akan mengungkapkan pada semua orang kalau dia cucu dari pemilik sekolah ini. Agar tidak ada yang mampu menganggu dirinya dengan Lena lagi.
"Aku paham, Dino sudah menceritakan semuanya padaku," jelas Lena.
Darda yang mendengar nama Dino di sebut pun tiba-tiba teringat dengan pria itu. Bagaimana pun dia merasa sangat cemburu sekarang.
"Kamu dekat banget dengan dia."
"Kamu cemburu dengan Dino? Ayolah Dino juga tidak mungkin cinta padaku, di sudah punya orang yang memang dia cintai," jelas Lena yang memang tahu kalau Dino hanya mencintai kakak kelasnya.
"Ayolah, dia pria normal juga. Hanya saja cintanya ditolak karena dia gemuk."
Lena memang tahu tentang Dino, apalagi dia kerap kali membantu pria itu untuk mengatakan cintanya pada wanita yang dia cinta. Tetapi yah begitu, Dino malah ditolak karena dia gemuk.
"Orang memang selalu memandang fisik semata," ujar Darda.
Lena hanya mengangguk, lalu dia teringat akan sesuatu. Ada hal yang memang harus dia jelaskan untuk saat ini. "Maafkan aku juga karena tidak memberitahumu dari awal kalau aku sudah sadar. Kaki ku sulit digerakkan dan tanganku juga masih sakit."
Darda paham dengan keadaan Lena sekarang, dia langsung memeluk wanita itu dengan erat. Rasanya memang ingin melepaskan kerinduan yang dia rasakan.
"Aku akan tetap ada sisimu, aku percaya kamu
pasti pulih nanti," terang Darda.
Lena mengangguk paham, sambil membalas pelukan itu dengan begitu erat. Dia tidak pernah menyangka karena semuanya jadi lebih baik.
"Makasih banyak."
Hingga pintu ruangan ini terbuka, muncul Leon yang terkejut ketika melihat Lena yang kini sudah sadar. Bersama dengan Dino yang hanya mengekor dari belakang. Leon berjalan melihat dua orang saling berpelukan.
__ADS_1
"Lena," gumam Leon.
Lena melepaskan pelukannya dari Darda setelah mendengar suara seseorang. Begitu pun dengan Darda yang kini melepaskan pelukannya.
"Leon," seru Lena yang terkejut ketika melihat pria itu sudah tau kalau dirinya memang sadar dari koma. Padahal dia belum siap memberitahu Leon karena takut nanti malah melapor kepada kedua orangtuanya.
"Sejak kapan lo sadar? Lo gak bilang gue kalau lo sadar, apa lo tahu seberapa khawatir gue kalau seandainya lo gak bangun?" tanya Leon dengan ketus.
Lena hanya menundukkan kepalanya, tidak berani mengatakan semuanya pada Leon. Sedangkan Darda menatap kearah Leon karena kasian dengan Lena yang masih sakit tetapi malah sudah mendapatkan ketusan dari Leon.
"Jangan seperti itu Leon, kasian Lena masih sakit," gumam Darda yang merangkul Lena.
"Lo juga Darda, kenapa gak bilang sama gue kalau Lena sudah sadar?" tanya Leon yang malah kini menyalahkan Darda.
"Daripada lo tanya kepada gue, lebih baik lo tanya sama orang yang ada dibelakang lo itu. Dia yang sudah menyembunyikan kebenaran kalau Lena sudah sadar,"
Ujar Darda sambil melirik Dino.
Leon menyadari tatapan mata Darda sekarang. Lalu dia membalikan badannya kebelakang. Dia melirik kearah Dino dengan tajam, sepertinya memang Dino tahu duluan kalau Lena sudah sadar. Tetapi tidak memberitahu dirinya.
"Katakan Dino?" ujar Leon yang memang sudah tidak sabar dengan penjelasan dari pria itu.
Dino menghela napasnya, dia menyadari kesalahannya. Sekarang dia harus menjelaskan semuanya daripada terkena sasaran.
"Sorry, gue gak bermaksud untuk menyembunyikan ini. Tetapi memang ini permintaan dari Lena," jelas Dino.
"Jadi lo udah tahu, tetapi gak memberitahu gue!" marah Leon pada Dino.
Leon merasa gusar sendiri, mereka tidak tahu kalau sebenarnya Leon adalah saudara kandung Lena yang harusnya tahu lebih awal kalau adiknya sudah sadar.
"Jangan saling menyalahkan, ini memang keinginanku sendiri!" balas Lena dengan jujur.
"Kenapa Lena?" tanya Leon yang kini menatap kearah Lena.
"Gue gak ingat dengan kejadian itu, gue sengaja tidak memberitahu kalian semuanya agar pelakunya datang sendiri ke sini dan mengakui semuanya. Gue hanya pengen memancing orang itu keluar. Apalagi Dino juga menceritakan kalau kalian belum menemukan orangnya," jelas Lena kepada tiga pria yang ada di sini.
"Gue udah pengang nama orang-orang yang terlibatnya. Kemungkinan besar pelakunya ada diantara mereka," jelas Leon.
Darda menatap kearah Leon, kali ini dia mendukung rencana dari Lena. "katanya rencana dari Lena juga ada benarnya. Kita melakukan ini, nanti kita bebaskan siswat menjenguk Lena. Pasti orang itu akan datang ke sini untuk melihat keadaan Lena," jelas Darda.
"Gue setuju, ide lo bagus juga," gumam Dino.
Leon berpikir sejenak, lalu dia menghela napas panjang ketika melihat kearah Lena yang seperti memohon padanya. "Baiklah, gue ikut rencana Lena."
__ADS_1