SI CUPU TERNYATA SUHU

SI CUPU TERNYATA SUHU
Lena Menemui Darda


__ADS_3

Lena terkejut ketika mengetahui fakta dari Dino kalau sekarang Darda masuk ke rumah sakit. Apalagi tadi dia mendengar kalau ada orang yang mau mencelakai Darda. Lena jadi merasa bersalah karena menangani kasus dirinya sekarang. Darda sampai celaka seperti ini.


"Gue gak bisa lama-lama di sini," ujar Dino setelah menceritakan semua kejadian kepada Lena. Apalagi besok Dino harus pergi ke sekolah, sekarang sudah hampir malam dan dia harus segera pulang.


Lena menghela nafasnya, dia tahu dengan keadaan Dino sekarang. Tetapi sekarang dia ingin melihat keadaan Darda yang sebenarnya. Dia penasaran dengan kondisi kekasihnya.


"Sebelum lo beneran pulang dari sini, hubungi Leon dulu, suruh dia datang ke sini!" perintah dari Lena.


Dino menghela napasnya panjang. Kalau sudah seperti ini maka dia akan menghubungi Leon.


"Hallo Leon."


"Kenapa Din?" tanya Leon.


"Lo ke ruangan Lena sekarang," ujar Dino.


"Kenapa Din? Apa terjadi sesuatu dengan Lena?" tanya Leon dengan khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Cepat datang aja!"


Dino langsung mematikan sambungan teleponnya, dia yakin setelah ini pasti Leon akan segara datang ke sini. Karena dia tidak menjelaskan semuanya kepada Leon.


Dino melirik kearah Lena dengan sekilas. "Leon pasti akan ke sini nanti. Gue pamit pulang dulu." Lena hanya bisa tersenyum sambil melirik kearah Dino yang akan pergi dari tempat ini. Sekarang Lena


harus menunggu Leon untuk membantu dirinya agar bisa bertemu dengan Darda.


"Semoga dia baik-baik saja."


Pintu terbuka dan muncul Leon yang mengkhawatirkan keadaan Lena sekarang. Apalagi Dino tidak mengatakan alasan adiknya. Tetapi ketika dia baru sampai, dia menaikan sebelah alisnya ketika melihat Lena.


"Lo gak apa-apa kan?" tanya Leon kepada Lena.


"Gue gak papa," jawab Lena.

__ADS_1


"Sialan, Dino nipu gue," maki Leon yang kesal sampai datang ke rumah sakit hanya untuk melihat keadaan Darda sekarang.


"Lo gak bilang kalau Darda masuk rumah sakit, gue ingin melihat keadaannya!" ujar Lena yang memang ingin mengetahui keadaan Darda saat ini.


"Lo gila yah, kalau lo jenguk Darda sekarang. Nanti yang ada lo malah ketahuan sudah sadar!" ujar Leon.


Lena melotot ketika Leon sekarang. "Gue tahu lo adalah orang yang pintar. Pasti mikir cara buat gue bisa bertemu dengan Darda, bukannya lo punya penjaga di rumah sakit ini juga kan?" ujar Lena.


Leon menghela napas panjang dan akhirnya dia pasrah saja. "Lo tunggu dulu di sini. Gue mau ambilkan dulu kursi roda."


Lena tersenyum, karena Darda akhirnya mau membantu dirinya untuk bertemu dengan Darda. Dia tinggal menunggu Darda untuk segara datang menemui dirinya.


Hingga tak lama kemudian, Leon kembali masuk dengan membawa kursi roda. Dia langsung menggendong Lena untuk pindah ke kursi tersebut. Tidak lupa dia mengambil selimut untuk menutupi wajah Lena.


"Hei, kenapa muka gue di tutup!" protes Lena.


"Udah jangan banyak tanya, ini buat orang agar tidak curiga. Gue nyuruh anak buah gue berjaga-jaga nanti. Kebetulan nyokap dan bokap Darda sedang keluar," jelas Leon.


Lena paham dengan situasi sekarang yang artinya aman. Kemudian Leon mendorong kursi roda tersebut hingga sampai ke ruangan Darda, beruntung sekali tidak ada orang yang curiga dengan dirinya.


"Lo bawa apa di tutup kaya gitu?" tanya Darda menaikan sebelah alisnya ketika melihat kain.


"Jangan berisik," ujar Leon yang akhirnya membuka selimut yang menutupi tubuh Lena sekarang.


Darda terkejut ketika melihat kekasihnya yang dibawa oleh Leon. "Lena."


Lena menggenggam tangan Darda dengan erat. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Darda, apalagi setelah dia mendengar ceritanya dari Leon. " Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Aku sudah baikan," jawab Darda sambil mengelus pipi Lena. Akhirnya dia bisa berdekatan dengan kekasihnya kembali. Orang yang memang selalu dia rindukan selama ini.


Leon melihat kearah dua pasangan itu sambil memutar bola matanya jengah. Dia masih penasaran dengan kejadian Darda. Apalagi dengan pelaku yang tiba-tiba menyerang ibunya Darda. Dia yakin kalau itu adalah pembunuh bayaran.


"Kenapa lo bisa ngikutin nyokap lo?" tanya Leon.

__ADS_1


Darda menatap serius kearah Leon. "Gue disuruh bokap. Satu fakta yang gue tahu kalau nyokap ternyata menemui adiknya."


"Maksud lo, ibu ketua itu?" tanya Leon memastikan. Adiknya ibunya Darda adalah sosok dlinu ketua. Dia yang menutupi kasus tentang Lena selama ini.


"Iya, ada hal lain yang gue temukan di sana. Yaitu Zahra juga tinggal di rumah itu. Lo paham kan maksud gue?" ujar Darda.


Leon mengepalkan tangannya, dari awal dia sudah menduga kalau Zahra adalah pelaku yang sebenarnya. Mungkinkah ibunya sengaja melakukan ini untuk menutupi kesalahan dari Zahra.


"Maksud kalian, Zahra terlibat?" tanya Lena yang tidak percaya.


"Bukan lagi terlibat, dia adalah pelaku yang sebenarnya," jelas Leon.


Lena menutup mulutnya tidak percaya dengan hal ini. Jadi selama ini Zahra yang sudah membuat dia celaka.


"Kamu juga gak usah pura-pura koma lagi sayang, pelakunya sudah ditemukan. Kita bisa melaporkan dia ke pihak berwajib," jelas Darda yang merasa kasian dengan Lena jika harus pura-pura koma lagi. Akan lebih baik jika semua orang tahu kalau Lena sadar dan kembali sekolah lagi.


"Gue gak mau hanya Zahra yang ditahan pihak kepolisian, ibunya dan Pak Rudi juga harus ditahan, bagaimana pun mereka terlibat karena menyembunyikan bukti," jelas Leon. Apalagi kasus pak Rudi bukan hanya menyembunyikan kasus ini. Tetapi dia juga sudah melakukan tindakan penganiyaan terhadap ibunya Fira.


"Aku tidak mau kalau Zahra sampai di penjara," ucap Lena membuat Leon dan Darda melotot tajam.


Sudah jelas kalau Zahra pelakunya, tetapi Lena masih saja membela wanita busuk itu. "Lo gila Lena! Dia adalah pelukannya."


"Sayang, dengarkan aku. Kita sudah berjuang selama ini untuk mencari pelaku yang sebenarnya. Masa kamu malah mau membebaskan dengan begitu saja," saran Darda membujuk Lena. Apalagi menurut Darda, Lena orang yang terlalu baik hingga mau memaafkan orang dengan begitu saja. Padahal orang tersebut yang sudah berbuat salah.


"Lo jangan terlalu baik Len, gue pindah sekolah dan pura-pura cupu selama ini demi lo, gue pengan keadilan buat lo!" jelas Leon yang merasa sia-sia saja kalau kasus ini tidak diusut dengan tuntas dilaporkan ke pihak berwajib.


Darda menatap kearah kasihnya hanya yang menundukkan kepalanya ketika Leon yang sudah menasehatinya. Mungkin Lena juga harus tahu fakta ini.


"Lena, kamu harus tau juga, kalau ibunya Zahra menyuruh orang untuk membunuh ibuku yang notabenenya adalah adiknya sendiri. Kamu pasti sudah percaya bukan? Tapi itu kenyataannya. Maka mendengarkan sendiri perkataan ibunya Zahra. Makanya aku datang langsung menyelamatkan ibuku," jelas Darda yang membuat Lena sedikit berkaca-kaca dan tidak menyangka.


Leon terkejut mendengar penjelasan dari Darda barusan. Rupanya memang ini semuanya ulah ibunya Zahra. Jadi dia yang sudah mendalangi kejadian yang menimpa Darda juga. Bukannya ini juga akan memberatkan mereka dengan percobaan pembunuhan.


"Gue akan tetap melaporkan ini ke pihak berwajib, semuanya sudah jelas. Lo tetap harus setuju Lena, jangan buat perjuangan gue sia-sia buat bela lo."

__ADS_1


Lena hanya terdiam ketika mendengar hal tersebut. Darda merangkul Lena dengan erat, mencoba menenangkan wanita itu. Darda tahu pasti Lena begitu syok dengan kenyataan itu.


"Semuanya akan mendapatkan hukumannya."


__ADS_2